IMPLEMENTATION OF GESTALT THEORY IN LEARNING MATHEMATICS THROUGH CONTEXTUAL APPROACH

Fathimah az.zahra Nasiruddin

Hamzah Upu

Abdul Rahman

Abstract

The study aimed at describing the implementation of Gestalt Theory on the subject of matrix in the mathematics learning throught contextual approach. The study was categorized as explorative reseach with qualitative approach. The qualitative approach was conducted to reveal the actual fact  on the implementation of Gestalt Theory in the mathematics  learning through contekxtual approach of grade X students at SMKN 1 Maros. The subject of the study were 33 students of grade X of TKJ 1 departement at SMKN 1 Maros. The students were grouped into heterogeneous group based on the learning result of previous guideline and the sex. There were five heterigeneous groups with six during the learning. Data were collected using open observation guidance and open interview. The results of the study obtained from the implementation of Gestalt Theory in mathematic learning through contekstual approach on the matrix subject of grade X students at SMKN 1 Maros by using 4 components of Gestalt Teory were : on the aspect of comprehension, students were able to define the matrix concept by relating it to daily live, students presented their findings and explained those findings, students were able to define the matrix concept by relating it to daily lives, students presented their finding and explaihed those findings, students were able to conclude and overcome the questions aligned with the concept; on the asoect of mainingful learning, students were able to assess and refine truth answers and write the conclusion through reading books and exchangd information, students worked  on the problem based on the procedures; on the aspect of alignment, students manipulated new formula which obtained through recognizing the linkage of the obtained answers, students related the process of answering the question and understanding the steps of solving the problems; on the aspect of practice-memorization, students answered the question by collecting information which obtained to discover the correct answers, students drew conclusion from the answering process and worked the questions without any assistance.

Keyword: Implementation, Gestalt Theory, Contextual Approach

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelaksanaan pembelajaran matematika sekarang ini pada umumnya guru masih mendominasi kelas, siswa pasif (datang, duduk, dengar, berlatih dan lupa). Untuk mengikuti pembelajaran di sekolah, kebanyakan siswa belum membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parah lagi, mereka tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya. Mereka memandang belajar adalah suatu kewajiban yang dipikul atas perintah orang tua, guru dan lingkungan. Menurut Morris Kline (Simanjuntak, 1993:64) bahwa jatuh bangunnya suatu negara tergantung dari kemajuan dibidang matematikanya. Oleh karena itu sebagai langkah awal untuk mengarah pada tujuan yang ingin dicapai adalah memberi motivasi belajar matematika bagi masyarakat khususnya anak-anak atau peserta didik. Keberhasilan proses belajar mengajar matematika tidak terlepas dari persiapan peserta didik dan para tenaga kependidikan. Bagi peserta didik yang sudah mempunyai minat (siap) untuk belajar matematika akan merasa senang dan penuh perhatian mengikuti pelajaran. Oleh karena itu pendidik harus berupaya untuk mengembangkan minat atau kesiapan anak didik dengan kata lain teori belajar mengajar matematika harus dipahami betul-betul oleh para pengelola pendidikan.  Hal ini dipertegas oleh thoifori (2007:99) mengatakan bahwa kegiatan belajar siswa akan mudah mencapai tujuan apabila didasari teori belajar yang matang.

Namun mengingat sentral pengajaran matematika adalah pemecahan masalah atau yang lebih mengutamakan proses dari produk, maka teori belajar mengajar yang berperan dalam pemecahan masalah tersebut oleh Russefendi (dalam Simanjuntak:66) dibahas hasil hasil penemuan para ahli diantaranya (1) aliran latihan mental mengatakan anak yang belajar harus banyak latihan, semakin banyak latihan semakin baik, (2) Teori Thorndike mengatakan bahwa belajar itu harus dengan pengaitan antara pelajaran yang akan dipelajari dengan pelajarannya sebelumnya, selain itu juga menekankan pada pelajaran harus “dilatihhapalkan”, (3) Teori Dewey mengutamakan pada pengertian dan belajar bermakna maksudnya anak diidk yang belum siap jangan dipaksa belajar namun dilakukan suasana pengajaran sehingga siswa siap belajar, (4) aliran psikologi Gestalt saling mendukung dengan aliran pengaitan dari Thondike dan lairan progresif Dewey yaitu pengajaran yang menekankan pada pengertian, belajar bermakna dan pengaitan. Serta penekanan pada latih hafal yang dilakukan setelah anak didik memperoleh pengertian.

Beberapa teori-teori belajar diatas maka Teori Gestalt merupakan salah satu teori belajar mengajar yang berperan dalam pemecahan masalah karena lebih menekankan pada pengertian, belajar bermakna, pengaitan dan latihan hafal. beberapa Teori yang juga mendukung Teori belajar Gestalt seperti Teori Brunner yang menekankan pada pengertian, penanaman konsep dan belajar bermakna namun tidak menekankan pada latihan.Teori Pavlov menekankan latihan dan mengabaikan pengertian. Teori Dines menekankan pada pengertian dan pengaitan antara hal-hal kongkrit dengan simbol. Brownel yang juga menekankan pada pengertian, belajar bermakna dan latihan hafal. Gagne  menanda semua mata pelajaran sebagai onggokan elemen – elemen yang harus meningkat dari stimulus respon, dari hal sederhana sampai pemecahan masalah yang lebih tinggi atau disesuaikan dengan tingkat intelektual siswa. Piaget mengatakan bahwa anak didik tidak boleh dipaksakan belajar dan harus menunggu kesiapaan anak untuk belajar dan disesuaikan dengan taraf perkembangan anak.

Kita semua sependapat bahwa anak akan lebih baik belajarnya jika si anak langsung mengalami apa yang dipelajarinya, dan dari apa yang dipelajarinya dan dialami itu akan meninggalkan bekas yang bertahan lama bahkan akan lebih memotivasi siswa lebih kreatif. Sedangkan anak hanyalah akan pasif jika mereka diberi pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi. Dalam hal ini siswa hanya mengetahui (menghafal fakta – fakta) apa yang mereka pelajari. Diprediksikan bahwa anak tadi akan gagal menghadapi/memecahkan problem kehidupan yang seperti saat ini yang selalu berubah -ubah. Olehnya itu Teori Gestalt ini sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran  kontekstual.

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan (pembelajaran) dengan situasi dunia nyata siswa (peserta didik) dan mendorong mereka membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai anggota keluarga, masyarakat bahkan di dunia kerja. Dalam arti bahwa proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami dan bukan transfer ilmu dari guru ke siswa. Dalam konteks ini siswa dibentuk lebih dewasa, karena mereka akan dimotivasi untuk lebih mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya dan bagaimana mencapainya dengan bantuan guru sebagai pengarah dan pembimbing.

Hasil survey awal yang dilakukan peneliti di SMK Negeri 1 Maros ditemukan siswa banyak mengalami kesulitan pada pelajaran matematika dalam materi matriks. Kesulitan siswa diantaranya adalah menentukan hasil perkalian dua matriks, menentukan invers matriks serta menyelesaikan persamaan matriks. Kesulitan ini antara lain disebabkan oleh proses pembelajaran yang kurang dipahami oleh siswa. Akibatnya hanya beberapa siswa (dengan penguasaan materi prasyarat memadai) saja yang dapat mengikuti proses pembelajaran, selebihnya sebagian besar siswa yang lain bersikap pasif. Jika mereka (siswa yang pasif) disuruh bertanya tentang apa yang belum mereka pahami, mereka (siswa yang pasif) tidak bertanya, karena sejak pertengahan (bahkan mungkin sejak awal) proses pembelajaran, mereka tidak paham/ mengerti tentang apa yang dibahas. Guru terlalu berambisi menghabiskan materi kurikulum tanpa memperhatikan kesiapan siswa. Guru tidak mengaitkan pelajaran dengan dunia nyata siswa, seharusnya siswa mampu memberikan contoh aplikasi matriks dalam kehidupan sehari-hari agar pembelajaran lebih bermakna.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka dirumuskan pertanyaan sebagai berikut:

“ Bagaimanakah implementasi Teori Gestalt dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual pokok bahasan matriks pada siswa kelas X SMK Negeri 1 Maros?”

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Teori Gestalt dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual pokok bahasan matriks pada siswa kelas X SMK Negeri 1 Maros?”

