STUDENTS’ ABILITY IN SOLVING MATHEMATICS PROBLEM VIEWED FROM LEARNING STYLE AND GENDER

Abdul Wahhab

Hamzah Upu

Abdul Rahman

ABSTRACT

This study was a combination between quantitative research and qualitative research (mixed method) conducted at MTsN Model Palopo. Quantitative research was used to analyzed the data by describing students’ ability in solving mathematics problem viewed from learning style and gender. The data was collected as it was with no intention of drawing conclusions applied in general. Descriptive Statistic analysis as used by presenting the data in the tables, graphics, calculation (mode, median, and mean), calculation on data dissemination through the mean score and standard of deviation as well as percentage, where as, qualitative research was used as the procedure to the scribe students’ ability in solving mathematics problem viewed from learning style and gender which has occurred on the research subject by using data analysis of Miles and Human model. This study aimed at the describing student’ ability to solve mathematics problem at MTsN Model Palopo viewed from the learning style and gender. The instrument used were (1) test of pre-requisite ability of SPLDV, (2) test of ability in solving the problem of SPLDV, (3) questionnaire of learning style, and (4) unstructured task-based interview.

The result of the study are (1) students with VLT category were able to follow the steps of problem solving revered to polya, (2) students with VLR category did not follow the steps of problem solving revered to polya, (3) students with VPT category were able to follow the steps of problem solving revered to polya, (4) students with VPR category did not follow the steps of problem solving revered to polya, (5) students with ALT category were able to follow the steps of problem solving revered to polya, (6) students with ALR category did not follow the steps of problem solving revered to polya, (7) students with APT category were able to follow the steps of problem solving revered to polya, (8) students with APR category did not follow the steps of problem solving revered to polya, (9) students with KLR category did not follow the steps of problem solving revered to polya, (10) students with KPT category were able to follow the steps of problem solving revered to polya, (11) students with KPR category did not follow the steps of problem solving revered to polya,

PENDAHULUAN

Melalui pelajaran matematika, dapat ditumbuhkan kemampuan-kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan. Kemampuan tersebut diantaranya adalah kemampuan memecahkan masalah.

Kemampuan memecahkan masalah amatlah penting, bukan saja bagi mereka yang dikemudian hari akan mendalami Matematika, melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya, baik dalam bidang studi lain maupun dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga dijelaskan oleh Gagne dalam teori belajarnya yang menyatakan bahwa tipe belajar yang paling kompleks adalah pemecahan masalah.

Seseorang dapat dikatakan pemecah masalah yang baik jika ia mampu memperlihatkan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi dengan memilih dan menggunakan berbagai alternatif strategi sehingga mampu mengatasi masalah tersebut. Masalah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masalah matematika.

Dengan memecahkan masalah matematika yang memiliki banyak strategi penyelesaian, maka hal tersebut dapat menjadi jendela dimana kreatifitas, inovatif serta logika siswa dapat berkembang. Karena dengan merekonstruksi kembali ilmu-ilmu yang telah dimiliki serta dikombinasikan pada daya nalar siswa.

Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika ini akan ditinjau dari perbedaan gaya belajar dan gender. Dasar pemikirannya yakni Untuk dapat memecahkan masalah, seseorang memerlukan pengetahuan-pengetahuan (termasuk aturan-aturan) dan kemampuan-kemampuan yang ada kaitannya dengan masalah tersebut. Hal ini sangat relevan untuk pembelajaran matematika. Sedangkan gaya belajar adalah cara-cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Gaya ini meliputi gaya belajar auditorial, gaya belajar visual  dan  gaya belajar kinestetik, sementara perbedaan gender adalah perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Gaya belajar visual dapat belajar dari apa yang mereka lihat, siswa yang mempunyai gaya belajar auditorial belajar sesuai dengan apa yang mereka dengar, sedangkan siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar lewat gerak dan sentuhan.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian ini adalah kombinasi antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (mixed methods). Penelitian kuantitatif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data tentang kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar dan gender yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum. Analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis statistik deskrptif, yaitu dengan menampilkan penyajian data melalui tabel, grafik, perhitungan (modus, median, mean), perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan satandar deviasi serta perhitungan prosentase. Sedangkan penelitian kualitatif digunakan sebagai prosedur untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar dan gender yang muncul pada subjek penelitian dengan menggunakan analisis data model Miles dan Hubermen.

Masalah matematika yang diberikan berupa masalah Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV), hasil tes tersebut dianalisis berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya. Untuk langkah-langkah yang tidak tampak pada hasil tes secara tertulis, misal: langkah merencanakan penyelesaian dilakukan wawancara. Data yang dianalisis adalah hasil pekerjaan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dan hasil wawancara. Fokus utama peneltian ini adalah mengenai pengkajian deskripsi kemampuan siswa dalam menyeleasaikan masalah matematika ditinjau dari gaya belajar dan gender siswa MTsN Model Palopo. Deskripsi ini akan terbagi ke dalam 12 (dua belas) kategori yaitu kemampuan tinggi dengan gaya belajar (visual, auditorial, dan kinestetik) berjenis kelamin laki-laki, kemampuan tinggi dengan gaya belajar (visual, auditorial, dan kinestetik) berjenis kelamin perempuan, kemampuan rendah dengan gaya belajar (visual, auditorial, dan kinestetik) berjenis kelamin laki-laki, dan  kemampuan rendah dengan gaya belajar (visual, auditorial, dan kinestetik) berjenis kelamin perempuan.

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Sedangkan instrumen pendukung yaitu observasi, wawancara, tes kemampuan prasyarat SPLDV, tes kemampuan penyelasaian masalah SPLDV, dan tes gaya belajar.

Dalam penelitian ini, data diperoleh dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bemacam-macam selanjutnya dilakukan triangulasi untuk memperoleh keabsahan data. Analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data dengan menggunakan model Miles dan Huberman (Sugiono, 2010:337), yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification.

HASIL PENELITIAN

Hasil dari penelitian berdasarkan pengumpulan data dengan beberapa metode disajikan perbagian sebagai berikut:

  1. 1. Tes kemampuan prasyarat

Pada tes kemampuan prasyarat SPLDV, masalah yang diberikan merupakan kumpulan soal yang diambil dari materi prasyarat Sistem Persamaan Linea Dua Variabel (SPLDV) yang akan diberikan pada seluruh siswa di kelas VIII MTsN Model Palopo, yang selanjutnya hasil tes akan dijadikan acuan dalam pemilihan subjek penelitian berdasarkan kategorikan tinggi dan rendah, dengan interval penilaian yaitu:

Tabel 1 Pengkategorian Subjek Penelitian

Skor Perolehan Tes Kategori Penilaian
(0 < x ≤ 55) Rendah
(55 < x ≤ 71) Sedang
(71 < x ≤ 100) Tinggi
  1. 2. Tes kemampuan penyelesaian masalah SPLDV

Tes kemampuan penyelesaian masalah SPLDV merupakan kumpulan masalah-masalah matematika yang disusun dari materi sistem persamaan linear dua variabel. Materi tes diformulasi dalam bentuk kalimat verbal (soal cerita).

  1. 3. Tes gaya belajar

Tes ini adalah tes yang diadopsi dari hasil pengembangan Bobby Depoter dkk. Tes ini digunakan untuk mengetahui gaya belajar siswa yang terdiri dari 3 (tiga) bagian pertanyaan, yaitu: bagian pertama terdiri dari 12 item pertanyaan untuk mengetahui  modalitas visual, bagian kedua terdiri dari 12 item pertanyaan untuk mengetahui  modalitas Auditorial, dan bagian ketiga terdiri dari 12 item pertanyaan untuk mengetahui  modalitas kinestetik. Adapun hasil ketiga tes di atas adalah sebagai berikut:

Table 2. Hasil pemetaan kemampuan penyelesaian Masalah SPLDV berdasarkan gaya belajar dan gender

Gaya Belajar
Visual Auditorial Kinestetik
Frek (%) Frek (%) Frek (%)
Gender Laki-laki Tinggi 6 4,76 15 11,90 0 0,00
Rendah 8 6,35 27 21,43 7 5,56
Perempuan Tinggi 15 11,90 12 9,52 4 3,17
Rendah 9 7,14 19 15,08 4 3,17

PEMBAHASAN

Berdasarkan keseluruhan analisis di atas, dapat dituliskan suatu deskripsi kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika (SPLDV) berdasarkan gaya belajar dan gender siswa kelas VIII MTsN Model Palopo sebagai berikut:

  1. Siswa dengan Kategori VLT

Subjek dengan kategori VLT terdapat 6 orang siswa (4,76%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 75 dan nilai tertinggi adalah 95 dengan rentang nilai 20, nilai rata-rata adalah 82,50, median adalah 80, modus adalah 80 dan standar deviasi 6,98. Subjek R1 sebagai responden yang berada pada sel berkemampuan tinggi yang  bergaya belajar visual dan berjenis kelamin laki-laki mampu memahami permasalahan, Ia dapat melaksanakan apa yang direncanakannya dengan baik dan benar walaupun tidak menampilkan seluruh rencana yang ada dipikirannya.

  1. Siswa dengan Kategori VLR

Subjek dengan kategori VLR terdapat 8 orang siswa (6,35%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 50 dan nilai tertinggi adalah 70 dengan rentang nilai 20, nilai rata-rata adalah 61,25, median adalah 62,50, modus adalah 50 dan standar deviasi 7,91. Subjek R2 sebagai responden yang berada pada sel kemampuan rendah yang bergaya belajar visual dan berjenis kelamin laki-laki tidak memahami permasalahan yang paparkan pada ketiga masalah yang diberikan. Subjek R2 tidak mampu melaksanakan penyelesaian masalah sesuai dengan apa yang direncanakan sebelumnya. Ia tidak yakin dalam menjelaskan langkah-langkah penyelesaian yang ditempuh.

  1. Siswa dengan Kategori VPT

Subjek dengan kategori VPT, terdapat 15 orang siswa (11,90%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 95 dengan rentang nilai 25, nilai rata-rata adalah 80,33, median adalah 80, modus adalah 80 dan standar deviasi 7,67. Subjek R3 sebagai responden yang berada pada sel berkemampuan tinggi yang  bergaya belajar visual dan berjenis kelamin perempuan mampu memahami permasalahan, Ia dapat melaksanakan apa yang direncanakannya dengan baik dan benar walaupun tidak menampilkan seluruh rencana yang ada dipikirannya.

  1. Siswa dengan Kategori VPR

Subjek dengan kategori VPR terdapat 9 orang siswa (7,14%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 50 dan`nilai tertinggi adalah 70 dengan rentang nilai 20, nilai rata-rata adalah 60,56, median adalah 60, modus adalah 60 dan standar deviasi 6,82. Subjek R4 sebagai responden yang berada pada sel kemampuan rendah yang bergaya belajar visual dan berjenis kelamin perempuan tidak memahami permasalahan yang paparkan pada ketiga masalah yang diberikan.

  1. Siswa dengan Kategori ALT

Subjek dengan kategori ALT  terdapat 15 orang siswa (11,90%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 90 dengan rentang nilai 20, nilai rata-rata adalah 82,33, median adalah 85, modus adalah 85 dan standar deviasi 4,58. Subjek R5 sebagai responden yang berada pada sel kemampuan tinggi yang bergaya belajar auditorial dengan jenis kelamin laki-laki mampu memahami permasalahan dan mampu mengungkapkan konsep yang diketahui dengan tepat. Subjek R5 dapat menyelesaikan masalah SPLDV dengan metode gabungan yaitu metode eliminasi dan metode substitusi.

  1. Siswa dengan Kategori ALR

Subjek dengan kategori ALR terdapat 27 orang siswa (21,43%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 45 dan nilai tertinggi adalah 75 dengan rentang nilai 30, nilai rata-rata adalah 62,04, median adalah 60, modus adalah 60 dan standar deviasi 7,24. Subjek R6 sebagai responden yang berada pada sel yang berkemampuan rendah yang bergaya belajar auditorial berjenis kelamin laki-laki tidak mampu memahami permasalahan yang paparkan pada ketiga masalah yang diberikan.

  1. Siswa dengan Kategori APT

Subjek dengan kategori APT terdapat 12 orang siswa (9,52%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 90 dengan rentang nilai 20, nilai rata-rata adalah 79,17, median adalah 80, modus adalah 80 dan standar deviasi 5,97. Subjek R7 sebagai responden yang berada pada sel kemampuan tinggi yang bergaya belajar auditorial dengan jenis kelamin perempuan mampu memahami permasalahan dan mampu mengungkapkan konsep yang diketahui dengan tepat. Subjek R7 dapat menyelesaikan masalah SPLDV dengan metode gabungan yaitu metode eliminasi dan metode substitusi.

  1. Siswa dengan Kategori APR

Subjek dengan kategori APR terdapat 19 orang siswa (15,08%)  berada pada kategori APR. Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 35 dan nilai tertinggi adalah 75 dengan rentang nilai 40, nilai rata-rata adalah 61,58, median adalah 65, modus adalah 60 dan standar deviasi 8,98. Subjek R8 sebagai responden yang berada pada sel yang berkemampuan rendah yang bergaya belajar auditorial berjenis kelamin perempuan tidak mampu memahami permasalahan yang paparkan pada ketiga masalah yang diberikan.

  1. Siswa dengan Kategori KLT

Subjek dengan kategori KLT tidak ditemukan dalam penelitian ini, dikarenakan pada saat pemberian tes kemampuan prasyarat SPLDV dilakukan  siswa banyak yang sudah lupa dengan materi prasyarat SPLDV, sehingga subjek yang masuk dalam kategori berkemampuan tinggi hanya berjumlah 52 orang dari 285 siswa. Selain itu, karakteristik siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik terutama yang berjenis kelamin laki-laki selalu diidentikkan dengan siswa yang nakal dan memiliki tingkat kemampuan yang rendah.

10.  Siswa dengan Kategori KLR

Subjek dengan kategori KLR terdapat 7 orang siswa (5,56%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 30 dan nilai tertinggi adalah 70 dengan rentang nilai 40, nilai rata-rata adalah 57,14, median adalah 60, modus adalah 60 dan standar deviasi 13,80. Subjek R9 sebagai responden yang berada pada sel yang berkemampuan rendah yang bergaya belajar kinestetik berjenis kelamin laki-laki tidak mampu memahami permasalahan yang paparkan pada ketiga masalah yang diberikan.

11.  Siswa dengan Kategori KPT

Subjek dengan kategori KPT terdapat 4 orang siswa (3,17%)  berada pada kategori KPT. Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 70 dan nilai tertinggi adalah  85 dengan rentang nilai 15, nilai rata-rata adalah 75, median adalah 72,5, modus adalah 70 dan standar deviasi 7,07. Subjek R10 sebagai responden yang berada pada sel kemampuan tinggi yang bergaya belajar kinestetik dengan jenis kelamin perempuan mampu memahami permasalahan dan mampu mengungkapkan konsep yang diketahui dengan tepat.

12.  Siswa dengan Kategori KPR

Subjek dengan kategori KPR terdapat 4 orang siswa (3,17%). Nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 45 dan nilai tertinggi adalah 65 dengan rentang nilai 20, nilai rata-rata adalah 58,75, median adalah 62,5, modus adalah 65 dan standar deviasi 9,46.  Subjek R11 sebagai responden yang berada pada sel yang berkemampuan rendah yang bergaya belajar kinestetik berjenis kelamin perempuan tidak mampu memahami permasalahan yang paparkan pada ketiga masalah yang diberikan.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan sebagai berikut:

  1. Subjek VLT yang berkemampuan tinggi, bergaya belajar visual dan berjenis kelamin laki-laki dapat mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah Polya dengan baik dan benar
  2. Subjek VLR yang berkemampuan rendah, bergaya belajar visual dan berjenis kelamin laki-laki tidak mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah menurut Polya, karena ia tidak mampu memahami masalah yang diberikan.
  3. Subjek VPT yang berkemampuan tinggi, bergaya belajar visual dan berjenis kelamin perempuan dapat mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah Polya dengan baik dan benar.
  4. Subjek VPR yang berkemampuan rendah, bergaya belajar visual dan berjenis kelamin perempuan tidak mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah menurut Polya, karena ia tidak mampu memahami masalah yang diberikan.
  5. Subjek ALT yang berkemampuan tinggi, bergaya belajar auditorial dan berjenis kelamin laki-laki dapat mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah Polya dengan baik dan benar.
  6. Subjek ALR yang berkemampuan rendah, bergaya belajar auditorial dan  berjenis kelamin laki-laki tidak mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah menurut Polya, karena ia tidak mampu menuliskan proses penyelesaian dari masalah yang diberikan.
  7. Subjek APT yang berkemampuan tinggi, bergaya belajar auditorial dan berjenis kelamin perempuan dapat mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah Polya dengan baik dan benar.
  8. Subjek APR yang berkemampuan rendah, bergaya belajar auditorial dan berjenis kelamin perempuan tidak mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah menurut Polya, karena ia tidak mampu menuliskan proses penyelesaian dari masalah yang diberikan.
  9. Subjek KLT yang berkemampuan tinggi, bergaya belajar kinestetik dan berjenis kelamin laki-laki tidak ditemukan dalam penelitian ini.
  10. Subjek ALT yang berkemampuan rendah, bergaya belajar kinestetik dan berjenis kelamin laki-laki tidak mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah menurut Polya, karena ia tidak mampu memahami dan merencanakan penyelesaian masalah yang diberikan.
  11. Subjek KPT yang berkemampuan tinggi, bergaya belajar kinestetik dan berjenis kelamin perempuan mampu mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah Polya dengan baik dan benar.
  12. Subjek KPR yang berkemampuan rendah, bergaya belajar kinestetik dan berjenis kelamin perempuan tidak mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah menurut Polya, karena ia tidak mampu memahami masalah yang diberikan.

SARAN

Mengacu pada hasil penelitian dan kesimpulan maka dapat disarankan kepada :

1.  Guru diharapkan mampu menerapkan berbagai pendekatan, metode, dan teknik dalam pembelajaran matematika yang mampu mengakomodir gaya belajar yang dimilikii oleh siswa.

2.  Pihak sekolah diharapkan memberikan perhatian khusus kepada siswa terkait dengan penggolangan siswa ke dalam salah satu tipe gaya belajar.

DAFTAR PUSTAKA

DePotter Bobbi, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie. 2010. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.

DePotter Bobbi dan Mike Hernacki. 2002. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.

Hamid. Amrin. 2011. Deskripsi Penyelesaian Pemecahan Masalah SPLDV Open-Ended berdasarkan Gaya Belajar Siswa MTsN Model Makassar. Tesis tidak diterbitkan: PPs UNM.

Sugiyono. 2011. “Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods).” Bandung: Alfabeta

Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI.

Susilo J, 2009. Sukses dengan Gaya Belajar. Yogyakarta: Pinus.

Upu, Hamzah. 2003. Problem Posing dan Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika. (Pegangan Untuk Guru, Siswa PPS, Calon Guru, & Guru Matematika). Bandung: Pustaka Ramadhan.

Vitria, Fransisca. 2006. Pengaruh Peran Gender Terhadap Self efficacy Dalam Matematika (Studi Pada Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) .(http://Perpustakaan Unika Atmajaya Jakarta). Diakses Tanggal 5 September 2011.

This entry was posted in Math Education. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *