Semiotika & Enigma “The Name of the Rose”

Semiotika & Enigma “The Name of the Rose”

Posted in Yasraf Amir Piliang by Sekapur sirih on June 6, 2009

Realitas hidup adalah rangkaian teka-teki, pertanyaan, atau enigma, yang menuntut pencarian jawaban, yang disebut kebenaran (truth). Untuk sampai pada kebenaran itu diperlukan penyelidikan (sederhana maupun kompleks), yaitu sebuah kegiatan mencari petunjuk, bukti, tanda-tanda (sign), serta melihat logika, relasi dan kausalitas di antara semuanya, sehingga sampai pada sebuah kesimpulan akhir (inference). Inilah kegiatan yang dilakukan oleh para peneliti, penyidik, detektif, hakim, ahli pemasaran, bahkan orang yang sedang mencari pasangan hidup sekalipun.

Adakalanya petunjuk, bukti dan tanda-tanda yang ada dapat membentuk sebuah rangkaian berpola atau tatanan beraturan (order), yang unsur-unsurnya saling berkaitan satu sama lainnya sebagai sebuah kesatuan konsep, tema atau peristiwa, yang terbentuk berdasarkan sebuah rencana atau desain tertentu, sehingga makna atau logika di baliknya dapat dengan mudah dipahami. Artinya, ada tingkat keterdugaan atau redudance yang tinggi, yang dapat mengarahkan pembacaan (reading) menjadi lebih jelas, terang, transparan dan eksplisit. Akan tetapi, adakalanya petunjuk, bukti dan tanda-tanda yang ada merupakan sebuah rangkaian yang tidak berpola, terputus (discontinous) dan tidak beraturan, yang unsur-unsurnya tidak saling berkaitan satu sama lainnya, dan yang tidak terbentuk berdasarkan sebuah desain atau rencana tertentu, yang di dalamnya hanya ada ketidakberaturan, turbulensi, entropy dan chaos, sehingga proses pembacaaannya dipenuhi oleh kekaburan, kegelapan, ambiguitas, keraguan, tanda tanya dan enigma.

Adalah realitas ketidakjelasan petunjuk, kekaburan tanda, ketidakberkaitan bukti-bukti seperti inilah yang diangkat di dalam novel Umberto Eco, The Name of the Rose, sebuah novel yang bernuansa detektif-filosofis, saintifik-teologis atau metafisis-semiotis, yang mengambil biara sebagai setting utamanya, dan yang di dalamnya banyak ditemukan petunjuk yang salah, bukti yang palsu serta tanda-tanda dusta (false sign). Novel ini dikatakan detektif-filosofis oleh karena di dalamnya peristiwa-peristiwa kriminalitas dikaitkan dengan makna-makna filosofis yang dalam, khususnya mengenai makna apa itu kebenaran dan keyakinan; ia dikatakan saintifik-teologis oleh karena secara umum ia merupakan lukisan bagaimana dogma-dogma keagamaan dipertentangkan dengan kebebasan ilmiah; ia dikatakan metafisis-semiotik oleh karena di dalamnya tanda-tanda keduniaan (profan signs) dipertentangkan dengan tanda-tanda metafisis, khususnya tanda-tanda ketuhanan (divine signs).

Oleh karena melibatkan berbagai fenomena dan pengetahuan, The Name of the Rose, dalam hal ini, dapat dipahami melalui berbagai metode pembacaan yang terbuka dan plural. Ia, misalnya dapat dibaca sebagai novel teologis, metafisis, saintifik, filosofis, kriminologis, detektif dan tentunya semiotis. Meskipun demikian, tulisan ini membatasi diri pada satu model pembacaan, yaitu membaca The Name of the Rose sebagai novel semiotis, dengan pengertian memahami berbagai penggunaan tanda, kode dan makna-makna di dalamnya, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk melihat relasi-relasi teologis, metafisis, filosofis dan saintifik di dalamnya. Pembacaan semiotik ini, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti, dapat dianggap sebagai sebuah pembacaan yang komprehensif, yang dapat membentangkan nyaris hampir semua realitas kehidupan.

Metode: Novel Semiotis

“Pada awalnya adalah Firman dan Firman bersama Tuhan, dan Firman adalah Tuhan…Tapi kini kita menyaksikan…kekeliruan dunia, dan kita harus memahami tanda-tandanya (signals) meskipun semuanya tampak kabur, seakan-akan melebur bersama kehendak buruk kejahatan”[i] Itulah kalimat pembukaan The Name of the Rose, yang menggambarkan keseluruhan jalan cerita, yang sarat dengan pembacaan tanda-tanda, khususnya tanda-tanda kejahatan. Kata pada awalnya adalah sebuah Firman (huruf kapital), yang dipenuhi nama-nama tuhan dan tanda-tanda ketuhanan (divine signs). Inilah Firman seperti yang dilukiskan di dalam Kitab Suci (Scripture), sebuah teks suci yang harus diikuti perintahnya dan dilaksanakan ajaran-ajarannya.

Akan tetapi, ketika perintah dan ajaran-ajaran suci itu menjadi dogma yang kaku, yang memanggil orang yang beriman untuk melindunginya dari pencemaran dan ancaman perusakan, panggilan suci itu dapat menjelma menjadi sebuah sikap ekstrimisme. Maka, ajaran suci itu harus dilindungi lewat kekerasan, sampai pada satu titik, yang di dalamnya kesucian mulai melebur dengan kejahatan. Akan tetapi, kejahatan itu—oleh karena dilakukan atas nama kesucian—memerlukan topeng-topeng, dan tanda (signs), khususnya tanda dusta (false sign) adalah topeng yang sering digunakan dalam membungkus kejahatan. Adalah topeng-topeng semiotik inilah yang berupaya dipahami di sepanjang novel ini.

Semiotika, sebagaimana dijelaskan oleh de Saussure, adalah ilmu tentang tanda, khususnya yang berkaitan dengan pembacaan tanda di dalam masyarakat. Akan tetapi, Firman itu sendiri dipenuhi oleh tanda-tanda, dalam pengertian nyaris hampir seluruh aspek firman berkaitan dengan tanda-tanda. Dengan perkataan lain, Firman itu hanya dapat dipahami lewat tanda-tanda. Bila demikian, apakah semiotika sebagai sebuah ilmu dapat digunakan untuk membaca semua tanda-tanda yang luas itu? Apakah semiotika sebagai metode untuk membaca tanda-tanda dunia hanya sebuah metafora belaka, atau sebuah kenyataan?.

Disebabkan begitu luasnya cakupan, bidang dan objek kajiannya, semiotika dapat disetarakan dengan theory of everything di dalam sains, yaitu sebuah teori yang dapat menjelaskan segala hal. Semiotika pada kenyataannya adalah sebuah ilmu yang dapat menjelaskan apa pun, selama apa pun itu adalah sesuatu yang bermakna. Ia, di antaranya, melingkupi bidang-bidang semiotika binatang (zoo semiotics), semiotika kedokteran (medical semiotics), semiotika hukum (legal semiotics), semiotika seni, semiotika fashion, semiotika film, semiotika televisi, dan sebagainya. Semiotika teks (text semiotics) adalah salah satu cabang dari semiotika, yang secara khusus mengkaji penggunaan tanda-tanda dan kombinasinya di dalam teks. Teks itu sendiri mempunyai pengertian yang luas, sehingga selama sesuatu dibentuk dari seperangkat tanda-tanda, yang dikombinasikan dengan cara tertentu, maka ia dapat dikatakan sebagai teks.

Dunia kejahatan—dan peran reserse, detektif dan jaksa dalam penyelidikannya—melibatkan tanda-tanda yang luas, yang mencakup teks verbal, teks tertulis, bahasa tubuh (body language), gesture, perabaan (tactile), gerakan tubuh (kinesics), tanda objek (object sign), semiotika medis, dan sebagainya, yang semuanya menjadi petunjuk (clue) atau bukti (evidence). Di dalam apa yang dapat disebut semiotika kejahatan (semiotics of criminality), semua tanda-tanda yang luas itu dapat dilihat sebagai sebuah rangkaian tanda-tanda bermakna, yang membentuk semacam teks (verbal, tulisan, visual, tactical), yang mengarahkan penyelidikan ke arah pelaku kejahatan. Di dalam The Name of the Rose sendiri, tanda-tanda kejahatan saling tumpang tindih dengan tanda-tanda keagamaan, khususnya kejahatan sebagai refleksi dari pemahaman yang ekstrim terhadap teks-teks keagamaan (Kitab Suci).

Cabang semiotika yang secara khusus mengkaji teks-teks keagamaan disebut semiotika teologis (theological semiotics), yang menjadi bagian dari bidang semiotika teks, yang lebih umum.[ii] Semiotika teologis mempelajari persinggungan antara teks ketuhanan dan teks keduniaan, yaitu keberadaan tanda keagamaan (religious sign) di dalam kehidupan keberagamaan manusia. Tanda-tanda ketuhanan ini menuntut sebuah kajian teks yang khusus, disebabkan terdapat pertalian antara tanda-tanda yang membentuk teks dengan dimensi kesucian.[iii] Problematika semiotika teologis, adalah kontradiksi yang terbuka di dalamnya antara kesucian sebuah teks dan kebebasan interpretasi yang dimiliki manusia sebagai makhluk berpikir. Kontradiksi semiotika teologis seperti inilah yang menjadi tema utama di dalam The Name of the Rose, yang di dalamnya kesucian tanda dipertentangkan dengan kebebasan interpretasi .

