THE COMPETENCE OF MATHEMATICS TEACHERS OF SMA NEGERI KAROSSA WHO HAVE BEEN CERTIFIED

YUSUF

HAMZAH UPU

NURDIN ARSYAD

ABSTRACT

This study aimed to describe: (1) the pedagogical competence; (2) the personality competence ; (3) the social competence and; (4) the professional competence of mathematics teachers at SMAN Karossa who have been certified ; (5) whether mathematics teachers of SMAN Karossa who have been certified can be called professional teachers base on the criteria estabilished by the Ministry of National Education. This study is classified as a Descriptive-Exploratory research. Descriptive approach was used to describe tha actual fact about the teachers’ competence who have been certified. Exploratory approach was intended to explore qualitatively the results of the research concerning the teachers’ competence. The subjects of this study were 3 mathematics teacher at SMAN Karossa. The research instruments used were teachers’ performance instruments interview guides. The results indicate that: (1) the pedagogic competence of teacher that are: one teacher is at fairly high category by the score of PKG 75 and two teachers are in high category by the score of each PKG 85,71 and 82,14; (2) the personality competence teachers is at the very high category with the PKG 91,67; (3) the social competence of mathematics teachers are: one teacher is at the high category with the PKG 85,70 and two teachers are at a fairly high value categories of each PKG 75; (4) the profesional competence of mathematics teachers are : one teacher is at fairly high  category with the PKG 75 and two teachers are in high category with the PKG 87,50 each from the ideal score of 100, and; (5) mathematics can be called profesional teachers based on the criteria estabilished by the Ministry of National Education.

I. PENDAHULUAN

  1. A. Latar  Belakang

Proses globalisasi merupakan keharusan yang tidak mungkin dihindari, dengan segala berkah dan mudhoratnya. Bangsa dan Negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memilki pendidikan yang berkualitas. Kualitas pendidikan, terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung di ruang-ruang kelas.

Kualitas dan keprofesionalan guru, merupakan komponen terpenting dalam kegiatan pembelajaran peserta didik. Kecakapan guru dalam memperkaya kurikulum kedalam pembelajaran akan melahirkan proses belajar yang mudah diserap peserta didik ketika belajar. Sebaik apapun program pendidikan yang termuat dalam kurikulum, tanpa bantuan guru yang profesional yang mengolahnya menjadi materi yang dapat dipahami,  tidak akan berarti apa-apa bagi peserta didik. Sebaliknya bagaimanapun luasnya kurikulum, ditambah dengan ketidaktersediaan fasilitas, jika ditangani oleh guru yang cakap dan profesional, maka pembelajaran menjadi bermakna bagi kehidupan masa depan peserta didik.

Untuk menjadi profesional seorang guru tidak hanya harus mengoptimalkan potensi yang dimilikinya, tetapi juga harus ditunjang oleh persyaratan-persyaratan lain seperti yang dikemukakan oleh Mukhtar dan Iskandar (2009 : 121), bahwa guru profesional adalah guru yang : ahli dalam ilmunya, terampil dalam berbuat atau menerapkannya; Alumni dari sebuah lembaga yang legal/formal; memiliki sertifikat kualifikasi; profesi guru sebagai sumber kehidupannya; menjalankan profesi dengan ikhlas dan sepenuh hati.

Kenyataannya sekarang bahwa masih ada guru yang belum mampu mewujudkan kerja profesional di sekolah. Ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain seperti  seorang guru lebih disibukkan oleh kondisi kerja yang banyak dan beragam, sehingga menyita waktunya untuk mengajar secara maksimal, atau bahkan mungkin kurangnya pengawasan dari kepala sekolah, pengawas sekolah, sehingga tuntutan mengajar tidak lagi menjadi perhatian utama.

Banyak guru di sekolah yang belum menyadari bahwa peningkatan kompetensi keguruannya adalah hal yang wajib dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, karena seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi dewasa ini, sumber pengetahuan sangat banyak misalnya TV, radio, internet, majalah, buku-buku, sehingga guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi dan pengetahuan. Bila guru tidak meningkatkan kompetensinya, bukan tidak mungkin suatu saat guru yang demikian akan ditinggalkan oleh peserta didiknya, sekurang-kurangnya akan diacuhkan.

Berbagai upaya peningkatan kualitas guru telah dilakukan pemerintah, salah satunya adalah melalui program sertifikasi guru. Untuk pemenuhan kebutuhan dalam meningkatkan kompetensi guru, sertifikasi guru adalah merupakan program yang sangat tepat.

Dengan adanya sertifikasi guru ini diharapkan adanya peningkatan kompetensi yang dimiliki oleh guru, yang pada gilirannya akan menghasilkan guru-guru profesional yang kompeten dan sejahtera. Menurut hasil penelitian Universitas Pendidikan Indonesia (2010), pada umumnya guru yang telah mengikuti sertifikasi mengalami peningkatan penguasaan kompetensi dan memberikan dampak positif terhadap sikap profesionalisme guru.

Seiring dampak positif yang diperoleh dari program sertifikasi guru, sering kita temui kenyataan yang berkembang bahwa program sertifikasi ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena guru yang telah selesai mengikuti sertifikasi ternyata tidak menunjukkan kualitas seperti yang diharapkan. Menurut Harian Kompas ( 13 November 2009) dalam Khodijah (2011 : 2 ), bahwa program sertifikasi yang sejatinya adalah untuk meningkatkan kompetensi guru ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan, guru yang telah lolos sertifikasi ternyata tidak menunjukkan kompetensi yang signifikan.

Berdasarkan hal yang telah diuraikan itu, maka penulis termotivasi untuk mengadakan penelitian mengenai kompetensi guru pada beberapa guru matematika di SMA Negeri Karossa yang telah mengikuti program sertifikasi guru. Peneliti hanya akan fokus pada hal yang terkait dengan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional dari tiga orang guru matematika yang telah mengikuti kegiatan sertifikasi guru.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

  1. Sejauh mana tingkat kompetensi pedagogik guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi?
  2. Sejauh mana tingkat implementasi kompetensi kepribadian guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi?
  3. Sejauh mana tingkat implementasi kompetensi sosial guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi?
  4. Sejauh mana tingkat kompetensi profesional guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi?
  5. Apakah guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi dapat disebut sebagai guru profesional berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh kemendiknas?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yan telah diajukan diatas, yaitu:

  1. Untuk mendeskripsikan sejauh mana tingkat kompetensi pedagogik guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi.
  2. Untuk mendeskripsikan sejauh mana tingkat implementasi kompetensi kepribadian guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi.
  3. Untuk mendeskripsikan sejauh mana tingkat implementasi kompetensi sosial guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi.
  4. Untuk mendeskripsikan sejauh mana tingkat kompetensi profesioanal guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi.
  5. Untuk mendeskripsikan apakah guru matematika SMA Negeri Karossa dapat disebut sebagai guru profesional berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh kemendiknas.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi Kepala Sekolah.
    1. Sebagai bahan pertimbangan penilaian kinerja guru untuk  kenaikan pangkat dalam jabatan guru.
    2. Sebagai pedoman penilaian untuk Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3).
    3. Bagi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
      1. Sebagai pedoman pembinaan guru dalam lingkup Dinas Pendidikan, khususnya di sekolah.
      2. Sebagai pedoman pertimbangan dalam menentukan kuota guru yang akan mengikuti program sertifikasi tahap berikutnya.
      3. Sebagai bahan informasi bagi yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, terutama yang berprofesi sebagai guru.
      4. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan kajian bagi para akademisi dan peneliti  untuk mengadakan penelitian lanjutan.

E. Batasan Istilah

  1. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
  2. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah guru matematika.
  3. Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sertifikasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru.
  4. Guru yang sudah disertifikasi adalah guru yang telah mengikuti kegiatan program sertifikasi guru baik melalui jalur portofolio maupun yang melalui jalur PLPG dan dinyatakan lulus sertifikasi guru serta telah memperoleh sertifikat pendidik.

II.  KAJIAN TEORITIK

A. Profesionalisme Guru

Surya (2005) dalam Kunandar (2011) mengemukakan bahwa: Profesionalisme guru mempunyai makna penting yaitu: (1) profesionalisme) profesinalisme guru merupakan suatu cara untuk memperbaiki profesi memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum; (2) pendidikan yang selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat rendah; (3) profesionalisme memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan guru dapat  memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan kompetensinya. Sedangkan guru profesional berdasarkan kriteria yang ditetapkan Kemendiknas adalah guru yang memiliki: (1) kualifikasi akademik D4/S1, (2) kompetensi, (3) sertifikat pendidik, (4) memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

B. Kompetensi Guru

Competencies are defined as “the set of knowledge, skills, and experience necessary for future, which manifests in activities” (Selvi, 2010 : 168). Menurut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 1 Ayat 10 disebutkan “ Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dan dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”.

Peraturan pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan ada empat kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

1. Kompetensi Pedagogik

Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2. Kompetensi Kepribadian

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,  penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

3. Kompetensi Sosial

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,  penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

4. Kompetensi Profesional

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,  penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

C. Sertifikasi Guru
1. Pengertian Sertifikasi Guru

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dikemukakan bahwa sertifiksi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2011 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa sertifikasi bagi guru dalam jabatan selanjtunya disebut sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang bertugas sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan.

2. Tujuan Sertifikasi Guru

Wibowo (2004) dalam Mulyasa (2008: 35) mengungkapkan bahwa sertifikasi bertujuan untuk hal-hal sebagai berikut: (1) melindungi profesi pendidik dan tenaga kependidikan; (2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak kompeten, sehingga merusak citra pendidik dan tanaga kependidikan; (3) membantu dan melindungi lembaga penyelenggara pendidikan dengan menyediakan rambu-rambu dan instrumen untuk melakukan seleksi terhadap pelamar yang kompeten;                 (4) membangun citra masyarakat terhadap profesi pendidik dan tenaga kependidikan; (5) memberikan solusi dalam rangka meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

3. Pelaksanaan Sertifikasi Guru

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2011 pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa sertifikasi dilaksanakan melalui:

a. Penilaian Portofolio

Dalam Permendiknas Nomor 11 Tahun 2011 pasal 3 ayat (1) dinyatakan bahwa penilaian portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendiskripsikan:            (1) kualifikasi akademik; (2) pendidikan dan pelatihan; (3) pengalaman mengajar;   (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; (5) penilaian dari atasan dan pengawas; (6) prestasi akademik; (7) karya pengembangan profesi; (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah; (9) pengalaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial; dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

b. Pendidikan dan Latihan Profesi

Dalam Permendiknas Nomor 11 Tahun 2011 pasal 7 dinyatakan bahwa sertifikasi melalui pendidikan dan latihan profesi guru diperuntukkan bagi guru yang: (1) tidak memiliki kesiapan diri untuk penilaian portofolio; (2) tidak lulus penilaian portofolio; (3) dinyatakan tidak memenuhi persyaratan untuk memperoleh sertifikat pendidik secara langsung.

  1. Pemberian Sertifikat Pendidik Secara Langsung

Dalam Permendiknas Nomor 11 Tahun 2011 pasal 9 dinyatakan bahwa sertifikasi melalui pemberian sertifikat pendidik secara langsung diperuntukan bagi: (1) guru yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya dengan golongan paling rendah IV/b atau yang memenuhi angka kredit akumulatif setara dengan golongan IV/b; (2) guru kelas yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau tugas yang diampunya dengan golongan paling rendah IV/b atau yang memenuhi angka kredit akumulatif setara dengan golongan IV/b.

c. Pendidikan Profesi Guru

Penetapan peserta sertifikasi untuk penilaian portofolio berdasarkan urutan prioritas masa kerja sebagai guru, usia, pangkat/golongan, beban mengajar, tugas tambahan, dan prestasi kerja. Dengan persyaratan tersebut diperlukan waktu yang cukup lama bagi guru muda yang berprestasi untuk mengikuti sertifikasi. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan sertifikasi guru dalam jabatan yang mampu mengakomodasi guru-guru muda berprestasi yaitu melalui jalur pendidikan profesi guru. Sertifikasi melalui jalur pendidikan profesi diorientasikan bagi guru yunior yang berprestasi dan mengajar pada pendidikan dasar (SD dan SMP).

III.  METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian Deskriptif-Eksploratif. Pendekatan deskriptif dilakukan untuk mendeskripsikan fakta aktual tentang kompetensi guru yang sudah mengikuti program sertifikasi guru yang terjadi pada saat penelitian berlangsung. Sedangkan pendekatan eksploratif dimaksudkan untuk mengeksplorasi secara kualitatif hasil penelitian menyangkut kompetensi guru yang sudah mengikuti program sertifikasi guru. Adapun lokasi penelitian bertempat di SMA Negeri Karossa Kabupaten Mamuju.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah guru matematika SMA Negeri Karossa yang terdiri dari 3 (tiga) orang guru yang sudah mengikuti  program sertifikasi guru.

C. Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan fokus penelitian, maka penelitian ini menggunakan beberapa instrumen yaitu:  Instrumen Penilaian Kinerja Guru (IPKG) yang terdiri dari instrumen penilaian kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional dan pedoman wawancara.

D. Teknik Analisis Data

Data kuantitatif tentang kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional guru diolah dengan cara deskriptif. Sedangkan  data kualitatif tentang kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional guru diolah dengan mengikuti langkah model Miles dan Huberman yaitu data reduction, data display, dan coclusion drawing/verification.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Kompetensi Pedagogik.

Tabel 4.1 Rekapitulasi hasil penilaian kinerja guru untuk kompetensi pedagogik.

No Kompetensi/Sub-kompetensi Inisial/Nilai
PLS JNS MLN
Pedagogik
1 Menguasai karakteristik peserta didik 4 3 3
2 Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip
pembelajaran yang mendidik. 3 3 3
3 Pengembangan kurikulum 4 3 4
4 Kegiatan pembelajaran yang mendidik 3 3 3
5 Pengembangan potensi peserta didik 3 3 3
6 Komunikasi dengan peserta didik 4 3 3
7 Penilaian dan evaluasi 3 3 4
Jumlah 24 21 23

Nilai yang diproleh pada tabel 4.1. diatas kemudian dikonversi kedalam skala nilai dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Nilai PKG (skala 100)  = ,

maka:

Nilai PKG PLS =    = 85,71

Nilai PKG JNS =   = 75

Nilai PKG MLN =  = 82,14

Selanjutnya dengan memperhatikan hasil nilai PKG masing-masing subjek penelitian pada kompetensi pedagogik, dimana PLS mempunyai nilai PKG 87,51 atau terletak pada skala 76 – 90, maka PLS mempunyai kompetensi pedagogik tinggi. Sedangkan JNS mempunyai nilai PKG 75 atau terletak pada skala 61 – 75, maka JNS mempunyai kompetensi pedagogik sedang.

  1. Deskripsi Kompetensi Kepribadian

Tabel 4.2 Rekapitulasi hasil penilaian kinerja guru untuk kompetensi kepribadian

No Kompetensi/Sub-kompetensi Inisial/Nilai
PLS JNS MLN
Kepribadian
1 Bertindak sesuai dengan norma agama,
hukum, sosial dan kebudayaan nasional
Indonesia. 4 4 4
2 Menunjukkan pribadi yang dewasa dan
teladan. 3 4 4
3 Etos kerja, tanggungjawab yang tinggi,
rasa bangga menjadi guru 4 3 3
Jumlah 11 11 11

Nilai yang diproleh pada tabel 4.2. diatas kemudian dikonversi kedalam skala nilai dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Nilai PKG (skala 100)  =

maka:

Nilai PKG PLS =   = 91,67

Nilai PKG JNS =   = 91,67

Nilai PKG MLN =   = 91,67

Berdasarkan hasil nilai PKG masing-masing subjek penelitian pada kompetensi kepribadian, PLS mempunyai nilai PKG 91,67 atau terletak pada skala 91 – 100, maka PLS mempunyai kompetensi kepribadian sangat tinggi. Demikian pula JNS mempunyai nilai PKG 91,67 atau terletak pada skala 91 – 100, maka JNS mempunyai kompetensi kepribadian sangat tinggi. MLN mempunyai nilai PKG 91,67 atau terletak pada skala 91 – 100, maka MLN mempunyai kompetensi kepribadian sangat tinggi.

  1. Deskripsi Kompetensi Sosial

Tabel 4.3 Rekapitulasi hasil penilaian kinerja guru untuk kompetensi sosial

No Kompetensi/Sub-kompetensi Inisial/Nilai
PLS JNS MLN
Sosial
1 Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif. 4 3 3
2 Komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua peserta didik, dan masyarakat 3 3 3
Jumlah 7 6 6

Nilai yang diproleh pada tabel 4.3. diatas kemudian dikonversi kedalam skala nilai dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Nilai PKG (skala 100)  =

maka:

Nilai PKG PLS =   = 87,50

Nilai PKG JNS =   = 75

Nilai PKG MLN =   = 75

Kemudian dengan memperhatikan hasil nilai PKG masing-masing subjek penelitian pada kompetensi sosial, PLS mempunyai nilai PKG 87,50 atau terletak pada skala 76 – 90, maka PLS mempunyai kompetensi sosial tinggi.  Sedangkan JNS mempunyai nilai PKG 75 atau terletak pada skala 61 – 75, maka JNS mempunyai kompetensi sosial sedang.  MLN mempunyai  nilai PKG 75 atau terletak pada skala 61 – 75, maka MLN mempunyai kompetensi sosial sedang.

  1. Deskripsi Kompetensi Profesional.

Tabel 4.4 Rekapitulasi hasil penilaian kinerja guru untuk kompetensi profesional.

No Kompetensi/Sub-kompetensi Inisial/Nilai
PLS JNS MLN
Profesional
1 Penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. 3 4 4
2 Mengembangkan keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif. 3 3 3
Jumlah 6 7 7

Nilai yang diproleh pada tabel 4.4. diatas kemudian dikonversi kedalam skala nilai dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Nilai PKG (skala 100)  =

maka:

Nilai PKG PLS =   = 75

Nilai PKG JNS =   = 87,50

Nilai PKG MLN =   = 87,50

Selanjutnya dengan memperhatikan hasil nilai PKG masing-masing subjek penelitian pada kompetensi profesional, PLS mempunyai nilai PKG 75 atau terletak pada skala 61 – 75, maka PLS mempunyai kompetensi profesional sedang  Sedangkan JNS dan MLN mempunyai nilai PKG 87,50 atau terletak pada skala 76 – 90, maka JNS dan MLN mempunyai kompetensi profesional tinggi.

5.  Deskripsi guru profesional berdasarkan kriteria Kementerian Pendidikan Nasional.

Seperti yang telah dikemukakan pada kajian teori bahwa guru profesional berdasarkan kriteria yang ditetapkan Kemendiknas adalah guru yang memiliki: (1) kualifikasi akademik D4/S1, (2) kompetensi, (3) sertifikat pendidik, (4) memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.  Ketiga subjek penelitian telah memiliki: (1) kualifikasi akademik S1. (2) memiliki kompetensi guru. PLS memiliki kompetensi pedagogik tinggi, kompetensi kepribadian sangat tinggi, kompetensi sosial tinggi, dan kompetensi profesional sedang. JNS memiliki kompetensi pedagogik sedang, kompetensi kepribadian sangat tinggi, kompetensi sosial sedang, dan kompetensi profesional tinggi. Sedangkan MLN memiliki kompetensi pedagogik tinggi, kompetensi kepribadian sangat tinggi, kompetensi sosial sedang, dan kompetensi profesional tinggi. (3) sertifikat pendidik karena ketiga subjek penelitian merupakan guru yang telah mengikuti kegiatan sertifikasi guru.

Karena kriteria yang ditetapkan oleh Kemendiknas terpenuhi oleh ketiga subjek penelitian, maka subjek penelitian, dalam hal ini adalah guru matematika SMA Negeri Karossa yang sudah disertifikasi dapat disebut sebagai guru profesional.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, yang terkait dengan rumusan masalah penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kompetensi pedagogik guru matematika SMA Negeri Karossa yang telah mengikuti sertifikasi guru adalah, satu orang berada pada kategori sedang dengan nilai PKG 75, dan dua orang berada pada kategori tinggi dengan nilai PKG masing-masing 85,71 dan 82,14
  2. Kompetensi kepribadian guru matematika SMA Negeri Karossa yang telah mengikuti sertifikasi guru berada pada kategori sangat tinggi, dengan nilai PKG masing-masing 91,67.
  3. Kompetensi sosial guru matematika SMA Negeri Karossa yang telah mengikuti sertifikasi guru adalah, satu orang berada pada kategori tinggi dengan nilai PKG 87,50, dan dua orang berada pada kategori sedang dengan nilai PKG masing-masing 75.
  4. Kompetensi profesional guru matematika SMA Negeri Karossa yang telah mengikuti sertifikasi guru adalah, satu orang berada dalam kategori sedang dengan nilai PKG 75, dan dua orang berada pada kategori tinggi dengan nilai PKG masing-masing 87,50.
  5. Guru Matematika SMA Negeri Karossa yang telah mengikuti sertfifikasi guru  dapat disebut guru profesional berdasarkan kriteria yang ditetapkan kemendiknas, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi guru dan sertifikat pendidik.

B. Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, dikemukakan saran sebagai berikut:

  1. Kepada Kepala Sekolah SMA Negeri Karossa atau kepala sekolah-kepala sekolah  Hasil penelitian ini diharapkan memberikan pedoman kepada kepala sekolah untuk memberikan pembinaan kepada guru-guru disekolah secara berkesinambungan agar guru-guru dapat mencapai kompetensi yang diharapkan.
  2. Kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan acuan dalam pembinaan guru dalam lingkup dinas pendidikan, khususnya di sekolah.
  3. Kepada guru-guru SMA Negeri Karossa khususnya, dan guru matematika pada umumnya agar selalu berusaha untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki. Hasil penelitian ini dapat menjadi gambaran umum bagaimana keadaan guru yang berada disekolah-sekolah kita saat ini, sehingga guru dan rekan pendidik menjadi terpacu semangatnya untuk menjadi yang  terbaik.
  4. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk penelitian lanjutan tentang kompetensi guru matematika yang telah mengikuti sertifikasi guru, agar dikembangkan pada implementasi kompetensi guru yang telah disertifikasi  dengan hasil belajar siswa. atau kompetensi guru yang telah disertifikasi dalam kaitannya dengan angka kredit kenaikan pangkat dalam jabatan guru.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan MutuPendidikan. 2011. Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru (PK GURU): Kementerian Pendidikan Nasional.

Danim, Sudarwan. 2010. Profesianalisasi dan Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta.

Danim, Sudarwan. 2011. Pengembangan Profesi Guru dari Pra-Jabatan, Induksi, ke Profesional Madani. Jakarta: Kencana Prenanda Media Grup.

Dierektorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan  Pendidikan Dasar. 2011. Penilaian Pelaksanaan pembelajaran Guru Berprestasi Tahun 2011 Oleh Kepala Sekolah. Jakarta: Dinas Pendidikan Nasional.

Kunandar.2011. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Khodijah,N. 2011. Kinerja Guru Pasca Sertifikasi (Online), (http://menulisbersama.blogspot.com/kinerja-guru-pasca-sertifikasi-studi.html, Diakses 13 Februari 2011).

Mukhtar & Iskandar. 2009. Orientasi Baru Supervisi Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.

Mulyasa.2008. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya..

Sagala, syaiful, 2009.Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.

Selvi, Kiymet, 2010. Teachers’ Competencies. International Journal of Philosophy of Culture and Axiology, (Online), Vol. VII, No. 1, (http://www.international-journal-of-axiology.net/articole/nr13/art12.pdf, Diakses 3 Februari 2012).

Sugiono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. 2009. Jakarta: Gaung Persada (GP Press) Jakarta

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009.

Peraturan Menteri PendidikanPera Nasional Nomor 11 Tahun 2011.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. 2009. Jakarta: Gaung Persada (GP Press) Jakarta.

This entry was posted in Math Education. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *