Cooperative Learning Think Pairs Share (TPS) Type with Problem Solving Approach (an Exploration Study by using Trigonometry at Class X SMA Negeri 1 Ujung Loe)

Rahmawati

Hamzah Upu

Nurdin Arsyad

ABSTRACT

This research was explorative-qualitative research, aimed to (1) describing about students’ activity in teaching and learning process through the application of cooperative learning Think Pairs Share (TPS) type by using problem solving approach to comprehending trigonometry, and (2) describing about students’ responses on the applications of cooperative learning TPS type by using problem solving in understanding trigonometry, and (3) taking accurate information about the development of students’ mastery in applying cooperative learning TPS type by using problem solving approach at trigonometry.

Subjects of this research was SMA students at class Xf SMA Negeri 1 Ujungloe 2010/2011 academic year, which consisted of 30 students. The focus of this research was students’ activities, responses, and learning results. Data analysis technique used was qualitative and quantitative analysis. Qualitative data analysis technique was applied on students’ activities and quantitative analysis was on data of learning results test and students’ responses.

The results of this research reveals are; (1) dominant category in think phase, students who have high academic level tend to finish their works independently, students who have medium academic level tend to read learning materials and finish their works independently, while students who have low academic level tend to read other materials and imagine. Dominant category in pair phase, students who have high academic level give aid by explanation and discuss to other students who have medium academic level, students who have high academic level give aid without explanation to low academic level students, while students who low academic level ask aid to the medium academic level students. Dominant category in share level tends to discuss and negotiate among other pair. (2) students’ response during this cooperative learning TPS type by using problem solving approach is positive. (3) the application of cooperative leaning TPS tye by using problem solving approach can increase the mastery of students at class Xf at SMA Negeri 1 Ujungloe in trigonometry materials. This result is indicated from descriptive analysis with average pre-test reaches 18,27 from the ideal score 100 with deviation standard 13,50 and average score at post-test is 74.49 from the ideal score 100 with standard deviation 10,11. The result of analysis is taken information that indicates that there is an increase of significant level of average of students’ trigonometry mastery after learning by applying cooperative learning TPS type by using problem solving approach.

A. Latar Belakang

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab merupakan fungsi pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Berkaitan dengan hal tersebut, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut seseorang untuk dapat menguasai informasi dan pengetahuan. Dengan demikian diperlukan suatu kemampuan memperoleh, memilih dan mengolah informasi. Kemampuan-kemampuan tersebut membutuhkan pemikiran yang kritis, sistematis, logis, dan kreatif. Seperti dikatakan Wittgenstein (dalam Suriasumantri, 2003: 199) bahwa matematika adalah metode berpikir logis.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pakar pendidikan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa. Namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah laporan dari Third International Mathematics and Science Study (TIMSS). tahun 1999 yang merupakan kriteria acuan, rendahnya daya saing murid Indonesia di ajang international (Indonesia diperingkat ke 34 dari 38 negara) menunjukkan betapa lemahnya kemampuan penguasaan matematika di negara kita (Upu, 2004: 77).

Observasi awal yang penulis lakukan di kelas X SMA Negeri 1 Ujungloe dan diskusi dengan guru-guru matematika menunjukkan bahwa rata-rata nilai ulangan harian siswa masih rendah dan pembelajaran juga masih didominasi oleh guru. Dibalik rendahnya hasil ulangan harian siswa, kenyataan dilapangan juga menununjukkan siswa pasif dalam proses pembelajaran.

Sullivan (1992) (dalam Upu, 2004: 78) mengatakan bahwa pembelajaran matematika di kelas pada umumnya masih berpusat pada guru, yang mengakibatkan siswa menjadi malas dan kurang bergairah dalam menerima pelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab kurang berpartisipasinya siswa dalam pembelajaran matematika di kelas, adalah model dan pendekatan yang kurang tepat dalam mengaktifkan siswa, sehingga guru mempunyai peranan yang cukup penting dalam pemantapan proses pembelajaran.

Salah satu pembelajaran matematika yang mengaktifkan siswa selama proses pembelajaran adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut Suherman (2001: 218), dengan menonjolkan interaksi dalam kelompok, model pembelajaran kooperatif dapat membuat siswa menerima siswa lain yang berkemampuan dan berlatar belakang berbeda. Sedangkan menurut Lord (dalam Suradi, 2005: 23), dalam pembelajaran kooperatif peranan guru beralih dari penyaji menjadi fasilisator. Lebih lanjut Lord menyatakan bahwa siswa yang belajar melalui pembelajaran kooperatif lebih bertanggungjawab terhadap pembelajarannya dan siswa lebih banyak memperoleh informasi dibandingkan saat diajarkan dalam kelas tradisional.

Pembelajaran kooperatif telah diyakini menjadi salah satu alternatif dalam memperbaiki kualitas kegiatan pembelajaran matematika. Hasil penelitian Lundgren (dalam Suradi, 2005: 23) bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. Sedangkan hasil penelitian Leiken dan Zaslavsky (dalam Suradi, 2005: 1) menunjukkan bahwa 86,3% waktu yang tersedia untuk proses pembelajaran matematika secara kooperatif digunakan siswa secara aktif berinteraksi dengan siswa lain dan melakukan aktivitas pembelajaran.

Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share memberikan penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Strategi Think-Pair-Share tumbuh dari penelitian pembalajaran kooperatif. Ini merupakan cara yang efektif untuk merubah pola diskursus dalam kelas. Strategi ini menentang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu dilakukan dalam setting seluruh kelompok. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

Penulis memilih pembelajaran kooperatif tipe TPS sebagai model untuk mengajarkan materi trigonometri. Pemilihan pokok bahasan ini karena tiga alasan. Pertama, materi trigonometri marupakan salah satu materi yang dianggap sulit oleh siswa, ini diperoleh berdasarkan pengalaman peneliti tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada materi trigonometri masih rendah, terlihat dari perolehan hasil ulangan harian pada KD tersebut rata-rata kurang dari 50% mencapai nilai KKM. Kedua, Materi trigonometri banyak yang berhubungan dengan aktivitas manusia atau sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya siswa. Ketiga,  Banyak masalah yang ada sekitar lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa yang berkaitan dengan materi trigonometri untuk dipecahkan, hal ini memungkinkan siswa membangun sendiri atau secara berkelompok tentang konsep matematika yang berkaitan dengan materi  trigonometri.

Berdasarkan tiga alasan tersebut maka dalam proses pembelajaran matematika sekolah perlunya menerapkan proses pembelajaran misalnya belajar kelompok.  Dalam belajar kelompok siswa dapat bertanggung jawab atas tugas yang diberikan baik bertanggung jawab secara perorangan maupun secara berkelompok dan secara tidak langsung diantara siswa yang satu dengan lainnya saling mengingatkan jika mendapatkan kesulitan dalam belajar matematika. Hal ini perlunya menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan tertentu. Adapun pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivis adalah pembelajaran kooperatif.

Salah satu usaha dalam peningkatan kualitas pengajaran adalah penggunaan pendekatan yang tepat . Sebagaimana dengan pendekatan lain pada umumnya pendekatan pemecahan  masalah (problem solving) dalam matematika telah menarik perhatian. Pemecahan masalah secara kelompok merupakan salah satu cara untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.

Siswa memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah matematika masih rendah karena sebagian besar siswa dapat menyelesaikan soal tetapi tidak mampu menjelaskan  jawaban yang mereka berikan. Sebagian besar siswa hanya mampu mengerjakan soal yang sudah diberikan contoh penyelesaian, siswa hanya mengikuti langkah-langkah yang diberikan guru pada contoh soal. Siswa tidak dapat menjelaskan alasan dari setiap langkah yang mereka kerjakan. Para siswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal cerita. Mereka masih sulit memahami apa yang diketahui dan ditanya dari soal.

Berdasarkan latar belakang, penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul “ Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) dengan Pendekatan Problem Solving (Studi Eksplorasi  dalam Pembelajaran Trigonometri Kelas X SMA Negeri 1 Ujungloe)”.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan  latar belakang masalah, maka pertanyaan penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana deskripsi aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving di SMA Negeri 1 Ujungloe dalam memahami materi trigonometri?
  2. Bagaimana respons siswa yang diajar dengan  menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving di SMA Negeri 1 Ujungloe dalam memahami materi trigonometri?
  3. Sejauhmana peningkatan penguasaan trigonometri siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving siswa kelas Xf SMA Negeri 1 Ujungloe?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan menerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving di SMA Negeri 1 Ujungloe dalam memahami materi trigonometri.
  2. Mendeskripsikan respons siswa terhadap pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving di SMA Negeri 1 Ujungloe dalam memahami materi trigonometri.
  3. Mendapatkan informasi yang akurat tentang peningkatan penguasaan trigonometri siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving siswa kelas Xf SMA Negeri 1 Ujungloe?

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut.

  1. Untuk siswa: dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dapat meningkatkan kinerja siswa dalam memecahkan masalah matematika, khususnya berdasarkan langkah problem solving.
  2. Untuk guru: memberikan alternatif dalam memvariasikan model, pendekatan pembelajaran dan meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika.
  3. Untuk Dinas Pendidikan: sebagai bahan masukan bagi para pengambil kebijakan dalam memberikan arahan pengembangan pembelajaran matematika di sekolah.
  4. Untuk penulis: dapat meningkatkan pengetahuan pendidikan matematika penulis dan dapat digunakan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya.

E. Batasan Istilah

Untuk memperoleh persamaan persepsi, dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang perlu dijelaskan sebagai berikut.

  1. Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah suatu model pembelajaran yang digunakan oleh guru dengan langkah-langkah berikut: (a) Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, (b) guru meminta memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri, (c) guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain, (d) guru meminta kepada pasangan untuk berbagi seluruh kelas.
  2. Pendekatan problem solving yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pendekatan  pembelajaran berbasis keterampilan menyelesaikan masalah matematika menurut George Polya.
  3. Pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah seluruh rangkaian kegiatan siswa dan guru yang dirancang dengan cara menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving.
  4. Aktivitas siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah perilaku-perilaku yang ditampilkan siswa beserta hasil-hasil belajar yang dicapai siswa selama proses pembelajaran, baik dalam  tugas (on-task) maupun di luar tugas (off-task) pada setiap tahap pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving.
  5. Respons siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pendapat siswa tentang komponen-komponen kegiatan pembelajaran.
  6. Penguasaan siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pengetahuan siswa terhadap materi trigonometri yang diukur dengan tes  awal yang diberikan sebelum mengikuti pembelajaran dan tes akhir yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan pembelajaran melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving pada materi trigonometri.
  7. Trigonometri yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah materi matematika yang diajarkan pada kelas X SMA semester 2 sesuai dengan standar isi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

F. Tinjauan Pustaka

Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat memfasilitasi perbedaan kemampuan siswa dan aktivitas aktif siswa adalah pembelajaran kooperatif tipe TPS yang bersumber dari filsafat konstruktivisme. Pembelajaran kooperatif tipe TPS diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik yang berkemampuan rendah, sedang, maupun berkemampuan tinggi. Di samping itu, pembelajaran kooperatif tipe TPS berdampak pada peningkatan keterampilan sosial dan sikap gotong royong yang merupakan karakteristik utama masyarakat Indonesia.

Pendekatan problem solving merupakan salah satu sistem kriteria penggunaan pola pikir matematik atau kriteria berpikir matematik dan sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika.

Pembelajaran yang kondusif, mendorong siswa untuk kreatif untuk memecahkan masalah dan mendorong siswa untuk mendiskusikan perbedaan-perbedaan pendapat dengan mengurangi tekanan terhadap respons siswa yang harus tepat. Jika hal ini diterapkan pada pembelajaran matematika sebagai suatu proses konstruksi, dan abstraksi terhadap konsep-konsep matematika dengan memaksimalkan pemecahan masalah matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS. Dengan demikian, penelitian ini dibatasi pada pendekatan problem solving dalam pembelajaran matematika berbasis kooperatif tipe TPS, dengan harapan memberikan kontribusi dalam peningkatan proses pembelajaran dan pencapaian kompetensi belajar siswa.

G. Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini yang diselidiki adalah suasana/kondisi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran materi trigonometri dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving. Subyek penelitian diberikan perlakuan kemudian dilakukan pengamatan terhadap gejala yang muncul pada proses pembelajaran sehingga penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian kualitatif bersifat eksploratif.

H. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berdasarkan hasil temuan selama penelitian diperoleh informasi bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving secara umum dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi trigonometri. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan sebanyak 26 siswa (87%) yang mencapai nilai ketuntasan minimal mata pelajaran matematika yaitu 65.

Analisis data hasil belajar matematika siswa pada materi trigonometri pada pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving yang diamati menunjukkan bahwa nilai tes awal rata-rata 18,27 sedang nilai hasil belajar sesudah pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving rata-rata 74,49. Tes perkembangan yang diberikan kepada siswa, tampaknya berpengaruh dalam hal membuat siswa dalam suatu kelompok untuk bekerja dengan baik, sehingga cenderung untuk meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini berarti bahwa pembelajaran kooperatif dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai ketuntasan klasikal serta nilai hasil belajar antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah setelah pembelajaran kooperatif memiliki variasi yang semakin kecil. Temuan ini menunjukkan pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan kontribusi kepada siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika.

Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini juga, penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving juga dapat mengoptimalkan aktivitas siswa selama pembelajaran. Secara keseluruhan semua siswa aktif mengikuti pembelajaran, karena mereka dituntut  untuk menyelesaikan  soal pada LKS. Perilaku-perilaku yang ditampilkan oleh siswa yang teramati dari empat pertemuan  menunjukkan bahwa semua siswa dari ketiga kategori terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Perbedaaannya bagi siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dapat mengerjakan LKS dengan cepat, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk membantu temannya. Aktivitas ini mengindikasikan bahwa siswa tersebut memahami konsep dan mampu mentransfer pengetahuannya kepada teman. Siswa yang mempunyai kemampuan sedang, menyelesaikan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan, namun masih membutuhkan sharing dengan teman. Sementara bagi siswa yang mempunyai kemampuan rendah membutuhkan waktu yang lebih banyak dan bimbingan yang lebih intensif baik dari guru maupun dari teman.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh pola umum interaksi antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah adalah berpikir bersama atau berdiskusi. Hal ini dapat dipahami, karena sudah tertanam dalam benak siswa bahwa pembelajaran kooperatif berarti berpikir bersama atau berdiskusi.

Pola interaksi personal selain berdiskusi, adalah dalam hal membantu dan meminta bantuan. Kategori dominan interaksi siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi memberi bantuan dengan penjelasan dan berpikir bersama kepada siswa yang mempunyai kemampuan akademik sedang. Kategori dominan interaksi siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi memberi bantuan tanpa penjelasan kepada siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah dan berpikir bersama. Kategori dominan interaksi siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah meminta bantuan kepada siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah dan berpikir bersama.

Aktivitas siswa selain interaksi personal yang dominan pada setiap pertemuan adalah menyelesaikan masalah secara mandiri. Aktivitas ini semakin meningkat pada setiap pertemuan, hal ini memberikan gambaran bahwa semakin lama siswa belajar kelompok maka kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan masalah semakin meningkat.

Siswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran kooperatif dan menunjukkan aktivitas aktif dalam berinteraksi dalam kelompok, terlihat bahwa siswa tidak canggung dalam bekerja sama, saling member, saling menerima dan saling member dukungan. Hal ini didukung oleh Nur (2005) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat memotivasi seluruh siswa, memanfaatkan seluruh energi sosial siswa, saling mengambil tanggung jawab. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Hulten dan De Vries (dalam Slavin, 1995) yang menemukan bahwa dengan belajar kooperatif membuat anggota kelompok bersemangat.

Dalam pembelajaran kooperatif tipe TPS kualitas proses pembelajaran dapat ditingkatkan karena dengan perangkat pembelajaran yang dirancang, guru tidak lagi harus menyajikan informasi sebanyak-banyaknya. Perangkat pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat membangun sendiri pengetahuan lewat pengalamannya sendiri. Dalam setiap pembelajaran, siswa selalu berusaha ingin menjawab permasalahan yang dihadapi. Akibatnya iklim pembelajaran menjadi kondusif untuk belajar melalui pengalaman sendiri yang berpusat pada siswa. Model pembelajaran yang demikian menyebabkan siswa belajar secara antusias.

Berdasarkan hasil temuan melalui angket yang diberikan menunjukkan bahwa siswa mempunyai respons positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving. Respons positif yang ditunjukkan siswa diindikasikan juga dari antusiasme mereka pada saat pembelajaran dan keaktifan yang ditunjukkan selama pembelajaran.  Dengan respons positif yang diberikan siswa selama pembelajaran menunjukkan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving dapat menciptakan kondisi psikhis dan fisik siswa yang kondusif untuk belajar.

I. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving dalam memahami materi trigonometri pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Ujungloe dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Aktivitas siswa yang teramati adalah interaksi personal dan selain interaksi personal.
    1. Kategori dominan pada tahap think. Siswa  yang mempunyai kemampuan awal tinggi cenderung menyelesaikan masalah secara mandiri, siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang cenderung membaca materi ajar dan menyelesaikan masalah secara mandiri sedangkan siswa yang mempunyai  kemampuan awal rendah cenderung membaca sumber lain dan melamun.
    2. Kategori dominan pada tahap pair. Siswa  yang mempunyai kemampuan awal tinggi memberi bantuan dengan penjelasan dan berdiskusi kepada siswa yang mempunyai awal sedang, siswa  yang mempunyai kemampuan awal tinggi memberi bantuan tanpa penjelasan kepada siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah, sedangkan siswa  yang mempunyai kemampuan awal rendah meminta bantuan kepada siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang.
    3. Kategori dominan pada tahap share. Kecenderungan siswa berdiskusi atau bernegosiasi antara semua pasangan.
    4. Siswa menunjukkan respons positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving.  Hal ini diindikasikan oleh hasil angket dengan presentase rata-rata respons yang diberikan siswa dari semua indikator diatas 75 %.  Respons positif siswa juga dapat diindikasikan dari antusiasme dan keaktifan siswa selama mengikuti pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kooeratif tipe TPS dengan pendekatan problem solving.
    5. Penguasaan siswa pada materi trigonometri pada pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving yang diamati menunjukkan bahwa nilai tes awal rata-rata 18,27dari skor ideal 100 dan standar deviasi 13,50  sedang nilai tes sesudah pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving rata-rata 74,49 dari skor ideal 100 dan standar deviasi 10,11. Hal ini berarti bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan penguasaan siswa pada materi trigonometri, memfasilitasi siswa untuk mencapai ketuntasan klasikal serta nilai hasil belajar antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah setelah pembelajaran kooperatif memiliki variasi yang semakin kec.

J. Daftar Pustaka

Arends. R.I. 2001. Learning to Teach (5th ed). Boston: McGraw-Hill.

Depdiknas. 2006. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA). Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Buku Rapor siswa Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Dinas Pendidikan Nasional.

Dimyati dan Mudjiono. 1990. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Proyek pembinaan dan peningkatan mutu tenaga kependidikan, Direktorat jenderal pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Djadir. 2005. ”Studi Eksplorasi Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe STAD di SMP”. Jurnal Ilmu Pendidikan. Makassar: LPMP Makassar.

Djamarah, Syaif Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang.

2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang.

Ibrahim, Muslimin,dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA University Press.

Ismail. 1995. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Jakarta: Proyek DIKTI.

Johnston. 1978. Plane Trigonmetry A New Approach. Englewood: Prentice-Hall.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Munir, Baderel. 2001. Dinamika Kelompok. Unsri: Universitas Sriwijaya.

Negoro B. Harahap. 2005. Ensiklopedia Matematika. Bogor: Ghalia Indonesia.

Nur, M. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah UNESA.

Nurdin. 2007. Model Pembelajaran Matematika yang Menumbuhkan kemampuan Metakognitif untuk Menguasai Bahan Ajar. Disertasi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA.

Nurhadi. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Malang.

Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ramlan. 2010. Proses Berpikir Pseudo dalam Menyelesaikan Soal-Soal Limit Fungsi berdasarkan Gaya Kognitif Mahasiswa. Tesis  tidak diterbitkan. Makassar: PPs UNM Makassar.

Ratumanan, T. G. 2004. Belajar dan Pembelajaran (Edisi 2). Surabaya: UNESA University Press.

Ruslan. 2002. “Membangun Pemahaman Konseptual dan Prosedural Siswa Melalui Pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem Solving) Dalam Bidang Matematika” Jurnal Alumni vol 7 No. 2- Thn. 2002. Makassar: UNM Makassar.

Russefendi, E.T. 1988. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung Tarsito.

1991. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Shadiq, F. 2000. Pembelajaran Matematika Aktif Efektif (Metode Pemecahan Masalah). Yogyakarta: PPPG Matematika.

Slavin, R.E. 1995. Cooperatif Learning: Theory, Research, and Practice (2nd ed). Boston: Allyn and Bacon.

Soedjadi. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia: Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.

Sudjana. 2008. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar Metode Statistika. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Sujono. 1988. Pengajaran Matematika Sekolah Menengah, Jakarta: Depdiknas.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta Bandung.

Suherman. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika. Bandung JIC. UPI.

2003. Pendekatan Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung:  Universitas Pendidikan Indonesia.

Sumarmo,U., Dedy, E., dan Rahmat. 1994. Suatu Alternatif Pengajaran untuk Meningkatkan Pemecahan Masalah Matematika pada Guru dan Siswa SMA. Laporan Hasil Penelitian FPMIPA IKIP Bandung.

Suradi. 2005. Interaksi Siswa SMP dalam Belajar Matematika Secara Kooperatif. Disertasi Doktor tidak diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA Surabaya.

Suriasumantri, J. 2003. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tiro, Arif. 2010. Cara Efektif Belajar Matematika. Makassar: Andira Publisher.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Kencana Prenada.

Upu, Hamzah. 2003. Problem Posing dan Problem Solving dalam Pembelajaran matematika. Bandung : Pustaka Ramadhan.

2004.  Mensinergikan Pendidikan Matematika dengan Bidang Lain. Makassar: Pustaka Ramadhan.

Widyantini. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif. Yogyakarta: PPPG Dirjen PMPTK Depdiknas

This entry was posted in My Research. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>