Disebabkan intensitas penggunaan metode semiotik di dalamnya, maka penamaan The Name of the Rose sebagai novel semiotik tampaknya tidaklah terlalu berlebihan, semata-mata bukan karena Umberto Eco adalah seorang ahli semiotika, akan tetapi penggunaan terminologi dan metode semiotika (tanda, kode, pesan, makna) yang dapat dengan mudah kita temukan di sana-sini di dalam novelnya. Dalam hal ini, Eco menggunakan bahasa semiotika untuk penjelasan-penjelasan teknis hukum dan kriminologi. Istilah-istilah hukum seperti barang bukti, petunjuk, gejala, jejak, sidik jari, di dalam semiotika disebut secara umum sebagai tanda (sign), yang terdiri dari penanda (signifier), yaitu segala sesuatu yang bersifat konkrit sebagai kendaraan tanda (sarung tangan, jejak kaki, tetesan darah, potongan sepatu), dan penanda (signified), yaitu konsep atau makna di baliknya.

Ada strategi penyelidikan semiotis (semiotic investigation)—sebagai metode penyelidikan detektif—yang digunakan di dalam novel ini. Ketika William menyelidiki tentang nama-nama kepala perpustakaan biara, misalnya, ia melihat tanda perubahan itu lewat tulisan tangan di atas buku catatan perpustakaan sebagai sebuah tanda, yang mengarah pada sebuah konsep tentang seseorang, yang di dalam teori semiotika disebut sebagai indeks (indexical sign). Dengan melihat pergantian tulisan tangan itu, William dapat mengetahui pola pergantian kepala perpustakaan. Tulisan tangan, dalam hal ini adalah indeks dari kepala perpustakaan; sarung tangan di atas meja adalah indeks dari seseorang yang menghindarkan racun; suara kertas yang dikunyah adalah indeks dari keberadaan Jorge di dalam labirin. Indeks, dengan demikian, adalah jenis tanda yang paling banyak beroperasi di dalam dunia kejahatan, hukum dan detektif, yang mengarahkan penyelidik pada sebuah konsep atau makna tertentu, khususnya pelaku kejahatan.

Semiotika dan Kriminalitas: Teori Tentang Dusta

Dusta, tipu daya, kepalsuan atau kebohongan merupakan bagian penting dari dunia kejahatan. Akan tetapi, bagaimanakah semuanya berkaitan dengan semiotika? Jelas, setiap orang bisa melakukan dusta; akan tetapi, dusta hanya bisa dilakukan bila ada medium atau kendaraannya yang membawanya, dan tanda (signs) adalah kendaraan untuk berdusta. Bahkan, tanpa ada kejahatan pun, tanda-tanda itu sendiri secara prinsipil mengandung di dalamnya unsur-unsur dusta, tipu daya, dan semacamnya. Oleh sebab itulah, semiotika (semiotics) oleh beberapa pemikir disebut sebagai sebuah ilmu atau teori dusta.

Umberto Eco sendiri, di dalam A Theory of Semiotics, mendefinisikan semiotika sebagai “…sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie).” [iv] Definisi Eco ini mungkin tampak sangat aneh dan janggal. Akan tetapi, adalah sebuah kenyataan, bahwa konsep dusta sangat sentral dalam wacana semiotika. Sebagaimana yang dijelaskan Eco, “Saya pikir definisi sebagai sebuah teori kedustaan sudah sepantasnya diterima sebagai sebuah program komprehensif untuk semiotika umum (general semiotics).[v] Hal ini disebabkan oleh kenyataan, bahwa selalu saja celah, jarak atau distorsi antara sebuah tanda dan realitas yang direpresentasikannya, sehingga sebuah tanda selalu berdusta.

Problem utama semiotika—khususnya semiotika kejahatan—bukanlah pemahaman tentang substansi sesuatu, tetapi lebih menyoroti relasi di antara unsur-unsurnya, khususnya relasi di antara tanda-tanda. Makna sebuah tanda tidak dapat dipahami dari tanda itu sendiri, melainkan dalam konteks relasinya dengan tanda-tanda lain, yang prinsipnya oleh de Saussure disebut difference. Problem inilah yang dihadapi oleh William of Baskerfille dalam mempelajari pola pembunuhan berantai di dalam biara, yaitu bagaimana “…menafsirkan aneka tanda (multiple signs) yang ada di hadapan mata kita, bagaimana menghindarkan kesalahmengertian (misunderstanding) yang Iblis menggoda kita masuk ke dalamnya.”[vi] Memahami struktur dan makna sebuah tanda, dengan demikian, harus dalam konteks relasi tanda yang lebih luas, sehingga dapat menggiring pada sebuah kesimpulan yang benar. William, dalam upayanya mengungkapkan sebuah pembunuhan mengatakan:

“Seakan-akan saya ingin kembali dari tanda-tanda kabur (vague signs) yang ditinggalkan oleh pembunuh Venantius (tanda-tanda yang dapat menunjuk pada berbagai [makna]) untuk seseorang, yaitu pembunuh itu sendiri. Akan tetapi hal itu tidak selamanya mungkin dilakukan dalam waktu singkat, dan tanpa bantuan tanda-tanda lainnya”. [vii]

Banyak sekali tanda-tanda, yang harus dilihat relasinya satu sama lain oleh William, dalam rangka mengungkapkan sebuah pembunuhan. Sebuah sarung tangan, sebotol racun, selembar tulisan tangan, sebuah alfabet nama ruangan, sebuah cincin permata, sebuah kitab suci yang bernoda adalah di antara tanda-tanda, yang harus dihubungkan satu sama lain, dalam rangka melihat logika, rencana atau pola sebuah kejahatan.

