Description Of Students Mathematics Problem Posing Based On VAK Learning Styles (Visual, Auditory, Kinesthetic) Class X SMAN 1 Binamu Jeneponto District

Arif Tirtana

Hamzah Upu

Hisyam Ihsan

ABSTRACT

This research was a qualitative research aimed at describing mathematics problem posing based on VAK learning styles (visual, auditory, and kinesthetic). In collecting data, this research used triangulation techniques. The data was collected while checking the credibility of the data with various techniques for gathering data of the same subjects. The objectives of this research were: (i) describing the students’ mathematics problem posing with visual learning style; (ii) describing the students’ mathematics problem posing with auditory learning style; (iii) describing the students’ mathematics problem posing with kinesthetic learning style. The research results showed that: (1) the subjects AKS and EYK, as respondents in visual modality were able to optimize their learning style and could be categorized as fair in problem posing quality. This could be proved with the variation of questions posed by the subjects. Even though, there were still questions in the statement and unrelated question froms to the mathematics questions, but the subjects had been able to pose varied questions and already showed new data despite the data in the given information. (2) Subjects MHI and AAL, as respondents in auditory modality were able to comprehend the given information. They could be categorized as fair in problem posing quality. It can be proved with the variation of questions posed in problem posing test. Even though there were still unanswerable mathematics questions posed but the subjects still could pose varied questions and already showed new data despite the data in the given information. Besides the subjects MHI and AAL were able to vary the questions by task, relation and assumption elements which could be viewed from the syntactic structures relationship. (3) Subjects DNH and AFR, as respondents in kinesthetic modality could grasp the information, where he had been able to pose the varied questions; he already showed the new data despite the data in the given information. Furthermore, he was categorized as low in problem posing quality. The subject DNH looked quite different, she was categorized as low in problem posing, she could not show new data. From its syntactic structures relationship, she still could not show relation and assumption elements of his questions.

  1. I. PENDAHULUAN
  2. A. Latar Belakang

Matematika merupakan bagian ilmu pengetahuan alam yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga sangat diharapkan adanya upaya peningkatan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan formal menjadi lebih baik. Namun tidak semua siswa dapat memahami pelajaran matematika dengan mudah. Ketika pelajaran matematika berlangsung ada siswa yang mudah memahami dan adapula siswa yang merasa kesulitan. Hal ini disebabkan karena setiap peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda-beda seperti halnya siswa di SMA Negeri 1 Binamu yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu, maka dalam kegiatan belajar mengajar harus memperhatikan beberapa komponen yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam upaya pencapaian tujuan pengajaran. Baik itu guru sebagai pengajar dan pendidik maupun siswa sebagai anak didik. Siswa mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menyerap informasi yang diberikan oleh guru, karena setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.

Gaya belajar siswa merupakan salah satu komponen dalam proses belajar mengajar yang penting untuk diketahui oleh seorang guru demi kelancaran proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu, seorang guru perlu mengetahui gaya belajar dari setiap siswa sebagai keunikan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Hal ini akan dapat membantu seorang guru untuk mendekati setiap siswa dalam menyampaikan informasi dengan gaya yang sesuai dengan yang diharapkan.

Selain gaya belajar, masalah pendekatanpun menjadi yang terpenting di dalam proses pembelajaran, Sullivan (dalam Upu, 2003: 7) mengatakan bahwa pembelajaran matematika dikelas pada umumnya hanya terpusat pada guru, yang mengakibatkan siswa menjadi malas dan kurang bergairah dalam menerima pelajaran. Sampai saat ini tidak sedikit sekolah yang masih belum mengetahui dan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengaharapkan pembelajaran berpusat pada siswa. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penyebab kurang berpartisipasinya siswa dalam pembelajaran matematika di kelas adalah pendekatan yang kurang tepat  dalam mengaktifkan siswa.

Salah satu saran dari para pakar pendidikan matematika, untuk meningkatkan mutu pembelajaran matematika adalah dengan menekankan pengembangan  siswa dalam perumusan soal. Karena dengan merumuskan soal merupakan inti kegiatan matematis dan merupakan komponen penting dalam kurikulum matematika.  Menurut sejumlah pakar pendidikan matematika, bahwa salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran matematika adalah pendekatan pengajuan masalah (dalam Upu, 2003: 8).

Tingkat pengajuan masalah dan gaya belajar yang berbeda inilah yang perlu kita perhatikan. DePorter, Reardon, dan Singer (2000: 165) menjelaskan pentingnya mengenali gaya belajar Visual, gaya belajar Auditorial dan gaya belajar Kinestetik dalam diri setiap anak. Karena setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, dan semua gaya belajar sama baiknya. Dengan mengetahui gaya belajar siswa akan sangat membantu guru dalam proses pembelajaran, guru dapat membantu siswa memaksimalkan gaya belajarnya dengan pendekatan pengajuan masalah yang mendorong siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri agar pengaruhnya terhadap  berpikir, analisis, dan  dalam mengajukan masalah matematika maupun masalah dalam kehidupan sehari-hari lebih terstrukrur. Oleh karena itu peneliti bermaksud mendeskripsikan pengajuan masalah matematika berdasarkan gaya belajar siswa kelas X SMAN 1 Binamu.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus penelitian yang telah ditetapkan tersebut, maka masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana  pengajuan masalah matematika siswa dengan gaya belajar Visual?
  2. Bagaimana  pengajuan masalah matematika siswa dengan gaya belajar Auditorial?
  3. Bagaimana  pengajuan masalah matematika siswa dengan gaya belajar Kinestetik?
    1. C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Mendiskripsikan pengajuan masalah matematika siswa dengan gaya belajar Visual.
  2. Mendiskripsikan pengajuan masalah matematika siswa dengan gaya belajar Auditorial.
  3. Mendiskripsikan pengajuan masalah matematika siswa dengan gaya belajar Kinestetik.
    1. D. Manfaat Penelitian

Penulis berharap dari hasil Penelitian ini dapat memberikan sumbangsi dan manfaat yang cukup besar terhadap dunia pendidikan khususnya dalam pembelajaran matematika, antara lain:

  1. Bagi siswa; dengan identifikasi gaya belajar dan adanya perlakuan dalam meningkatkan pengajuan masalah dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk melibatkan diri secara aktif dan produktif dalam proses belajar matematika.
  2. Bagi guru matematika; memberikan pengetahuan dan informasi bahwa pendekatan pengajuan masalah dapat dijadikan sebagai salah satu usaha mengaktifkan dan meningkatkan kreatifitas siswa dalam proses belajar matematika. Selain itu, guru juga diharapkan mampu menerapkan berbagai pendekatan, metode, dan teknik dalam pembelajaran matematika yang mampu mengakomodir gaya belajar  yang dimiliki siswa. Sehingga terjadi peningkatan mutu pembelajaran yang baik.
    1. E. Batasan Istilah
    2. Deskripsi pengajuan masalah matematika adalah gambaran respon yang diajukan oleh siswa dengan memperhatikan jenis respon.  Jenis respon dibagi atas 3 jenis yaitu: (1) pernyataan, (2) pertanyaan non-matematika, (3) pertanyaan matematika. Inti penelitian ini adalah pengajuan masalah (pertanyaan/soal) matematika, maka  pertanyaan matematika dibagi atas tiga kategori yaitu: (1) pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan, (2) pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan namun tidak mengandung hal yang baru, dan (3) pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan dan mengandung hal yang baru.
    3. Gaya belajar; Gaya belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik (VAK).
    4. Pengajuan masalah adalah merumuskan atau mengajukan pertanyaan matematika berdasarkan informasi yang diberikan.
      1. II. KAJIAN TEORETIK
        1. A. Pengertian Matematika

Matematika adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang tata cara berpikir dan mengolah logika, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pada matematika diletakkan dasar bagaimana mengembangkan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Matematika seharusnya dipandang secara fleksibel dan memahami hubungan serta keterkaitan antara ide atau gagasan-gagasan matematika yang satu dengan yang lainnya, yaitu: (1) matematika sebagai pemecahan masalah, (2) matematika sebagai penalaran, (3) matematika sebagai komunikasi, dan (4) matematika sebagai hubungan (Soleh, 1998: 10).

