Materi-Materi Kuliah

Materi Pertemuan I & II:

Desain Manajemen- Definisi & Sejarahnya

Materi Pertemuan III & IV:

Desain Manajemen- Definisi & Sejarahnya

Materi Pertemuan V & VI:

MANAJEMEN PROSES
DESAIN KOMUNIKASI VISUAL (umum I)

Meliputi beberapa tahap:

Setiap tahap melibatkan objective dan key concepts yang saling berbeda dan spesifik.

Selengkapnya …..MANAJEMEN PROSES DKV 1

Materi Pertemuan VII & VIII:

MANAJEMEN PROSES
DESAIN KOMUNIKASI VISUAL (umum II)

Meliputi beberapa tahap:

Materi Pertemuan IX:

Manajamen Proses model: Creative Work Plan (Y & R) – Young & Rubicam

Suatu proses kerja yang banyak diterapkan dalam kasus promosi.

  • Keyfact
  • Problem
  • Objective
  • Creative Strategy
  • Mandatories

Materi Pertemuan X:

Manajamen Proses model: Larry’s Creative Briefs - Larry Asher

  • Who
  • Why
  • What
  • How
  • Where
  • When
  • How Much
  • Strategy
  • What ever

Materi Pertemuan XI:

Manajamen Proses Model: Blueprints

  • Model kombinasi latar belakang dan strategi
  • Model kombinasi Creative Work Plan (Y & R) dan “Positioning” Jack Trout/A/Ries

Materi Pertemuan XII:

Manajemen dan Proses Desain Kemasan

Materi Pertemuan XIII:

Manajemen dan Proses Desain Signage System

Materi Pertemuan XIV:

Manajemen dan Proses Desain Brand/Corporate Identity

Materi Pertemuan XV:

Manajemen dan Proses Desain Kampanye/Iklan

Materi Pertemuan XVI:

Ujian Akhir Semester

Suplemen:

  • Desain Manajemen & Inovasi

  • Innovation War : Yang Terluka dan Gugur di Medan Laga

Written by Yodhia Antariksa

car-resize.jpgHidup barangkali kini terasa makin nyaman, dan untuk itu kita layak memberikan kecupan hangat pada para inovator yang telah mempersembahkan aneka produk inovatif dihadapan kita.

Dulu kita mungkin tak pernah membayangkan betapa kita bisa melayangkan sederet kalimat romantis pada kekasih kita melalui medium SMS. Atau, juga melakukan chatting dengan kawan diseberang samudera melalui fasilitas internet. Karena itu, siapa tahu dua puluh lima tahun lagi kita bisa menikmati mobil terbang, melayang diatas jalanan kota Jakarta sambil menikmati pendaran emas menara Monas?

Ya kini tiap hari rasanya kita senantiasa disuguhi aneka produk yang menawarkan sejumput inovasi demi sebuah kenikmatan hidup. Mulai dari produk kamera digital, mobile banking, media televisi diatas screen telpon genggam, hingga produk celana-dalam-sekali-pakai-kemudian-dibuang.

Kisah inovasi yang ditorehkan dengan tinta emas mungkin akan dinikmati oleh mereka yang memang senantiasa dapat meracik beragam produk baru yang inovatif. Namun bagi sebagian yang lain, perang inovasi ibarat padang kurusetra : tempat dimana mereka terpanah penuh luka, dan akhirnya gugur di medan laga.

Dunia tak kekurangan dengan korban-korban yang terpelanting dalam laga inovasi yang brutal itu. Kita disini mau mencatat tiga contoh diantaranya.

Yang pertama misalnya adalah dalam arena kamera digital. Dulu sebelum kamera digital menjadi sesuatu yang lumrah, kita mengenal produk bernama Kodak sebagai sang dewa. Setiap kali Anda pergi liburan bersama teman atau kerabat, pasti kotak film bermerk Kodak itu nyangkut di tas Anda.

Namun perkembangan teknologi kamera digital telah menghempaskan mereka dalam puing sejarah yang usang. Kodak tidak cepat merespon perubahan yang mematikan ini, dan kini mereka tinggal menunggu peti mati untuk beranjak tidur selamanya.

Contoh kedua adalah telpon rumah. Dulu bisnis ini menjadi sumber mesin uang bagi Telkom, sang penguasanya. Namun kini ketika handphone telah ada dimana-mana, frekuensi penggunaan telpon menurun drastis (di rumah pun banyak orang yang kini lebih memilih memakai handphone daripada telpon rumah yang jadul itu).

Dan itulah yang terjadi : penurunan pendapatan Telkom dari bisnis telpon rumah lebih cepat daripada yang mereka prediksi. Bisnis telpon rumah kemudian menjelma menjadi bisnis yang stagnan, dan bagian dari sejarah masa silam.

Contoh yang lainnya adalah perang inovasi di bisnis sepeda motor. Dulu, produsen motor Suzuki selalu menempel ketat sang penguasa pasar, Honda, bersama rival terdekatnya yakni Yamaha. Namun ketika Yamaha menggebrak dengan produk inovatif bernama skutik Mio, sponsor Valentino Rossi ini terbang melesat bersama Honda – yang terus terengah-engah menahan nafas agar tak tersalip.

Yang kemudian tertinggal dalam sembilu kepedihan adalah Suzuki. Gebrakan inovasi Yamaha, yang segera kemudian disusul oleh Honda, telah membuat Suzuki terpelanting dan terkaing-kaing. Kita sekarang menyaksikan banyak dealer motor Suzuki yang tutup, dan pangsa pasar mereka terus menurun. Kita tidak tahu sampai kapan Suzuki akan terus mengalami penderitaan yang menyakitkan ini.

Tiga kasus diatas telah menyodorkan eksemplar yang begitu jelas : tanpa spirit inovasi, sebuah produsen bisa tergolek kehilangan raga. Proses ini mungkin menjadi kian dramatis dalam bisnis yang melibatkan teknologi yang bergerak dengan cepat (seperti tiga kasus diatas).

Ketajaman mengendus tren pasar, tim pengembangan produk (product development) yang unggul serta budaya inovasi yang mengakar, adalah sejumlah elemen dasar yang perlu dibentangkan jika sebuah organisasi ingin terus bisa bertahan dalam laga inovasi yang terus berjalan tanpa henti.

Tanpa bekal itu semua, sebuah organisasi bisa terjebak dan sekarat. Bagi mereka, perang inovasi bisa menjelma menjadi drama yang menyakitkan, dan membuat mereka terkubur lenyap dalam kesunyian.

——————–

  • Pendidikan Manajemen Desain

  • Desain Manajemen & Perspektifnya

  • Desain Manajemen – Berpikir Kreatif

  • Perdebatan dalam Manajemen Desain

  • 3 Kompetensi untuk Para Profesional Sejati

Written by Yodhia Antariksa

desert-re.jpgRoda waktu terus bergerak, dan hidup terus menggelinding. Dalam perjalanan panjang itu kita terus menerus diminta untuk merekahkan segenap potensi dan kapabilitas. Kita terus ditagih untuk membentangkan ruang pertumbuhan agar self-competency bisa selalu bermekaran. Sebab, tanpa spirit untuk melakukan never ending self-improvement, tidakkah itu berarti kita telah membunuh asa untuk menjadi insan yang lebih sempurna?

Dan persis disitulah kita kemudian digedor pertanyaan yang bunyinya begini : adakah kompetensi kita hari ini lebih baik dibanding sebulan atau setahun silam? Adakah kompetensi kita selama ini bisa terus dibentangkan menuju titik-titik kesempurnaan? Atau sebaliknya : selama ini kompetensi kita going nowhere – redup dan kian terkoyak ditengah roda waktu yang terus bergerak?

Namun pertanyaan lain yang mungkin tak kalah penting adalah ini : kalaulah kita masih punya spirit untuk terus bergerak, untuk terus melenting, untuk terus menemukan ruang dimana kompetensi kita bisa menemukan tempat terindah agar tumbuh bermekaran; maka jenis kompetensi apa yang layak dikuasai? Kepingan kompetensi seperti apa yang mesti didekap erat agar kita bisa menjadi insan yang lebih sempurna, insan yang lebih paripurna?

———-

DKV Management link:

A Management System for Visual Communication Design at Film Studio

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Spam Protection by WP-SpamFree