Akan tetapi, sebagaimana dijelaskan di atas, relasi di antara tanda-tanda ini tidak selamanya mempunyai pola atau desain yang jelas. Seringkali orang dihadapkan pada rangkaian tanda-tanda yang seakan-akan berkaitan satu sama lainnya, padahal tidak; sehingga dapat menggiring pada kesimpulan atau makna yang salah. Seringkali, tanda-tanda itu berfungsi sebagai topeng (false sign), kamuflase (camouflage signs) atau tanda-tanda palsu (pseudo signs), yang relasinya membentuk semacam kekacauan tanda, yang menggiring pada semacam kebenaran palsu. Kekacauan tanda ini menyebabkan kegagalan seseorang dalam menemukan kebenaran sebuah peristiwa, kecuali ada hal-hal luar biasa yang terjadi, misalnya faktor kebetulan (by chance), ketidaksengajaan atau kesalahan. Dan, William menghadapi kenyataan semacam ini:

“Saya tidak pernah meragukan kebenaran tanda…yang merupakan satu-satunya yang dimiliki manusia sebagai pedoman di dunia. Apa yang saya tidak mengerti adalah relasi di antara tanda-tanda. Saya sampai pada Jorge lewat pola wahyu yang tampaknya melatarbelakangi semua kejahatan, dan semuanya kebetulan. Saya sampai pada Jorge untuk mencari satu kejahatan dan kaitannya dengan semua kejahatan, dan kita menemukan bahwa masing-masing kejahatan dilakukan oleh orang yang berbeda, atau tidak oleh siapapun. Saya sampai pada Jorge mengikuti rencana pikiran yang kepala batu dan rasional, dan tak ada sama sekali rencana, atau, tepatnya Jorge sendiri terlepas dari rencana awalnya sendiri dan dari sinilah dimulai rangkaian sebab-sebab, dan sebab yang bertentangan satu sama lainnya, yang berjalan sendiri-sendiri, menciptakan relasi yang tidak berdasarkan satu rencana tertentu”. [viii]

Kekaburan dan kegalauan semiotis ini sering-kali muncul, disebabkan seseorang menggunakan selubung, kamuflase, atau topeng-topeng tanda. Orang ini menciptakan semacam simulacrum, yaitu menampilkan dirinya lewat sebuah citra (image) tertentu, yang seakan-akan merupakan lukisan dirinya yang sebenarnya, padahal ia adalah lukisan palsu atau menyimpang tentang dirinya. Inilah tuduhan William terhadap Jorge: “Engkau mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa seluruh kejadian ini berlangsung sesuai dengan rencana Tuhan, dalam rangka menyembunyikan fakta bahwa engkau adalah seorang pembunuh”. [ix]

Tema: Logosentrisme dan Kriminalitas

Problem semiotis yang diangkat oleh Eco di dalam The Name of the Rose adalah konflik antara penanda transendental (transendental signified) dan interpretasi bebas (open interpretation), antara ayat tuhan dan tafsiran manusia, antara Kitab Suci (Divine Book) dan filsafat, antara strukturalisme-teologis dan postrukturalisme anti teologis, antara langue dan parole, antara logos (kebenaran akhir) dan gram (interpretasi tanpa akhir), antara Being dan Becoming, antara yang sakral dan yang profan. Pertentangan antara yang mempertahankan tradisi, dogma, dan orang-orang yang menginginkan perubahan, kekebasan dan interpretasi. Pertentangan inilah yang, secara tidak terlihat, menjadi penyebab awal dari rangkaian pembunuhan yang terjadi di biara.

Pertentangan dan kontradiksi semacam ini, secara kebetulan juga berlangsung di dalam semiotika sendiri, yaitu antara apa yang disebut semiotika struktural (structural semiotics) dan semiotika postruktural (pos-structural semotics). Semiotika struktural yang dikembangkan oleh Saussure dianggap bersifat statis, metafisis, dogmatik dan transenden; yang anti perubahan, mekanistik, dan terlalu menyandarkan diri pada struktur yang tidak berubah; sehingga, ia menutup pintu bagi kreativitas dan produktivitas dalam bahasa, serta menghambat proses perubahan struktural.

Strukturalisme, sebagaimana dikemukakan Jacques Derrida, dianggap terlalu bersandar pada apa yang disebut sebagai pusat (center), asal usul tetap (fixed origin), fondasi atau prinsip-prinsip akhir, seperti hakikat, eksistensi, substansi, subjek, transendentalitas, dan Tuhan. Tuhan, yang bersifat transenden, dianggap dapat menjadi fondasi atau jaminan bagi keberadaan sebuah tanda atau sistem pertandaan, yang disebut Derrida sebagai metafisika kehadiran (metaphysic of presence),[x] yang padanya setiap makna akan bermuara. Pusat ini mengorganisir sekaligus membatasi ruang gerak tanda dan proses produksinya yang kreatif, sehingga menutup pintu kreativitas dan kemungkinan baru dalam bahasa. Strukturalisme sangat menggantungkan diri pada apa yang disebut Derrida, petanda transenden (transcendental signified), yaitu petanda, “…yang dari dan untuk dirinya sendiri, yang di dalam hakikatnya, tidak mengacu pada satu petanda apapun, yang melampaui rantai tanda, yang ia sendiri tidak lagi berfungsi sebagai penanda”. [xi]

Logosentrisme (logocentrism) adalah kecenderungan bahasa untuk merayakan pusat-pusat metafisik dan makna-makna transenden, dengan menutup proses permainan dan produktivitas tanda. Pengetahuan yang bersandar pada determinasi seperti itu, menurut Derrida, akan mudah terperangkap di dalam apa yang disebutnya kecenderungan teologis, oleh karena diyakini, bahwa “[T]anda dan tuhan mempunyai tempat dan waktu kelahiran yang sama…Segitiga (referent—signified—signifier) dalam struktur tanda akan bermuara pada sebuah petanda akhir, yang berujung pada tuhan.”[xii] Filsafat—dan ilmu pengetahuan pada umumnya—adalah sebuah wacana yang di dalamnya dimungkinkan tafsiran terbuka (open interpretation) terhadap segala sesuatu, termasuk tafsiran teologis (Kitab Suci).

Di bawah bayang-bayang logosentrisme inilah, manusia terperangkap dalam pelestarian pengetahuan atau reproduksi pengetahuan, bukan pencarian atau pengembangan pengetahuan, yang di dalamnya tanda-tanda dunia tidak dapat dipisahkan dari tanda-tanda ketuhanan. Jorge, sebagai mantan kepala perpustakaan biara, yang terpanggil untuk melindungi ajaran-ajaran Kristus dari pencemaran filsafat, terperangkap di dalam kecenderungan logosentrisme ini, yang dengan sikap fundamentalisnya menggiring pada rangkaian pembunuhan. Di dalam sebuah kotbahnya, Jorge berkata:

“Pekerjaan kita, ordo kita dan khususnya biara ini…adalah kajian, dan pelestarian pengetahuan. Pelestarian…bukan mencari pengetahuan, sebab hak milik pengetahuan, yang bersifat ketuhanan, adalah sesuatu yang telah ditentukan dan disempurnakan sejak awalnya, dalam penyempurnaan Firman, yang mengekspresikan sendiri dirinya. Pelestarian…bukan pencarian, sebab ia adalah pengetahuan hak milik, sebagai sesuatu yang memanusia, bahwa ia telah didefinisikan dan disempurnakan di dalam perjalanan abad, dari khotbah-khotbah para rasul, sampai pada tafsiran para Paus. Tidak ada kemajuan, tidak ada revolusi dalam sejarah pengetahuan, kecuali ikhtisar pengetahuan agung yang berkelanjutan.”[xiii]

Jalan pelestarian pengetahuan ketuhanan yang dilakukan Jorge adalah dengan menutup setiap tafsiran semiotik terhadap Kitab Suci, dengan cara menyembunyikan buku-buku yang mengajarkan tafsiran itu, mencegah siapapun menyentuh dan membacanya, tegasnya dengan cara membreidelnya.[xiv] Apa yang ingin dilakukan oleh Jorge terhadap Kitab Suci sebagai tanda-tanda ketuhanan, adalah melakukan apa yang disebut Derrida sebagai penafsiran restropektif (restropective), yaitu upaya untuk merekonstruksi makna atau kebenaran awal atau orisinil, dalam rangka pelestarian atau reprodukasinya. Di pihak lain, ia melarang tafsiran prospektif (prospective), yaitu tafsiran yang membuka pintu bagi indeterminasi makna, di dalam sebuah permainan bebas interpretasi (free play).[xv] Jorge melihat ke belakang sebuah teks, yaitu mencari makna-makna transenden atau metafisisnya; di lain pihak, melarang setiap orang melihat ke depan, yaitu yang mencoba memberikan tafsir-tafsir baru teks teologis, dengan melepaskan diri dari setiap determinasi transendental, logosentrisme dan tanda-tanda ketuhanan.

