Semiotika dalam Falsafah Budaya Bugis

Semiotika dalam Falsafah Budaya Bugis

Oleh: Dian Cahyadi, M.Ds, disampaikan dalam Forum Lembaga Kajian Budaya To Manurung UNHAS

Makassar, 28 Nopember 2010

Pendahuluan

Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda.

Ahli sastra Teew (1984:6) mendefinisikan semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakannya menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun.

Para ahli semiotik modern mengatakan bahwa analisis semiotik modern telah diwarnai dengan dua nama yaitu seorang linguis yang berasal dari Swiss bernama Ferdinand de Saussure (1857 – 1913) dan seorang filsuf Amerika yang bernama Charles Sanders Peirce (1839 -1914). Peirce menyebut model sistem analisisnya dengan semiotik dan istilah tersebut telah menjadi istilah yang dominan digunakan untuk ilmu tentang tanda. Semiologi de Saussure berbeda dengan semiotik Peirce dalam beberapa hal, tetapi keduanya berfokus pada tanda. Seperti telah disebut-kan di depan bahwa de Saussure menerbit -kan bukunya yang berjudul A Course in General Linguistics (1913).

Dalam buku itu de Saussure membayangkan suatu ilmu yang mempelajari tanda-tanda dalam masyarakat. Ia juga menjelas -kan konsep-konsep yang dikenal dengan dikotomi linguistik. Salah satu dikotomi itu adalah signifier dan signified (penanda dan petanda). Ia menulis… the linguistics sign unites not a thing and a name,but a concept and a sound image a sign . Kombinasi antara konsep dan citra bunyi adalah tanda ( sign). Jadi de Saussure mem-bagi tanda menjadi dua yaitu komponen, signifier (atau citra bunyi) dan signified (atau konsep) dan dikatakannya bahwa hubungan antara keduanya adalah arbitrer. Semiologi didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakang sistem pembedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda, di sana ada sistem (de Saussure, 1988:26). Sekalipun hanyalah merupakan salah satu cabangnya, namun linguistik dapat berperan sebagai model untuk se-miologi. Penyebabnya terletak pada ciri arbiter dan konvensional yang dimiliki tanda bahasa. Tanda -tanda bukan bahasa pun dapat dipandang sebagai fenomena arbiter dan konvensional seperti mode, upacara, kepercayaan dan lain -lainya.

Menurut Peirce kata „semiotika‟, kata yang sudah digunakan sejak abad kedelapan belas oleh ahli filsafat Jerman Lambert, merupakan sinonim kata logika. Logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran, menurut hipotesis Pierce yang mendasar dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan manusia berfikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Semiotika bagi Pierce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence) atau kerja sama tiga subyek yaitu tanda (sign), obyek (object) dan interpretan (interpretant).

Pendekatan semiotika Pierce yang menekankan pada jenis-jenis tanda yang utama yaitu ikon, indeks, dan simbol dapat diterapkan pula untuk mengamati gejala-gejala yang nampak dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tanda-tanda yang dipalsukan. Pemalsuan tanda-tanda dalam kaitannya dengan aktivitas kehidupan manusia pada dasarnya mempunyai dua sisi, sisi baik dan sisi tidak baik. Sisi baik dari pemalsuan tanda-tanda umumnya adalah untuk tujuan kebaikan bersama sedangkan sisi tidak baik umumnya bertujuan untuk kepentingan pihak pertama saja.

Konstruk kebudayaan manusia Bugis Makassar di landasi Siri’ dan Pesse. Sebuah istilah atau semacam jargon yang mencerminkan identititas serta watak orang Bugis-Makassar, yaitu Siri’ Na Pacce. Secara lafdzhiyah Siri’ berarti : Rasa Malu (harga diri), sedangkan Pacce atau dalam bahasa Bugis disebu Pesse yang berarti : Pedas (Keras, Kokoh pendirian). Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau sesusahan individu lain dalam komunitas. Laica Marzuki pernah menyebut dalam disertasinya bahwa pacce sebagai prinsip solidaritas dari individu Bugis Makassar dan menunjuk prinsip getteng, lempu, acca, warani (tegas, lurus, pintar, berani) sebagai empat ciri utama yang menentukan ada tidaknya Siri’.

Semiotika dalam Falsafah Budaya Bugis

Layaknya sebuah tradisi, maka secara turun temurun ini akan menjadi pegangan serta pedoman. Bila mana pada suatu generasi penafsirannya meleset, maka akan berdampak ke generasi berikutnya. Jika terjadi disintegrasi terhadap penafsiran Siri’ na Pacce ini, maka tentunya akan berdampak kepada kelanjutan eksistensi falsafah kepada generasi yang akan datang, inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran banyak pihak termasuk saya pribadi sehingga harus di luruskan agar kedepannya ini tetap bisa menjadi pedoman, pegangan serta cii khas masyarakat Bugis-Makassar kedepannya.

