Students’ Ability Description On Solving Mathematics Problem At SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa Considering Personal Types

Anita

Hamzah Upu

Muhammad Jufri.

ABSTRACT

This research was qualitative descriptive one, conducted at  SMK Negeri 1 Pallangga. This study aimed to describe an ability of students in solving mathematics problems based on Personal Types. The instrument used in this study were (1) Personality type test, (2) tests the ability in  solving mathematics’s problem, and (4) interviews through unstructured task-based.

The results of this study are (1) Subjects of the research with extrovert type of personality needs someone else to help him solved his mathematic’s problem. Subjects of the research with extrovert type of personality has less ability to solved mathematic’s problem and can not follow the solving problem’s  step by Polya. This subject can explain about what the task knows and asks, but mostly didn’t pay attention with the whole taks. This subject also has a plan to selved the problems but often didn’t uncertain with his answers. This subject can solved the problems well after getting the instruction from the researcher, (2). Subjects of the research with introvert type of personality tend not to be affected by an external world and almost didn’t need someone else to help him to solved his mathematic’s problem, so subjects of the research with introvert type of personality  can solved his mathematic’s problem well, eventhough he didn’t follow the whole of solving problem’s step by  Polya. This subject can explain about what the task knows and asks dan pay attention well to the whole task. This subject also has a plan to selved the problems, but he can’t make some review to his own answers.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dewasa ini yang semakin pesat mengakibatkan perubahan dalam dunia pendidikan. Segala perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat membuat dunia pendidikan terus menyesuaikan diri, berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini disebabkan karena dunia pendidikan sangat terkait dengan siswa. Siswa merupakan subjek utama dalam pendidikan. Oleh karena itu siswa harus dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk mandiri, sehingga dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa dan negara.

Belajar matematika yang memerlukan kesiapan intelektual yang memadai, aktivitas mental yang tinggi dan kemampuan kognitif yang kompleks inilah yang menyebabkan banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran matematika, apalagi jika matematika diajarkan dalam bentuk hafalan.  Selain itu karena pendekatan, metode, atau pun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran masih bersifat tradisional, dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Akibatnya, kreativitas dan kemampuan berpikir matematika siswa tidak dapat berkembang secara optimal. Karena itu, tidak mengherankan  jika prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika  sangat terpuruk dibandingkan dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran yang lain. Dengan alasan ini, anggapan bahwa mata pelajaran matematika hanya sebagai produk perlu dihilangkan, tetapi lebih menganggap matematika sebagai proses untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan (Suherman, dkk: 2003).

Penyelesaian masalah (problem solving) menjadi sentral dalam pembelajaran matematika. Hal ini dapat dimaklumi karena penyelesaian masalah dekat dengan kehidupan sehari-hari, juga karena penyelesaian masalah melibatkan proses berpikir secara optimal. Hal ini terjadi karena untuk menyelesaikan masalah, seseorang perlu menciptakan aturan untuk mengatasi masalah. Karena proses berpikir siswa sulit diamati, maka perlu upaya agar penyelesaian masalah dalam matematika dapat dikuasai dengan baik, salah satunya melalui penghargaan terhadap perbedaan pada masing-masing siswa. Dengan pengamatan yang mendalam pada diri siswa, akan disadari adanya berbagai jenis perbedaan, seperti perbedaan kepribadian, perbedaan proses berpikir, dan perbedaan cara belajar. Mengajarkan penyelesaian masalah matematika berdasarkan perbedaan siswa berarti guru mengusahakan agar setiap siswa mempunyai hak untuk diperhatikan oleh setiap guru secara pribadi masing-masing, dan bukan secara klasikal, dimana banyak pribadi bergabung menjadi satu.

Suhadianto (2009) mengemukakan bahwa karakteristik kepribadian berpengaruh dalam proses pembelajaran karena pelajaran atau materi dapat dipahami oleh siswa saat siswa dapat fokus terhadap apa yang sedang dibahas. Sebelum membuat siswa fokus terhadap materi atau pelajaran yang guru berikan, langkah awal yang dilakukan guru adalah membuat siswa bisa memperhatikan penjelasan guru. Apabila guru telah berhasil membuat fokus para siswa, maka dengan mudahnya guru melangsungkan kegiatan belajarnya.

Tentu saja sebagai seorang pendidik dituntut untuk memahami karakteristik kepribadian setiap siswa, sehingga pendidik dapat memberikan stimulasi atau perlakuan yang sesuai dengan tipe kepribadian siswa yang dihadapi. Hal ini disebabkan karena perlakuan-perlakuan  yang diberikan kepada siswa akan mengantarkan siswa kepada suatu kondisi optimal, baik dalam bidang prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Jika  perlakuan-perlakuan yang diberikan tanpa mempertimbangkan aspek kepribadian siswa, ataupun mungkin karena teguran guru yang terlalu kasar, ataupun karena cara guru menyampaikan kurang sesuai dengan pribadi anak, dapat mengantarkan siswa ke dalam kondisi  tidak dapat berprestasi maksimal (Suhadianto: 2009).

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika pada SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa ditinjau dari tipe kepribadian Ekstrovert.
  2. Bagaimana kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika pada SMK Negeri 1 Pallangga  Kabupaten Gowa ditinjau dari tipe kepribadian Introvert.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Mendeskripsikan kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika pada SMK Negeri 1 Pallangga  Kabupaten Gowa ditinjau dari tipe kepribadian Ekstrovert.
  2. Mendeskripsikan kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika pada SMK Negeri 1 Pallangga  Kabupaten Gowa ditinjau dari tipe kepribadian Introvert.

D. Manfaat Penelitian

  1. Bagi siswa: dengan diperhatikannya tipe kepribadian yang dilakukan dalam penelitian ini dapat memberikan kenyamanan siswa dalam mengikuti proser pembelajaran di kelas. Saat siswa merasakan kenyamanan karena diperhatikan tipe kepribadiaannya oleh guru, maka siswa dapat  meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, khususnya masalah matematika.
  2. Bagi guru matematika: dapat memberikan informasi kepada guru bahwa siswa sebaiknya diberikan perlakuan menurut tipe kepribadiannya sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang lebih bermakna dapat meningkatkan mutu pembelajaran matematika.
  3. Bagi Sekolah: penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas guru, dan pada akhirnya kualitas sekolah. Selain itu, pihak sekolah dapat mendeteksi adanya siswa berbakat pada mata pelajaran matematika  sehingga dapat dipilih  sebagai utusan sekolah dalam berbagai lomba seperti olimpiade matematika.

E. Batasan Istilah

  1. Masalah matematika yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah soal matematika yang rutin dan soal matematika yang non rutin. Soal matematika yang rutin yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah soal matematika yang biasa dihadapi oleh siswa dalam proses belajar mengajar dan siswa mengetahui dengan pasti proses penyelesaiannya. Sementara soal non rutin yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah soal yang belum pernah dihadapi oleh siswa dalam proses belajar mengajar sehingga menjadi tantangan bagi siswa tersebut untuk menyelesaikannya.
  2. Pemecahan masalah diartikan sebagai proses siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang non rutin. Proses tersebut meliputi memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana tersebut dan memeriksa kembali jawaban.
  3. Deskripsi kemampuan penyelesaian masalah adalah gambaran/paparan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika.
  4. Tipe kepribadian siswa adalah macam-macam siswa yang dibedakan berdasarkan karakteristik individu yang bersifat internal, yang berkontribusi terhadap pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang konsisten. Tipe kepribadian yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tipe kepribadian Ekstrovert dan tipe kepribadian Introvert.
  5. Tipe kepribadian ekstrovert adalah bagian dari jiwa manusia yang berorientasi pada faktor-faktor objektif di luar dirinya sebagai penggambaran yang berwujud tingkah laku pada diri individu secara utuh dengan kecenderungan lebih terbuka terhadap orang lain dalam berinteraksi.
  6. Tipe kepribadian introvert adalah bagian dari jiwa manusia yang berorientasi subjektif di luar dirinya sebagai penggambaran yang berwujud tingkah laku pada diri individu secara utuh dengan kecenderungan lebih tertutup terhadap orang lain dalam berinteraksi.

II. KAJIAN TEORETIK

  1. A. Pengertian Matematika dan Fungsinya

Matematika memiliki kehirarkian di antara pokok-pokok bahasannya, yaitu: suatu pokok bahasan tertentu merupakan prasyarat pokok bahasan lainnya. Oleh karena itu, menurut Soedjadi (1999) bahwa untuk menguasai matematika, diperlukan cara belajar setapak demi setapak dan berkesinambungan.  Pendapat ini bersesuaian dengan pendapat Hudoyo (1990) yang mengatakan bahwa dalam matematika, untuk mempelajari konsep B yang berdasarkan konsep A, maka perlu memahami dahulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin dapat memahami konsep B. Oleh karena itu, untuk belajar matematika harus dilakukan secara bertahap, berurutan, dan berkesinambungan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Schoenfeld (dalam Rahman: 2009), yang memandang matematika terdiri dari 2 spektrum, yaitu: (1) sebagai serangkaian dari fakta dan prosedur, kuantitas, besaran, bentuk-bentuk, dan hubungan-hubungannya, sehingga dapat dipandang sebagai penguasaan dari fakta-fakta dan prosedurnya, (2) sebagai ilmu tentang pola dari suatu disiplin ilmu empirik yang hampir sama dengan ilmu lain yang penekanannya pada pencarian pola dengan dasar kebenaran empirik. matematika di atas, maka dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan matematika adalah ilmu pengetahuan yang menekankan pada berfikir dan mengelola logika yang bersifat deduktif aksiomatik, berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi sombol-simbol dan tersusun secara hirarkis.

  1. B. MATEMATIKA SEKOLAH

Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di  Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan Pendidikan Menengah (SMA dan SMK). Matematika sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu pada perkembangan IPTEK. Hal ini menunjukkan bahwa matematika sekolah tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu memiliki objek kajian yang abstrak serta berpola pikir deduktif dan konsisten di dalam sistemnya.

Dari pengertian matematika di atas, maka dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan matematika sekolah  adalah matematika yang diajarkan di tingkat satuan pendidikan, mulai dari pendidikan dasar (yaitu SD dan SMP) hingga pendidikan menengah (SMA dan SMK) yang tetap memiliki ciri khas matematika yaitu kajian objek yang abstrak, berpola deduktif dan konsisten dalam sistemnya.

  1. C. MASALAH MATEMATIKA

Masalah adalah suatu situasi atau kondisi (dapat berupa issu/pertanyaan/soal) yang disadari dan memerlukan suatu tindakan penyelesaian, serta tidak segera tersedia suatu cara untuk mengatasi situasi itu. Pengertian “tidak segera” dalam hal ini adalah bahwa pada saat situasi tersebut muncul, diperlukan suatu usaha untuk mendapatkan cara yang dapat digunakan mengatasinya. Bell (1981) memberikan definisi masalah sebagai: “a situation is a problem for a person if he or she aware of its existence, recognize that it requires action, wants of needs to act and does so, ad is not immediately able to resolve the problem”. Suatu situasi dikatakan masalah bagi seseorang jika ia menyadari keberadaan situasi tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut memerlukan tindakan dan tidak dengan segera dapat menemukan pemecahannya. Hayes (dalam Upu: 2003) mendukung pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa suatu masalah adalah merupakan kesenjangan antara keadaan yang sekarang dengan tujuan yang akan dicapai, sedangkan kita tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan tersebut.

  1. D. PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA

Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematika penting seperti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematika dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik.

  1. E. TEORI KEPRIBADIAN

Kepribadian diambil dari terjemahan bahasa Inggris personality dan dari bahasa Latin persona adalah suatu topeng yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan di zaman Romawi. Di sini, berarti para aktor menyembunyikan kepribadiannya yang asli dan menampilkan dirinya sesuai dengan topeng yang digunakannya. Dari sini, perlahan-lahan, kata persona berubah menjadi satu istilah yang mengacu kepada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok atau masyarakatnya, dimana kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterimanya itu. Kepribadian juga sering dihubungkan dengan ciri-ciri tertentu yang menonjol pada diri individu. (Koeswara: 1991).

  1. F. TIPE-TIPE KEPRIBADIAN

Menurut Jung (dalam Yusuf, S. dan Nurihsan, J: 2008), kepribadian adalah seluruh pemikiran, perasaan, dan perilaku nyata baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Adapun struktur kepribadian manusia terdiri dari 2 dimensi yaitu dimensi kesadaran dan dimensi ketidaksadaran. Kedua dimensi ini saling mengisi dan mempunyai fungsi masing-masing dalam penyesuaian diri. Dimensi kesadaran berupaya menyesuaikan terhadap dunia luar individu. Adapun dimensi ketidaksadaran berupaya menyesuaikan terhadap dunia dalam individu. Batas kedua dimensi ini tidak tetap, dapat berubah-ubah.

Setiap orang mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya. Namun demikian, dalam caranya mengadakan orientasi itu setiap orang berbeda-beda. Bila orientasi terhadap sesuatu itu tidak dikuasai oleh pendapat subjektifnya, maka individu yang demikian itu dikatakan mempunyai orientasi ekstrovert. Bila orientasi ekstrovert ini menjadi kebiasaan, maka individu yang bersangkutan mempunyai tipe kepribadian ekstrovert. Jadi, berdasarkan atas sikap jiwanya, manusia digolongkan menjadi 2 tipe yaitu:

a. Manusia yang bertipe ekstrovert

Orang yang ekstrovert terutama dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia di luar dirinya. Pikiran, perasaan, dan tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Orang bertipe ekstrovert bersikap positif terhadap masyarakatnya, hatinya terbuka, mudah bergaul, dan hubungan dengan orang lain efektif.

Menurut Jung (dalam Feist, J. dan Feist, G: 2010), ekstroversi atau orang dengan tipe ekstrovert mempunyai sikap yang menjelaskan aliran psikis ke arah luar sehingga orang yang bersangkutan akan memiliki orientasi objektif dan menjauh dari subjektifnya. Ekstrovert akan lebih mudah untuk dipengaruhi oleh sekelilingnya dibandingkan oleh kondisi dirinya sendiri. Mereka cenderung untuk berfokus pada sikap objektif dan menekan pada sisi subjektifnya.

b. Manusia yang bertipe introvert

Orang yang bertipe introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu  dunia di dalam dirinya sendiri. Pikiran, perasaan, serta tindakannya terutama ditentukan oleh faktor subjektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, dan kurang dapat menarik hati orang lain.

Jung (dalam Feist, J. dan Feist, G: 2010) memandang bahwa orang yang bertipe introvert mempunyai aliran energi ke arah dalam yang memiliki orientasi subjektif. Introvert memiliki pemahaman yang baik terhadap dunia dalam diri mereka dengan semua bias, fantasi, mimpi, dan persepsi yang bersifat individu. Orang-orang dengan tipe ini akan menerima dunia luar dengan sangat selektif dan dengan pandangan subjektif mereka.

  1. G. KEABSAHAN DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Menurut Sugiyono (2008), reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Dalam penelitian kualitatif, suatu data dikatakan reliabel bila dua atau lebih peneliti dalam objek yang sama menghasilkan data yang sama, atau peneliti yang sama dalam waktu berbeda menghasilkan data yang sama. Oleh karena reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi sehingga jika ada peneliti lain mengulangi atau mereplikasi dalam penelitian pada objek yang sama dengan metode yang sama maka akan menghasilkan data yang sama. Suatu data yang reliable atau konsisten akan cenderung valid, walaupun belum tentu valid. Orang yang berbohong secara konsisten akan terlihat valid, walaupun sebenarnya tidak valid.

III. METODE PENELITIAN

Berkaitan dengan metode penelitian, hal-hal yang diuraikan pada bagian ini adalah: (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) fokus penelitian, (4) instrumen dan teknik pengumpulan data, (5) prosedur pelaksanaan penelitian, dan (6) teknik analisis data.

  1. A. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif berdasarkan pada wawancara berbasis tugas (the task-based interview). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari tipe kepribadian.

  1. B. SUBJEK PENELITIAN

Observasi lapangan yang telah dilakukan  dalam rangka menentukan calon subjek penelitian. Meskipun demikian dalam memilih calon subjek digunakan pula pertimbangan-pertimbangan yang tidak bertentangan dengan aturan pemilihan subjek.

Pemilihan sekolah tersebut didasarkan pada pemilihan subjek penelitian dengan beberapa alasan, yaitu: (1). Merupakan sekolah yang memiliki siswa yang berlatar belakang beragam, dimana Penerimaan Siswa Baru (PSB) didasarkan pada nilai rata-rata Ujian Nasional SMP dan hasil tes, (2). Rata-rata pengalaman belajar siswa di sekolah tersebut cukup bervariasi, (3). Karena untuk tujuan tertentu yaitu merupakan sekolah tempat peneliti bertugas sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan pengamatan yang lebih mendalam terhadap subjek penelitian. Sedangkan pemilihan kelas XI didasarkan pada pertimbangan: (1). Mendukung tujuan khusus pembelajaran matematika untuk Sekolah Menengah Umum antara lain: agar siswa mempunyai pandangan yang lebih luas serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika, bersikap kritis, objektif, terbuka, kreatif, serta inovatif, (2). Siswa SMK lebih mudah untuk diwawancarai dibandingkan bila subjeknya siswa SD ataupun SMP.

  1. C. FOKUS PENELITIAN

Fokus utama peneltian ini adalah mengenai pengkajian deskripsi kemampuan penyelesaian masalah matematika siswa SMK Negeri 1 Pallangga  berdasarkan tipe kepribadian ekstrovert dan tipe kepribadian introvert, sehingga dipilih 1 subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert dan 1 subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung introvert.

  1. D. INSTRUMEN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, karena peneliti merupakan pengumpul data melalui pengamatan dan wawancara mendalam. Sedangkan instrumen pendukung dalam penelitian ini meliputi: Tes Penggolongan Tipe Kepribadian, Tes Penyelesaian Masalah Matematika, Wawancara.

  1. E. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN
  2. Merancang instrumen penelitian dan validasi instrumen oleh ahli.
  3. Orientasi lapangan dan observasi di sekolah (tempat penelitian).
  4. Penentuan subjek penelitian berdasarkan tipe kepribadiannya, yaitu tipe kepribadian ekstrovert dan tipe kepribadian introvert.
  5. Pengumpulan data, meliputi (a) memberikan draft penyelesaian masalah matematika kepada subjek penelitian. Subjek  mengerjakan masalah matematika yang diberikan setelah itu diwawancarai, (b) menganalisis hasil penyelesaian masalah dan wawancara serta menganalisis proses penyelesaian masalah yang dilakukan siswa, dan (c) triangulasi teknik.
  6. Analisis data, meliputi (a) menganalisis hasil penyelesaian masalah matematika yang diberikan setiap nomor dan (b) menganalisis hasil wawancara.
  7. Menyusun deskripsi kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika di  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Pallanga  ditinjau dari tipe kepribadian siswanya.
  8. Menyusun laporan akhir (Tesis). Hasil yang diharapkan adalah memperoleh deskripsi kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika di  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Pallangga, ditinjau dari tipe kepribadian siswanya.

F. TEKNIK ANALISIS DATA

Analisis data adalah proses mencari dan proses menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengorganisasikan data ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat keseimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Untuk memperoleh data yang dianalisis maka peneliti akan melakukan validasi ahli terhadap 2 draf instrumen yang telah dirancang yaitu: tes penggolongan tipe kepribadian dan tes penyelesaian masalah matematika. Data hasil penyelesaian masalah matematika dan data hasil wawancara dianalisis deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan pada setiap nomor tugas penyelesaian masalah. Proses analisis dilakukan setelah proses wawancara selesai. Adapun data hasil wawancara dilakukan dengan langkah: (1) Reduksi data (data reduction), (2) Pemaparan data (data display), (3) Penarikan kesimpula (conclusion) dan verifikasi.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. a. Proses dan Hasil Penelitian Tahap Pemilihan Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini terdiri atas 63 orang yang merupakan siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa dengan status terdaftar pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 atau dengan kata lain siswa aktif belajar. Usia partisipan bergerak dari 16 sampai 18 tahun. Jumlah partisipan yang berjenis kelamin perempuan sebesar 26 orang dan yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 37 orang.

Tabel 8. Kategorisasi Tipe Kepribadian

Batas Kategori Frekuensi Persentase Kecenderungan
0 ≤ X ≤ 58,42 13 20,63 % Introvert
57, 69 ≤ X ≤ 76,79 38 60,32 % Keduanya
X  ≥ 76,79 12 19,05 % Ekstrovert
Jumlah 63 100 %

Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian  20,63 % memiliki tipe kepribadian introvert dan  19,05 % memiliki tipe kepribadian ekstrovert, dan sisanya sebesar 60,32 % memiliki tipe kepribadian keduanya, kadang ekstrovert dan kadang introvert. Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa memiliki kecenderungan tipe kepribadian yang campuran, kadang ekstrovert dan kadang introvert. Hal ini menunjukkan bahwa usia responden yang berkisar antara 16 sampai 18 tahun kadang masih mengalami kesulitan dalam menentukan sikap dan pandangannya terhadap masalah, sehingga mereka cenderung memiliki kedua tipe kepribadian yang diteliti dalam penelitian ini. Meskipun demikian, siswa yang mempunyai tipe kepribadian campuran tersebut tidak menjadi fokus dalam penelitian ini. Fokus penelitian ini hanya ditujukan pada siswa dengan tipe kepribadian ekstrovert yaitu sebanyak 19,05 % dan siswa dengan tipe kepribadian introvert sebanyak 20,63 %.

Rekapitulasi hasil pemetaan tipe kepribadian calon subjek penelitian dituangkan pada tabel berikut.

Tabel 9. Hasil Pemetaan Tipe Kepribadian Calon Subjek Penelitian

Kategori Tipe Kepribadian Banyaknya Responden
Tipe Kepribadian Ekstrovert 12 orang
Tipe Kepribadian Introvert 13 orang
Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert 38 orang

Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa dari 63 siswa yang diambil dari 2 kelas diperoleh data mengenai siswa dengan tipe kepribadian ekstrovert sejumlah 12 orang dan siswa dengan tipe kepribadian introvert sejumlah 13 orang. Sedangkan ada sejumlah 38 orang siswa yang berada pada kawasan bertipe kepribadian ekstrovert dan introvert.

Pada pemilihan subjek utama dengan memperhatikan tipe kepribadian yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Subjek utama yang dipilih adalah subjek penelitian yang mempunyai tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert dan subjek penelitian yang mempunyai tipe kepribadian yang cenderung introvert. Adapun subjek utama tersebut adalah.

Tabel 10.  Subjek Utama  Penelitian

Kategori Tipe Kepribadian Nama Responden
Tipe Kepribadian Ekstrovert Muh. Askar
Tipe Kepribadian Introvert Nur Ichsan Hidayat

Berdasarkan pembahasan dari hasil pekerjaan Subjek R1 dan penggalan wawancaranya maka dapat disimpulkan sementara bahwa Subjek R1 dengan tipe kepribadian ekstrovert membutuhkan orang lain dalam menyelesaikan masalah matematika yang dihadapinya. Subjek R1 juga tidak dapat terlepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya dalam menyelesaikan masalah matematika tersebut. Hal ini sejalan dengan sifat dari tipe kepribadian Subjek R1 yang selalu berorientasi pada dunia di luar dirinya sendiri.

Hal ini didukung pula oleh wawancara lanjutan yang dilakukan peneliti terhadap orang-orang yang berada di sekitar Subjek R1. Wawancara ini  dilakukan terhadap guru wali kelas, guru mata pelajaran lain yang mempunyai karakteristik yang mirip dengan matematika yaitu fisika, dan teman-teman terdekat Subjek R1. Dari hasil wawancara tersebut diperoleh bahwa Subjek R1 mempunyai kecenderungan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Sesuai dengan kriteria tipe kepribadiannya yang cenderung ekstrovert, Subjek R1 tidak dapat lepas dari lingkungan sosialnya. Hal ini membuat Subjek R1 tidak dapat fokus mengerjakan atau menyelesaikan masalah. Dia cenderung tidak dapat duduk tenang sehingga terkesan terburu-buru dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Teman-teman terdekat dengan Subjek R1 mengemukakan bahwa Subjek R1 merupakan pribadi yang ramai dan cenderung punya banyak teman.

Berdasarkan pembahasan dari hasil pekerjaan Subjek R2 dan penggalan wawancaranya maka dapat disimpulkan sementara bahwa Subjek R2 dengan tipe kepribadian introvert cenderung tidak terpengaruh oleh dunia di luar dirinya dan cenderung tidak membutuhkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya, sehingga Subjek R2 dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan baik. Kecenderungan tipe kepribadian yang introvert menuntun Subjek R2 dapat lebih berorientasi pada dirinya sendiri sehingga dapat lebih  berkonsentrasi dalam menyelesaikan masalah matematika yang diberikan. Subjek R2 juga cenderung tidak membutuhkan orang lain karena berdiam diri dan berpikir merupakan sumber energi untuk Subjek R2 yang cenderung introvert.

Hal ini didukung pula oleh wawancara lanjutan yang dilakukan peneliti terhadap orang-orang yang berada di sekitar Subjek R2. Wawancara ini  dilakukan terhadap guru wali kelas, guru mata pelajaran lain yang mempunyai karakteristik yang mirip dengan matematika yaitu fisika, dan teman-teman terdekat Subjek R2. Dari hasil wawancara tersebut diperoleh bahwa Subjek R2 mempunyai kecenderungan untuk lebih tenang dan tidak terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Sesuai dengan kriteria tipe kepribadiannya yang cenderung introvert, Subjek R2 dapat fokus dengan dunia di dalam dirinya. Hal ini membuat Subjek R2 dapat fokus mengerjakan atau menyelesaikan masalah. Dia dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan tenang. Teman-teman terdekat Subjek R2 juga menilai Subjek R2 sebagai pribadi yang tenang dalam bergaul dan menyelesaikan masalah, sehingga terkesan pendiam. Meskipun, ada beberapa teman yang tidak menyukai sifat diamnya ini, tetapi mereka cenderung memuji ketelitian Subjek R2 dalam menyelesaikan masalah yang diberikan kepadanya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

  1. Subjek penelitian yang memiliki tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert membutuhkan orang lain dalam menyelesaikan masalah matematika yang dihadapinya. Subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert kurang dapat menyelesaikan masalah matematika yang diberikan dengan baik dan tidak dapat mengikuti langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya. Hal ini terbukti dengan subjek penelitian dapat memaparkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari masalah, tetapi cenderung tidak memperhatikan keseluruhan masalah secara utuh. Subjek penelitian juga mempunyai rencana strategi penyelesaian tetapi terkadang tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Subjek penelitian dapat menyelesaikan masalah dengan baik setelah mendapat tuntunan dari peneliti. Subjek penelitian juga tidak melakukan tahap melihat kembali karena proses penyelesaian masalah matematika yang diajarkan oleh guru tidak sampai pada tahap melihat kembali.
  2. Subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung introvert cenderung tidak terpengaruh oleh dunia di luar dirinya dan cenderung tidak membutuhkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya, sehingga Subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung introvert  dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan baik, meskipun belum sepenuhnya mengikuti langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya. Hal ini terbukti dengan subjek penelitian dapat memaparkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari masalah dan memperhatikan keseluruhan masalah secara utuh dengan baik. Subjek penelitian juga mempunyai rencana strategi penyelesaian dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik sendiri, tetapi subjek penelitian tidak dapat melakukan pengecekan kembali terhadap jawaban yang diberikan karena pola penyelesaian masalah matematika yang diajarkan oleh guru tidak sampai pada tahap melihat kembali.

B. SARAN

  1. Guru diharapkan mampu menerapkan berbagai pendekatan, metode, dan teknik, dalam pembelajaran matematika yang mampu mengakomodir tipe kepribadian yang dimiliki siswa. Sehingga terjadi peningkatan mutu pembelajaran matematika dan meningkatkan kreativiatas siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Guru diharapkan dapat memperhatikan ciri-ciri khas  dari tipe kepribadian siswa, khususnya ekstrovert dan introvert dalam menyusun draft Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sehingga tipe kepribadian siswa menjadi salah satu unsur yang diperhatikan dalam proses belajar mengajar.
  2. Pihak sekolah diharapkan memberikan perhatian khusus kepada siswa terkait dengan penggolongan siswa ke dalam salah satu tipe kepribadian. Dengan harapan pada guru yang mengajar mampu mengakomodir karakteristik kedua tipe kepribadian tersebut.

Daftar Pustaka

Arikunto, 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Ayoue. 2009. Antara Introvert dan Ekstrovert. (Online) (http://iniblognyasaya.wordpress.com/2009/09/22/antara-introvert-dan-ekstrovert/) Diakses tanggal 17 Maret 2011.

Azwar, 1999. Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Bell, F H. 1981. Teaching and Learning Mathematics (In Secondary School). Second Printin, Wm; C. Brown Pulisher, IOWA.

Biolla, 2009. Efektifitas Pendekatan Open-ended Problem dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba. Tesis tidak diterbitkan. Makassar: PPs UNM.

Danim, S. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia

Djamal, D. Y. 2007. Perbedaan Jarak Personal Space Ditinjau dari Tipe Kepribadian (Studi pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar). Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: UNM.

Depdiknas. 2002. Teori-Teori Perkembangan Kognitif dan Proses Pembelajaran yang Relevan untuk Pembelajaran Matematika. Pelatihan Terintegrasi berbasis kompetensi.

_________. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Mengah Pertama dan Madrasah Tsanawiah, Jakarta: Depdiknas.

Koeswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: Eresco.

Frieldman dan Rosenman, R. 2010. Tipe Kepribadian. (Online) (http://psikologi.or.id/mycontents/upload/2010/10/tipe-kepribadian1.pdf.) Diakses tanggal 10 Desember 2010.

Haryadi, D. 2007. Modul Matematika untuk SMK Kelas XI. Jakarta: Yudhistira.

Hackz, R. 2009. Ekstrovert vs Introvert. (Online). (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/ekstrovert-vs-introvert/) Diakses 17 Maret 2011.

Hudoyo, H.1990. Mengajar Belajar Matematika. LPTK Jakarta: Depdikbud.

.2001. Mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika. FMIPA UM Malang.

Ismaone. 1988, Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Japar. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran SPLDV Berbasis Masalah dengan Pendekatan Open-ended Problem Kelas VIII SMP. Tesis tidak diterbitkan: PPs UNM.

Feist, J. dan Feist, G. 2010. Teori Kepribadian Edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika.

Lidinillah, 2009.  Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar. Online (http://abdulmuizlidinillah.files.wordpress.com /2009/03/problem -solving-di-sd1.pdf) Diakses 12 Maret 2010

Lukman, 2008.  Pemecahan Masalah (Problem Solving). (Online) (http://www.lukmanhaydar.co.cc/2009/12/pemecahan-masalah-problem-solving.html) Diakses 27 Pebruari 2010

Marpaung, Y. 1999. Mengejar Ketertinggalan Kita dalam Pendidikan Matematika, Mengutamakan Proses Berpikir dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disampaikan dalam upacara pembukaan program S3 Pendidikan Matematika Universitas Surabaya. 10 September.

Muhkal, M. 2002. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Makassar: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA. UNM.

________. 1999. “Menumbuhkan Kemampuan Menyelesaikan Masalah melalui Proses Belajar Mengajar Matematika.” Jurnal Eksponen Matematika FMIPA UNM. Vol. 2. No. 1. Hlm. 1 – 12.

Moleong, J. L. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurman. 2008. Deskripsi Kemampuan Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Openended (Ditinjau dari Perbedaan Tingkat Kemampuan Matematika Siswa). Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA.

Paduppai, D. 2003. Respons Hasil Belajar Mahasiswa Atas Kecerdasan Emosional Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua. Jurnal Eksponen Jurusan Matematika FMIPA UNM Vol. 4 Juli 2003.

Polya, G. 1973. How to Solve It. Second Edition. Princeton, New Jersey: Princeton University Press.

Poppy, Y.  2003. Pendekatan Open-ended, Salah Satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yogyakarta. 28 – 29 Maret.

Rahman, 2009. Profil Pengajuan Masalah Matematika Berdasarkan Gaya Kognitif. Surabaya: PPs UNESA.

Russefendi, 1988. Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Sawada, T. 1997.  Developing Lesson Plan. Dalam J. P. Becker & S. Shimada (Ed.). The Open-ended problem Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics.

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Soedjadi, R. 1999. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Suchaini, Udin. 2008. Analisis Hasil Belajar  Matematika Berdasarkan Gaya Kognitif Guru dan Gaya Kognitif  Siswa Pada Kelas II SMA. (Online). (http://suchaini.wordpress.com). Diakses 22 Desember 2009.

Sudirman. 2005. Cerdas Aktif Matematika. Jakarta: Ganexa Exact.

Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Suhadianto. 2009. Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa untuk Meningkatkan Prestasi. (http://suhadianto.blogspot.com/2009/020pentingnya-mengenal-kepribadian -siswa.html). Diakses tanggal 9 Desember 2010.

Sukino. 2005. Matematika Untuk SMP Kelas VIII. Jakarta:  Erlangga.

Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI.

Tansri, W. 2010. Tipe-tipe Kepribadian Manusia. (Online). (http://msakya.blogspot.com/2010/12/tipe-tipe-kepribadian-manusia.   html). Diakses 28 Januari 2011.

Upu, H. 2003. Problem Posing dan Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika. (Pegangan Untuk Guru, Siswa PPS, Calon Guru, & Guru Matematika). Bandung: Pustaka Ramadhan.

Wahid, B. 2002. “Pendekatan Open-ended problem dalam Pembelajaran Matematika.” Jurnal Eksponen Jurusan Matematika FMIPA UNM. No. 4. hlm. 62 – 72.

Weda, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.

Yusuf, S. dan Nurihsan, J. 2008. Teori Kepribadian. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Yosef, I. 2010. Hand Out Perkuliahan Psiokologi. (Online) (http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/mengenal%20tipe%20kepribadian%20dan%20kesadaran%20manusia.pdf). Diakses 10 Desember 2010.

________. 2004. Undang – undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

This entry was posted in Math Education. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>