  1. B. Masalah Matematika

Adapun masalah dalam matematika diklasifikasikan dalam dua jenis (Depdiknas, 2002: 219) antara lain (1) Soal mencari (problem to find) yaitu mencari, menentukan, atau mendapatkan nilai atau objek tertentu yang tidak diketahui dalam soal dan memenuhi kondisi atau syarat yang sesuai dengan soal. Objek yang ditanyakan atau dicari (unknown), syarat-syarat yang memenuhi soal (condition) dan data atau informasi yang diberikan merupakan bagian penting atau pokok dari sebuah soal mencari dan harus dipenuhi serta dikenali dengan baik pada saat memecahkan masalah, (2) Soal membuktikan (problem to prove), yaitu prosedur untuk menentukan apakah suatu pernyataan benar atau tidak benar. Soal membuktikan terdiri atas bagian hipotesis dan kesimpulan. Pembuktian dilakukan dengan membuat atau memproses pernyataan yang logis dari hipotesis menuju kesimpulan.

  1. C. Pengajuan Masalah (Problem posing)

Menurut Brown dan Walter (dalam Upu, 2003: 17) bahwa untuk pertama kalinya istilah pengajuan masalah diakui secara resmi oleh National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) sebagai bagian dari National Program for Re-Direction of Mathematics Education. Silver menjelaskan bahwa pemberlakuan secara resmi istilah pengajuan masalah matematika berkaitan dengan reformasi pendidikan oleh the National Council of Teacher of Mathematics (NCTM) (dalam Upu, 2003: 17). Problem Posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, sebagai padanan katanya digunakan istilah “merumuskan masalah (soal) atau membuat masalah (soal)”.

  1. D. Kelebihan dan Kelemahan Pengajuan masalah

Menurut Patahuddin (Siswono, 1999: 23) pengajuan masalah mempunyai beberapa kelebihan-kelebihan, antara lain: (1) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai pemahaman yang lebih luas dan menganilisis secara lebih mendalam tentang suatu topik. (2) Memotivasi siswa untuk belajar lebih lanjut. (3) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sikap kreatif, bertanggung jawab, dan mandiri. (4) Pengetahuan akan lebih lama diingat siswa karena diperoleh dari hasil belajar atau hasil eksperimen yang berhubungan dengan minat mereka dan lebih terasa berguna untuk kehidupan mereka.

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, pengajuan masalah mempunyai kelemahan sebaimana diungkapkan Amerlin (dalam Fithriani, 2005: 16), yaitu: (1) Membutuhkan lebih banyak waktu bagi siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. (2) Menyita lebih banyak waktu bagi pengajar, khususnya untuk mengoreksi tugas siswa. (3) Siswa berkemampuan rendah tidak dapat menyelesaikan semua soal yang dibuatnya atau soal-soal yang dibuat oleh temannya yang memiliki kemampuan pengajuan masalah yang lebih tinggi.

  1. E. Kemampuan Pengajuan Masalah Matematika (Problem posing)

Kemampuan pemahaman matematika adalah tingkat atau level pemahaman matematika siswa terhadap konsep, aturan dan aplikasi matematika sesuai dengan pokok bahasan yang telah diajarkan oleh guru. Kemampuan siswa mengajukan masalah diartikan sebagai kemampuan dalam menyusun pertanyaan matematika berdasarkan situasi yang ada, yang meliputi (dalam Upu, 2003): (1) Pengajuan masalah sebelum pemecahan masalah, adalah kemampan siswa mengajukan pertanyaan dalam rangka membangun pemahaman awal atau konsep dasar matematika berkaitan dengan situasi yang ada. (2) Pengajuan masalah pada saat pemecahan masalah berlangsung, adalah kemampuan siswa mengajukan pertanyaan dengan kata-kata sendiri, sehingga masalah matematika tersebut lebih mudah untuk dipecahkan. (3) Pengajuan masalah sesudah pemecahan masalah, adalah kemampuan siswa mengajukan pertanyaan melalui modifikasi tujuan atau kondisi dari masalah matematika yang telah diberikan sebelumnya. (4) Pengajuan masalah secara klasik, adalah rata-rata skor kemampuan siswa dalam mengajukan pertanyaan, baik dilakukan sebelum, pada saat atau sudah pemecahan masalah matematika, yang dilakukan secara individu. (5) Pengajuan masalah secara kelompok, adalah kemampuan kolektif dari 4 (empat) hingga 6 (enam) orang siswa dalam mengajukan pertanyaan, baik dilakukan sebelum, pada saat atau sesudah pemecahan masalah matematika.

  1. F. Pedoman Penyekoran Pengajuan masalah

Sejalan dengan kriteria analisis jawaban siswa, acuan penyekoran yang digunakan dalam pengajuan masalah matematika diadaptasi dari Marsal           (dalam Upu, 2003: 90). Acuan tersebut terdiri dari dua bagian utama, yaitu hubungan semantik dan struktur sintaksis yang terdapat pada setiap respon yang diajukan oleh subjek sampel. Menurut Cai, dkk (dalam Upu, 2003: 90) hubungan semantik terdiri dari 5 bagian; (1) mengubah, (2) mengelompokkan, (3) membandingkan, (4) menyatakan kembali, dan (5) menvariasikan. Sementara itu, struktur sintaksis meliputi 3 bagian; (1) penugasan, (2) hubungan, dan (3) pengandaian. Selain itu, acuan penyekoran yang digunakan juga berkaitan dengan quantitative criteria for scoring mathematical communication.

  1. G. Gaya Belajar

Gaya belajar adalah sesuatu yang vital bagi kehidupan manusia. Proses belajar merupakan suatu aktifitas bagi setiap manusia yang terjadi setiap saat. Gaya belajar yang dimaksud adalah gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik (DePorter, Reardon, dan Singer, 2000):

  1. 1. Visual; Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan (visual), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak dititik beratkan pada peragaan/media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.
  2. 2. Auditorial; Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (pendengarannya). Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
  3. 3. Kinestetik; Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

III. METODE PENELITIAN

  1. A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan pengajuan masalah matematika berdasarkan gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik.

  1. B. Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Binamu Kabupaten Jeneponto. Subjek penelitian pada siswa kelas khusus X.9 yang berjumlah 30 orang.

  1. C. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan fokus penelitian maka penelitian ini menggunakan beberapa instrumen yaitu: (1) tes modalitas, (2) tes  pengajuan masalah, (3) pedoman wawancara terstruktur. Selain itu instrumen utama yaitu peneliti sendiri yang perlu bersifat objektif dan netral.

  1. D. Teknik Analisis Data

Pengumpulan data penelitian, dilakukan teknik triangulasi yaitu mengumpulkan data sekaligus mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari subjek yang sama.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A. Analisis Penetapan Subjek Penelitian

Rekapitulasi hasil gaya belajar dari 30 orang calon subjek penelitian yang diberikan tes adalah sebagai berikut.

Tabel 5. Hasil analisis gaya belajar calon subjek

No. Gaya belajar Skor tertinggi Skor terendah Jumlah
1. Visual 19 10 14
2. Auditorial 23 6 7
3. Kinestetik 21 8 3
4. Visual-Kinestetik 18 9 4
5. Auditorial-Kinestetik 17 15 1
6. Visual-Auditorial-Kinestetik 15 15 1
Jumlah 30

Setelah tahapan seleksi calon subjek dilakukan, maka dipilih sebanyak 6 subjek utama masing-masing 2 orang siswa disetiap gaya belajar yang memiliki skor tertinggi atau yang mendominasi dalam gaya belajar tersebut.

Tabel 6. Subjek terpilih berdasarkan gaya belajar yang mendominasi

No. Inisial NIS Skor tertinggi Kelompok gaya belajar
1. AKS 12693 19 Visual
2. EYK 12699 19 Visual
3. MHI 12695 23 Auditorial
4. AAL 12688 22 Auditorial
5. DN 12690 21 Kinestetik
6. AR 12510 18 Kinestetik

  1. B. Hasil Penelitian

Penelitian yang menggambarkan apa adanya tentang subjek penelitian yang berhubungan dengan  pengajuan masalah SPLDV berdasarkan gaya belajar yang dimiliki siswa SMA Negeri 1 Binamu.

  1. 1. Deskripsi  pengajuan masalah berdasarkan gaya belajar visual
  2. a. A. Kautsar Syah (AKS)

Setelah mencermati hasil analisis pengajuan masalah yang diajukan subjek AKS dan wawancara yang dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa:

1)        Subjek AKS sebagai responden yang bergaya belajar visual mampu memahami informasi dengan baik.

2)        Subjek AKS tidak dapat lagi memikirkan pertanyaan yang diajukan selain apa yang sudah diajukan sebelumnya.

3)        Subjek AKS ketika mengalami kesulitan cenderung bertanya dan melihat contoh yang ada dibuku atau dicatatan.

  1. b. Enno Yulian Kadir (EYK)

Setelah mencermati hasil analisis pengajuan masalah yang diajukan subjek EYK dan wawancara yang dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa:

1)        Subjek EYK sebagai responden yang bergaya belajar visual dapat memahami informasi dengan baik. Subjek EYK mampu memunculkan data baru dalam mengajukan masalah selain yang telah diajukan setelah peneliti memberikan penjelasan secara visual dengan meperlihatkan contoh yang telah ada, sehingga dapat dikatakan subjek mampu mengajukan masalah.

2)        Subjek EYK dalam mengajukan pertanyaan sudah memikirkan cara menyelsaikan soal yang diajukan.

3)        Subjek EYK ketika mengalami kesulitan bertanya kepada guru dan meminta untuk dituliskan.

  1. 2. Deskripsi  pengajuan masalah berdasarkan gaya belajar auditorial
  2. a. Muh. Haydier Istigfhar (MHI)

Setelah mencermati hasil analisis yang diajukan subjek MHI dan wawancara yang diajukan maka dapat disimpulkan bahwa:

1)        Subjek MHI sebagai responden yang bergaya belajar auditorial dapat memahami informasi dengan baik. Subjek MHI mampu memunculkan data baru dalam mengajukan masalah.

2)        Subjek MHI dalam mengajukan pertanyaan sebagian besar adalah pertanyaan yang tidak diketahui, terlihat dari pengajuan masalah yang telah diajukan subjek MHI dalam tes pengajuan masalah yang terdapat 56,14% pertanyaan yang bukan pertanyaan matematika.

3)        Subjek MHI dalam mendapatkan kesulitan akan cenderung meminta bantuan kepada guru atau teman.

  1. b. Ana Ayu Lestari (AAL)

Setelah mencermati hasil analisis yang diajukan subjek AAL dan wawancara yang diajukan maka dapat disimpulkan bahwa:

1)        Subjek AAL sebagai responden yang bergaya belajar auditorial dapat memahami informasi dengan baik. Subjek AAL mampu memunculkan data baru dalam mengajukan masalah dengan baik.

2)        Subjek AAL berpendapat bahwa dalam mengajukan masalah/pertanyaan terkadang hanya untuk menguji.

3)        Subjek AAL dalam mengalami kesulitan untuk mengerjakan soal latihan cenderung meminta penjelasan dari guru atau orang yang lebih tahu.

  1. 3. Deskripsi pengajuan masalah berdasarkan gaya belajar kinestetik
  2. a. Dewi Nurhadi (DNH)

Setelah mencermati hasil analisis yang diajukan subjek DNH dan wawancara yang diajukan maka dapat disimpulkan bahwa:

1)        Subjek DNH sebagai responden yang bergaya belajar kinestetik dapat memahami informasi walaupun terlihat kebingungan ketika proses wawancara dilaksanakan.

2)        Subjek DNH belum mampu memunculkan informasi baru dalam mengajukan masalah. Asumsi ini ditunjukkan dari hasil tes pengajuan masalah SPLDV, subjek DNH tidak mengajukan pertanyaan yang memunculkan informasi baru dan asumsi ini diperkuat kembali ketika proses wawancara dimana subjek hanya mampu mengajuka pertanyaan yang bukan pertanyaan matematika (S27-S33).

3)        Subjek DNH dalam mengajukan pertanyaan terlebih dahulu memperhatikan inti masalah informasi sehingga muncul ide gagasan untuk mengajukan pertanyaan.

4)        Subjek DNH dalam mengalami kesulitan untuk mengerjakan latihan, cenderung berusaha mencari sendiri dengan membuka contoh soal atau latihan. Peneliti mengasumsikan bahwa subjek DNH lebih senang berusaha sendiri dibanding dengan bertanya kepada orang lain dengan alasan akan membuat bingung.

  1. b. Arfandi Rahman (AFR)

Setelah mencermati hasil analisis yang diajukan subjek AFR dan wawancara yang diajukan maka dapat disimpulkan bahwa:

1)        Subjek AFR sebagai responden yang bergaya belajar kinestetik dapat memahami informasi. Subjek AFR mampu memunculkan informasi baru dengan baik dalam mengajukan masalah.

2)        Subjek AFR mendapatkan ide gagasan untuk mengajukan pertanyaan ketika ia telah memahami informasi.

3)        Subjek AFR dalam mengalami kesulitan untuk mengerjakan latihan, cenderung melihat contoh soal atau bertanya kepada teman. Peneliti mengasumsikan bahwa subjek AFR lebih senang bertanya kepada teman sejawat.

  1. C. Rangkuman Hasil Penelitian

Berdasarkan keseluruhan analisis wawancara dan tes pengajuan masalah, dapat dirangkum suatu deskripsi  pengajuan masalah matematika siswa berdasarkan gaya belajar siswa sebagai berikut;

  1. 1. Siswa dengan gaya belajar visual (AKS dan EYK)

Subjek AKS dan EYK sebagai responden yang berada pada modalitas visual mampu mengoptimalkan gaya belajarnya dan dapat dikategorikan sedang berdasarkan kualitas pengajuan masalah. Terbukti dari pertanyaan bervariasi yang diajukan subjek. Walaupun masih terdapat pertanyaan yang diajukan berupa pernyataan, pertanyaan matematika yang tidak dapat dijawab, hingga pertanyaan yang tidak ada hubungan dengan informasi. Akan tetapi, subjek tersebut dapat mengajukan pertanyaan yang bervariasi dan sudah dapat memunculkan data baru selain data yang ada pada informasi yang diberikan. Selain itu, ditinjau dari hubungan struktur sintaksis subjek AKS dan EYK mampu mevariasikan dengan menggunakan unsur tugas, unsur hubungan dan unsur pengandaian.

  1. 2. Siswa dengan gaya belajar auditorial (MHI dan AAL)

Subjek MHI dan AAL sebagai responden yang berada pada modalitas auditorial mampu memahami informasi yang diberikan dan dapat dikategorikan sedang berdasarkan kualitas pengajuan masalah. Terbukti dari pertanyaan bervariasi yang diajukan subjek MHI dan AAL pada tes  pengajuan masalah. Walaupun masih terdapat pertanyaan yang diajukan berupa pertanyaan matematika yang tidak dapat dijawab. Akan tetapi, Subjek tersebut dapat mengajukan pertanyaan yang bervariasi dan sudah dapat memunculkan data baru selain data yang ada pada informasi yang diberikan. Selain itu, subjek MHI dan AAL mampu mevariasikan dengan menggunakan unsur tugas, unsur hubungan dan unsur pengandaian yang ditinjau dari hubungan struktur sintaksis. Hal  ini tampak pada respons yang diajukan subjek.

  1. 3. Siswa dengan gaya belajar kinestetik (DNH dan AFR)

Subjek DNH dan AFR sebagai responden yang berada pada modalitas kinestetik dapat memahami informasi, dimana subjek AFR dapat mengajukan pertanyaan yang bervariasi dan sudah dapat memunculkan data baru selain data yang ada pada informasi yang diberikan dan dapat dikategorikan sedang berdasarkan kualitas pengajuan masalah. Terbukti dari subjek AFR dapat mevariasikan dengan menggunakan unsur tugas, unsur hubungan dan unsur pengandaian yang ditinjau dari hubungan struktur sintaksis. Berbeda dengan subjek DNH yang dikategorikan rendah berdasarkan kualitas pengajuan masalah, terlihat dalam mengajukan pertanyaan subjek DNH belum dapat memunculkan data baru dan tidak memunculkan unsur hubungan dan unsur pengandaian yang ditinjau dari hubungan sintaksisnya. Terbukti lagi dari hasil wawancara, dimana subjek DNH tidak mampu mengajukan pertanyaan yang memuat data baru selain data yang ada pada informasi yang diberikan. Subjek DNH hanya mampu mengajukan pertanyaan matematika yang tidak memuat informasi baru.

  1. V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data deskriptif kualitatif yang diperoleh dari hasil penelitian deskripsi pengajuan masalah matematika berdasarkan gaya belajar VAK siswa kelas X SMA Negeri 1 Binamu Kabupaten Jeneponto, maka dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Subjek AKS dan EYK sebagai responden yang berada pada modalitas visual mampu mengoptimalkan gaya belajarnya dengan baik dan memahami informasi yang diberikan. Terbukti dari pertanyaan bervariasi yang diajukan subjek AKS dan EYK. Selain itu, ditinjau dari hubungan struktur sintaksis subjek AKS dan EYK mampu mevariasikan dengan menggunakan unsur tugas, unsur hubungan dan unsur pengandaian.
  2. Subjek MHI dan AAL sebagai responden yang berada pada modalitas visual mampu memahami informasi yang diberikan dengan baik. Terbukti dari pertanyaan bervariasi yang diajukan subjek MHI dan AAL pada tes  pengajuan masalah. Selain itu, Subjek tersebut dapat mengajukan pertanyaan yang bervariasi dan sudah dapat memunculkan data baru selain data yang ada pada informasi yang diberikan.
  3. Subjek DNH dan AFR sebagai responden yang berada pada modalitas kinestetik dapat memahami informasi, dimana subjek AFR dapat mengajukan pertanyaan yang bervariasi dan sudah dapat memunculkan data baru selain data yang ada pada informasi yang diberikan. Berbeda dengan subjek DNH, dalam mengajukan pertanyaan subjek DNH belum dapat memunculkan data baru dan tidak memunculkan unsur hubungan dan unsur pengandaian yang ditinjau dari hubungan sintaksisnya.

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini, maka penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Pendekatan pengajuan masalah matematika dapat dijadikan sebagai alternatif pembelajaran untuk meningkatkan kreativitas siswa, mengingat dengan pengajuan masalah matematiaka akan melatih kemampuan berpikir divergen, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menginvestasi berbagai kemampuan yang dimiliki. Tujuannya tiada lain adalah agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal.
  2. Pentingnya mengetahui gaya belajar yang dimiliki setiap siswa, karena setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Dengan mengatahui gaya belajar siswa akan sangat membantu guru dalam proses pembelajaran, guru dapat membantu siswa memamksimalkan gaya belajarnya dengan pendekatan sesuai dengan kebiasaan dan gaya belajar yang dimiliki siswa serta memberikan pembelajaran melalui metode yang bervariasi yang dianggap lebih efektif dan relevan serta tidak monoton dalam pembelajaran.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Biolla, 2009. Efektifitas Pendekatan Open-ended Problem dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba. Tesis tidak diterbitkan. Makassar: PPs UNM.

Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia.

DePorter, Bobbi, Reardon, Mark dan Singer, Sarah. 2000. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa Mizan Pustaka.

DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2002. Quantum Learning. Bandung: Kaifa Mizan Pustaka.

Depdiknas. 2002. Teori-Teori Perkembangan Kognitif dan Proses Pembelajaran yang Relevan untuk Pembelajaran Matematika. Pelatihan Terintegrasi berbasis kompetensi.

Fithriani, Sitti Saleh.2005. Pendekatan  Problem  Posing Berlatar  Pembelajaran  Kooperatif untuk  Topik Sudut  di  Kelas  VII SMP  Muhammadiyah  Limbung. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya. PPs UNESA

Hudoyo, Herman.1990. Mengajar Belajar Matematika. LPTK Jakarta: Depdikbud.

Marpaung, Y. 1999. Mengejar Ketertinggalan Kita dalam Pendidikan Matematika, Mengutamakan Proses Berpikir dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disampaikan dalam upacara pembukaan program S3 Pendidikan Matematika Universitas Surabaya. 10 September.

Polya,G. 1973. How to Solve it, Second Edition. Princeton. New Jersey Princeton University Press.

Rahman. 2009. Profil Pengajuan Masalah Matematika Berdasarkan Gaya Kognitif. Surabaya, PPs UNESA.

Siswono, T. Y. E. 1999. Metode Pemberian Tugas Pengajuan Soal (Pengajuan masalah) dalam Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Perbandingan di MTs Negeri Rungkut Surabaya. Tesis. PPs Unesa Surabaya.

Soleh, Mohammad. 1998. Pokok-pokok Pengajaran Matematika Sekolah. Jakarta: Depdikbud.

Sugiyono, 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Suherman. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI.

Suharta. 2000. “Pengembangan Strategi Pengajuan masalah dalam Pembelajaran Kalkulus untuk Memperbaiki Kesalahan Konsepsi. Malang: Jurusan Pendidkan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang.

Surur, Miftahus. 2010. Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Malang: Makalah dalam Matakuliah Karakteristik Pebelajar Fakultas Ilmu Pendidikan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian III Pendidikan Disiplin Ilmu. FIP-UPI Bandung: Imperial Bakti Husada.

Upu, Hamzah. 2003. Pengajuan Masalah dan Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika. (Pegangan Untuk Guru, Siswa PPS, Calon Guru, & Guru Matematika). Bandung: Pustaka Ramadhan.

.Cenderung Visual, Auditori atau Kinestetikkah Gaya Belajar Anda (http: //wordpress.com/?ref=foter.ASaFN2.htm) Diakses tanggal 2 Juni 2011.

This entry was posted in Math Education. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *