DEVELOPING LEARNING PACKAGES OF COOPERATIVE BASED MODEL OF JIGSAW TYPE ON THE TOPIC OF BIODIVERSITY IN GRADE X

MUHAMMAD HELMY

HAMZAH UPU

MUH. WIHARTO

Abstract

This research armed at prducing learning packages on the topic of biodiversity with the application of cooperative learning model of Jigsaw type to the grade X of senior high school student wich was valid, practical and effective

This research was the development research which adopted form the 4-D Thiagarajan, Semmel and Semmel development  model (1974). The subject of this research was the grade X students of SMA Muhammadiyah 9 Makassar 2010/2011 academic year, which consisted of 20 students. Tehnique of collection  data was through the validation of device and research instument from the experts. Evaluation from observer and questionaire of the students response which were analyse quantitatively

The developed learning device were lesson plan, Student book, and students’ worksheet. Validity of value of the lesson plan, the students’ book  and the Worksheet  in every evaluation aspect were categorized as valid (4.0 ≤ x <4.5)  and extremely valid (4.5 ≤ x < 5.0). This showes that the cooperative learning device of jigsaw type on the topic of biodiversity in grade X was in extremely valid category. The practicality of device viewed from its  implementation which was in implemented completely category (1.5 ≤ x ≤ 2,0) and the degreement percentage was 92.11%. The effectiveness was viewed from (1) the positive response from the students on the learning process, Students’ Book and students’ worksheet; (2) all of the students’ activities were in the interval of ideal time; (3) teacher’s ability in managing learning was categorized high (4.0 ≤ KG <4.5)  and extremely high (KG ≥ 4,5) and (4) the result from students classical matery in the their achievement test was 90% with the standard deviation 7,6466.

Keywords: Cooperative Learning Jigsaw Type, biodiversity, Lesson Plans, Student Book, and student worksheet

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran merupakan upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini, secara implisit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada. Salah satu kewajiban guru sebagai pendidik dalam mengajar adalah menarik minat siswa, agar pelajaran yang diberikannya bisa dikuasai oleh siswa dengan baik. Seorang pendidik dituntut harus mampu memilih dan menggunakan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran  cocok dengan kebutuhan dan potensi peserta didik.

Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa diantaranya adalah guru dan metode pembelajaran yang digunakan. Sampai saat ini masih banyak guru hanya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik dan peserta didik hanya menerima apa yang disampaikan guru sehingga mereka cenderung pasif dan pembelajaran menjadi membosankan. Mungkin juga karena siswa hanya diajar konsep biologi tanpa disertai pemahaman yang baik. Kondisi yang seperti ini harus diupayakan untuk diperbaiki melalui perbaikan kegiatan pembelajaran.

Pemilihan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran Keanekaragaman Hayati didasarkan pada pertimbangan bahwa materi Keanekaragaman Hayati cocok dengan pembelajaran kooperatif Jigsaw, siswa diharapkan menemukan konsep Keanekaragaman Hayati tersebut dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga konsep-konsep penting dalam Keanekaragaman Hayati tertanam kuat dalam benak siswa. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menekankan pada penemuan konsep melalui kelompok Ahli dan nantinya akan dibawa ke kelompok asal sehingga akan lebih mudah untuk dipahami. Dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diharapkan dapat memacu para siswa untuk bekerja sama, saling bertukar pendapat, berdiskusi, saling menerima satu sama lain dari perbedaan kemampuan dan latar belakang yang berbeda dalam memecahkan masalah secara kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengembangkan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi keanekaragaman hayati kelas X yang meliputi, RPP, Bacaan siswa dan LKS.

B.  Rumusan Masalah

”Apakah perangkat pembelajaran materi keanekaragaman hayati yang dikembangkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk siswa kelas X SMA memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif ?”

C.  Tujuan Penelitian

Untuk menghasilkan perangkat pembelajaran materi Keanekaragaman Hayati dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk siswa kelas X SMA yang valid, praktis dan efektif .

D.  Batasan Istilah

  1. Pengembangan perangkat adalah suatu proses untuk memperoleh perangkat pembelajaran.
  2. Valid: perangkat dikatakan valid jika penilaian ahli menunjukkan bahwa pengembangan perangkat tersebut dilandasi oleh teori yang kuat dan memiliki konsistensi internal, yakni ada keterkaitan komponen dalam perangkat.
  3. Praktis: perangkat dikatakan praktis jika menurut hasil pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran dikelas termasuk dalam kategori tinggi atau sangat tinggi.
  4. Efektif: perangkat dikatakan efektif jika memenuhi 3 dari 4 indikator,

E. Manfaat Penelitian

  1. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai contoh perangkat pembelajaran Keanekaragaman Hayati yang dapat memberikan beberapa alternatif kepada guru untuk memilih model pembelajaran yang diinginkan, dalam hal ini model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
  2. Menjadi motivasi semua guru yang ingin mengembangkan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
  3. Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar biologi sehingga pola pembelajaran dapat berpusat kepada siswa dan guru bertindak sebagai motivator.

II.  Kajian Pustaka

A. Pengertian Belajar

Belajar dalam idealisme berarti keiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Namun, realitas yang dipahami oleh sebagian besar masyarakat tidaklah demikian. Belajar dianggap properti sekolah. Kegiatan belajar selalu dikaitkan dengan tugas-tugas sekolah. Sebagian besar masyarakat menganggap belajar di sekolah adalah usaha penguasaan ilmu pengetahuan. Belajar adalah proses  mendapatkan pengetahuan (Suprijono. 2009)

Morgan (dalam Ratumanan, 2004) mendefenisiskan belajar sebagai “setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.” Sejalan dengan Rebber (dalam Ratumanan, 2004) mengemukakan bahwa “Learning is a relatively permanent change in response potentiality which occur as a result of reinforced practice,” belajar merupakan suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif tetap sebagai hasil latihan yang diperkuat.

  1. B. Pembelajaran Kooperatif

a.  Tujuan dan sintaks pembelajaran kooperatif

Tabel 2.2. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pembe-lajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru memberikan kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Sumber : Amri, 2010

c. Kooperatif tipe Jigsaw II

Teknik mengajar Jigsaw telah dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson beserta teman-temannya sebagai metode cooperative learning. Dalam penerapan  jigsaw, siswa dibagi berkelompok dengan 4 – 6 anggota kelompok belajar heterogen. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks dan masing-masing anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan itu. Anggota dari setiap kelompok yang mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut (Slavin, 2010)

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Sedangkan kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal (Slavin, 2010)

Langkah-langkah pembelajaran dengan Jigsaw tipe II (Trianto, 2009)

1)      Orientasi,

2)      Pengelompokan

3)      Pembentukan dan pembinaan kelompok expert (ahli)

4)      Diskusi (pemaparan) kelompok ahli dalam grup

5)      Tes (penilaian)

6)      Pengakuan kelompok

C. Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada. Tersedianya perangkat pembelajaran merupakan salah satu faktor yang menunjang proses pembelajaran berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam pengelolaan proses belajar mengajar dapat berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bacaan Siswa (BS), dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) (Ibrahim. 2000).

D. Model-model Pengembangan Perangkat

Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada. Menurut Sudjana (dalam Trianto, 2009: 177 & 2010: 81), untuk melaksanakan pengembangan perangkat pengajaran diperlukan model-model pengembangan yang sesuai dengan sistem pendidikan. Dalam pengembangan perangkat pembelajaran dikenal tiga macam model, yaitu: Model Dick-Carey. Model Four-D dan model Kemp. Sedangkan (Harjanto,    2008: 111), mengemukakan model pengembangan terdiri dari model pengembangan Briggs, model Banathy, model PPSI, model Kemp, model Gerlach dan Ely, dan model IDI.

E.  Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran pada penelitian pengembangan ini adalah pengembangan dari standar kompetensi 3. “Manfaat Keanekaragaman Hayati” dengan kompetensi dasar 3.1. Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem, melalui kegiatan pengamatan dan kompetensi dasar 3.2. “Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam”. Standar kompetensi ini berada pada kurikulum SMA kelas X semester genap.

Sub materi yang akan dikembangkan adalah:

  1. Gejala-gejala keanekaragaman hayati
  2. Pengertian keanekaragaman hayati
  3. Tingkat keanekaragaman Hayati (Gen, Jenis, dan Ekosistem).
  4. Keanekaragaman hayati indonesia berdasarkan persebarannya
  5. Tumbuhan dan hewan khas (endemik) di Indonesia
  6. Peran keanekaragaman hayati dalam kehidupan manusia
  7. Peran aktivitas manusia terhadap keanekaragaman hayati
  8. Usaha pelestarian keanekaragamana hayati (In situ dan Ex situ)

III. Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini digolongkan dalam penelitian pengembangan (Research and Development) yang bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bacaan Siswa dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Model pengembangan perangkat yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan four D Models (model 4-D) yang terdiri dari empat tahap yaitu pendefenisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop) dan penyebaran (disseminate) sebagaimana dikemukakan oleh Thiagarajan.

Tahap-tahap pengembangan perangkat pembelajaran sebagai berikut:

a. Tahap pendefenisian (Define)

Tahap ini bertujuan untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran.

1). Analisis ujung depan

Kegiatan analisis ujung depan ini dilakukan untuk menentukan masalah mendasar yang diperlukan dalam pengembangan materi pelajaran.

2) Analisis siswa

Tujuan dari analisis ini adalah untuk menelaah karakteristik siswa yang meliputi pengetahuan awal siswa, bahasa yang digunakan, perkembangan kognitif siswa, kecenderungan berkelompok dan berdiskusi (sosial kultural).

3) Analisis materi

Analisis materi bertujuan untuk mengidentifikasi, merinci, dan menyusun secara sistematis materi-materi utama yang akan dipelajari siswa.

4) Analisis tugas

Analisis tugas bertujuan untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang diperlukan untuk merancang tugas-tugas yang harus dilakukan siswa selama dan setelah melaksanakan pembelajaran.

5) Analisis spesifikasi tujuan pembelajaran

Kegiatan yang dilakukan pada analisis spesifikasi tujuan pembelajaran adalah merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran berdasarkan analisis siswa, analisis materi dan analisis tugas.

b. Tahap perancangan (Design)

Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah penyusunan tes hasil belajar, pemilihan media, pemilihan format, dan perancangan awal perangkat pembelajaran.

1) Penyusunan tes

Tes disusun berdasarkan analisis materi/kompetensi dasar dan analisis tugas yang dijabarkan dalam spesifikasi tujuan pembelajaran,.

2) Pemilihan media

Pemilihan media dilakukan untuk menentukan media yang sesuai untuk menyajikan materi pembelajaran keanekaragaman hayati dengan metode pembelajaran tipe jigsaw II.

3) Pemilihan format

Pemilihan format perangkat pembelajaran dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran dan sumber belajar yang akan dikembangkan.

4) Rancangan awal

Rancangan awal adalah seluruh kegiatan yang harus dikerjakan sebelum uji coba dilakukan. Rancangan itu meliputi pembuatan: RPP, BS dan LKS

Perangkat yang dihasilkan pada tahap ini, merupakan perangkat Prototipe-1

c. Tahap pengembangan (Develop)

Tujuan dari tahap pengembangan adalah untuk menghasilkan prototipe perangkat pembelajaran yang telah direvisi berdasarkan masukan para ahli dan praktisi serta data yang diperoleh dari ujicoba. Kegiatan pada tahap ini adalah penilaian para ahli dan praktisi serta ujicoba lapangan.

1) Validasi ahli dan praktisi

Validasi ahli dan praktisi adalah penilaian perangkat pembelajaran terhadap isi dan bahasa perangkat pembelajaran yang dilakukan oleh para ahli. Penilaian para ahli dan praktisi terhadap perangkat pembelajaran mencakup: (1) format, (2) bahasa, (3) ilustrasi dan (4) isi yang disesuaikan dengan ukuran pemikiran siswa kelas X SMA.

2) Ujicoba lapangan

Ujicoba lapangan dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 9 Makassar. Uji coba ini dilakukan untuk memperoleh masukan langsung berupa respon, reaksi, komentar siswa dan para pengamat terhadap perangkat pembelajaran yang telah disusun dalam rangka revisi prototipe-2 untuk menghasilkan prototipe-3. Adapun kegiatan yang dilakukan pada waktu uji coba di lapangan adalah:

d. Tahap penyebaran (Desseminate)

Hasil pengembangan perangkat pada penelitian ini pada tahap penyebaran (disseminate) dilakukan dengan melaksanakan kegiatan sosialisasi perangkat secara langsung diterapkan lebih luas misalnya di kelas lain , di sekolah lain atau guru yang berbeda. Tujuan tahap ini untuk menguji efektivitas penggunaan perangkat di dalam KBM.

C. Subjek dan Waktu Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Muhammadiyah 9 Makassar, yang berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 9 perempuan dan 11 laki-laki yang mempunyai latar belakang sosial, ekonomi, dan kemampuan akademis yang heterogen. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011

D. Instrumen dan Pengumpulan Data

a. Lembar validasi perangkat pembelajaran

Lembar validasi ini yang digunakan untuk memperoleh data tentang hasil validasi para ahli dan praktisi mengenai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bacaan Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dan Tes Hasil Belajar.

b. Lembar pengamatan

1) Lembar pengamatan aktivitas siswa

2) Lembar pengamatan kemampuan guru mengelola pembelajaran

3) Lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran

c. Angket respon siswa

Untuk mendapatkan data respon siswa terhadap kegiatan ujicoba lapangan, digunakan instrumen berupa angket respon siswa.

d. Tes hasil belajar

Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi/kompetensi dasar yang telah diajarkan,dan tes disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

E. Teknik analisis data

a.  Analisis data hasil validasi perangkat pembelajaran

b. Analisis data aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran

c.  Analisis data aktivitas siswa

d. Analisis data keterlaksanaan perangkat pembelajaran

e. Analisis data respons siswa

f. Analisis data skor perkembangan siswa

h. Analisis data tes hasil belajar siswa

IV. Hasil dan Pembahasan

  1. A. Deskripsi Hasil Analisis Data

1.  Deskripsi tahap pendefinisian (define)

a.  Analisis Ujung Depan

b.  Analisis siswa

c.  Analisis materi

d.  Analisis tugas

e.  Spesifikasi tujuan pembelajaran

2.   Deskripsi Hasil Tahap Perancangan (Design)

a.  Penyusunan tes

b.  Pemilihan media

c.  Pemilihan dan penyusunan format validasi

d.  Rancangan awal

1)      Perangkat pembelajaran

2)   Instrumen  penelitian

3.  Deskripsi Hasil Tahap Pengembangan (Develop)

a.  Analisis data Kevalidan perangkat pembelajaran

1.   Hasil validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Aspek-aspek yang diperhatikan dalam memvalidasi RPP adalah: format, materi yang disajikan,bahasa, waktu, serta metode. Hasil validasi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel.4.1. Hasil validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

No. Aspek penilaian X Ket.
1. Kompetensi Dasar 5,00 sangat valid
2. Indikator Pencapaian Kompetensi Dasar 4,33 valid
3 Isi dan Kegiatan Pembelajaran 4.58 sangat valid
4. Bahasa 4.56 sangat valid
5. Waktu 4.56 sangat valid
6 Penutup 4,39 valid
Rata-rata penilaian total (x) 4.57 sangat valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3;

Nilai kevalidan RPP untuk seluruh aspek penilaian yang disajikan dari 5 aspek, yang terdiri dari 21 komponen, ada 9 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5), dan 12 komponen yang termasuk kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0), berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka RPP yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.

2.  Hasil validasi Bacaan siswa

Aspek-aspek yang diperhatikan dalam memvalidasi bacaan siswa adalah: format, isi, bahasa dan  manfaat. Hasil validasi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Hasil Validasi Bacaan Siswa (BS)

No. Aspek penilaian X Ket.
1. Format Bacaan Siswa 4,78 sangat valid
2. Bahasa 4,33 valid
3 Ilustrasi 5,00 sangat valid
4 Isi 4,47 valid
Rata-rata penilaian total (x) 4,64 sangat valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan Bacaan Siswa (BS) untuk seluruh aspek penilaian yang disajikan dari 4 aspek, yang terdiri dari dua puluh 3 komponen, ada 8 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5), dan 15 komponen yang termasuk kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0). berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka Bacaan Siswa (BS) yang dibuat dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.

3.  Hasil validasi LKS

Aspek-aspek yang diperhatikan dalam memvalidasi LKS adalah: format, isi, bahasa, dan waktu. Hasil validasi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel. 4.3. Hasil Validasi Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

No. Aspek Penilaian X Ket.
1. Format LKS 5,00 sangat valid
2 Bahasa 4.44 valid
3. Ilustrasi 4.56 sangat valid
Rata-rata penilaian total (x) 4,67 sangat valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) untuk seluruh aspek penilaian yang disajikan dari 3 aspek, yang terdiri dari 9 komponen, ada 2 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5), dan 7 komponen yang termasuk kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0). berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dibuat dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.

4) Hasil Validasi Tes hasil belajar

Aspek-aspek yang diperhatikan dalam memvalidasi Tes Hasil belajar secara garis besar adalah isi, dan bahasa. Hasil validasi dari validator dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel. 4.4. Tabel Validasi Tes Hasil Belajar

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
I Validasi Isi 4 4 4 4 valid
II Bahasa 4 4 4 4 valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan tes hasil belajar  untuk seluruh aspek penilaian yang disajikan dari 2 aspek, yang terdiri dari 9 komponen, semua komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5), berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dibuat dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.

b. Hasil validasi ahli untuk instrumen

1)      Lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat

Hasil validasi ahli mengenai instrumen keterlaksanaan perangkat dapat dilihat pada Tabel 4.5.

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
1 Aspek Petunjuk 5 5 5 5,00 s.valid
2 Aspek Cakupan Unsur-unsur Pengajaran 5 5 5 5,00 s.valid
3 Aspek Bahasa 5 4 5 4,78 s.valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat untuk semua aspek yang disajikan dari 9 komponen, semua komponen termasuk dalam rentang kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0). Berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan

2)  Lembar pengamatan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran

Tabel 4.6. Validasi Lembar Pengamatan Kemampuan Guru dalam mengelola Pembelajaran

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
1 Aspek Petunjuk 5 5 5 5,00 s.valid
2 Aspek Bahasa 4 4,25 4 4,08 valid
3 Aspek Isi 4 4 4 4,00 valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan lembar pengamatan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran untuk semua aspek yang disajikan dari 11 komponen, 3 komponen termasuk dalam rentang kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0) dan 8 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5). Berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka lembar pengamatan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan

3)  Lembar pengamatan aktivitas siswa

Tabel. 4.7. Validasi Lembar Pengamatan aktivitas siswa

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
1 Aspek Petunjuk 4,33 4,33 4,33 4,33 valid
2 Aspek Bahasa 4 4,25 4 4,08 valid
3 Aspek Isi 4 4,25 4 4,08 valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan lembar pengamatan aktivitas siswa untuk semua aspek yang disajikan dari 11 komponen, 1 komponen termasuk dalam rentang kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0) dan10 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5). Berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka lembar pengamatan aktivitas siswa yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan

4)  Angket respons siswa

Tabel 4.8. Validasi lembar pengamatan respon siswa

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
1 Aspek Petunjuk 4,5 4,5 4,5 4,5 s.valid
2 Aspek Bahasa 4 4 4 4 valid
3 Aspek Isi 4 4,2 4 4,07 valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan lembar pengamatan respon siswa untuk semua aspek yang disajikan dari 11 komponen, 1 komponen termasuk dalam rentang kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0) dan10 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5). Berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka lembar pengamatan respon siswa yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan

  1. 1. Analisis Hasil Ujicoba

a. Analisis kepraktisan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi keanekaragaman hayati kelas X

URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
P1 P2
A B A B
Sintaks strategi kognitif (RPP) 2 1,6 2 2 1,9 TS
Interaksi Sosial (BS & LKS) 1,67 2 2 2 1,9 TS
Prinsip Reaksi (BS, RPP, LKS) 1,8 1,8 2 2 1,9 TS
Sistem Pendukung 2 2 1,83 1,83 1,9 TS
1,85 1,79 1,99 1,99 1,9 TS

Keterangan:

A    = Pengamat 1; B = Pengamat 2; P1 = Pertemuan I; P2 = Pertemuan II;

TS  = Terlaksana Seluruhnya

b.    Analisis keefektifan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada materi keanekaragamana hayati

1)   Respon siswa.

Tabel. 4.14. Respon Siswa terhadap Pembelajaran, Bacaan Siswa dan LKS

Respon Respon siswa
Pembelajaran Bacaan Siswa LKS
f % f % f %
Sangat Senang 20 100 20 100 19 95
Senang 0 0 0 0 1 5
Kurang Senang 0 0 0 0 0 0
Tidak Senang 0 0 0 0 0 0
Jumlah 20 100 20 100 20 100

Keterangan :   f = frekuensi ; % = persentase

2)   Aktivitas siswa,

Tabel 4.15.  Interval Waktu Ideal untuk setiap Aktivitas Siswa

Aktivitas Siswa (Kategori) Waktu di RPP (Menit) Persentase /Pertemuan Rata-rata

(%)

Interval Toleransi

(%)

Waktu Ideal (%) PWI
P1 P2
1 10 11,1 11,1 11,1 6,1-16,1 11,1
2 5 5,6 5,6 5,6 0,6-10,6 5,6
3 5 5,6 5,6 5,6 0,6-10,6 5,6
4 30 31,9 33,3 32,6 28,3-38,3 33,3
5 10 11,1 11,1 11,1 6,1-16,1 11,1
6 5 8,3 8,3 8,3 0,6-10,6 5,6
7 15 13,9 13,9 13,9 11,7-21,7 16,7
8 10 11,1 11,1 11,1 6,1-16,1 11,1
9 0 1,4 0,0 0,7 0 -5 0,0
Jumlah 90 100,0 100,0 100,0

Keterangan:

P1 = Pertemuan 1  ;           P2 = Pertemuan 2 ;    PWI = Persentasi waktu ideal

Rata-rata persentase waktu aktivitas siswa dianggap memadai jika delapan dari sembilan kriteria berada dalam rentang persentase waktu ideal, terutama untuk kegiatan mengerjakan LKS harus memenuhi interval waktu ideal. Hasil pengamatan selama pelaksanaan ujicoba menunjukkan bahwa waktu keseluruhan aktivitas siswa yang diamati berada dalam interval waktu ideal. Artinya, aktivitas siswa dalam pembelajaran materi keanekaragaman dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ideal.

3) Kemampuan guru (KG) dalam mengelola pembelajaran.

Tabel 4.16.  Hasil Pengamatan Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran

ASPEK PENGAMATAN P1 P2 Rata2 Ket
A B A B
A.     KEGIATAN AWAL
Fase 1 Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa 4,5 4,5 4,5 4,5 4,50 ST
B.     KEGIATAN INTI
Fase 2 Menyajikan informasi 4,3 4,3 4,3 4,3 4,33 T
Fase 3 Membimbing kelompok bekerja dan belajar 4,8 5 5 5 4,94 ST
Fase 4 Evaluasi 5 5 4,5 4,5 4,75 ST
Fase 5 Memberikam penghargaan 4,7 4,7 4,7 4,7 4,67 ST
C.     KEGIATAN AKHIR 4,3 4,3 4,7 4,7 4,50 ST
D.     SUASANA KELAS 4,5 4,5 4,8 4,8 4,63 ST
Rata-Rata 4,6 4,6 4,6 4,6 4,61 ST

Keterangan:

ST = Sangat Tinggi      T   = TInggi

Dari hasil seluruh aspek pengamatan disajikan dari dua puluh enam komponen, sebelas komponen termasuk dalam rentang kategori “tinggi” (4,0 ≤ KG < 4,5) dan lima belas komponen yang termasuk kategori “sangat tinggi” (KG 4,5), yang berarti kemampuan guru dalam mengelola kegiatan inti sudah memadai

4)   Hasil perkembangan belajar siswa,

Tabel. 4.17. Skor Perkembangan Kelompok

Klp Kuis I Rata2 Predikat Kuis II Rata2 Predikat
A 80 20 Tim Hebat 90 22,5 Tim Hebat
B 70 17,5 Tim Hebat 80 20 Tim Hebat
C 70 17,5 Tim Hebat 90 22,5 Tim Hebat
D 80 20 Tim Hebat 80 20 Tim Hebat
E 80 20 Tim Hebat 100 25 Tim Super
Rata2 76 88

Skor perkembangan kelompok pada setiap pertemuan secara umum mengalami peningkatan. Perkembangan kemajuan rata-rata kelompok dapat dipertahankan menjadi tim hebat, hanya kelompok E yang mengalami peningkatan dengan predikat tim hebat menjadi tim super

5)   Hasil belajar siswa,

Tabel 4.18. Data Tes Hasil Belajar

Data Nilai
Subjek Penelitian 20
Skor Ideal 100
Rata-rata 78,1
Standar Deviasi 7,6466
Varians 58,470
Rentang skor 40
Skor Maksimum 90,0
Skor Minimum 62,5
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 68
Jumlah Siswa yang Tuntas 18
Jumlah Siswa yang Tidak Tuntas 2

Tabel 4.19. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar

No Interval Skor Kategori frekuensi Persentase (%)
1 < 68 Tidak Tuntas 2 10
2 68-100 Tuntas 18 90
Jumlah 20 100

Tabel 4.19. di atas menunjukkan ada dua orang siswa yang mengikuti pembelajaran keanekaragaman hayati dengan model kooperatif tipe jigsaw berada dalam kategori tidak tuntas karena nilai hasil belajar memperoleh skor kurang dari nilai KKM 68. Siswa yang berada pada kategori tuntas 18 orang dengan persentase 90%. Jadi data ini menunjukkan bahwa ketuntasan maksimal tercapai yaitu > 85%

Hasil uji coba perangkat yang telah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif kemudian dikemas menjadi sebuah produk yang berupa hardcopy dan CD yang berisi softfile perangkat pembelajaran (RPP, Bacaan Siswa, LKS, Kuis, Kisi-kisi soal dan tes Hasil Belajar).

  1. a. Deskripsi Hasil Penyebaran (Disseminate)

Prototipe III yang diperoleh pada tahap akhir pengembangan  menghasilkan produk berupa hardcopy dan CD yang berisi perngkat pembelajaran dan telah dikemas selanjutnya disebarkan  ke beberapa sekolah dan sekaligus disosialisasikan ke beberapa guru-guru Biologi SMA/MA se Kota Makasar melalui sosialisasi langsung. Melalui kegiatan ini, diperoleh saran-saran dan komentar dari para guru, antara lain:

  1. B. Pembahasan Hasil Penelitian
    1. 1. Ketercapaian Kriteria Kevalidan dan Perangkat Pembelajaran

Berdasarkan hasil uji validasi yang dilakukan oleh para ahli dan praktisi yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh perangkat yang telah divalidasi berada pada kategori valid dan sangat valid. Hasil ini membuktikan bahwa perangkat yang telah dirancang sebagai prototype-1 dianggap valid untuk dipergunakan sebagai perangkat pembelajaran dan instrumen pengamatan dalam pelaksanaan uji coba perangkat pembelajaran di lapangan.

2.  Nilai Kepraktisan

Perangkat pembelajaran dikatakan praktis jika (1) penilaian ahli dan praktisi menyatakan perangkat pembelajaran yang disusun dapat digunakan (2) hasil observasi keterlaksanaan perangkat pembelajaran di kelas termasuk dalam kategori terlaksana seluruhnya

3.    Nilai keefektifan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, suatu perangkat dikatakan efektif, apabila memenuhi 4 syarat; yaitu: (1) aktivitas siswa ideal, apabila delapan dari sembilan kriteria batas toleransi pencapaian waktu ideal yang digunakan dipenuhi, dengan syarat kegiatan ketiga (mengerjakan LKS) harus dipenuhi, (2) kemampuan guru mengelola pembelajaran memadai, apabila nilai KG minimal berada dalam kategori tinggi, (3) respons siswa positif terhadap LKS dan bacaan siswa, yakni apabila lebih dari 50% siswa memberi respons positif terhadap minimal 70% jumlah aspek yang ditanyakan, dan (4) siswa berhasil dalam belajar apabila minimal 85% siswa berada pada kategori minimal tinggi. Olehnya, pembahasan mengenai nilai keefektifan perangkat yang dirancang akan dibahas satu persatu berdasarkan pertimbangan dari hasil ujicoba yang telah dilakukan.

V. PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah yang disajikan pada bab I, maka tujuan penelitian pengembangan ini untuk menghasilkan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada materi keanekaragaman hayati kelas X yang valid, praktis dan efektif. Oleh karena itu pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan proses dan hasil pengembangan.

Produk pengembangan yang akan menjadi bahan uji coba pada penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bacaan Siswa (BS), Lembar Kegiatan Siswa (LKS) setelah melalui tahap validasi diperoleh semuanya berada pada rentang kategori valid (4≤M<4,5) dan sangat valid (4,5≤M≤5). Hasil validasi dari tiga validator menunjukkan bahwa perangkat model pembelajaran kooperatif jigsaw pada materi keanekaragaman hayati kelas X yang dikembangkan telah valid dan layak untuk digunakan.  Kepraktisan perangkat dapat diukur dengan menggunakan pengamatan keterlaksana perangkat pembelajaran dan diperoleh hasil pengamatan secara keseluruhan komponen berada pada rentang kategori perangkat terlaksana seluruhnya (1,5 ≤ x ≤ 2,0) berarti perangkat terlaksana dengan  percentage of agreement = 92,11%) dari analisis data menunjukkan bahwa perangkat yang disusun telah memenuhi kriteria kepraktisan. Keefektifan perangkat dapat diukur dengan menganalisis hasil respon siswa terhadap model pembelajaran, bacaan siswa dan LKS diperoleh masing-masing rata-rata siswa memberi respon positif; aktivitas siswa menunjukkan berada dalam interval waktu yang ideal; pengamatan guru dalam mengelola pembelajaran berada dalam kategori tinggi (4 ≥ KG > 4,5); dan sangat tinggi (4,5 ≥ KG ≥ 5); sedangkan tes hasil belajar diperoleh jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 18 orang dari 20 jumlah siswa yang berarti 90% dan ini menunjukkan bahwa ketuntasan maksimal tercapai secara klasikal yaitu lebih 85%. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data diperoleh bahwa perangkat yang disusun telah memenuhi kriteria keefektifan.

  1. B. Saran

1.    Untuk penelitian selanjutnya perangkat pembelajaran yang dihasilkan di ujicobakan secara meluas untuk melihat keunggulan perangkat pembalajaran keaneakragaman hayati dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

2.    Penelitian ini telah menghasilkan perangkat yang valid, praktis dan efektif. Oleh karena itu disarankan kepada guru biologi untuk menggunakan perangkat pembelajaran ini pada materi keanekaragaman hayati.

3.    Pengembangan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw perlu diterapkan pada materi lain, hal tersebut untuk membiasakan siswa belajar mandiri dan bekerja sama dalam kelompok

DAFTAR PUSTAKA

Amri, S. 2010. Konstruksi Pengembangan Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Anonim. 2009. Model Pengembangan Perangkat Menurut Thiagarajan. Surabaya:  Pusat Lembaga Penelitian dan Pengembangan.

Anonim. 2010. Prosedur Pengujian Validitas Isi melalui Indeks Rasio Validitas Isi. [http://rss.acs.unt/Rdoc/library/psychometri/html/CVratio.html] Diakses Tanggal 23 Oktober 2010.

Arif S. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik Setting Kooperatif  STAD untuk Kompetensi Dasar Bilangan Pecahan di SMPN 6 Watampone. Tesis tidak Diterbitkan. Makassar: PPs UNM Makassar.

Arwiyani.2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Model Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa Kelas VII1 SMP NEGERI 1 Bontolempangan. Kec. Bontolempangan Kab. Gowa. Skripsi. Tidak diterbitkan. Makassar: FMIPA UNM Makassar.

Aryulina D., Choirul M., Salfinah M., & Endang WW. 2004. Biologi SMA untuk Kelas X. Esis Penerbit Erlangga. Jakarta.

Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) 2006. Standar Isi dan Standar Kompotensi Lulusan Tiungkat Sekolah Menengah Pertama dan Madrasyah Tsanawiyah (Permen Mendiknas No. 22, No.23 dan No 24 tahun 2006) Jakarta: PT. Binatama Raya

Dahar, R.W. 1988. Teori-teori Belajar . Jakarta. Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembanga lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

Dimyati dan Mudjiono. 2002.  Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Elywaty. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Materi Program Linier. Tesis Tidak diterbitkan. Makassar: Program Pascasarjana UNM.

Fatima.2008. tersedia di [It’s all about Cat. https://f4tim3.wordpress.com/category/ home/]. Download: 15 Nopember 2010

138

Haetawi, A. & Supriadi. 2008. Penerapan model Pembelajaran kooperatif tipe  Jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Klarutan. [tersedia di http://jurnal.unhalu.ac.id] Diakses 17 Desember 2010

Hamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Asara

Hardjanto. 2005. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hudojo, H. 1998. Pembelajaran Matematika Menurut Pandangan Konstruktivis. Makalah disajikan pada Seminar Nasional “Upaya-upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika dalam Era Globalisasi. Program Pasca Sarjana IKIP Malang. Malang:  4 April.

Ibrahim. 2009. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA University Press.

Isjoni. 2010. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Khaeruddin, MArtawijaya, A., NAtsir, M. 2010 Model Pembelajaran Fisikamelalui Strategi Berpikir Secara Bersamaan (BSP) untuk Meningkatkan KeterampilanProses Sains-Fisika. Laporan Penelitian tidak diterbitkan: Universitas Negeri Makassar

Musdalifa. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran  Kooperatif Tipe Stad Pada Pokok Bahasan Teorema Pythagoras untuk Kelas VIII SMP Tesis tidak diterbitkan. Makassar: Program Pascasarjana UNM.

Nurdin S. 2005 Model Pembelajaran yang Memperhatikan Keragaman Individu Siswa dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Ciputat: Quantum Teaching.

Nurdin. 2007. Model Pembelajaran Matematika yang Menimbulkan Kemampuan Metakognitif untuk menguasai Bahan Ajar. Disertasi Tidak Diterbitkan. Surabaya: Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.

Priadi A., Tri Silawati. 2007. Sains Biologi SMA/MA Kelas X.

Pujiyanto S. 2007. Khazanah Pengetahuan Biologi 1 untuk Kelas X SMA dan MA. PT. Wangsa Jatra Lestari. Jakarta

Ratumanan, Tanwey G. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya. Unversity Press

Riyanto, Y. 2008. Pradigma Baru Pembelajaran sebagai Referensi bagi Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif Dan Berkualitas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Salleh NA, Siti R A., Musa D., 2001. Penerapan  Nilai Murni Melalui Pembelajaran-Kooperatif dalam Sains. [tersedia  di http://pkukmweb.ukm.my/~ penerbit/ jurnal_pdf/jdidik27-04.pdf] Jurnal Pendidikan 27 (2001) 47 – 57. Diakses 17 Desember 2010

Sanjaya, W . 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:  Kencana Prenada Media Group.

Sasongko, Luddy Bambang. 2004. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Materi Relasi, Fungsi dan Grafiknya di Kelas 2 SLTP. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: PPs Unesa

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Statistik.

Slavin, R.E. 2009. Coperative Learning: Teori, Riset dan  Praktik. Bandung: Nusa Media

Subardi. 2007. Biologi untuk Kelas X SMA dan MA. CV Usaha Makmur. Semarang

Sudjadi B., Siti Laila. 2007. Biologi 1 SMA/MA Kelas X. Yudistira. Jakarta

Sulastri R dan Diana R. 2009. Pengaruh Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dalam Pembelajaran Biologi Di SMPN 2 Cimalaka. [tersedia di http://ilmu.unesa.ac.id Jurnal Pengajaran MIPA, Vol. 13 No. 1 April 2009] Diakses 17 Desember 2010

Suprijono A. 2009. Coooperatif Learning :Teori dan Aplikasi Paikem.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Surjana, S. 2002. Efektifitas Pengelolaan Kelas. Jurnal Pendidikan Penabur (online)
I (1) 66-67.[tersedia di http://www.bpk penabur.or.id] diakses 7 juli 2011

Trianto. 2007a. Model pembelajaran Terpadu dalam Teori dan praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka

______. 2007b. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivisme.  Jakarta: Prestasi Pustaka.

______. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana Prenata Media Group

Yudicool. 2009. Krisan. Tersedia di [http://yudicool.wordpress.com/2009/08/03/ krisan/]. Download: 15 Nopember 2010

Yusuf. 2003. Kualitas Proses dan Hasil Belajar Biologi melalui pengajaran dengan model pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw pada madrasah Aliyah Pompes Nurul Haramain Lombok Barat NTB. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

This entry was posted in My Research. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *