Kampus Penggerak Potensi Industri Kreatif

Pendahuluan

Kompetisi global dalam industri kreatif bukanlah permasalahan perseteruan antara ‘$’ (dollar) dengan ‘Rp.’ (rupiah), ataupun berbicara mengenai monopoli pemasaran dunia oleh negara-negara tertentu atau perusahaan-perusahaan tertentu yang menguasai komoditi tertentu. Melainkan pertarungan ‘ide’ vs ‘ide’, siapa yang mampu unggul dan mengungguli disebuah sektor maka dialah yang tampil sebagai pemenang, namun posisi tersebut tidaklah dapat berathan lama jika kreatifitas pengemasan paket produknya mampu diungguli oleh kompetitor lainnya.

Pertarungan ‘ide’ vs ‘ide’ saja dalam dunia industri ekonomi kreatif tidaklah cukup, sebab esensi pertarungan dalam ranah ekonomi kreatif menurut Howkins adalah “decision on ideas are more important than decision on interest rate”.

Industri kerajinan terbukti mampu melewati krisis ekonomi

Hirarki ekonomi tidak lagi dikuasai oleh kelompok tertentu yang berfungsi sebagai agen sebab dalam industri ekonomi kreatif, semua pelaku mampu memasarkan produk-produknya lagi tanpa melalui perantara (hirarki pemasaran).

Kemajuan teknologi dan semakin berkembangnya bakat-bakat tehnologi informasi di kampus-kampus menuntut pengembangan sektor ekonomi lain yang tidak hanya mengandalkan kekuatan komoditas.
Pelaku Ekonomi kreatif dapat mengubah nilai ekonomis suatu barang menjadi lebih mahal, karena adanya “brand”, kontrol kualitas yang ketat, dan pelayanan yang baik, yang dihasilkan.

Membangun kekuatan ekonomi kreatif membutuhkan gerak seluruh infrastruktur yang ada di berbagai sektor untuk dapat bersinergi bersama dalam mengembangkan ekonomi kreatif, selain pelaku ekonomi kreatif itu sendiri sebagai penyedia jasa, beberapa sektor pendorong lainnya juga memiliki peran strategis, seperti kampus, pemerintah daerah, dan media massa.

Peran pemerintah-pelaku industri-kampus memiliki kemampuan vital untuk menggerakkan potensi ekonomi kreatif dengan fungsinya sebagai fasilitator. Kampus berperan sebagai inkubator potensi-potensi pengembangan ekonomi kreatif, pemerintah berfungsi sebagai buffer dengan sejumlah kebijakan terhadap upaya perlindungan hukum dan stimulator, serta pelaku-pelaku industri kreatif sebagai penggerak kegiatan industri ekonomi kreatif.kata dia, memiliki fungsi sebagai penerus informasi, baik untuk pelaku ekonomi kreatif atau sebagai penyampai kepada khalayak tentang keberadaan industri kreatif itu sendiri.

“Semua media massa dapat menjadi provokator dan pendorong yang maksimal untuk menggairahkan sektor ekonomi kreatif, termasuk ANTARA,” kata dia.

Sementara itu, bagi para pelaku ekonomi kreatif, dapat secara bersama-sama membentuk komunitas untuk saling bertukar informasi, sehingga tercipta diferensiasi agar pertumbuhan ekonomi kreatif dapat semakin bergairah.

“Berbicara tentang ekonomi kreatif artinya kita berbicara tentang diferensiasi, karena hal itulah yang menentukan harga jual dari sebuah produk ekonomi kreatif,” kata dia.

Wacana pengembangan sektor ekonomi kreatif itu muncul dalam wawancara eksklusif antara Dirut LKBN ANTARA, Ahmad Mukhlis Yusuf dengan Ekonom Universitas Lampung, Asrian Hendy Cahya, dalam perbincangan ekslusif yang direkam untuk program TV lokal di Lampung, Tegar TV.

Wacana itu timbul, menurut dia, karena sebagai sebuah negara agraris, Indonesia tidak cukup hanya mengembangkan sektor ekonomi makro, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya.

“Ada banyak bakat ekonomi kreatif di kampus-kampus, dan para generasi muda yang `melek` teknologi, dan mereka dapat menjadi kekuatan-kekuatan baru ekonomi Indonesia dengan menambahkan `sesuatu` pada komoditas yang kita hasilkan,” kata dia.

Kampus sebagai Inkubator Industri Kreatif

Sejak tahun 2008 pemerintah mulai menerapkan kebijakan menjadikan kampus sebagai ruang pembinaan kewirausahaan mahasiswa diberbagai kampus-kampus di seluruh Indonesia. Namun menilik dari hasil yang diperoleh justru kebijakan ini terlihat hanya sebagai sebuah obyek proyekan sehingga hasil yang dituai tidak sesuai apa yang diharapkan. Berangkat dari kenyataan yang ada pemerintah tetap memiliki keyakinan bahwa mahasiswa harus dididik sebagai Job Creator bukan sebagai Job Seeker, sehingga berdampak langsung pada upaya pemerintah mengurangi angka pengangguran yang setiap tahunnya mengalami pertumbuhan.

Kenyataan yang tampak adalah pertumbuhan mahasiswa pengusaha justru tumbuh pesat diluar wilayah kampus dengan tingkat kemandirian 100 persen dalam hal ini mereka tumbuh tanpa campur tangan pemerintah. Mereka tumbuh dari kluster-kluster dan latar ekonomi yang beragam, mulai dari trend-trend komunitas kreatif dengan semangat Do It Yourself (D.I.Y): ada yang star-upnya dari tren anak muda kota yang mandiri sekedar ingin menambah penghasilan, ada kluster yang secara total ingin terlepas dari meringankan suplai kebutuhan dari orang tua hingga yang murni hanya iseng berangkat dari hobi menjadi serius.

Referensi :

http://www.indonesia.go.id/id/index.php/index.php?option=com_content&task=view&id=10610&Itemid=693

http://ekonomikreatif.blogspot.com/

Tulisan ini dipublikasikan di ARTIKEL DESAIN. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Spam Protection by WP-SpamFree