Filsuf—seperti Aristoteles, Bacon—menurut Jorge, adalah yang paling berdosa atas interpretasi bebas itu, yang telah mencemari ajaran-ajaran suci. Ia berkata:

“Setiap buku yang dibuat orang itu (filsuf) telah menghancurkan bagian dari pengetahuan yang telah dikumpulkan Kristen sepanjang abad. Bapa telah menjelaskan segala sesuatu yang perlu diketahui tentang kekuatan Firman, tetapi Boethius hanya mengilapkan Filsuf, dan misteri Firman telah ditransformasikan ke dalam parodi manusia tentang kategori dan silogisme…Setiap perkataan Filsuf, yang bahkan atasnya kini para orang suci dan rasul bersumpah, telah membalikkan citra dunia…Jika buku ini…menjadi objek interpretasi bebas, kita telah melampaui batas terakhir.”[xvi]

Apa yang ditakutkan oleh Jorge dari filsafat adalah diambil alihnya “retorika keyakinan dengan retorika olok-olok (mockery).” Jorge dalam hal ini menafsirkan interpretasi bebas sebagai bentuk parodi, dengan demikian ia adalah anti parodi. [xvii]

Model: Novel Intertekstualitas

Untuk menjadikan novelnya komunikatif, pengarang mengasumsikan bahwa ada kesetaraan antara kode-kode yang digunakannya dengan kode-kode kolektif calon pembacanya. Sehingga diharapkan tidak terjadi miskomunikasi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Umberto Eco, teks-teks tertentu, khususnya novel, secara eksplisit memilih model calon pembaca yang sangat umum, lewat pemilihan (i) kode bahasa yang spesifik, (ii) gaya sastra tertentu, dan (iii) indeks-indeks tertentu.[xviii] Dengan cara demikian, di dalam yang hadir novel tidak hanya suara pengarang, akan tetapi juga suara pembaca.

Oleh karena pembaca sangat beranekaragam latar belakang sosial, kultural, intelektual, gender, dan agama mereka, dengan kode, konvensi dan aturan-aturan sosial yang berbeda pula, maka pesan sebuah novel dapat dipahami maknanya secara berbeda, dengan mengacu mengacu pada kode pembacaan yang berbeda pula. Meskipun makna denotatif (denotation) sebuah novel bisa sama antara pengarang dan pembaca, akan tetapi makna konotasi (connotation) dapat berbeda-beda, disebabkan perbedaan kode yang digunakan dalam pembacaan. Sebuah teks membuka dirinya bagi berbagai bentuk pembacaan. Fenomena tekstual seperti inilah yang disebut oleh Eco sebagai teks terbuka (open text).

Apa yang dilakukan Eco untuk menjadikan The Name of the Rose sebagai sebuah teks terbuka adalah dengan menciptakan sebuah ruang dialog di antara dirinya dan pembaca, dalam pengertian melibatkan para pembaca dalam mencipta ulang (recreation) novel tersebut. Salah satu cara pelibatan ini adalah dengan menggunakan kode tertentu di dalam novelnya, khususnya apa yang disebut Roland Barthes di dalam S/Z sebagai kode hermeneutika (hermeneutic code), yaitu aturan yang di dalamnya unsur-unsur tanda mengartikulasikan berbagai pertanyaan, teka-teki, jawabannya, penangguhan jawaban, atau penciptaan enigma.[xix] Judul novel “The Name of the Rose” itu sendiri adalah sebuah teka-teki, yang menggiring para pembaca untuk secara terbuka menafsirkannya dengan berbagai tafsiran atau konotasi: mistik, cinta, perang, sekedar nama, femininitas, perdamaian, bahkan kekerasan (duri). Inilah judul yang menciptakan enigma tanpa kesimpulan di sepanjang novel. Tak ada kata rose muncul di sepanjang cerita; tak ada satu tokoh yang berurusan dengan mawar; tak ada petunjuk apa-apa tentang makna mawar; tak ada satu metaforapun tentang mawar. Jadi, Rose adalah sebuah nama, yang maknanya dapat dicari—secara terbuka—oleh para pembaca di dalam novel, tanpa melibatkan pengarangnya—the open text.

Eco, dalam hal ini,melihat pentingnya sang lain (the others) di dalam novelnya, yaitu setiap pihak yang terlibat dalam penciptaan novelnya: nilai, idiom, karya, pemikiran, budaya. Eco melihat novelnya, sebagai sebuah rantai sejarah, yang menghubungkan masa kini (karya, idiom, bentuk, gaya, nilai, pengalaman estetik) dengan masa lalu, yang di dalamnya berlangsung semacam dialog di antara unsur-unsur yang terlibat. Yang kemudian tercipta adalah sebuah ruang multidimensi atau ruang multikonteks, yang di dalamnya berbagai bentuk ekspresi, idiom dan budaya saling memberikan daya hidup satu sama lainnya.

Menurut Eco, ada tiga model dialog, yaitu ketika sebuah karya dalam proses penciptaan ada (1) dialog antara teks dan teks-teks sebelumnya (buku diciptakan berdasarkan rujukan pada buku-buku lain atau tentang buku lain), ada (2) dialog (imajiner) antara penulis dan model (calon) pembacanya; dan ketika karya sudah tercipta dan dibaca, ada (3) dialog antara teks dan pembacanya.[xx] Ada semacam jembatan sejarah yang dibangun Eco antara dirinya dan pengarang-pengarang lain, khususnya Borges, Doyle, Holmes, dan Joyce, yang di dalamnya berlangsung dialog imajiner di antara mereka. Ekspresi masa kini berbaur dengan ekspresi masa lalu, di dalam ruang multidimensi.

Mikhail Bakhtin, menjelaskan ciri dialogisme (dialogism), yang di dalamnya “…tidak ada sebuah ungkapan pun yang tidak berkaitan dengan ungkapan lain.”[xxi] Setiap ungkapan—seperti The Name of the Rose—merupakan sebuah bentuk pertukaran kata, tanda (signs) dan makna, di antara masa lalu dan masa kini, layaknya sebuah dialog di antara dua pembicara. Dua karya tulisan, dua ungkapan, secara bersama-sama memasuki sebuah hubungan semiotika dan semantika khusus, yang oleh Bakhtin disebut hubungan dialogis (dialogical).[xxii]

Julia Kristeva menggunakan istilah intertekstualitas (intertextuality) untuk menjelaskan hubungan semantik dan dialog di antara dua ucapan, dua ungkapan, dua karya, dua teks, dua budaya, dua konteks waktu ini. Intertekstualitas, menurut Kristeva adalah sebuah ruang tekstual (textual space), yang di dalamnya “…berbagai ucapan (utterance) yang berasal teks-teks lain saling silang-menyilang dan menetralisir satu sama lainnya.”[xxiii] Tidak ada sebuah ungkapan atau karya pun yang kosong dari dimensi intertekstual ini. Ruang tekstual adalah sebuah ruang tiga dimensi atau kordinat yang abstrak, yang di dalamnya terjadi dialog antara subjek penulis, pembaca dan teks-teks lain yang berasal dari luar (eksterior) sebuah teks. Di dalam ruang tekstual itulah terjadi semacam pertukaran tanda (exchange of signs).[xxiv] Tanda-tanda yang berasal dari konteks masa lalu (Abad Pertengahan) berinteraksi dengan tanda-tanda yang berkembang dalam konteks masa kini (pengarang lain), di dalam sebuah wacana pertukaran semiotis.

Di dalam The Name of the Rose dapat ditemukan jejak-jejak kebudayaan atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya, baik berupa kutipan teks, acuan semiotis, model narasi, atau titik berangkat cerita, yang membentuk orientasi dan jalan cerita. Jejak-jejak Abad Pertengahan, filsuf Yunani, peradaban Islam; Borges, Sherlock Holmes dan Joyce dengan mudah dapat ditemukan di dalam The Name of the Rose, yang satu sama lainnya membentuk semacam jaringan, yang disebut Deleuze & Guattari sebagai rizoma (rhizome), yaitu sebuah jaringan dan relasi unsur-unsur yang saling berkaitan satu sama lainnya dengan cara yang kompleks, dinamis dan tak stabil.[xxv] Ada garis yang menghubungkan Eco dengan Borges dengan cara yang aneh dan ironis; ada garis yang menghubungkan Eco dengan filsuf klasik, seperti Aristoteles, dan berjuta garis lainnya yang dapat ditemukan di dalam novel.

Disebabkan beroperasinya berbagai kode di dalamnya, The Name of the Rose, dengan demikian, dapat dilihat sebagai sebuah karya dengan kode ganda (double coding), dalam pengertian pembauran kode-kode semiotik, filosofis atau teologis Eco dengan kode-kode sang lain (Borges, Joyce, Aristoteles, dan sebagainya), yang semuanya berinteraksi dan saling silang menyilang, membentuk sebuah jaringan teks rizomatis (rhizomatic text). Kode ganda adalah kode yang dicirikan oleh kenyataan, bahwa sebuah “…merujuk secara simultan pada dua konteks pengungkapan: yaitu pengungkapan masa kini dan masa lalu.”[xxvi]

Pembauran dua teks, dua konteks dan dua kode (atau banyak kode) di dalamnya, telah membentuk The Name of the Rose sebagai sebuah teks hibrid (hybrid), yaitu kawin silang antar teks, antar budaya, antar kode, antar idiom dan antar waktu, yang menghasilkan kategori-ketegori teks yang baru. Teks hibrid adalah komposisi sebuah teks yang “…dilihat dari sifat-sifat gramar (sintaktis) dan komposisinya, merupakan milik seorang pengarang, akan tetapi mengandung di dalamnya dua ucapan, dua cara berbicara, dua gaya, dua bahasa, dua cakrawala semantik dan aksiologis.”[xxvii] Teks hibrid menciptakan semacam gradasi tekstual, yaitu dengan tumpang tindihnya satu tanda di atas tanda-tanda lainnya, satu makna di atas yang lain, satu suara di atas yang lain. Di dalam teks hibrid, “…dua jalur jalan melebur di dalam sebuah narasi, dalam idiom pastiche, parodi atau alegori.”[xxviii] Kecenderungan pastiche atau allegory ini tampak jelas pada The Name of the Rose, yang mengambil setting abad ke-13, dengan tafsiran interteks yang melibatkan kode-kode semiotik para pengarang yang berbeda zaman.

Strategi: Novel Parodi Teologis?

Di samping pastiche, The Name of the Rose dapat pula dilihat sebagai sebuah teks parodi, baik terhadap individu pengarang, aliran pemikiran atau kehidupan keberagamaan. Ada parodi khusus terhadap Borges, yang namanya justru menjadi karakter penting di dalam cerita, yaitu Jorge of Burgos, yang merupakan plesetan dari Jorge Luis Borges, seorang tokoh yang dilukiskan mempunyai pikiran logosentris, fanatik dan fundamentalis; yang anti interpretasi, anti filsafat, anti sains, anti perubahan, dan anti parodi. Lukisan karakter Jorge ini merupakan parodi atau kritik Eco terhadap Borges, yang filsafatnya dianggap Eco terlalu kaku dan kepala batu, seperti kaku dan kepala batunya tokoh Jorge.[xxix] Eco bahkan menggunakan karya Borges—khususnya ‘The Two Kings and their Two Labyrinths’—sebagai sebuah titik berangkat, atau sebuah kendaraan, yang kemudian digunakan untuk mengekspresikan orientasi tekstual atau tujuan ideologisnya sendiri, sebagaimana yang dilakukan di dalam teks-teks parodi pada umumnya. Dengan demikian, teks Borges (dan juga yang lainnya) dijadikan sebagai kendaraan untuk menginterpretasikan kondisi kehidupan keagamaan di biara abad pertengahan, tetapi sekaligus sebagai objek parodinya.

Meskipun diperlukan ketelitian untuk mengkategorikan idiom karya Eco, akan tetapi yang jelas karya tersebut sangat sarat dengan muatan-muatan kritik, sindiran, cemoohan, seperti karya parodi pada umumnya. Eco melakukan apa yang di dalam hermeneutik disebut transkontekstualisasi (trans-contextualisation), yaitu memperbaharui gagasan sastra dan semiotik sebuah teks, dengan cara menemukan konteks-konteksnya yang baru, sebagai sebuah bentuk dialog dengan masa lalu.[xxx] Eco tidak mengimitasi idiom masa lalu, tetapi berdialog dengannya lewat strategi transkontektualisasi ini. Teks masa lalu digunakan hanya sebagai pemandu untuk mencapai tujuan artistik dan ideologisnya yang baru, yaitu untuk mengkritik kondisi sosial, tradisi dan dogmatisme gereja, lewat bahasa parodi atau ironi. Di dalam The Name of the Rose, sebagai sebuah teks parodi, terbentuk semacam ruang kritik (critical distance), yang menghubungkan teks, orang, atau kondisi sosial sebagai latar belakang (kehidupan biara), dan teks baru yang diciptakan, yang dilandasi oleh muatan-muatan ironi. Sasaran parodi Eco di dalam novelnya, dengan demikian, tidak hanya sebuah karya, seorang pengarang, akan tetapi juga tradisi dogmatis, yang mewarnai kehidupan biara di abad pertengahan, dan mungkin juga di masa kini. “Mimpi adalah kitab suci, dan berbagai kitab suci tak lain dari mimpi semata”, itulah parodi William terhadap tradisi teologi.[xxxi]

Secara keseluruhan, novel Eco ini merupakan manifestasi dari apa yang disebut sebagai kebebasan interpretasi atau yang disebut Derrida interpretasi atas interpretasi (interpretation of interpretation) terhadap teks-teks yang ada, termasuk teks-teks suci keagamaan, yang oleh penganut dogmatis seperti Jorge justru diharamkan, and harus dicegah bahkan dengan kekerasan dan pembunuhan. Proses rekontekstualisasi yang dilakukan Eco mampu menghasilkan tafsiran baru terhadap situasi kehidupan biara di Abad Pertengahan. Akan tetapi, kebebasan tafsiran yang ditawarkan Eco itu, telah membawa kita pada ruang tafsiran yang terbuka itu, yang hingga kalimat terakhir novel ini tidak dapat kita temukan sekuntum mawarpun, yang hanya mungkin dapat kita temukan lewat pembacaan semiotis yang terbuka.

Yasraf Amir Piliang
Founder Forum Studi Kebudayaan (FSK), FSRD-ITB

Makalah disampaikan dalam acara Bedah Buku “The Name of the Rose” (terjemahan), Penerbit Jalasutra bekerjasama dengan Toko Buku Kecil, Bandung 7 September 2003.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Spam Protection by WP-SpamFree