ESTETIKA

ESTETIKA

MAKNA , SIMBOL & DAYA

Pendahuluan

“Nilai itu mutlak, nilai tidak dikondisikan oleh perbuatan”

Nilai itu bersifat historis, sosial, biologis atau murni individual, hanya pengetahuan kita tentang nilai itu bersifat relatif, bukan nilai itu sendiri.”

(Risieri Frondizi)

Pandangan-pandangan mengenai estetika tetap menjadi suatu wacana penting dalam kajian filsafat, terutama dalam proses penyadaran manusia jasmani. Raut yang telah terbentuk selama peradaban berlangsung hingga sekarang, tetap didominasi oleh raut estetika barat yang telah mengalami proses universalisasi dalam pelbagai bentuknya. Peradaban di negara-negara berkembang, dalam raut percaturan itu merupakan suatu peradaban yang terpinggirkan, diposisikan menjadi sangat primitif dan serba tertinggal. Kondisi itu pun dilengkapi oleh kepercayaan yang sangat tinggi pada peradaban barat sebagai satu-satunya jalan untuk menjadi setara dalam pergaulan antar bangsa di dunia. Dalam situasi tersebut, ketika budaya posmodernitas menjadi wacana di tanah air dan mulai menggeser wacana modernitas, terjadi pula proses pelindasan tanpa sengaja pada kebudayaan lokal.

Sejumlah pemikir estetika mencoba mengangkat budaya lokal yang modern sebagai upaya perlawanan terhadap wacana yang tidak adil itu. Dalam paparan ini, penulis (Agus Sachari) berupaya memposisikan kedayaan estetika yang telah terbangun di tengah-tengah perkembangan budaya nasional secara lebih proporsional.

Raut Estetika

Dimlai dengan istilah yang kerap tidak tepat dipergunakan, serta definisi yang sangat beragam, bangun estetika itu pun dapat ditarik ulur. Istilah tersebut semakin mengabur ketika nama Estetika dan Filsafat Seni dipakai sebagai nama bidang ilmu untuk hal yang sama. Para ahli pendidikan seni semakin bersilang pendapat ketika bangun praksis seni rupa, desain produk industri, desain interior, desain komunikasi visual dan senir kriya ditarik ke arah bidang kajian estetika.

Kejadian itu menunjukkan simpang siurnya pemahaman estetika sebagai filsafat, dan estetika sebagai praksis dalam berkesenian di Indonesia. Pada tahun 80-an, dalam buku berjudul Estetika Terapan, penulis mencoba memposisikan persoalan ini agar tidak bias, yaitu antara estetika sebagai praksis dan esetetika sebagai kajian filsafat. Dalam fraksis kesenirupaan dan desain, diposisikan adanya unsur-unsur yang melibatkan aspek estetis (kepekaan, keterampilan, pengalaman, proses kreatif, dan seterusnya) yang diimplementasikan pelbagai wujud berkarya, baik tematis maupun bebas. Namun sampai beberapa tahun terakhir ini, dilingkungan perguruan tinggi seni, istilah “estetika” tetap dipergunakan keduanya, yaitu dalam pengertian praksis ataupun filsafat.

  • Pengertian estetika

Memandang estetika sebagai suatu filsafat, hakikatnya telah menempatkannya pada satu titik dikotomis antara realitas dan abstraksi, serta juga antara keindahan dan makna.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Spam Protection by WP-SpamFree