Siri’ yang merupakan konsep kesadaran hukum dan falsafah masyarakat Bugis-Makassar adalah sesuatu yang dianggap sakral . Siri’ na Pacce (Bahasa Makassar) atau Siri’ na Pesse’ (Bahasa Bugis ) adalah dua kata yang tidak dapat dipisahkan dari karakter orang Bugis-Makassar dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Begitu sakralnya kata itu, sehingga apabila seseorang kehilangan Siri’nya atau De’ni gaga Siri’na, maka tak ada lagi artinya dia menempuh kehidupan sebagai manusia. Bahkan orang Bugis-Makassar berpendapat kalau mereka itu sirupai olo’ kolo’e (seperti binatang). Petuah Bugis berkata : Siri’mi Narituo (karena malu kita hidup).

Dalam film TV di salah satu stasiun televisi swasata menayangkan film televisi yang berjudul “Badik Titipan Ayah”, disini saya tidak akan mengurai perihal konsepsi Siri na Pesse yang menjadi ide ceritanya, namun saya cermati pada beberapa ungkapan kalimat yang terjalin dari skenario.

Pada sebuah adegan, Karaeng Caya tampak mencoba menenangkan suaminya (Karaeng Tiro) hingga pada sebaris kalimat yang terucap dan menarik perhatian saya, yakni “…mauki petta, kalau mereka membawakan makanan ke sini. Mau ki’ dibawakan makanan ?”

Menyimak makna dari ucapan Karaeng Caya disini dapat memberikan beberapa ungkapan yang terkait dengan konsep Siri na Pesse. Makna Assimellereng atau saling mengasihi dan memperhatikan/menjaga yang akan dilanggar oleh Karaeng Tiro jika tidak menghadiri  pernikahan anak kerabatnya. Memaknai kehormatan dan sikap arif yang tidak akan tercermin di dalam diri Karaeng Tiro sebagai tokoh adat di lingkungannya.

Jika ucapan Karaeng Caya kemudian dimaknai oleh sang kerabat sebagai tanda sebagai berikut:

  • Menimbulkan pertanyaan dikalangan kerabat perihal hubungan Karaeng Tiro sebagai sosok yang dihormati dan dituakan dalam sistem kekerabatannya terhadap sang pemilik  hajatan. Tanda yang dimaknai adalah mungkin sang pemilik hajatan memiliki kesalahan yang tidak dapat diterima oleh Krg. Tiro sehingga ia tidak datang menghadiri hajatannya. Tentunya ia akan mengkoreksi diri  terhadap korelasi hubungan yang terbina selama ini dengan sesepuhnya, jika ia merasa memiliki kesalahan. Ia kemudian membaca tanda dan membuat beberapa simpulan awal.
  • Menimbulkan syak wasangka yang kemudian dijatuhkan dalam bentuk vonis kepada sang pemilik hajatan oleh keluarga besar mereka. Sebab, ketidak hadiran Krg. Tiro akan dibaca sebagai beliau tidak berkenan dengan hajatan tersebut yang dapat diakibatkan oleh timbulnya kesalahan/konflik yang mungkin pernah terjadi. Hal ini berdampak pada pemilik hajatan yang bisa saja dijauhi oleh kerabatnya dan menjadi Siri’ na Pessenya, Ia akan menanggung malu di  mata para kerabat.
  • Oleh para kerabat akan membaca sebagai makna kedukaan yang sangat mendalam oleh sebab musibah terkait harga diri Krg. Tiro yang tenggelam dalam kehinaannya oleh peristiwa Sillariang yang diperbuat oleh puteri mereka (A. Tenri). Tentunya berakibat kepada dugaan adanya niatan kerabat pemilik hajatan yang dianggap berupaya menjadikan hajatannya sebagai  ajang mempertontonkan aib keluarga Krg. Tiro, sebagai motivasi tambahan yang mungkin saja dianggap dapat memperkeruh suasana. Bagi pemilik hajatan adalah sebuah dilema, tidak diundang menjadi masalah – tak diundang pun akan menjadi masalah. Meski tindakannya dianggap benar jika mengundang dan menjadi aib bagi keluarganya jika tidak mengundang Krg. Tiro sebagai sosok yang dihormati, terlepas dari niatan luhurnya sebagai bentuk menjaga keutuhan sistem kekerabatan  diantara mereka.

Membawakan makanan adalah simbol perhatian yang pastinya akan dilakukan oleh pemilik hajatan sebagai tanda penghormatan yang  tulus dengan tujuan sebagai berikut:

  • Sebagai bentuk penghormatan kepada sesepuhnya.
  • Serbagai bentuk keinginan untuk membagi kebahagiaan, sebagaimana kebahagiaan yang mereka rasakan.
  • Sebagai bentuk dukungan dan perhatian atas loyalitasnya terhadap sistem kekerabatan berdasarkan kejadian yang sebelumnya mereka telah ketahui dan bentuk penghiburan atas duka yang dialami oleh Krg. Tiro.
  • Sebagai bentuk sikap menjaga hubungan kekerabatan, jika dalam konteks ini mereka dalam posisi memiliki kekhilapan yang tidak disengaja dan tidak diketahui oleh mereka. Misi ini sekaligus sebagai misi perdamaian sekiranya mereka memiliki kekhilapan terhadap sosok sesepuh mereka ini. Mereka akan menanyakan sebab-musabab ketidak hadiran, sebagai bentuk mempertegas upaya penyelesaian konflik.
  • Sebagai bentuk pesakitan bagi Krg. Tiro terkait kejadian yang telah terjadi. Tentunya hal ini akan menambah suram makna duka kehinaan (Siri’) yang dirasakan oleh  Krg. Tiro.

Manusia Bugis Makassar sangat peka dan  piawai dalam makna dan memaknai sesuatu, mereka sangat jeli dalam  mempelajari  situasi dan konseksuensinya. Seorang Bugis tidak akan segan-segan meminta maaf jika ia merasa diri telah berbuat salah kepada seseorang, baik orang yang dikenalnya maupun tidak dikenalnya. Sangat jeli dan peka terhadap sesuatu utamanya jika hal tersebut terkait dengan dirinya.

Sejarah peradaban kebudayaan Bugis Makassar senantiasa diwarnai konflik pertikaian berdarah, umumnya disebabkan oleh kepekaan mereka dalam bersemiotika dan bersemantika terhadap perkembangan sesuatu. Sehingga beberapa petuah senantiasa mengingatkan “Riduppaiwi na Tessiduppai” artinya temuilah daripada tidak ketemu, maknanya adalah jiwa mengutamakan penyelesaian sesuatu perkara (membangun komunikasi) dari pada tersimpan menjadi bara dalam sekam yang sewaktu-waktu dapat membara. “Kessingngi bunge’na ungae na malawinna” artinya alangkah baiknya bunga pada saat mekar daripadasaat ia  layu. Hal ini bermakna bahwa leluhur kita dahulu senantiasa tidak melakukan pembiaran pada setiap perkara yang memiliki dampak burukdikemudian hari.

Kesimpulan

Kepekaan manusia Bugis Makassar dalam membaca dan memaknai setiap perkara menjadi dasar bersikap terhadap setiap perkara. Kesigapan dalam membaca pesan dibalik makna senantiasa disikapi dengan cepat dan arif dalam memaknainya.

Konsepsi Siri’ na Pesse terkait kepiawaian manusia Bugis Makassar dalam bersemiotika dan bersemantika dan senantiasa diwarnai dengan kecermatan serta kearifan dalam menyimpulkan. Menjadi modal sikap manusia Bugis Makassar dalam membangun hegemoni dan entitasnya di manapun mereka terkait uraian memaknai situasi dan kondisi.

Kemudian ini menjadi gambaran kemampuan  entitas manusia Bugis Makassar dalam bernalar terkait dalam suatu tindakan (action) dan pengaruhnya (influence) dalam setiap pengambilan keputusan.

Keyakinan akan keutamaan dalam kecermatan dan kearifan dalam memilah setiap situasi/perkara terkait pengambilan keputusan adalah yang dominan melatar dalam falsafah Siri’ na Pesse manusia Bugis Makassar.

Referensi

Saussure, Ferdinand de, 1993 “Pengantar Linguistik Umum” terjemahan oleh Gajah Mada University

Press dari buku “Cours de Linguistique Generale”, Yogyakarta.

Sudjiman, Panuti dan Aart Van Zoest, 1992 “Serba-serbi Semiotika”, PT Gramedia Pustaka Utama,

Jakarta.

Mattulada. H.A. 1996. Demokrasi dalam Perspektif Budaya Bugis-Makassar. Dalam Najib, dkk (Ed.) Demokrasi dalam Perspektif Budaya Nusantara (hal. 21—90). Yokyakarta: LKPSM

Rahim, R. 1985. Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Spam Protection by WP-SpamFree