DESAIN DAN PEMBERDAYAAN

DESAIN DAN PEMBERDAYAAN

Dian Cahyadi, S.DP.Ind., M.Ds, disadur dari pokok-pokok pikiran Dr. Agus Sachari, M.Sn

“Seorang bijak dan ambisius pernah berkata kepadaku, bahwa ia memiliki hasrat untuk dapat merubah dunia. Namun setelah berpuluh tahun terlewatkan dan diusianya yang usur memberikan pandangannya. Ia telah berbuat namun belum mampu mengubah dunia, akhirnya visinya ia rubah untuk merubah bangsanya, namun ia gagal lagi, dan sekali lagi ia menggati target ambisinya untuk merubah lingkungannya. Kegagalanpun kembali dirasakannya dankembali menurunkan visi ambisinya untuk merubah keluarganya dan untuk hal itupun ia gagal, bahkan untuk dirinya sendiri ia tidak memiliki kuasa. Akhirnya iapun tenggelam dalam perenungan yang panjang dan mengukuhkan dalam hati, baha ia harus memulainya dari dirinya sendiri. Namun apa-lacur, usianya semakin uzur dan di sisa kekuatannya ia pun menitipkan pesan kepadaku, satu hal yang akhirnya mampu ia lakukan sebelum akhirnya menghilang dari pelupuk mataku”

Apa makna yang terkandung dari kisah tersebut ?

Diskusikan dalam kelompok masing-masing !

Kemukakan dihadapan kelas !

Tiap mahasiswa membuat presentasi kecil mengenai bahasan !

—————————————

KONSEP PEMBERDAYAAN

Saat ini kita tidaklah mungkin mengabaikan banyak hal, sebab kita tidak akan mampu mengabaikannya, namun kita mampu memberikan pengaruh.

Secara etimologis, istilah ‘Pemberdayaan’ merupakan terjemahan dari kata ‘empowerment’, sedangkan kata ‘memberdayakan’ berasal dari kata ‘empower’. Keduanya memiliki arti yang berbeda yang dimaknakan sebagai memberi kekuasaan, mengalihkan kedayaan, atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain, atau secara ringkas memiliki arti upaya untuk memberi kemampuan atau kedayaan. Teori-teori mengenai pemberdayaan kedua istilah di atas dipergunakan untuk menjelaskan proses “Pemberdayaan” maupun “Memberdayakan”.

Dalam berbagai lingkup, pemberdayaan mengandung makna sebagai reaksi balik terhadap fenomena ketidak-mampuan menghadapi sebuah kekuasaan besar yang telah mewacana. Fenomena-fenomena itupun muncul sebagai “suara” ketidak-puasan dan penyadaran terhadap penindasan, pelecehan, peniadaan, perendahan, pengecilan arti terhadap satu tatanan atau kelompok minoritas, yaitu mereka tak berdaya, terbelakang atau yang tersisihkan.

Di dunia desain dan kesenirupaan, kelompok-kelompok pemberdayaan ini juga telah menjadi suatu fenomena yang amat reaktif terhadap kondisi dan dominasi konsep-konsep desain dari negara-negara maju. Beberapa konsep pemberdayaan desain sebagai bagian dari reaksi terhadap kedayaan yang dirasakan “menindas”, diantaranya kelompok “Anti-Desain” (Ettore Sottsas) di Italia yang menyindir barang industri yang ‘kering’, konsep “desain bagi dunia nyata” (Victor Papanek) merupakan konsep alternatif pengembangan desain di negara berkembang; konsep “Green Design” (Dorothy Mackenzie) merupakan reaksi terhadap desain-desain yang mengabaikan kelestarian lingkungan; konsep desain “Partisipatio” (Nigel Cross) merupakan reaksi terhadap desain yang semata-mata dilahirkan untuk kepentingan industri, kemudian gagasan-gagasan bahasa rupa “Postmodernis” (Charles Jencks) merupakan reaksi kritis terhadap Modernisme yang dinilai kurang manusiawi, sedangkan konsep estetika Etnisitis yang tumbuh dinegara berekmbang merupakan reaksi terhadap wacana estetika barat yang terlalu mendominasi.

PRAKTIK PEMBERDAYAAN

Konsep pemberdayaan oleh pengamat sejarah dinilai tidak terlepas dari akar terjadinya gelombang pemikiran baru di Eropa yang dikenal dengan ‘Gerakan Aufklarung’ (pencerahan) yang melanda benua Eropa pada abad pertengahan, hingga kepada masa dimana gerakan tersebut mengalami ‘reorientasi’ yang kemudian mengalami proses pematangan menjadi satu paham yang mutlak, dan berdampak pada pola yang ‘lemah’ dieksploitasi oleh yang ‘kuat’. Secara konteks, ‘Kapitalisme’ semakin memantapkan diri dan kemudian membaur dengan paham-paham liberalisme, individualisme, dan positivisme. Manusia kemudian memandang negara dan bangsa sebagai satu metamorfosa dari sistem keagamaan yang lama. Demikian pula pada bentuk konteksnya dalam memandang hukum dan ekonomi sebagai suatu kekuasaan baru yang dianaogikan sebagai suatu keyakinan keagamaan. Kemudian hingga kepada gerakan mempertanyakan keberadaan modernisme yang mewacana hingga kini.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

 

Spam Protection by WP-SpamFree