SEMANTIK

Buah Pikir: Menuju Multiplisitas

Posted in Yasraf Amir Piliang by Sekapur sirih on June 11, 2009

Sebagai masyarakat bangsa, kita terbiasa hidup dalam kesulitan, kesatuan, ketunggalan, penyeragaman, sehingga gamang menghadapi realitas kelainan (otherness), perbedaan, dan diversitas. Kita terbiasa merangkai makna tunggal, dan tak terbuka terhadap makna jamak (polysemy). Kita terbiasa dengan keterpusatan dan sentralisasi dan cemas menghadapi ketakberpusatan dan desentralisasi. Kita terbiasa dengan totalitas dan canggung terhadap multiplisitas. Kita terbiasa dengan ketunggalan (ideologi, identitas, standard, etika), dan asing terhadap `keserbaragaman’(multiplicity).

Setiap kita mempunyai hasrat menjadi ‘pusat’ (center): pusat kekuasaan, pusat iman, pusat kebenaran, pusat pengetahuan, pusat perhatian (popularitas), pusat kekayaan (monopoli), pusat kekuatan. Kita merasa menjadi bagian dari pusat, mengiidentifikasi diri sebagai pusat, bahkan menjadi pusat itu sendiri. Kita enggan menjadi ‘pinggiran’, menjadi sang (the others). Kita dikuasi ego dan tak pernah mau berbagi (sharing). Kita melihat yang lain: orang lain, suku lain, kelompok lain, propinsi lain, gender lain, ras lain, agama lain sebagai `sang pinggiran’(the peripiieral other), yang harus memusat pada kita.

Kita terbiasa hidup di dunia oposisi biner dan dualisme: dunia hitam/putih, benar/salah, kafir/beriman, kawan/lawan. pusat/pinggiran, teroris/anti-teroris. Kita juga terbiasa dengan segala kepastian (kerja, penghasilan, keyakinan, masa depan), dan tak sanggup menghadapi ketakpastian dan keadaan turbulensi (chaotic). Kita terbiasa dengan ‘perbedaan hirarkis’dan gamang terhadap ‘perbedaan non-hirarkis’. Perbedaan-perbedaan pada tingkat etnis, daerah, subkultur, agama, jender mesti dikendalikan oleh sebuah ‘pusat’, yang memonopoli kekuasaan, makna dan kebenaran. Ironisnya, ‘pusat’ itu adalah diri kita masing-masing.

Kita memang sehari-hari hidup dalam pluralitas, tapi tak mampu mengembangkan sikap `pluralisme’. Perbedaan dilihat sebagai ancaman; kelianan, dilihat sebagai bencana. Kita telah kehilangan kepekaan untuk `berbagi’ (sharing): berbagi jalan, berbagai senyum, berbagi ilmu, berbagi susah, berbagi kekayaan, berbagi budaya. Kita terbiasa hidup dalam ’saluran tunggal’ (mono chananel), dan merasa takut hidup di dalam ‘multi saluran’ (multi channel). Di masa depan-mungkin seratus tahun ke depan-kita tampaknya harus membiasakan hidup di dalam ketakberpusatan, jejaring, perbedaan, turbulensi, multiplisitas, multi saluran, fraktal dan chaos.

Dari Logos Menuju Chaos
Kita terbiasa dengan `kepastian’ atau jaminan kebenaran’ (truth of truth) yang telah disediakan oleh masa lalu bagi kita, apakah yang berasal dari adat, mitos, atau bahkan wahyu. Mata, pikiran dan kesadaran kita nanar dan terpukau dengan semua kebenaran itu (meskipun ini tidak salah), tetapi menjadikan kita gamang berhadapan dengan aneka perkembangan, perubahan dan pergerakan zaman. Kita terbiasa menggantungkan diri pada ‘pusat kebenaran’ itu, dan canggung berhadapan dengan iklim ‘ketiadaan pusat’ (decentering).

Kita terbiasa membangun ‘kekuasaan tunggal’ (monolithic of power), dan melupakan ‘kekuatan bersama’ (multiplicity of power). Bahwa, ‘himpunan kekuatan-kekuatan kecil’ (micro power) bisa lebih dahsyat ketimbang ‘kekuatan tunggal terpusat’ (macro power). Demi hasrat menjadi ‘pusat’, kita enggan membangun ‘enerji gabungan’ yang lebih dahsyat itu. Kita malah menciptakan ‘ironi kekLiasaan’ (irony of power): kita tidak mau dikuasai oleh ‘pusat’, dengan merayakan otonomi; akan tetapi, melalui otonomi itu kita justru membangun ‘pusat¬pusat mikro’ (micro centralism). Ironisnya, di dalam pusat-pusat mikro itu, kita masih memelihara ketergantungan pada pusat besar (modal, pembangunan prasarana, pengakuan, pasar).

Sejarah kita selama ini hanyalah sejarah peralihan dari satu determinasi pusat ke arah determinasi pusat lainnya, dari pusat makro menjadi pusat mikro, tanpa ada ruang bagi kebersamaan, dialog, kemitraan dan solidaritas. Kita hanya memberi ‘label’ berbeda untuk kacenderungan totaliter, sentralistik dan sektarianisme yang sama: sentralisasi dan desentralisasi. Keduanya mempunyai karakter yang sama, yaitu membatasi ‘gerak bebas’ manusia dalam menemukan dunia yang berbeda, dinamis, multiple dan produktif. Yang otonom dan desentralistik itu pada kenyataannya juga mempunyai watak kepusatan, sebagai perumus kebenaran tunggal.

Determinasi pusat-pusat seperti ini menyebabkan berlangsungnya proses ‘penutupan dunia (foreclosure). Otonomi yang semestinya membuka ruang baru, malah menghasilkan stagnasi, ketakberubahan dan kepasifan baru. Kita lalu terperangkap di dalam `kebenaran akhir’ (logos), yang berasal dan sentimen kesukuan, kedaerahan, ras dan keagamaan, dan tak beranjak dari dogmanya. Setiap proses ponafsiran selalu merujuk pada makna transenden yang tak bergerak itu, dan menutup pintu bagi aneka kemungkinan dunia yang sangat kaya. Penafsiran selalu berorientasi ke ‘masa lalu’, yaitu pada tafsiran-tafsiran transenden yang telah disediakan oleh sejarah, dan tidak membuka diri bagi tafsiran-tafsiran yang lebih produktif, kreatif, dinamis, yang berorientasi ke masa depan.

Kita hidup di dalarn ‘tafsiran terbatas’ (restricted interpretation), yaitu tafsiran yang beorieniasi ke belakang (retrospective), dan tidak mampu menghasilkan tafsiran terbuka yang berorientasi ke depan (prospective). Interpretasi itu ‘mengungkung’ kita, sehingga tak mampu ‘memobilisir’ dan ‘menggerakkan’ kita ke sebuah tempat baru, kondisi baru, atau utopia baru. Kita tak terbiasa dengan ‘tafsiran terbuka’ dan ‘tak berbatas’ (infinity of interpretation), yang merayakan perluasan atau konvergensi sudut pandang, yang membuka ruang seluas-luasnya bagi multiplisitas makna, yang tak perlu terpancang kaku pada ‘kebenaran akhir’.

Keterbiasaan kita hidup di dalam bingkai tafsiran restropektif, telah menciptakan ketergantungan besar pada logos, kebenaran akhir atau kebenaran mutlak, sebagai jaminan kebenaran dalam setiap wacana kehidupan. Sebaliknya, kecanggungan kita hidup di dalam bingkai tafsiran prospektif, telah menutup mata kita rapat-rapat dari pandangan masa depan, dari panorama visi, dari aneka horizon pengharapan di depan.
Kefakmampuan kita menoleh ke depan, telah membangkitakan aneka kecemasan (anxiety), ketakutan paranoia terhadap aneka ketidak-pastian, kontradiksi, turbulensi, indeterminasi dan chaos yang akan dihadapi. Demi menghindari chaos kita menggantungkan diri pada logos.

Dari Realitas Menuju Virtualitas
Perkembangan ‘abad informasi’ atau `virtual’ akhir-akhir ini telah mempengaruhi bagaimana wacana sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan spiritualitas itu dipandang. Kini, di dalam abad informasi dan digital, hampir semua wacana kehidupan di atas di dilakukan di dalam sebuah bidang ‘layar virtual’(virtual screen), yang di dalamnya semuanya menemukan definisi, sifat, dan logikanya yang baru. Realitas sosial kini diambil-alih oleh ‘virtualitas sosial’, realitas politik digantikan oleh ‘virtualitas politik’, realitas ekonomi diselubungi oleh ‘virtualitas ekonomi’; realitas kebudayaan kini dibingkai oleh ‘virtualitas kebudayaan’.

Melalui migrasi, perpindahan dan peralihan aktivitas-aktivitsa sosial, ekonomi, politik kebudayaan bahkan spiritualitas ke dalum ruang-ruang ‘layar’, maka apa yang secara tradisional disebut ruang publik (public sphere) baik ruang publik sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan kini mengalami berbagai transformasi fundamental. Di dalam abad informasi, ‘ruang publik fisik’ diambil-alih oleh ‘ruang publik virtual’ (virtual public sphere), yang di dalamnya segala aktivitas kehidupan dilakukan secara virtual. Artinya, berbagai aktivitas (sosial, politik, ekonomi, dan kultural) yang dulu dilakukan di dalam ‘ruang fisik’, kini dapat dilakukan di dalam ‘layar’.

Layar merupakan medium utama masa kini, yang di dalamnya dunia kehidupan tidak sekadar direpresentasikan, tetapi disimulasikan. Akan tetapi, layar tidak hanya medium representasi atau kumpulan citra, akan tetapi, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pembentukan kesadaran eksistensial manusia, yaitu kesadaran ‘ada di dalam dunia’. Kasadaran yang sebelumnya dibangun di atas fondasi pengalaman langsung hidup bersama manusia-manusia lain, lingkungan alam, dan benda-benda ciptaan manusia, kami berubah menjadi pengalaman yang dimediasi oleh medium layar. Struktur kesadaran, pikiran, perasaan, emosi, hasrat dan libido kini dibangun di atas bingkai pengalaman hidup di dalam Iayar.

Melalui layar dibentangkan kemungkinan dunia sosiai, eknomi, politik dan kebudayaan yang baru, horizon dan medan pandangan baru, medan pengetahuan lebih-luas, dan kesadaran kejagatan lebih holistik. Layar virtual adalah sebuah ‘magnit raksasa’ masa depan yang melaluinya kita terpana, nanar, dan tak mampu lagi mengalihkan pandangannya darinya. Layar adalah ‘tempat’ di masa depan-meskipun sudah dimulai di masa kini yang melaluinya orang membangun makna sosial, eknomi, politik, budaya bahkan spiritualitas. Meskipun demikian, layar adalah sebuah ‘hunian’ yang penuh labirin, persimpangan, dan lorong-lorong enigma.

Melalui layar, ruang publik atau agora politik dibangun (electronic agora), realitas politik dibingkai, konsep politik dikonstruksi, dan citra-citra politik dimanipulasi. Melaiui layar, pandangan tentang moral dibangun, ukuran tentang nilai (value) diciptakan, bakuan-bakuan tentang kebajikan (virtue) disusun. Melalui layar segala bentuk kehendak (will) diwujudkan, segala bentuk hasrat disalurkan, segala energi libido dilepaskan, segala bentuk emosi dicurahkan dan segala bentuk instink purba ditunjukkan. Melalui layar segala bentuk pertukaran dimediasi, segala bentuk transaksi difasilitasi, segala bentuk komunikasi dibangun, dan segala bentuk interaksi diaktualisasikan. Melalui layar, segala bentuk ide dicurahkan, segala bentuk konsep diwujudkan, segala bentuk imajinasi diaktualisasikan dan segala bentuk abstraksi dimanifestasikan.

Dunia layar masa depan penuh ‘daya pikat’(lure), yang membujuk setiap entitas sosial, eknomi, politik dan budaya masuk ke dalam jejaringnya. Sekali masuk, semua entitas itu terjebak dalam perangkap (trap) atau ’seduksi’ (seduction), sehingga setiap orang tergoda oleh mekanisme ‘bujuk rayu’ dan ’seduksi’ itu: ekonomi seduksi, politik seduksi, budaya seduksi, agama seduksi, pendidikan seduksi. Segala sesuatu menjelma menjadi ‘mesin¬mesin seduksi’(seduction machine), yang mengandalkan dirinya pada penampakan luar, make-up, lipstik. Sehingga, dunia layar tak lain dari dunia jejaring fana, virtual, dan berlangsung sekejap (ephemeral); sebuah ‘fondasi’ yang rapuh, sebuah dunia yang hadir seketika dan menghilang seketika (instantaneous). Tetapi, itulah dunia masa depan kita.

Di masa depan, citra virtual tidak lagi disorotkan pada sebuah layar, melainkan pada ‘udara’, seperti pada hologram, yang di dalamnya orang membangun kehidupan sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan yang artifisial. Melalui jagat virtualitas, segala tindakan, pertukaran dan transaksi (sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, spiritual) dapat dilakukan secara artifisial di dalam ruang hologram. Ekonomi virtual memungkinkan setiap pertukaran, alat tukar, dan transaksi ekonomi berlangsung di dalam udara virtual’ itu; politik virtual memungkinkan komunikasi dan transaksi politik berlangsung ‘udara maya’; agama virtual memungkinkan segala khotbah, ritual dan doa dilakukan secara digital dan, babak realitas macam ini sudah dimulai.

Dunia virtual masa depan adalah dunia yang memungkinkan setiap orang meminimalisasi pergerakan dan perpindahan (movement). Ia memungkinkan orang melakukan segala aktivitas, pertukaran dan transaksi sosial, Ekonomi, politik dan kultural dengan berdiam di tempat (di depan layar, atau ‘udara’virtual’). Dunia virtual di masa depan, yang makin dikuasai oleh ‘budaya jejaring’, membangun semacam ‘budaya sedentari (culture of sedentariness), yaitu budaya dalam melakukan rangka aktivitas sosial, ekonomi, politik dan budaya melalui aneka jejaring, dengan berdiam di tempat, tanpa perlu bergerak. Budaya sedentari, adalah budaya minim pergerakan dan perpindahan, sehingga secara prinsip ia adalah budaya ‘hemat energi’.

Dari Totalitas Menuju Multiplisitas
Kita terbiasa merangkai yang berbeda-beda (hete,ogenei’y) menjadi sebuah persamaan’ (homogeneity), menyusun yang beranekaragam menjadi sebuah kesatuan (unity); merajut yang bersifat multiplisitas menjadi sebuah totalitas’ (totality). Dengan menyamaratakan yang beragam, kita mereduksi perbedaan-perbedaan menjadi kesamaan; dengan menyatukan yang beranekaragam menjadi kesatuan, kita memangkas keanekaragaman; dengan menunggalkan yang plural, kita menyunat pluralitas; dengan mentotalkan yang multiplisitas, kita meminimalisasi multiplisitas.

Kita terbiasa melihat negara-bangsa sebagai sebuah ‘keseluruhan’ (a Whole), ‘ketunggalan’ (Oneness), ‘kesatuan (Unity). Kita melihatnnya sebagai sebuah ‘mesin besar’ (Great Machine), yaitu susunan atau ‘himpunan besar’ (Great Assemblage), dengan mengabaikan perbedaan, keberbedaan dan multiplis as elemen-elemen yang membangunnya. Mesin besar negara-bangsa itu dipandang sebagai aktualisasi dari elemen-¬elemen konkrit (tubuh, ruang, teritorial, alat-alat) dan elemen-caemen abstrak (ide, gagasan, fungsi, ideologi, mentalitas), yang dihimpun sebagai ‘mesin tunggal’ dengan mengabaikan perbedaan elemen-elemen pembangunnya.

Kita melihat negara-bangsa sebagai sebuah ‘Organisasi Besar’, yang menyatukan entitas-entitas (manusia, bahasa, etnis, keyakinan, artefak) yang berbeda-beda menuju sebuah titik pusat deterministik, dengan melupakan ‘jaringan’ (network) dan ‘hubungan’ (connection) di antara entitas-entitas plural itu. Kita melihat organisasi besar itu sebagai yang tak berubah, permanen atau tetap (fixed), dan mengabaikan hubungan-hubungan dinamis di antara elemen-elemen yang membangunnya. Kita melupakan perkembangan, bahwa sebuah tubuh (fisik, sosial, politik, kultural) kini merupakan sebuah organisasi yang ‘dinamis’, ‘cair’, ‘bergerak’, ‘berubah dan ‘bertransformasi’ ke arah aneka Organisasi temporer yang selalu dalam proses ‘menjadi’ (becoming).

Di abad virtual sekarang ‘mesin negara’ itu kini berada di dalam sebuah situasi ‘pelingkupan’ atau bahkan ‘invasi’ oleh ‘Mesin Lebih Besar, yang mampu ‘menghimpun’, ‘menghidupkan relasi’ dan ‘menggerakkan’ elemen-elemen organik, fisikal, teritorial, institusional, dan struktural yang membangun negara-bangsa dengan tingkat kompleksitas organisasi dan pengaturan lebih tinggi. ‘Mesin Besar”itu adalah aneka jejaring yang dibangun oleh aneka himpunan (jaringan internet, teroris, narkoba, perdagangann manusia). Multiplisitas ‘jejaring’ (network) dan ‘garis-garis’ (lines) yang dibangunnya, kini tidak saja menjadi sebuah ‘pesaing’dari negara bangsa, akan tetapi rrenjadi ‘ancaman’ serius bagi eksistensi dan keberlanjutannya di masa depan.

Di sinilah kita melihat pergerakan pasti di masa depan dari ‘totalitas’menuju ‘multiplisitas’. ‘Multiplisitas’ adalah prinsip produksi ‘perbedaan’ yang dinamis, bukan esensi tetap dan tak berubah. Multiplisitas menunjuk pada ‘proses diramis’ (negara, bangsa, rakyat, penguasa), bukan produk akhir. Multiplisitas adalah susunan tak tetap, tak pasti dan tak ada untuk selamanya, akan tetapi sebuah proses membentuk diri terus-menerus. Multiplisitas adalah perambahan masa depan untuk membentangkan `struktur ruang kemungkinan’ (negara, bangsa, masyarakat), dengan melihatnya sebagai ‘perilaku dinamis’ entitas-entitas dalam mereintepretasi, meredefinisi dan mereposisi diri berdasarkan konstelasi masa depan.

Negara-bangsa kini digerogoti oleh aneka ’sistem dinamka (dynamic system), dengan pelilaku ‘turbulensi’ tanpa akhir. ‘Turbulensi’ adalah ’sebuah keadaan antara’, yaitu antara keadaan kacau (disorder) dan teratur (order), antara kekuasaan dan ketakkuasaan, antara otoritas dan ketakberdayaan, antara demokrasi dan anarki, antara determinasi dan indeterminasi. Perkembangan sosial yang tidak dapat diperkirakan; pergerakan arus modal yang tidak dapat diprediksi, pergerakan informasi yang tidak diketahui arahnya-itulah perilaku turbulensi masa depan. Berhadapan dengan kekuatan turbulensi ini, negara menunjukkan penuaan tariring kekuasaannya, karena ketdakmampuan mengatur, dan mengendalikan kekuatan jejaring-jejaring itu: teroris, narkoba, kartel, perusahaan multinasional, dan internet.

Dalam ketakmungkinan negara bangsa, matinya kedaulatan aktor, tertutupnya segala bentuk kesatuan, meredupnya segala kekuatan totalitas, make satu-satunya yang tersedia di masa depan adalah model pengaturan `multiplisitas’. Multiplitas adalah sebuah orkestra negara-bangsa tanpa konduktor, yang membangun sendiri ramanya di dalam jaringan, melalui kekuatan komunikasi, koperasi, aliansi, dialog, garis hubungan dan aneka relasi sosial lainnya. Ia tak menginginkan `kekuasaan tunggal, bahkan ‘kekuasaan’ itu sendiri. Di dalamnya yang hidup adalah entitas-entitas (tubuh, kelompok, massa) yang mengatur diri sendiri (self organisation), dengan mencampakkan kedaulatan.

Demokrasi di masa depan bertransformasi menjadi ‘demokrasi multiplisitas’ (democracy of multiplicity), yang di dalamnya setiap orang mengatur dirinya sendiri (kubernetes). ‘Demokrasi multiplisitas’ tidak mengakui lagi ‘kekuasaan orang’, baik kekuasaan seorang (otokrasi), beberapa orang (aristokrasi), atau rakyat sebagai sebuah kesatuan (demokrasi). ‘Demokrasi multiplisitas’ adalah demokrasi yang kekuasaan teitingginya bukan pada orang, melainkan pada `jaringan’ itu sendiri. Di masa depan, kedaulatan negara-bangsa semakin terkikis habis, yang tunduk pada kedaulatan jejaring. Nc:ita laiu akan menghadapi ketakmungkinan negara-bangsa, totalitas dan kesatuan. Di masa depan, negara bangsa mungkin hanya tinggal ‘batu nisan’, atau paling hanya berperan sebagai sebuah simbol belaka, sebuah `negara simbolik (symbolic state).

Dari Demokrasi Menuju Netokrasi
Kita selama ini berpikir bahwa ‘negara’adalah sebuah ‘pusat’(center), yang mempunyai kekuasaan dan otoritas mutlak atas teritorial dan wilayah kekuasaannya, dan tak ada kekuatan lain yang menandingi otoritasnya. Pandangan seperti ini’lidak berlaku lagi di dalam ‘masyarakat jejaring’(network society), yang melaluinya dibangun sebuah ‘kekuatan jaringan’ (netocracy), yang dalam kadar tertentu ‘melampaui kekuatan negara¬bangsa’(beyond nation-state). Jaringan teroris, narkoba, peyelundupan, perdagangan orang, NGO, subkultur, website, blogger, hacker, adalah di antara `kekuatan jaringan’ini, yang berada di luar kekuasaan negara bangsa.

Perkembangan ‘masyarakat jejaring’ merubah secara fundamental padangan tentang geopolitik. Politik yang sebelumnya berkaitan dengan kekuasan dan kedaulatan atas sebuah wilayah dan teritorial, kini mulai tercabut darinya, dan tumbuh di dalam aneka jejaring virtual. ‘Politik nyata’ (real politics) kini melebur ke dalam ‘politik vittual’ (virtual politics), yaitu politik di dalam ruang-ruang maya. Peralihan dari geopolitik ke arah politik jejaring (neto-politics) telah merubah watak politik, menuju sifat ‘transparansi ekstrim’ (extreme transparency). Di dalam ektrimitas, politik menjadi bentuk penelanjangan apapun, sehingga di dalamnya tidak ada lagi yang dapat dirahasiakan, disembunyikan atau ditutupi, karena warga jaringan mempunyai ases setara terhadap semua informasi, dan kebebasan luas untuk menyuarakan pendapat di dalam perdebatan virtual.

Apa yang akan kita saksikan di masa deoan-setelah matinya kedaulatan negara bangsa-adalah semakin melemahnya ‘kedaulatan rakyat’sendiri di dalam demokrasi, karena di dalam aneka jejaring virtual tidak ada yang disebut dengan ‘rakyat’ (citizen). Yang ada hanya individu-individu bebas dan otonom, yang membangun, aneka jaringan bukan di atas fondasi kekuasaan dan kedaulatan (rakyat), melainkan ‘kebebasan individu’ (individual liberty). Individu-individu itu tidak membangun kesatuan ‘rakyat’ sebagai sebuah kedaulatan, sebagaimana di negara demokratis manapun, melainkan fragmen-fragmen individu yana `menavigasi dirinya sendiri’di dalam jaringan. Yang ada bukanlah sistem demokrasi, mela;nkan piramida jaringan (network pyramid) sebuah hirarki kekuasaan berdasarkan kekuatan-kekuatan jaringan, bukan rakyat.

Dengan melemahnya kedaulatan rakyat daiam demokrasi, maka apa yang akan kita saksikan di masa depan adalah peralihan sistem kekuasaan dari sistem demokrasi (democracy), sebagai sistem kekuasaan tertinggi di tangan `rakyat’, ke arah sistem netokrasi’ (netocracy). Prinsip piramida jaringan itu lebih desentralistik ketimbang sentralictik. la tidak akan pernah mencapai keseimbangan (equilibrium), karena relasi kekuasaannya berubah secara konstan, karena kekuasaan yang dibangun di dalamnya berasal dari aliansi-¬aliansi yang bersifat temporer, samar-samar, tak stabil, dinamis, bergerak, atau berpindah. Kekuasaan jaringan sangat sulit untuk dilokalisir, dan karenanya sulit untuk `dikalahkan’

Berbeda dengan sistem demokrasi yang bertumpu pada konsensus dalam menyelesaikan segala perscalan kekuasaan, sistem netokrasi bertumpu pada cara `menarik perihatian’, perayuan atau seduksi. Netokrasi adalah sistam `damokrasi seduksi’ (demcracy of seduction), di mana kekuasaan tertinggi diperoleh melalui rayuan atau seduksi, seperti yang sudah dimulai di daiam strategi komunikasi poiitik bangsa ini. Di sini, siapa yang paling mampu menarik perhatian (attention), akan memperoleh kekuatan hegemonik atas yang lainnya. Sehingga, masyarakat netokrasi adalah masyarakat sang pencari perhatian (attentionalist), ketimbang pencari konsensus. Di dalam sistem netokrasi; siapa yang berhasil mengemas citra dirinya, dialah yang kuasa.

Dalam sistem netokrasi, Jaringan (Net) menggantikan peran Manusia (Man) atau Rahyat (Citizen) sebagai fondasi proyek besar sistem demokrasi masa depan. Kumpulan Netter (para palaku jaringan) mengambilalih peran negara sebagai visioner, manajer dan kekuasaan tertinggi sosial. Netiquette (etika jaringan) menggantikan peran norrnatif hukum dan etika, di dalam aktivitas-aktivitas pelaku jaringan yang terus berpindah di dalam dunia virtual. Netocrate (teknokrat jaringan) rienggantikan peran teknokrat dan birokrat di dalam demokrasi, sebagai perencana dan pengambil kebijakan di dalam dunia maya. Netonomist (ahli ekonomi jaringan) mengambilalih peran ekonom di dalam sistem demokrasi, dalam aktivitas produksi dan ‘pasar virtual’. Nettopolice (polisi jaringan) bertindak sebagai polisi serta jaksa dan hakim, dalam kondisi tidak ada hak hukum formal yang dapat diciptakan di dalam jaringan yang selalu berubah, bergerak dan berpindah.

Masa Depan dalam Multiplisitas
Kita mungkin berpikir tidak berniat masuk ke dalam wilayah masa depan yang tampak menakutkan, mencemaskan dan tak bersahabat itu. Akan tetapi, tanda-tanda masa depan itu sudah ada di hadapan kita, di dalam diri kita, di dalam masyarakat kita, di atas tubuh bangsa kita. Bisikan masa lalu, panggilan primitif, atau suara-suara purba yang berasal dari ruh-ruh adat, keyakinan, mitos, ideologi dan kepercayaan yang mendengung di telinga kita, menjadikan kita gamang menghadapi masa depan penuh enigma, ketakpastian, turbulensi dan chactic itu . Akan tetapi, sirine dan genderang masa depan itu begitu nyaring, yang menghadapkan kita dengan aneka, konsep, ide, rarasi, pesona, ekspresi, kesenangan dan panorama yang tak tahan kita hindari.

Kita tak dapat lagi menunggu lama untuk ikut di dalam sebuah ‘kafilah masa depan’itu, bila tidak ingin menjadi para pecundang di sana. Kita tak dapat hanya menyibukkan diri dengan ruang masa lalu kita, dengan memolesnya seperti sebuah porselen antik, sambil membiarkan kafilah masa depan itu berlalu begitu saja. Bagaimanapun, kita harus ambil bagian dalam kafilah masa depan itu, karena taring-taringnya sebagian telah menancap di daiam diri, masyarakat dan bangsa kita. Di dalam perjalanan ke masa depan itu-mungkin seratus tahun ke depan-spirit masa lalu dapat kita gunakan sebagai kalung ‘keamanan ontologis’, sebuah jaminan rasa aman yang diperlukan, tanpa Derlu takut menghadapi ketakpastian, ketakterdugaan, indeierminasi, turbulensi, dan situasi chaos di masa depan¬inilah paradoks masa depan bangsa.

Yasraf Amir Piliang
Makalah ini disampaikan dalam acara Seminar “Menggambar Jejak DNA Masa Depan Ke-Indonesia¬an”, dalam rangka 100 Tahun Kebangkitan Nasional, Batu, Malang, 2008.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Spam Protection by WP-SpamFree