DESAIN INDIE DI INDONESIA

oleh Dian Cahyadi, M.Ds

Gerakan indie desain terdiri dari perancang independen, seniman dan pengrajin yang merancang dan membuat berbagai macam produk tanpa menjadi bagian besardari sebuah perusahaan / industri besar .
Disain cover cd untuk salah satu band indie di jogja, sleeplessangel oleh Bayu Rizky Ananda

Mereka didukung oleh meningkatnya jumlah pembeli indie yang mencari niche dan sering produk buatan tangan sebagai lawan yang diproduksi secara massal oleh perusahaan. Produk tersebut dapat meliputi perhiasan dan lainnya aksesoris , keramik , pakaian , kaca , logam , furnitur , kosmetik , seni dan banyak lagi.

Desainer Indie sering menjual barang-barang mereka secara langsung kepada pembeli dengan cara online melalui toko-toko mereka sendiri, pameran kerajinan , pasar jalanan dan berbagai pasar online, seperti Etsy . Namun, mereka juga mungkin terlibat dalam pengiriman dan / atau hubungan grosir dengan gerai ritel, baik online maupun offline.(Wikipedia)

Dasar gerakan indie adalah sebuah gerakan independen yang memproduksi benda dan produk-produk yang tidak melibatkan industri besar terlebih mendapat pengaruh langsung oleh industri-industri. Kebebasan berekspresi yang tertuang kedalam produk-produk yang mereka hasilkan. Membicarakan perihal gerakan indie serupa halnya jika kita kembali berbicara mengenai orisinalitas sebuah karya atau benda-benda produk lainnya tanpa membatasi pemberlakuan pengaruh genre dan adopsi lainnya didalamnya.

‘Indie’ kemudian datang dengan simbol-simbol ide mengenai orisinalitas, konsep-konsep yang segar, serta cita-cita pemikiran yang maju.Tetapi indie telah datang berarti jauh lebih banyak dari “independen”.

“It has come to symbolize ideas about originality, fresh concepts, and forward-thinking ideals.”(Lolaness, Indie’s Movement)

Ia telah datang untuk melambangkan ide tentang orisinalitas, konsep-konsep segar, dan cita-cita berpikiran maju. Bagi mereka yang menganggap dirinya merupakan beberapa bagian dari konsep dan sistim berpikir gerakan desain indie, itu berarti melakukan bisnis (atau bisnis operasi) yang tidak terkait dengan perusahaan besar. Ini berarti pula dukungan kepada pengrajin yang memperoleh proyek hidup mereka-oleh-proyek, bukan menetap untuk diproduksi secara massal produk dari toko besar dan menjad terkotak-kotakkan.

Menumbuhkan Kemandirian Usaha

Gerakan Indie di Indonesia awalnya dibina oleh para musisi dari berbagai aliran yang tidak mendapatkan tempat dipasaran (pop genre) atas kemauan perusahan label berdasarkan pasar di era 50-an hingga 90-an.

Munculnya grup-grup band dengan ragam aliran memberikan warna dari kegelisahan mereka atas intervensi industri terhadap selera musik. Dengan biaya produksi yang seadanya kemudian mereka membuat album musik sesuai genre yang mereka usung. Mereka kemudian dicap dengan berbagai julukan hingga kepada intervensi pemerintah yang sempat mengharamkan musik Rock dan Rock and Roll sebagai musik setan dan musik imperial di jaman Soekarno, hingga kepada jatuhnya vonis penjara yang dialami oleh Koes Bersaudara yang di cap sebagai musisi pro-Barat (Amerika).

Dalam mashab-mashab desain yang berkembang di Indonesia, pada tahun 70-an, mahasiswa FSRD ITB melakukan gerakan eksperimen seni dan desain dengan mengadopsi aliran Memphis di pusat perbelanjaan Cihampelas yang merupakan pusat ritel industri kaos dan jeans berskala rumahan (bukan produk industri besar). Aliran gaya Memphis kemudian berdampak keapada perwajahan desain di Indonesia yang terlihat dari tata lay out cover-cover majalah dan di dunia fesyen. Hingga kemudian pengaruh budaya Pop-Art ini melanda negeri dan sekaligus sebagai penanda lahirnya era Post-Modern di Indonesia.

Pada era ini, kesadaran akan bentuk genre Indie belum dirasakan kehadirannya secara langsung, sebab campur tangan industri kemudian dengan latah pasarnya merangkul gerakan tersebut. Sebutlah industri rumahan pakaian kaos C-59 yang kemudian meraja sebagai industri besar.

Gerakan Indie menjadi gerakan kemudian memunculkan raksasa ekonomi baru yang berangkat dari akar industri di rumah-rumah dengan skala industri kecil namun tersebar dengan cakupan yang meluas. Terbangun dengan bentuk jaringan-jaringan yang saling mendukung disertai pasar yang yang muncul secara sporadis menjadi dialektika gaya hidup baru. Sebutlah gerakan Distro (Distribution Out-let) yang merupakan bagian dari genre Indie yang tumbuh secara bersamaan dengan bentuk produk-produk lainnya di sektor ritel musik Indie, produk-produk desain Indie dan karya-karya kerajinan lainnya.

Gerakan tumbuhnya karya-karya produk kerajinan kemudian ditandai dengan bermunculannya pasar-pasar kerajinan, sebagai dampak dari lahirnya sebuah even yang digagas oleh mahasiswa FSRD ITB yang terkenal dengan perhelatan Pasar Seni ITB yang kemudian menjadi patron tumbuhnya media-media ritel lainnya.

Dalam perwajahan lay-out perwajahan industri percetakan majalah di Indonesia seiring dengan perkembangan jaman, berbagai macam media publikasi pun ditawarkan untuk melihat proses perubahan yang terjadi didalam kehidupan manusia sehari-hari. Seperti halnya dengan munculnya majalah Trolley disekitar tahun 2000, suatu majalah yang terinspirasi oleh ide-ide dari industri budaya dan gaya hidup alternatif yang melawan arus. Media publikasi ini dikenal dengan sebutan majalah indie, yang muncul sebagai reaksi dari majalah-majalah umum di Indonesia.

Indie, berasal dari kata independent, bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki arti sebagai berikut orang yang tidak berpartai, merdeka, sendiri, berjiwa bebas. Bahkan komunitas indie ini memiliki semboyan yaitu “Do It Yourself” (D.I.Y) yang berarti segala sesuatu dilakukan sendiri/ mandiri.

Kemunculan Distro

Apa yang terjadi di bandung pada dekade 90-an, memang tak bisa lepas dari kecenderungan global pada saat itu. Musik dan gaya hidup, sebagai dua hal yang tak terpisahkan, memberi pengaruh sangat besar dalam perkembangan fashion anak muda Bandung. Sejak generasi Aktuil di tahun 70’an, Bandung dikenal sangat adaptif pada perkembangan musik dunia. Ketika merunut aliran musik apa saja yang berkembang dalam dekade 90’an, kita bisa melihat bagaimana perkembangan musik itu mempengaruhi eksplorasi anak muda Bandung di bidang fashion. Grunge, yang dipengaruhi oleh punk, muncul di awal tahun 90’an. Sepatu Doc Martens, Converse high top sneaker dan kemeja flanel yang menjadi trend fashion sampai pertengahan tahun 90. Pada kenyataan flanel di gunakan para musisi beraliran grunge ini karena murah dan hangat. Saat grunge kemudian digantikan oleh musik alternatif di pertengahan 90’an dan Nu-Metal yang dimotori oleh Korn sampai menjelang akhir 1990, fashion ini masih terbawa. Hip hop yang banyak digemari para skateboarders dan mempengaruhi perkembangan musik R&B memberi warna lain pada dekade itu. Scene hardcore atau scenecore atau disebut juga emo dan gaya yang dibawa aliran musik pop punk yang dipengaruhi membawa trend fashion yang bersilangan diantara keduanya dan dipengaruhi oleh gelombang ketiga pop punk yang dipelopori oleh Green Day, Good Charlote, Simple Plan.

Extreme sport (diantaranya skateboarding dan surfing), mencapai popularitasnya di tahun 1995. ESPN sebagai saluran extreme sport dan hanya dapat ditonton melalui antena parabola, menjadi salah satu rujukan para skateboarder Bandung pada saat itu. Rujukan lain seperti majalah Thrasher, yang mencitrakan skateboarding sebagai olah raga yang didasari oleh semangat pemberontakan dan akrab dengan ideologi punk, sementara Transworld Skateboarding terasa lebih moderen, beragam dan menjaga citra para bintang skateboarding. Termasuk juga masuknya MTV ke Indonesia yang memperkenalkan lifestyle baru dengan jargon-jargonnya: ‘MTV beda’, ‘MTV Gue Banget’. Perbedaan menjadi komoditas yang dirayakan bersama-sama.

Ketika awal 90’an, fashion skateboarding dunia dipengaruhi oleh perkembangan street skateboarding yang sangat kental nuansa punk rocknya. Baggy dengan oversize denim dan t-shirt extra large menjadi trend pada saat itu. Sementara pertengahan sampai akhir tahun 1990an, trend fashion dalam dunia skateboarding berubah lebih ‘ramping’. Ukuran jeans dan T-shirt, menjadi lebih pas di badan. Bahkan beberapa skateboarder menggunakan jeans dan t-shirt ekstra ketat. Perubahan ini membuat gaya fashion dalam dunia skateboarding terbagi menjadi dua kategori: “punk” (ketat dan ngepas badan) dan “baggy” meski pada prakteknya pembagian itu menjadi sedikit lebih rumit. Celana shagging jeans atau baggy, sweater dari bahan katun atau poliester dengan pull over dan kantong kangguru di depannya atau disebut juga hoodie, baseball caps, dan sepatu vans. Gaya skate punk inilah yang kemudian banyak dieksplorasi dalam desain clothing anak-anak muda Bandung. Majalah katalog seperti Suave, yang terbit di Bandung dengan jelas memperlihatkan pengaruh itu. Pada akhir 90’an apa yang disebut “punk style clothing” menjadi tagline baru dalam perkembangan industri clothing global. Gaya punk kemudian menjadi sesuatu yang mainstream, mendunia dan menjadi mapan.

“Kita emang banyak dipengaruhi oleh musik yang kita sukai, dari label-label skateboard yang kita pakai dulunya, karena kita besarnya, growing upnya di situ. Karena musik ini kan sangat terkait dengan fashion,” Helvi yang juga creative director Airplane, mengakui hal itu.

Pendapat helvi diperkuat Arian tigabelas, mantan vokalis Puppen dan kini menjadi vokalis band Seringai “Ada fenomena yang menarik ceuk urang mah, dulu Bandung terkenal dengan band-band yang keren-keren tapi waktu berlalu dan rupanya band nggak terlalu menghasilkan/menghidupi, dan kini para pelaku band tersebut pindah ke clothing. Jadinya terus terang band Bandung yang punya nama ‘gede’ sekarang udah ngga signifikan. Tapi clothing jadi industri yang lebih jelas bisa menghidupi iya, karena main band ternyata tetap kere sementara realitanya musti punya modal hidup.”

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dalam dekade 90’an, menjadi faktor penting dalam proses yang disebut Hikmat Budiman sebagai penyerapan desain arsitektur global. Ketika tahun 1995 bisnis Internet Service Provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta, menurut catatan Kompas, Bandung menjadi salah satu dari tiga kota pengguna jasa internet terbesar. Jika saat itu tercatat di ada sekitar 14 ribu pemakai internet di Indonesia, Bandung menjadi kota pengguna internet terbesar ketiga (1.000 pengguna), setelah Jakarta (10.000 pengguna) dan Surabaya (3.000 pengguna). Bagaimana kemudian perkembangan teknologi informasi ini diserap dalam waktu yang hampir bersamaan di Bandung. Belanja online yang dilakukan Reverse untuk memperoleh produk-produk import yang mereka jual kembali di Bandung. Juga yang dilakukan Anonim yang muncul tahun 1999, mengikuti jejak pendahulunya dengan menjual t-shirt import merchandise band yang dipesannya melalui internet.

Dalam perkembangannya, eksplorasi desain clothing anak-anak muda Bandung, banyak juga dipengaruhi oleh gaya street fashion Jepang yang terasa lebih eklektik dan eksperimental. Majalah Trolley (alm 2001-2003), sempat menerbitkan suplemen khusus mengenai gaya street fashion Jepang ini dalam salah satu edisinya.

Pergeseran kiblat kreatif global dari Amerika ke Inggris/Eropa dalam tiga tahun terakhir ini, juga terasa pengaruhnya. Perubahannya sangat jelas terasa dalam scene musik. Street culture Inggris dan Eropa kemudian menjadi sumber rujukan baru dalam mengelaborasi desain produk-produk clothing kemudian. Tahun 2006 ini, Fast Foward record, telah dua kali mendatangkan grup musik dari Eropa untuk pentas di Bandung_King of Convinience (Norwegia) dan Edson (Swedia).

Ketika masa kekuasaan Orde Baru berakhir, kehidupan sosial politik Indonesia mengalami banyak perubahan di era reformasi. Warga Bandung memperlihatkan pola relasi yang baru dengan ruang-ruang publik yang ada di kota Bandung. Beragam aktivitas dan perayaan dilakukan di jalan. Jalanan seperti Dago, menjadi catwalk publik yang mengundang siapa pun yang datang untuk menampilkan gaya dandanan mereka. Individu kemudian mendapat ruang untuk mengekspresikan diri. Saat itu, banyak pertunjukan-pertunjukan musik yang kemudian disponsori oleh clothing company yang mulai memiliki kemampuan ekonomi.

Selain karena minat pada musik yang mereka sponsori, acara-acara seperti itu kemudian menjadi salah satu strategi bersama untuk mempromosikan merek produk-produk clothing yang mereka buat. Monik, Celtic dan Popcycle management, dikenal secara berkala menyelenggarakan konser La Viola bekerjasama dengan pusat Kebudayaan perancis (CCF) bandung. Marin, selain menjadi salah satu pemilik Monik, Celtic, Fast Foward, Reverse clothing Company, juga memiliki TRL bar di Jalan Braga. dari bar kecil itu pula, eksplorasi musik elektronik yang banyak mewarnai perkembangan musik global beberapa tahun terakhir ini, banyak dilakukan. Salah satu pilihannya adalah sekolah Drum n Bass yang dimotori oleh DJ xonad, jenis electronic dance music ini berkembang di Inggris pada dekade 90’an dan semakin dikenal pada awal tahun 2000 serta berkembang di beberapa negara Eropa dalam dua tahun terakhir ini.

“Karena Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang… lagian orang-orangnya kekeluargaan, cair banget, babaturanlah, semua dianggap sama,” Ujar Dede anonim, seperti saya kutip dari tulisan Gustaff H. Iskandar, ‘Fuck You! We’re from Bandung. Kondisi inil, masih menurut Gustaff, membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik dan juga street fashion di Bandung. Dan mendorong pertumbuhan clothing store (distro) di Bandung.

Sejumlah Persoalan

Di masa boom clothing store 2003 lalu, Kompas pernah menulis: “Adapun untuk membuka sebuah distro, hanya dibutuhkan modal “nekat”. cukup menyediakan sebuah ruangan kecil, misalnya mengambil salah satu sudut rumah seperti garasi. Lalu barang-barangnya bisa digunakan sistem jual titip, dengan menerima titipan barang dari berbagai clothing company. Bila barang-barang titipan itu laku terjual, barulah disisihkan keuntungan untuk si distro (clothing store).”

Namun pada prosesnya tidak sesederhana itu. Modal nekat saja tidak cukup. Bagaimanapun bisnis yang dilatari oleh hobi dan kesenangan pun mengandung bermacam resiko. Benturan kepentingan yang mempertentangkan antara bisnis dan idealisme, menyeruak sebagai sebuah konsekuensi yang harus dihadapi dan disiasati.

“Saya bukan orang bisnis tadinya, akhirnya saya harus belajar bisnis, kasihan guanya gitu..” Seloroh Dandhy dalam sebuah Gathering Komunitas Kreatif di Bandung, bulan April lalu. “Gua ngerasa banyak hambatan dalam kreativitas karena banyak kepentok,” meski ucapan Dandy itu bernada main-main, namun pada prakteknya, keseriusan dalam mengelola bisnis ini memang menjadi proses adaptasi yang berat. Beberapa Clothing yang sudah cukup kuat seperti Airplane dan 347/eat, sengaja menyewa konsultan manajemen dan bisnis untuk memberi masukan dalam pengembangkan usaha mereka. Fiki manajer bisnis sekaligus salah satu pendiri Airplane mengaku, saran-saran bisnis dari konsultan profesional tidak seluruhnya bisa di terapkan. “Tetap aja, kita harus nemuin cara yang paling sesuai dan enak buat kita jalani. Ngga bisa sepenuhnya berdasarkan teori manajemen.” Hal serupa juga dirasakan Dandhy. Konsultan bisnis yang mengawasi kinerja dirinya dan teman-temannya, malah membuat mereka bekerja dalam suasana yang tidak nyaman. Akhirnya Dandhy memilih mengembalikan suasana kerja yang nyaman, meskipun itu berarti tanpa konsultan bisnis.

Fiki, menjelaskan, untuk membesarkan bisnis yang semula dibangun berdasarkan hobi, butuh kedisiplinan tinggi dalam mengelolanya. “Gua ngejalanin Airplane ini bener-bener disiplin. Kita muterin duit yang ada dan disiplin untuk ngejalanin itu. Dan ngga pernah ada suntikan dana lagi sejak dana awal. Airplane bediri udah sejak tahun 1997, tapi bener-bener ngejalanin bisnisnya sejak buka toko, tahun 2001. Sejak September 2001, waktu itu kita mulai dengan uang kurang dari 10 juta untuk sewa tempat dan kita udah punya omset yang lumayan, tapi kalau ada lebihnya kita simpen dan dipake untuk produksi lagi, nambahin modal. Karena kita punya sedikit pengetahuan tentang administrasi juga, makanya bisa tertib administrasi dan itu kerasa banget gunanya.”

Namun tidak semua clothing company memiliki kemampuan untuk membayar konsultan bisnis atau melakukan pembagian kerja yang jelas. Bagi clothing company yang muncul belakangan, idealisme dan keterbatasan modal menjadi tantangan yang harus disiasati lebih keras lagi. Karena secara bisnis, mereka harus berhadapan dengan clothing teman-temannya yang muncul dan mapan lebih dulu.

Dari segi pengembangan desain, tidak banyak juga yang melakukan riset dan pengembangan desain secara serius. Akibat dari boom clothing di tahun 2003, follower yang muncul belakangan, banyak yang asal jiplak desain-desain yang sudah ada. Karena untuk membangun sebuah karakter desain yang kuat dibutuhkan waktu dan proses yang lama. Menanggapi kekawatiran desainnya dijiplak, baik Helvi maupun Dandhy, justru tidak merasa kawatir. Bagi Helvi, kondisi seperti itu, malah membuat ia lebih fokus lagi menemukan karakter desain Airplane. Begitu pula Dandhy, jika imagenya sudah kuat, tak perlu kawatir dengan para peniru. Keseriusan dalam soal desain dan visual inilah yang kemudian membedakan dan menjadi ciri antara clothing satu dengan yang lain.

United we stand

Waktu menunjukan hampir tengah hari. Cuaca begitu cerah. Ruang tengah Jalan Kyai Gede Utama 8 Bandung, terasa guyup, menggantikan kelengangan yang biasa terasa. Sekelompok anak muda duduk-duduk santai di bangku-bangku kayu, di taman terbuka. Wajah-wajah lama, generasi pertama clothing Bandung paska 1995, bercampur dengan wajah-wajah baru generasi pengikutnya. Bukan hal yang mudah, mengumpulkan mereka dalam satu waktu. Riuh suara canda dan tawa, bercampur kicauan burung-burung yang sejak lama menghuni pepohonan di sekitarnya. “Sekarang kita mau jadi seperti apa? Arahnya apakah asosiasi yang dijalankan dengan praktek mafia? Atau gimana? Apakah kita bikin asosiasi untuk bikin counter yang menjegal praktek kartel? Atau asosiasi ini hanya mengakomodasi kepentingan dan ideologi yang sama, dan menghancurkan lawan yang berbeda pandangan? Atau tujuannya sosial atau kemanusiaan.” Dandhy pemilik clothing 347/eat, melemparkan pertanyaan itu ke forum. Perdebatan panjang tiga puluh orang yang hadir disitu pun dimulai. Canda tawa, berubah serius. Masing-masing sibuk memikirkan jawaban dan saling beragumen sampai berjam-jam kemudian. Saya hadir disitu, mencatat waktu. Hari itu, Senin, 12 Juni 2006. Hari dimana asosiasi para pengusaha clothing yang dinamai ‘Forum Komunikasi Pengusaha Clothing Bandung’, di deklarasikan.

Bagi saya, ini memang sudah waktunya, ketika akhirnya para pengusaha muda clothing Bandung ini mau bersatu padu membuat Forum Komukasi. Hal ini bukannya tanpa sebab. Mereka yang selama ini tak terpetakan sebagai potensi ekonomi, tiba-tiba bukan hanya dilirik, tapi coba dirangkul pemerintah lewat program bantuan Industri Kecil dan Menengah, Disperindag. Mengutip apa yang diberitakan Harian Pikiran Rakyat tanggal 8 Juni 2006, Drs. H. Agus Gustiar, M.Si., selaku Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), “Bagaimanapun kekuatan kita ada pada IKM. Supaya lebih kuat, semua IKM harus bersatu untuk membuat terobosan baru yang bisa mengangkat Bandung khususnya.” …Agus yakin, industri distro Bandung memiliki ciri khas tersendiri yang diilhami dari kreativitas anak muda Bandung.” Jangan sampai ini hilang seperti beberapa merek Bandung yang sekarang mulai memudar, bahkan tidak dikenal orang. Padahal ini merupakan potensi Bandung yang harus ditonjolkan.”

Dalam kegiatan Gathering Komunitas Kreatif dan Online conference yang diselenggarakan selama bulan April-Mei 2006, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Urban Desain dan Common Room Networks Foundation, mengidentifikasi persoalan-persoalan eksternal yang dihadapi selama ini. Masalah-masalah itu muncul, ketika selama ini pemerintah sama sekali tidak mendukung aktivitas yang mereka lakukan. Tidak adanya regulasi pemerintah yang jelas dalam pengembangan industri berbasis kreatifitas seperti yang dilakukan Clothing company selama ini, juga strategi pengembangan industri berbasis kreatifitas sebagai salah satu pengembangan ekonomi kota yang berkelanjutan. Belum lagi pengelolaan pajak yang tak jelas timbal baliknya. Persoalan ketiadaan infrastruktur dan ketidak jelasan pengaturan tata guna lahan di Bandung untuk kawasan komersial, menyebabkan nilai ekonomi lahan semakin mahal dan tak terjangkau dalam mengembangkan usaha yang selama ini mereka jalankan. Pada akhirnya, dukungan yang digembar-gemborkan pemerintah untuk mendukung Industri Kecil Menengah dan membangun kecintaan akan produk dalam negeri, hanya menjadi jargon belaka.

Disadari atau tidak, clothing industry yang muncul dan berkembang di Bandung ini, justru memicu perkembangan industri-industri kecil baru yang juga berbasis kreatifitas. Secara organik, infrastruktur pendukungnya, bermunculan satu persatu. “Waktu itu lagi booming-boomingnya clothing, trus gue pikir, ngapain juga ikut-ikutan bikin clothing, mendingan gue bikin usaha lain yang bisa mendukung usaha mereka. Ada kesadaran itu di gue dan tiga orang teman gue yang lain, gue ngeliatnya orang-orang ini udah harus profesional lah, kalo mereka berbisnis ya harus berpromosi, mereka punya produk yang bagus, buat apa kalo ngga berpromosi,” ungkap Uchunk, salah satu pendiri Suave, Free Catalogue Magazine, ketika saya temui disebuah tempat nongkrong di Bandung. Suave awalnya dicetak sebanyak 3000 eks dengan modal sebuah komputer pribadi. Kini tirasnya mencapai 8000 eks dengan 90 halaman full color. Selain didesain dengan tampilan yang menurut Uchunk, terlihat mainstream, jauh dari kesan indie dan underground, Uchunk juga memberi halaman galeri bagi siapapun yang ingin memamerkan karya grafisnya di satu halaman Suave.

Menurut uchunk, saat ini banyak clothing company yang kemudian menggunakan jasa desainer grafis, fotografer dan biro iklan untuk menggarap materi promosi produk yang bersangkutan. Baginya kondisi ini sangat menggembirakan, karena bidang industri kreatif lainnya kemudian bermunculan. Helvi menambahkan, “Waktu kita bikin ini, ngga kepikiran kalau di depan ternyata akan berhubungan dengan segala macam. Fotografer, advertising, itu kan seru jadinya. Jadi kaya punya dunia sendiri, infrastrukturnya jadi kebentuk dan ini adalah wilayahnya anak muda.”

Wajar saja, jika kemudian tawaran yang datang tiba-tiba ini, disikapi dengan membentuk Forum Komunikasi yang bertujuan untuk memperkuat dan saling mendukung satu sama lain. Banyak persoalan baik internal maupun eksternal yang selama ini harus disiasati dan dipecahkan sendiri oleh mereka. Karena itu, tawaran pemerintah, seperti sesuatu yang to good to be true. Mereka bukannya resistan terhadap niat baik pemerintah, namun yang mereka harapkan adalah kejelasan dalam proses negosiasi dimana posisi tawar kedua belah pihak bisa berjalan dengan seimbang. Dalam hal ini mereka memperlihatkan, apa yang disebut Gustaff H. Iskandar dalam tulisan yang sama, sebagai kemandirian politik dan ekonomi.

Perspektif kemandirian, kemudian menjadi prinsip yang selalu dimaknai kembali oleh mereka. Ketika kemandirian berarti memulai impian besar dengan langkah-langkah kecil. Dengan patungan modal seadanya. Juga ketika usaha ini berkemban dan mendapatkan perhatian, kemandirian berarti membangun posisi tawar mereka ketika bertarung dengan banyak kepentingan-kepentingan lain. Pemerintah salah satunya.

Dan disaat, banyak orang kemudian mengeluh, bahwa produk clothing menjadi seragam, waktu yang akan membuktikan mana yang kemudian konsisten menjalani proses eksplorasi terus menerus untuk menemukan kematangan produk atau malah inovasi-inovasi baru dan mana yang kemudian hilang seperti merek-merek Bandung yang memudar dan tak dikenal orang seperti yang dikawatirkan Agus Gustiar.

Setidaknya sampai hari ini, setelah satu dekade yang panjang mereka berproses terus menerus, kekawatiran itu tidak terbukti. “Yang paling keren menurut gua adalah, dimana sekarang anak-anak muda ngga gengsi dan malu lagi pake produk lokal. Dan kita juga seneng, karya kita dihargai orang dari mulai yang naik angkot sampai mobil mewah, pake kaos lokal.” Helvi mengatakan itu dengan mata-mata berbinar-binar lega. Kelegaan yang saya rasakan bukan hanya miliknya, tapi juga komunitasnya, teman-teman sepermainannya, ketika kerja keras mereka, membuktikan sesuatu, bukan sekedar jargon belaka.

Sumber:

Wikipedia

http://vitarlenology.blogspot.com/2007/06/rethinking-cool-gaya-anak-muda-bandung.html

———————————————————–

Tugas :

Kumpulkan artikel yang berkaitan dengan Gerakan Indie di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Spam Protection by WP-SpamFree