My Abrar

Nama Lengkap: Muhammad Djalaludin Abdul Abrar

Nama di akte: Muh. Djalaludin Abdul Abrar

Tempat/tanggal lahir: RS. Daya – Makassar, 12 April 2012

Waktu : 17.54 wita

Tangisan lahir Abrar meruah menyambung kumandang adzan Magrib di bangsal kebidanan Rumah Sakit Daya. Dia bayi laki-laki pertama yang lahir pada hari itu, selebihnya anak perempuan. Ya, kami kala itu sangat berharap anak laki-laki. Selama dalam kandungan, kami tidak tahu jenis kelaminnya meski teknologi berkali-kali diusapkan diperut ibunya sama halnya dengan kakaknya dahulu. Saat itu kami tidak menduga jika Abrar memilih lahir di hari kamis petang, sebab kami telah merencanakannya di Parepare dengan bantuan persalinan normal neneknya yang seorang bidan berpengalaman dan terlatih selain keinginan untuk menyamakan tempat kelahiran ayahnya. Ya, kedua anak kami tak ada yang sama dengan tempat kelahiran kami.

Kamis pagi tanggal 12 april 2012 pukul 09.15 saya mengantar ibunya Billah memeriksa kandungannya di Puskesmas dekat rumah kami. Sejak subuh ibunya mengalami sakit nyeri yang hebat namun masih ditahannya. Bidan menyatakan bahwa gejala tersebut lumrah pada waktu-waktu dekat persalinan. Tak puas dengan hasil di Puskesmas, ibunya Billah meminta untuk didaftarkan di dokter praktek spesialis kebidanan langganan kami. Kamipun kembali kerumah dan saya siap-siap berangkat menuju ke tempat kerja pada pukul 11.15 wita. Selepas berpakaian dan hendak berpamitan, sahutan ijin saya tak beroleh balasan. Ya, ibunya Billah berbaring didepan tv bersama anaknya memunggungi saya saat itu. Tak beroleh jawaban, saya pun kembali mendekati dan tertegun memandangi wajah ibunya Billah menahan sakit yang luar biasa dan di matanya terpancar cahaya televisi menyinari genangan air mata yang tak kuasa pula disekanya. Saat itu juga terlontar bisikan saya “kita ke rumah sakit dik?” dan dibalasnya dengan ringisan perih tak tertahan. Sigap segera kuraih kunci VW Kodok 1303 tahun 1975 dan memanaskannya segera (maklum mobil tua, sahabat sejak tingkat satu waktu kuliah dulu di Bandung). Saya, Ria (adik ibunya Billah) dan Billah membopong ibunya Billah naik ke mobil yang sebelumnya telah saya angkuti seluruh keprluan persalinan yang telah dipersiapkan jauh hari oleh ibunya Billah untuk rencana persalinan di Parepare yang kami jadwalkan untuk berangkat ke Parepare pada hari jumat 13 April 2012.  Ya, semua perlengkapan saya angkut ke bagasi VW saat itu untuk waspada sekiranya sang jabang bayi memilih hari itu juga dan jauh dari perkiraan dokter yang memperkirakan di awal bulan Mei. Saya mencoba untuk tenang termasuk mengendarai mobil lain dari kebiasaan saya yang suka ngebut. Setibanya di rumah sakit, saya langsung menuju bangsal kebidanan dan setelah catat registrasi sayapun kemudian disuruh duduk menunggu dipelataran rumah sakit. Tak lama seorang suster keluar menanyakan keberadaan saya dan iapun memberitahukan bahwa situasi dalam pembukaan 6 lalu sejurus saya timpali pertanyaan “memang sampai berapa pembukaan kah?” dan dijawabnya “sepuluh pak!” cepat pula saya timpali “berarti sisa 4 bukaan ya? “iya pak! kalo bisa perlengkapan persalinannya pak kalau ada dibawa” jawab suster itu dan kembali masuk waktu saat itu menunjukkan pukul 12.25 wita. Saya pun bergegas menuju tempat parkir sang kakak (VW Kodok) dan mengambil perlengkapan persalinan yang telah disusun rapih oleh ibunya Billah jauh hari sebelumnya.

Setelah itu, saya pun mengabari ibu saya di Parepare dan menyampaikan situasi kondisi ibunya Billah dan ibu saya pun sgera menuju ke Makassar menggunakan angkutan umum antar kota, Pung Alam (kakak ayahku) pun lanjut saya hubungi, mertuaku dan saudara-saudaraku dan saudara-saudara ibunya Billah tentang kabar persalinan ini.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Spam Protection by WP-SpamFree