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari  penelitian ini adalah sebagai berikut

  1. Bagi guru, sebagai suatu alternatif teori belajar yang digunakan guru matematika SMK untuk mengetahui pemahaman siswa serta melibatkan siswa secara aktif, khususnya dalam mengajarkan pokok bahasan matriks.
  2. Bagi siswa, melalui pendekatan kontekstual dengan implementasi Teori Gestalt siswa dapat menciptakan integrasi pemahaman dan pengalaman dalam suatu proses pembelajaran sehingga mampu memahami materi matriks.
  3. Bagi pengambil kebijakan, jika hasil penelitian melalui implementasi Teori Gestalt menunjukkan hasil dalam meningkatkan hasil belajar siswa, maka Teori belajar tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu Teori belajar di sekolah umumnya, dan di SMK Negeri 1 Maros khususnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Hakikat Belajar Matematika

Seorang siswa dikatakan belajar matematika, apabila pada siswa terjadi suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku yang berkaitan dengan matematika. Seperti perubahan dari tidak tahu suatu konsep menjadi tahu konsep tersebut dan mampu menggunakan dalam mempelajari materi selanjutnya serta dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengingat objek yang dipelajari dalam matematika adalah abstrak dan tersusun secara hirarkis maka konsep, prinsip, dan aturan yang terdapat dalam suatu materi harus  disampaikan dengan suatu urutan yang logis dan memperhatikan kesiapan siswa. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menyerap informasi yang diberikan guru dengan baik dan optimal.

Hudoyo (1988:37) mengemukakan bahwa Matematika yang berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbul-simbul itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif.  Mempelajari  konsep B yang mendasarkan kepada konsep A, seseorang perlu memahami lebih dulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. Ini berarti mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang lalu. Seseorang akan lebih mudah  mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang itu, karena itu untuk mempelajari suatu materi  matematika         yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut.

Dari pendapat ahli di atas tentang ciri-ciri dan karakteristik matematika, serta keabstrakan dari objek-objek matematika yang tersusun secara hirarkis maka untuk mempermudah siswa mempelajari suatu konsep atau untuk dapat menyerap informasi yang diberikan guru dengan baik dan optimal haruslah memperhatikan kesiapan siswa. Ini berarti  belajar  matematika haruslah bertahap dan berurutan serta selalu  mendasarkan kepada pengalaman belajar yang telah lalu.

B.Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika

Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah pembelajaran yang dimulai dengan mengambil (mensimulasikan, menceritakan) kejadian pada dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa kemudian diangkat ke dalam konsep matematika yang dibahas.

Pada pembelajaran kontekstual, sesuai dengan tumbuh-kembangnya ilmu pengetahuan, konsep dikonstruksi oleh siswa melalui proses tanya-jawab dalam bentuk diskusi. Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran, yaitu konstruksivisme (contructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan asesmen otentik (authentic assesment).

Dari ketujuh komponen tersebut, pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang berlandaskan pada dunia kehidupan nyata (real world), berpikir tingkat tinggi, aktivitas siswa (doing math), aplikatif, berbasis masalah nyata, penilaian komprehensif, yang memiliki akal dan nurani.

C. Teori Gestalt

Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan Wertheimer teori belajar Gestalt (Gestalt Theory) ini lahir di Jerman tahun 1912 dipelopori dan dikembangkan oleh Max Wertheimer (1880 – 1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis. Sumbangannya ini diikuti tokoh-tokoh lainnya, seperti Wolfgang Kohler (1887 – 1967) yang meneliti tentang “insight”. Kurt Koffka (1886 – 1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan. (Hergenhahn, 2008:281)

Teori belajar ini menekankan pada faktor pemahaman(insight) pada siswa dalam memahami dunia sekitarnya dengan jalan mengingat  dan menyusun kembali pengalamannya menjadi suatu struktur yang berarti dan mudah dipahami (Purwanto,1990:101).

Teori belajar menurut psikologi Gestalt sering pula disebut field theory atau insight full learning. Menurut para ahli psikologi Gestalt manusia itu bukanlah hanya sekedar makhluk reaksi yang hanya berbuat atau bereaksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Manusia  adalah organisme yang aktif, merupakan sumber daripada semua kegiatan. Pada hakikatnya manusia bebas untuk membuat suatu pilihan dalam setiap situasi. Titik pusat kebebasan ini adalah kesadarannya sendiri (Sanjaya, 2006 : 113).

Menurut Hamalik (2001:41) Teori psikologi Gestalt tentang belajar bahwa jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur. Suatu keseluruhan bukan terdiri bagian bagian atau unsur unsur. Unsur unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur yang tertentu dan saling berinteraksi satu sama lain. Teori belajar Gestalt adalah merupakan suatu proses rentetan penemuan dengan bantuan pengalaman yang telah ada.

Aplikasi Teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain (1) Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa, (2) Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan  dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari, (3) Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai, (4) Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik, (5) Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain.

Dilihat dari prinsip penerapan Teori Gestalt yang dikemukakan maka integrasi pemahaman dan pengalaman menghendaki suatu proses pembelajaran yang mampu menerapkan pengalaman nyata dalam suatu daur proses belajar. Langkah langkah pendekatan yang dapat dilakukan (Fathurrahman, 2007;58) yaitu (1) Mengalami, proses belajar ini selalu dimulai dengan adanya pengalaman dengan melakukan langsung suatu kegiatan, apa yang dilakukan dan dialaminya adalah mengerjakan, mengamati, melihat atau mengatakan sesuatu dan menjadi titik tolak proses selanjutnya, (2) mengungkapkan kembali yang sudah dialaminya dan tanggapan atau kesan atas pengalaman tersebut termasuk pengalaman rekan-rekan belajar lainnya, (3) Mengolah, semua pengalaman dirinya dan rekan-rekan belajar dikaitkan dengan pengalaman lain yang mungkin mengandung makan serupa, (4) menyimpulkan, keharusan logis dari pengkajian pengalaman adalah mengembangkan atau merumuskan prinsip-prinsip berupa kesimpulan umum dari pengalaman tadi, dengan cara ini dapat membantu siswa merumuskan, merinci, dan menjelaskan hal-hal yang telah dipelajari, (5) menerapkan, proses pengalaman belum lengkap jika suatu ajaran baru atau penemuan baru belum dipergunakan atau diuji dalam prilaku yang sesungguhnya.

Dari beberapa pendapat mengenai Teori Gestalt maka penulis menyimpulkan bahwa Teori Belajar Gestalt adalah Teori Belajar yang mencakup pengertian, belajar bermakna, pengaitan antara pelajaran yang akan dipelajari siswa dengan pelajaran sebelumnya dan latihan-hafal yang dilakukan setelah anak didik memperoleh pengertian yang bertujuan untuk lebih meningkatkan pemahaman.

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini dikategorikan penelitian eksploratif dengan pendekatan  kualitatif. Pendekatan kualitatif dilakukan untuk mengungkapkan fakta aktual tentang implementasi Teori Gestalt dalam pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual siswa kelas X SMK Negeri 1 Maros.

B. Subjek Penelitian

Dalam Penelitian ini yang diselidiki adalah suasana kondisi belajar siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan implementasi Teori Gestalt dalam pembelajaran matematika melalui Pendekatan Kontekstual. Subjek yang dipilih adalah siswa  kelas X jurusan TKJ1  SMK Negeri 1 Maros . Penetapan subjek penelitian dipilih secara acak di dalam kegiatan pembelajaran dengan mengelompokkan siswa secara heterogen. Pembagian kelompok siswa didasarkan pada nilai yang diperoleh pada rata-rata nilai kompetensi dasar sebelumnya serta jenis kelamin. Olehnya itu siswa kelas X SMK Negeri 1 Maros untuk Tahun Pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 33 orang dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang masing-masing beranggotakan 6-7 orang untuk diberikan materi pada setiap pertemuan. kemudian  dipilih 1 kelompok untuk dilakukan wawancara berdasarkan hasil pengamatan selama pembelajaran.

C. Fokus Penelitian

Fokus utama penelitian ini adalah implementasi Teori Gestalt melalui pendekatan kontekstual yang dimiliki siswa kelas X SMK Negeri 1 Maros selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Fokus penelitian ini yaitu  (1) pengertian; pemahaman terhadap situasi yang problematis, pemahaman konsep,(2) belajar bermakna; mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang dimilikinya, (3) pengaitan; kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek atau peristiwa, pengaitan antara materi pelajaran yang akan dipelajari peserta didik dengan materi pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya, (4) latihan-hafal; menurut Teori Gestalt kemampuan menyelesaikan soal tanpa bantuan teman atau guru. Anak yang belajar harus banyak latihan semakin banyak latihan dan kuat serta keras latihannya semakin bagus. Latihan umumnya untuk memperoleh ketangkasan dari apa yang dipelajari.

Adapun  fokus pengamatan dalam peneltian ini adalah (1) mengalami yaitu mengerjakan melihat, mengamati atau mengatakan sesuatu yang menjadi proses selanjutnya, (2) mengungkapkan yaitu mengungkapkan apa yang dialami, memberikan tanggapan , kesan, pertanyaan, (3)  mengolah    yaitu   mengaitkan hasil pekerjaanya dengan pekerjaan temannya, mendiskusikan langkah-langkah penyelesaian dan menentukan jawaban yang benar (4) menyimpulkan yaitu merangkum, menilai, menyempurnakan hasil pekerjaan, dan  (5) menerapkan yaitu mampu menyelesaikan soal tanpa bantuan teman atau guru, mampu menyelesaikan soal dan menjelaskan proses penyelesaiannya, mampu menjawab pertanyaan guru dengan jawaban yang tepat, memberikan tugas latihan untuk memantapkan pemahaman siswa sesuai tujuan pembelajaran dan meminta siswa mengerjakan review sebagai tugas selanjutnya(PR).

D. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

1. Pedoman Wawancara Terbuka

Pedoman wawancara terbuka merupakan panduan utama untuk memperoleh informasi aktual tentang  implementasi Teori Gestalt melalui pendekatan kontestual.

2. Fungsi Pedoman Wawancara Terbuka

Fungsi pedoman wawancara terbuka pada penelitian ini adalah mengetahui kendala-kendala serta menelaah aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan penerapan Teori Gestalt melalui pendekatan kontekstual. Karena tidak semua siswa melakukan aktivitas  yang sama dan bahasa yang sama.

3. Pelaksanaan wawancara

Pelaksanaan wawancara disusun pedoman wawancara yang sifatnya semi terstruktur atau terbuka. Pertanyaannya tidak harus sama untuk setiap subjek. Wawancara ini dilakukan terhadap siswa untuk mengungkap secara kualitatif aktivitas siswa setelah proses pembelajaran berlangsung dengan penerapan Teori Gestalt melalui pendekatan kontekstual. Teknik wawancara terbuka  adalah siswa diberikan situasi, dan siswa diberikan waktu untuk memahaminya. Setelah siswa dapat memahami situasi yang diberikan, maka selanjutnya mereka diwawancarai, apa yang dipikirkan dari situasi yang diberikan, pertanyaan apa yang muncul dari situasi ini, dan apa yang akan diajukan. Data yang diperoleh adalah tulisan dan kata-kata siswa yang berupa aktivitas yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran .

1. Obesrvasi

Obervasi dilakukan dengan menggunakan pedoman observasi terdiri atas : (1)lembar observasi aktivitas guru, (2) lembar observasi aktivitas siswa untuk melihat aktivitas guru dan aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran digunakan  RPP dan LKS sebagai media untuk melihat implementasi teori gestalt.

2. Dokumentasi

Dokumentasi berupa foto tentang aktivitas siswa selama dalam proses pembelajaran.

E. Teknik Analisis Data

Analisis Data Hasil Wawancara

Untuk memperoleh data yang dianalisis maka peneliti akan melakukan validasi ahli draf instrument yang dirancang. Data hasil pengamatan dan data hasil wawancara akan dianalisis deskriptif kualitatif. Adapun data hasil wawancara dilakukan dengan langkah  berikut:

1. Reduksi data (data reduction)

Tahap reduksi data  yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

a. Mengumpulkan semua data pada lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi aktivitas guru, dan hasil kerja siswa pada LKS…

b.Mengumpulkan data tentang aktivitas siswa pada lembar observasi melalui wawancara.

c. Menyederhanakan hasil wawancara menjadi susunan baik dan rapi kemudian ditransformasikan ke dalam catatan.

2. Pemaparan data ( data display)  data dilakukan dengan cara

a. Menyajikan aktivitas guru berdasarkan langkah-langkah penerapan teori Gestalt

b. Menyajikan aktivitas siswa berdasarkan langkah-langkah penerapan Teori Gestalt pada setiap lembar observasi.

c. Menyajikan hasil kerja siswa untuk dijadikan bahan wawancara dalam menggali aktivitas siswa terhadap aktivitas yang dilakukan pada lembar observasi.

3. Menarik kesimpulan ( conclusion) dilakukan dengan cara menyimpulkan aktivitas guru dan aktivitas siswa berdasarkan lembar observasi dan hasil wawancara terhadap siswa.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian Implementasi Teori Gestal pada pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual ditemukan :

1. Pengertian

Belajar menurut Teori Gestalt terjadi jika ada pengertian, ini muncul setelah memahami suatu masalah, terjadi hubungan antara satu dengan yang lainnya, kemudian dipahami dan dimengerti maknanya. Dalam pendekatan kontekstual,  pengertian memiliki peranan di dalam belajar karena dalam belajar faktor pemahaman sangat dibutuhkan, dalam belajar pribadi memegang peranan yang sangat sentral.

Dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual pada konsep matriks dapat dilakukan dengan Teori Gestalt, agar siswa dapat mengerti terhadap konsep yang diajarkan. Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah pembelajaran yang dimulai dengan mengambil (mensimulasikan, menceritakan) kejadian pada dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa kemudian diangkat ke dalam konsep matematika yang dibahas. Maka dilakukan melalui proses mengalami pada mengalami dilakukan guru menginformasikan langkah-langkah  pembelajaran serta konsep dasar matriks yaitu perkalian scalar dengan matriks dan perkalian dua matriks dengan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari sedangkan siswa memperhatikan penjelasan guru dan menyebutkan contoh matriks sehingga mampu mendefenisikan konsep matriks.  Mengungkapkan  dilakukan dengan cara  guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyajikan hasil temuan pada LKS sedangkan siswa mampu menuliskan  dan menjelaskan hasil kerja LKS yang telah dikerjakan. Mengolah dilakukan dengan cara Guru mengarahkan siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan pemecahan masalah dari hasil kerja LKS sedangkan siswa saling bertukar ide untuk mengklasifikasikan pemecahan masalah, mendiskusikan langkah-langkah pemecahan sesuai prosedur penyelesaian sehingga dapat menjawab pertanyaan. Menyimpulkan dilakukan dengan cara guru mengarahkan dan membantu siswa untuk menarik kesimpulan sedangkan menyimpulkan dengan kata-kata sendiri hasil kerja yang telah mereka kerjakan pada LKS. Menerapkan dilakukan dengan cara guru  merefleksi kembali materi yang telah mereka pelajari dengan memberikan soal sedangkan siswa menyelesaikan soal sendiri sesuai dengan konsep.

2. Belajar Bermakna

Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini pun sejalan dengan pembelajaran kontekstual bahwa pengaruh makna dalm pembelajaran membantu para siswa mengaitkan pelajaran akademik mereka (Johnson :64). Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar bermakna,  pada pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dalam Teori Gestalt proses belajar bermakna dilakukan dengan cara mengalami,mengungkap, mengolah, menyimpulkan, dan menerapkan

Mengalami, dilakukan dengan cara  guru mengarahkan membaca buku siswa secara cermat sedangkan siswa membaca buku siswa dan menemukan konsep matriks.

Mengungkapkan, dilakukan dengan cara guru memberikan kesempatan kepada tiap-tiap perwakilan kelompok untuk menyajikan hasil kerja LKS yang telah diskusikan sedangkan siswa menjelaskan hasil kerja yang ditulis dalam LKS dan alasan-alasan dibalik pendapatnya. Mengolah  dilakukan dengan cara guru mengarahkan siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan pemecahan masalah dan saling bertukar ide sedangkan siswa saling bertukar informasi dan menemukan langkah-langkah penyelesaian soal. Menyimpulkan dilakukan dengan cara guru mengarahkan dan membantu siswa untuk menarik kesimpulan sedangkan siswa menilai, menyempurnakan hasil kerja LKS dan menuliskan kesimpulan.  Menerapkan dilakukan dengan cara guru menguji ketangkasan siswa dalam bentuk soal sedangkan siswa menyelesaikan soal sesuai dengan prosedur  yang ada pada LKS.

3. Pengaitan

Dalam implementasi Teori Gestalt dengan pendekatan kontekstual siswa hendaknya memiliki kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu objek atau peristiwa. Pembelajaran kontekstual bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui peningkatan pemahaman makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan antara materi yang dipelajari. Sehingga dalam pengaitan, Mengalami dilakukan dengan cara guru mengarahkan siswa memahami masalah kontekstual pada buku siswa sedangkan siswa mengenal keterkaitan unsur, dapat memanipulasi rumus yang memiliki makna serupa yang berkaitan dengan materi yang dipelajarinya berdasarkan buku siswa. Mengungkapkan dilakukan dengan cara guru mendorong terjadinya pertukaran ide antara teman kelompok sedangkan siswa bertukar pendapat dalam kelompoknya dan  mengungkapkan keterkaitan rumus yang diperolehnya.  Mengolah dilakukan dengan cara  guru membimbing siswa jika terjadi kelasahan konsep sedangkan siswa berdiskusi dan dapat menjelaskan keterkaitan jawaban yang diperoleh. Menyimpulkan dilakukan dengan cara guru mengarahkan siswa menarik kesimpulan sedangkan siswa dapat menyimpulkan hasil temuan yang diperolehnya. Menerapkan dilakukan dengan cara guru memberikan pertanyaan sebagai chek up berupa kuis untuk menguji pemahaman siswa sedangkan siswa siswa menyelesaikan soal yang diberikan sesuai dengan prosedur.

4. Latihan-hafal

Dalam implementsi Teori getalt anak yang belajar harus banyak latihan, semakin banyak dan kuat serta keras latihannya semakin baik namun dalam penekanan latihan-hafal yang dilakukan hendaknya setelah siswa memperoleh pengertian. Karena terlatih dan sering mengulangi sesuatu maka kecakapan dan pengetahuan makin dikuasai dan makin mendalam. Sebaliknya tanpa latihan pengalaman-pengalaman yang telah dimiliki akan menjadi hilang dan berkurang (Purwanto:103). Hal  ini pun senada dalam pendekatan kontekstual bahwa siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah dengan latihan, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Olehnya itu dalam latihan-hafal pada implementasi Teori Gestalt ini dimulai dengan proses Mengalami dilakukan dengan cara guru memberikan soal latihan sedangkan siswa  mengerjakan soal sesuai dengan prosedur penyelesaian yang ada pada LKS. Mengungkapkan dilakukan dengan cara  Guru memberikan kesempatan kepada tiap-tiap perwakilan kelompok untuk menyajikan hasil kerja LKS  yang telah mereka diskusikan, sedangkan  siswa mempresentasikan hasil kerja LKS dengan benar. Mengolah  dilakukan dengan cara guru mengarahkan siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dengan pemecahan masalah dan membimbing siswa sedangkan siswa mengumpulkan informasi dan dapat menjelaskan jawaban yang ada serta memilih jawaban yang tepat.Menyimpulkan dilakukan dengan cara guru mengarahkan siswa menarik kesimpulan sedangkan siswa  mengambil dan menuliskan kesimpulan jawaban dari soal hasil kerja LKS yang telah dikerjakan. Menerapkan dilakukan dengan cara guru memberikan soal latihan untuk menguji pemahaman siswa, sedangkan siswa mampu mengerjakan soal latihan tanpa tanpa bantuan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan maka disimpulkan bahwa Implementasi Teori Gestalt dalam pembelajaran matematika melalui Pendekatan Kontekstual pada pokok bahasan matriks ditekankan pada 4 komponen yaitu:

  1. Pada bagian pengertian, proses mengalami dilakukan dengan cara siswa mendefenisikan konsep dasar matriks dengan mengaitkan masalah dengan  kehidupan sehari-hari, pada proses mengungkapkan siswa menyajikan hasil temuan mereka dan menjelaskan hasil temuan, pada proses mengolah siswa mengumpulkan informasi dengan cara saling berukar ide, pada proses menyimpulkan siswa membuat kesimpulan dengan kata-kata sendiri, dan pada proses menerapkan siswa menyelesaikan sendiri soal sesuai dengan konsep.
  2. Pada bagian Belajar bermakna, proses mengalami dilakukan dengan cara siswa membaca sumber belajar sehingga dapat menemukan konsep matriks, pada proses mengungkapkan siswa menjelaskan hasil kerja disertakan alasan-alasan, pada proses mengolah siswa bertukar informasi dan menemukan langkah-langkah penyelesaian soal, pada proses menyimpulkan siswa menilai, menyempurnakan kebenaran jawaban dan menuliskan kesimpulkan dengan cara membaca sumber belajar, dan pada proses menerapkan siswa mengerjakan soal sesuai dengan prosedur.
  3. Pada bagian pengaitan, pada proses mengalami dilakukan dengan cara siswa memanipulasi rumus yang baru dipelajari berdasarkan sumber belajar, pada proses mengungkapkan siswa mengungkapkan keterkaitan jawaban yang diperoleh dengan rumus yang telah dipelajari,  pada proses mengolah siswa menjelaskan keterkaitan jawaban yang diperoleh dengan saling bertukar ide, pada proses menyimpulkan siswa membuat kesimpulan dari hasil temuan jawaban yang diperoleh, pada proses menerapkan siswa menyelesaikan soal sesuai prosedur dan memahami langkah-langkah penyelesaiannya.
  4. Pada Latihan-hafal, pada proses mengalami dilakukan dengan cara siswa mengerjakan soal yang diberikan sesuai dengan prosedur penyelesaian, pada proses mengungkap siswa mempresentasikan hasil kerja, pada proses mengolah siswa mengumpulkan informasi yang diperoleh untuk menemukan jawaban  yang tepat, pada proses menyimpulkan siswa menarik kesimpulan dari proses penyelesaian soal, dan pada proses menerapkan siswa mengerjakan soal tanpa bantuan.

B. Saran

Melihat hasil penelitian setelah diterapkan Teori Gestalt besar manfaatnya maka diharapkan para guru khususnya guru matematika dapat menerapkan pembelajaran matematika secara menyeluruh dan tidak terlepas dari konteks kehidupan peserta didik sebagai salah satu upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik

  1. Melihat hasil penelitian setelah diterapkan Teori Gestalt besar manfaatnya maka diharapkan para guru khusunya guru matematika dapat menerapkan pembelajaran matematika secara menyeluruh dan tidak terlepas dari konteks kehidupan peserta didik sebagai salah satu upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik.
  2. Untuk lebih meningkatkan hasil belajar matematika, guru yang professional harus mampu memberikan variasi dalam pelaksanaan pembelajaran matematika. Teori Gestalt merupakan salah satu alternative yang baik dipertimbangkan karena menerapkan pembelajaran kontekstual selain itu mengembangkan siswa untuk banyak berfikir.
  3. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif olehnya itu hanya bersifat menjelaskan hal-hal yang terkait dengan subjek yang diteliti. Dengan demikian bagi peneliti yang berminat untuk menggali lebih mendalam hendaknya lebih memperhatikan kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam penelitian ini.

DAFTRA PUSTAKA

Fathurrahman,Pupuh dan Sobry Sutikno.2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Refika Aditama.

Firdaus, Ahmad. 2009. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Online di

Hergenhahn, B.R. & Matthew H. Olson. 2008. Theories Of Learning (Teori Belajar). Jakarta:Kencana.

Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Jakarta : IKIP Malang.

Johnson, E.B. 2011.Contekstual Teaching and Learning. Bandung: Kaifa.

Major, Claire.H dan Palmer, Betsy, 2001. Model Pembelajaran Berbasis Masalah.(online : tersedia). http://noviansangpendiam.blogspot.com. Diakses 24 Agusrus 2012

Muhkal, Mappaita. 1999. Menumbuhkan Kemampuan Menyelesaikan Masalah melalui Proses Belajar mengajar. Eksponen: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika.

Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan .Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

Simanjuntak, Lisnawaty dkk. 1993. Metode Mengajar Matematika  .Jakarta: Rineka Cipta.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Depdikbud Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Thoifuri. 2007. Mejadi Guru Inisiator.Semarang: Rasail Media Group.

Upu, Hamzah. 2003. Problem Posing dan Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika. Bandung: Pustaka Ramadhan.

__________. Model Pembelajaran Berbasis Masalah, 2006: (online) (http://rayapkabel.wordpress.com/2009/03/28/model pembelajaran-inkuiri) Diakses 24 Agustus 2012.

IMPLEMENTATION OF GESTALT THEORY IN LEARNING MATHEMATICS THROUGH CONTEXTUAL APPROACH
This entry was posted in Math Education. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>