DEVELOPING LEARNING PACKAGES OF COOPERATIVE BASED MODEL OF JIGSAW TYPE ON THE TOPIC OF BIODIVERSITY IN GRADE X

MUHAMMAD HELMY

HAMZAH UPU

MUH. WIHARTO


ABSTRACT

This research armed at prducing learning packages on the topic of biodiversity with the application of cooperative learning model of Jigsaw type to the grade X of senior high school student wich was valid, practical and effective. This research was the development research which adopted form the 4-D Thiagarajan, Semmel and Semmel development  model (1974). The subject of this research was the grade X students of SMA Muhammadiyah 9 Makassar 2010/2011 academic year, which consisted of 20 students. Tehnique of collection  data was through the validation of device and research instument from the experts. Evaluation from observer and questionaire of the students response which were analyse quantitatively. The developed learning device were lesson plan, Student book, and students’ worksheet. Validity of value of the lesson plan, the students’ book  and the Worksheet  in every evaluation aspect were categorized as valid (4.0 ≤ x <4.5)  and extremely valid (4.5 ≤ x < 5.0). This showes that the cooperative learning device of jigsaw type on the topic of biodiversity in grade X was in extremely valid category. The practicality of device viewed from its  implementation which was in implemented completely category (1.5 ≤ x ≤ 2,0) and the degreement percentage was 92.11%. The effectiveness was viewed from (1) the positive response from the students on the learning process, Students’ Book and students’ worksheet; (2) all of the students’ activities were in the interval of ideal time; (3) teacher’s ability in managing learning was categorized high (4.0 ≤ KG <4.5)  and extremely high (KG ≥ 4,5) and (4) the result from students classical matery in the their achievement test was 90% with the standard deviation 7,6466.

eywords: Cooperative Learning Jigsaw Type, biodiversity, Lesson Plans, Student Book, and student worksheet

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran merupakan upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini, secara implisit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada. Salah satu kewajiban guru sebagai pendidik dalam mengajar adalah menarik minat siswa, agar pelajaran yang diberikannya bisa dikuasai oleh siswa dengan baik. Seorang pendidik dituntut harus mampu memilih dan menggunakan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran  cocok dengan kebutuhan dan potensi peserta didik.

Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa diantaranya adalah guru dan metode pembelajaran yang digunakan. Sampai saat ini masih banyak guru hanya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik dan peserta didik hanya menerima apa yang disampaikan guru sehingga mereka cenderung pasif dan pembelajaran menjadi membosankan. Mungkin juga karena siswa hanya diajar konsep biologi tanpa disertai pemahaman yang baik. Kondisi yang seperti ini harus diupayakan untuk diperbaiki melalui perbaikan kegiatan pembelajaran.

Pemilihan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran Keanekaragaman Hayati didasarkan pada pertimbangan bahwa materi Keanekaragaman Hayati cocok dengan pembelajaran kooperatif Jigsaw, siswa diharapkan menemukan konsep Keanekaragaman Hayati tersebut dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga konsep-konsep penting dalam Keanekaragaman Hayati tertanam kuat dalam benak siswa. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menekankan pada penemuan konsep melalui kelompok Ahli dan nantinya akan dibawa ke kelompok asal sehingga akan lebih mudah untuk dipahami. Dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw diharapkan dapat memacu para siswa untuk bekerja sama, saling bertukar pendapat, berdiskusi, saling menerima satu sama lain dari perbedaan kemampuan dan latar belakang yang berbeda dalam memecahkan masalah secara kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengembangkan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi keanekaragaman hayati kelas X yang meliputi, RPP, Bacaan siswa dan LKS.

B.  Rumusan Masalah

”Apakah perangkat pembelajaran materi keanekaragaman hayati yang dikembangkan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk siswa kelas X SMA memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif ?”

C.  Tujuan Penelitian

Untuk menghasilkan perangkat pembelajaran materi Keanekaragaman Hayati dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw untuk siswa kelas X SMA yang valid, praktis dan efektif .

D.  Batasan Istilah

  1. Pengembangan perangkat adalah suatu proses untuk memperoleh perangkat pembelajaran.
  2. Valid: perangkat dikatakan valid jika penilaian ahli menunjukkan bahwa pengembangan perangkat tersebut dilandasi oleh teori yang kuat dan memiliki konsistensi internal, yakni ada keterkaitan komponen dalam perangkat.
  3. Praktis: perangkat dikatakan praktis jika menurut hasil pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran dikelas termasuk dalam kategori tinggi atau sangat tinggi.
  4. Efektif: perangkat dikatakan efektif jika memenuhi 3 dari 4 indikator,

E. Manfaat Penelitian

  1. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai contoh perangkat pembelajaran Keanekaragaman Hayati yang dapat memberikan beberapa alternatif kepada guru untuk memilih model pembelajaran yang diinginkan, dalam hal ini model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
  2. Menjadi motivasi semua guru yang ingin mengembangkan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
  3. Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar biologi sehingga pola pembelajaran dapat berpusat kepada siswa dan guru bertindak sebagai motivator.

II.  Kajian Pustaka

A. Pengertian Belajar

Belajar dalam idealisme berarti keiatan psiko-fisik-sosio menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Namun, realitas yang dipahami oleh sebagian besar masyarakat tidaklah demikian. Belajar dianggap properti sekolah. Kegiatan belajar selalu dikaitkan dengan tugas-tugas sekolah. Sebagian besar masyarakat menganggap belajar di sekolah adalah usaha penguasaan ilmu pengetahuan. Belajar adalah proses  mendapatkan pengetahuan (Suprijono. 2009)

Morgan (dalam Ratumanan, 2004) mendefenisiskan belajar sebagai “setiap perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.” Sejalan dengan Rebber (dalam Ratumanan, 2004) mengemukakan bahwa “Learning is a relatively permanent change in response potentiality which occur as a result of reinforced practice,” belajar merupakan suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif tetap sebagai hasil latihan yang diperkuat.

  1. B. Pembelajaran Kooperatif

a.  Tujuan dan sintaks pembelajaran kooperatif

Tabel 2.2. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pembe-lajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru memberikan kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Sumber : Amri, 2010

c. Kooperatif tipe Jigsaw II

Teknik mengajar Jigsaw telah dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson beserta teman-temannya sebagai metode cooperative learning. Dalam penerapan  jigsaw, siswa dibagi berkelompok dengan 4 – 6 anggota kelompok belajar heterogen. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks dan masing-masing anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan itu. Anggota dari setiap kelompok yang mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut (Slavin, 2010)

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Sedangkan kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal (Slavin, 2010)

Langkah-langkah pembelajaran dengan Jigsaw tipe II (Trianto, 2009)

1)      Orientasi,

2)      Pengelompokan

3)      Pembentukan dan pembinaan kelompok expert (ahli)

4)      Diskusi (pemaparan) kelompok ahli dalam grup

5)      Tes (penilaian)

6)      Pengakuan kelompok

C. Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada. Tersedianya perangkat pembelajaran merupakan salah satu faktor yang menunjang proses pembelajaran berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam pengelolaan proses belajar mengajar dapat berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bacaan Siswa (BS), dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) (Ibrahim. 2000).

  1. D. Model-model Pengembangan Perangkat

Pengembangan perangkat pembelajaran adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah ada. Menurut Sudjana (dalam Trianto, 2009: 177 & 2010: 81), untuk melaksanakan pengembangan perangkat pengajaran diperlukan model-model pengembangan yang sesuai dengan sistem pendidikan. Dalam pengembangan perangkat pembelajaran dikenal tiga macam model, yaitu: Model Dick-Carey. Model Four-D dan model Kemp. Sedangkan (Harjanto,    2008: 111), mengemukakan model pengembangan terdiri dari model pengembangan Briggs, model Banathy, model PPSI, model Kemp, model Gerlach dan Ely, dan model IDI.

E.  Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran pada penelitian pengembangan ini adalah pengembangan dari standar kompetensi 3. “Manfaat Keanekaragaman Hayati” dengan kompetensi dasar 3.1. Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem, melalui kegiatan pengamatan dan kompetensi dasar 3.2. “Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam”. Standar kompetensi ini berada pada kurikulum SMA kelas X semester genap.

Sub materi yang akan dikembangkan adalah:

  1. Gejala-gejala keanekaragaman hayati
  2. Pengertian keanekaragaman hayati
  3. Tingkat keanekaragaman Hayati (Gen, Jenis, dan Ekosistem).
  4. Keanekaragaman hayati indonesia berdasarkan persebarannya
  5. Tumbuhan dan hewan khas (endemik) di Indonesia
  6. Peran keanekaragaman hayati dalam kehidupan manusia
  7. Peran aktivitas manusia terhadap keanekaragaman hayati
  8. Usaha pelestarian keanekaragamana hayati (In situ dan Ex situ)

F. Kerangka Pikir

Model Pembelajaran Kooperatif
Model Pembelajaran Tipe Jigsaw II
Perangkat Pembelajaran
Pembelajaran Biologi
Materi Keanekaragaman Hayati
RPP
Bacaan Siswa
LKS
Pengembangan perangkat

Model Four-D (4-D)

Gambar 2.7. Kerangka pikir

50

III. Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini digolongkan dalam penelitian pengembangan (Research and Development) yang bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bacaan Siswa dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Model pengembangan perangkat yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan four D Models (model 4-D) yang terdiri dari empat tahap yaitu pendefenisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop) dan penyebaran (disseminate) sebagaimana dikemukakan oleh Thiagarajan.

Tahap-tahap pengembangan perangkat pembelajaran sebagai berikut:

a. Tahap pendefenisian (Define)

Tahap ini bertujuan untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran.

1). Analisis ujung depan

Kegiatan analisis ujung depan ini dilakukan untuk menentukan masalah mendasar yang diperlukan dalam pengembangan materi pelajaran.

2) Analisis siswa

Tujuan dari analisis ini adalah untuk menelaah karakteristik siswa yang meliputi pengetahuan awal siswa, bahasa yang digunakan, perkembangan kognitif siswa, kecenderungan berkelompok dan berdiskusi (sosial kultural).

3) Analisis materi

Analisis materi bertujuan untuk mengidentifikasi, merinci, dan menyusun secara sistematis materi-materi utama yang akan dipelajari siswa.

4) Analisis tugas

Analisis tugas bertujuan untuk mengidentifikasi keterampilan-keterampilan utama yang diperlukan untuk merancang tugas-tugas yang harus dilakukan siswa selama dan setelah melaksanakan pembelajaran.

5) Analisis spesifikasi tujuan pembelajaran

Kegiatan yang dilakukan pada analisis spesifikasi tujuan pembelajaran adalah merumuskan tujuan-tujuan pembelajaran berdasarkan analisis siswa, analisis materi dan analisis tugas.

b. Tahap perancangan (Design)

Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah penyusunan tes hasil belajar, pemilihan media, pemilihan format, dan perancangan awal perangkat pembelajaran.

1) Penyusunan tes

Tes disusun berdasarkan analisis materi/kompetensi dasar dan analisis tugas yang dijabarkan dalam spesifikasi tujuan pembelajaran,.

2) Pemilihan media

Pemilihan media dilakukan untuk menentukan media yang sesuai untuk menyajikan materi pembelajaran keanekaragaman hayati dengan metode pembelajaran tipe jigsaw II.

3) Pemilihan format

Pemilihan format perangkat pembelajaran dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran dan sumber belajar yang akan dikembangkan.

4) Rancangan awal

Rancangan awal adalah seluruh kegiatan yang harus dikerjakan sebelum uji coba dilakukan. Rancangan itu meliputi pembuatan: RPP, BS dan LKS

Perangkat yang dihasilkan pada tahap ini, merupakan perangkat Prototipe-1

c. Tahap pengembangan (Develop)

Tujuan dari tahap pengembangan adalah untuk menghasilkan prototipe perangkat pembelajaran yang telah direvisi berdasarkan masukan para ahli dan praktisi serta data yang diperoleh dari ujicoba. Kegiatan pada tahap ini adalah penilaian para ahli dan praktisi serta ujicoba lapangan.

1) Validasi ahli dan praktisi

Validasi ahli dan praktisi adalah penilaian perangkat pembelajaran terhadap isi dan bahasa perangkat pembelajaran yang dilakukan oleh para ahli. Penilaian para ahli dan praktisi terhadap perangkat pembelajaran mencakup: (1) format, (2) bahasa, (3) ilustrasi dan (4) isi yang disesuaikan dengan ukuran pemikiran siswa kelas X SMA.

2) Ujicoba lapangan

Ujicoba lapangan dilaksanakan di SMA Muhammadiyah 9 Makassar. Uji coba ini dilakukan untuk memperoleh masukan langsung berupa respon, reaksi, komentar siswa dan para pengamat terhadap perangkat pembelajaran yang telah disusun dalam rangka revisi prototipe-2 untuk menghasilkan prototipe-3. Adapun kegiatan yang dilakukan pada waktu uji coba di lapangan adalah:

d. Tahap penyebaran (Desseminate)

Hasil pengembangan perangkat pada penelitian ini pada tahap penyebaran (disseminate) dilakukan dengan melaksanakan kegiatan sosialisasi perangkat secara langsung diterapkan lebih luas misalnya di kelas lain , di sekolah lain atau guru yang berbeda. Tujuan tahap ini untuk menguji efektivitas penggunaan perangkat di dalam KBM.

C. Subjek dan Waktu Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Muhammadiyah 9 Makassar, yang berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 9 perempuan dan 11 laki-laki yang mempunyai latar belakang sosial, ekonomi, dan kemampuan akademis yang heterogen. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011

D. Instrumen dan Pengumpulan Data

a. Lembar validasi perangkat pembelajaran

Lembar validasi ini yang digunakan untuk memperoleh data tentang hasil validasi para ahli dan praktisi mengenai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bacaan Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dan Tes Hasil Belajar.

b. Lembar pengamatan

1) Lembar pengamatan aktivitas siswa

2) Lembar pengamatan kemampuan guru mengelola pembelajaran

3) Lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran

c. Angket respon siswa

Untuk mendapatkan data respon siswa terhadap kegiatan ujicoba lapangan, digunakan instrumen berupa angket respon siswa.

d. Tes hasil belajar

Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi/kompetensi dasar yang telah diajarkan,dan tes disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

E. Teknik analisis data

a.  Analisis data hasil validasi perangkat pembelajaran

b. Analisis data aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran

c.  Analisis data aktivitas siswa

d. Analisis data keterlaksanaan perangkat pembelajaran

e. Analisis data respons siswa

f. Analisis data skor perkembangan siswa

h. Analisis data tes hasil belajar siswa

IV. Hasil dan Pembahasan

  1. A. Deskripsi Hasil Analisis Data

1.  Deskripsi tahap pendefinisian (define)

a.  Analisis Ujung Depan

b.  Analisis siswa

c.  Analisis materi

d.  Analisis tugas

e.  Spesifikasi tujuan pembelajaran

2.   Deskripsi Hasil Tahap Perancangan (Design)

a.  Penyusunan tes

b.  Pemilihan media

c.  Pemilihan dan penyusunan format validasi

d.  Rancangan awal

1)      Perangkat pembelajaran

2)   Instrumen  penelitian

3.  Deskripsi Hasil Tahap Pengembangan (Develop)

a.  Analisis data Kevalidan perangkat pembelajaran

1.   Hasil validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Aspek-aspek yang diperhatikan dalam memvalidasi RPP adalah: format, materi yang disajikan,bahasa, waktu, serta metode. Hasil validasi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel.4.1. Hasil validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

No. Aspek penilaian X Ket.
1. Kompetensi Dasar 5,00 sangat valid
2. Indikator Pencapaian Kompetensi Dasar 4,33 valid
3 Isi dan Kegiatan Pembelajaran 4.58 sangat valid
4. Bahasa 4.56 sangat valid
5. Waktu 4.56 sangat valid
6 Penutup 4,39 valid
Rata-rata penilaian total (x) 4.57 sangat valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3;

Nilai kevalidan RPP untuk seluruh aspek penilaian yang disajikan dari 5 aspek, yang terdiri dari 21 komponen, ada 9 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5), dan 12 komponen yang termasuk kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0), berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka RPP yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.

2.  Hasil validasi Bacaan siswa

Aspek-aspek yang diperhatikan dalam memvalidasi bacaan siswa adalah: format, isi, bahasa dan  manfaat. Hasil validasi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Hasil Validasi Bacaan Siswa (BS)

No. Aspek penilaian X Ket.
1. Format Bacaan Siswa 4,78 sangat valid
2. Bahasa 4,33 valid
3 Ilustrasi 5,00 sangat valid
4 Isi 4,47 valid
Rata-rata penilaian total (x) 4,64 sangat valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan Bacaan Siswa (BS) untuk seluruh aspek penilaian yang disajikan dari 4 aspek, yang terdiri dari dua puluh 3 komponen, ada 8 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5), dan 15 komponen yang termasuk kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0). berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka Bacaan Siswa (BS) yang dibuat dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.

3.  Hasil validasi LKS

Aspek-aspek yang diperhatikan dalam memvalidasi LKS adalah: format, isi, bahasa, dan waktu. Hasil validasi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel. 4.3. Hasil Validasi Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

No. Aspek Penilaian X Ket.
1. Format LKS 5,00 sangat valid
2 Bahasa 4.44 valid
3. Ilustrasi 4.56 sangat valid
Rata-rata penilaian total (x) 4,67 sangat valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) untuk seluruh aspek penilaian yang disajikan dari 3 aspek, yang terdiri dari 9 komponen, ada 2 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5), dan 7 komponen yang termasuk kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0). berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dibuat dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.

4) Hasil Validasi Tes hasil belajar

Aspek-aspek yang diperhatikan dalam memvalidasi Tes Hasil belajar secara garis besar adalah isi, dan bahasa. Hasil validasi dari validator dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel. 4.4. Tabel Validasi Tes Hasil Belajar

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
I Validasi Isi 4 4 4 4 valid
II Bahasa 4 4 4 4 valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan tes hasil belajar  untuk seluruh aspek penilaian yang disajikan dari 2 aspek, yang terdiri dari 9 komponen, semua komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5), berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang dibuat dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan.

b. Hasil validasi ahli untuk instrumen

1)      Lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat

Hasil validasi ahli mengenai instrumen keterlaksanaan perangkat dapat dilihat pada Tabel 4.5.

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
1 Aspek Petunjuk 5 5 5 5,00 s.valid
2 Aspek Cakupan Unsur-unsur Pengajaran 5 5 5 5,00 s.valid
3 Aspek Bahasa 5 4 5 4,78 s.valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat untuk semua aspek yang disajikan dari 9 komponen, semua komponen termasuk dalam rentang kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0). Berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka lembar pengamatan keterlaksanaan perangkat yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan

2)  Lembar pengamatan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran

Tabel 4.6. Validasi Lembar Pengamatan Kemampuan Guru dalam mengelola Pembelajaran

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
1 Aspek Petunjuk 5 5 5 5,00 s.valid
2 Aspek Bahasa 4 4,25 4 4,08 valid
3 Aspek Isi 4 4 4 4,00 valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan lembar pengamatan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran untuk semua aspek yang disajikan dari 11 komponen, 3 komponen termasuk dalam rentang kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0) dan 8 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5). Berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka lembar pengamatan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan

3)  Lembar pengamatan aktivitas siswa

Tabel. 4.7. Validasi Lembar Pengamatan aktivitas siswa

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
1 Aspek Petunjuk 4,33 4,33 4,33 4,33 valid
2 Aspek Bahasa 4 4,25 4 4,08 valid
3 Aspek Isi 4 4,25 4 4,08 valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan lembar pengamatan aktivitas siswa untuk semua aspek yang disajikan dari 11 komponen, 1 komponen termasuk dalam rentang kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0) dan10 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5). Berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka lembar pengamatan aktivitas siswa yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan

4)  Angket respons siswa

Tabel 4.8. Validasi lembar pengamatan respon siswa

NO URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
V 1 V 2 V 3
1 Aspek Petunjuk 4,5 4,5 4,5 4,5 s.valid
2 Aspek Bahasa 4 4 4 4 valid
3 Aspek Isi 4 4,2 4 4,07 valid

Keterangan :

V1 = validator 1; V1 = validator 2; V3 = validator 3

Nilai kevalidan lembar pengamatan respon siswa untuk semua aspek yang disajikan dari 11 komponen, 1 komponen termasuk dalam rentang kategori “sangat valid” (4,5 ≤ M < 5,0) dan10 komponen termasuk dalam rentang kategori “valid” (4,0 ≤ M < 4,5). Berdasarkan kriteria kevalidan yang disebutkan pada bab III, maka lembar pengamatan respon siswa yang disajikan dinyatakan memenuhi kriteria kevalidan

  1. 1. Analisis Hasil Ujicoba

a. Analisis kepraktisan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw pada materi keanekaragaman hayati kelas X

URAIAN ASPEK NILAI RT2 KET.
P1 P2
A B A B
Sintaks strategi kognitif (RPP) 2 1,6 2 2 1,9 TS
Interaksi Sosial (BS & LKS) 1,67 2 2 2 1,9 TS
Prinsip Reaksi (BS, RPP, LKS) 1,8 1,8 2 2 1,9 TS
Sistem Pendukung 2 2 1,83 1,83 1,9 TS
1,85 1,79 1,99 1,99 1,9 TS

Keterangan:

A    = Pengamat 1; B = Pengamat 2; P1 = Pertemuan I; P2 = Pertemuan II;

TS  = Terlaksana Seluruhnya

b.    Analisis keefektifan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada materi keanekaragamana hayati

1)   Respon siswa.

Tabel. 4.14. Respon Siswa terhadap Pembelajaran, Bacaan Siswa dan LKS

Respon Respon siswa
Pembelajaran Bacaan Siswa LKS
f % f % f %
Sangat Senang 20 100 20 100 19 95
Senang 0 0 0 0 1 5
Kurang Senang 0 0 0 0 0 0
Tidak Senang 0 0 0 0 0 0
Jumlah 20 100 20 100 20 100

Keterangan :   f = frekuensi ; % = persentase

2)   Aktivitas siswa,

Tabel 4.15.  Interval Waktu Ideal untuk setiap Aktivitas Siswa

Aktivitas Siswa (Kategori) Waktu di RPP (Menit) Persentase /Pertemuan Rata-rata

(%)

Interval Toleransi

(%)

Waktu Ideal (%) PWI
P1 P2
1 10 11,1 11,1 11,1 6,1-16,1 11,1
2 5 5,6 5,6 5,6 0,6-10,6 5,6
3 5 5,6 5,6 5,6 0,6-10,6 5,6
4 30 31,9 33,3 32,6 28,3-38,3 33,3
5 10 11,1 11,1 11,1 6,1-16,1 11,1
6 5 8,3 8,3 8,3 0,6-10,6 5,6
7 15 13,9 13,9 13,9 11,7-21,7 16,7
8 10 11,1 11,1 11,1 6,1-16,1 11,1
9 0 1,4 0,0 0,7 0 -5 0,0
Jumlah 90 100,0 100,0 100,0

Keterangan:

P1 = Pertemuan 1  ;           P2 = Pertemuan 2 ;    PWI = Persentasi waktu ideal

Rata-rata persentase waktu aktivitas siswa dianggap memadai jika delapan dari sembilan kriteria berada dalam rentang persentase waktu ideal, terutama untuk kegiatan mengerjakan LKS harus memenuhi interval waktu ideal. Hasil pengamatan selama pelaksanaan ujicoba menunjukkan bahwa waktu keseluruhan aktivitas siswa yang diamati berada dalam interval waktu ideal. Artinya, aktivitas siswa dalam pembelajaran materi keanekaragaman dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw ideal.

3) Kemampuan guru (KG) dalam mengelola pembelajaran.

Tabel 4.16.  Hasil Pengamatan Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran

ASPEK PENGAMATAN P1 P2 Rata2 Ket
A B A B
A.     KEGIATAN AWAL
Fase 1 Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa 4,5 4,5 4,5 4,5 4,50 ST
B.     KEGIATAN INTI
Fase 2 Menyajikan informasi 4,3 4,3 4,3 4,3 4,33 T
Fase 3 Membimbing kelompok bekerja dan belajar 4,8 5 5 5 4,94 ST
Fase 4 Evaluasi 5 5 4,5 4,5 4,75 ST
Fase 5 Memberikam penghargaan 4,7 4,7 4,7 4,7 4,67 ST
C.     KEGIATAN AKHIR 4,3 4,3 4,7 4,7 4,50 ST
D.     SUASANA KELAS 4,5 4,5 4,8 4,8 4,63 ST
Rata-Rata 4,6 4,6 4,6 4,6 4,61 ST

Keterangan:

ST = Sangat Tinggi      T   = TInggi

Dari hasil seluruh aspek pengamatan disajikan dari dua puluh enam komponen, sebelas komponen termasuk dalam rentang kategori “tinggi” (4,0 ≤ KG < 4,5) dan lima belas komponen yang termasuk kategori “sangat tinggi” (KG 4,5), yang berarti kemampuan guru dalam mengelola kegiatan inti sudah memadai

4)   Hasil perkembangan belajar siswa,

Tabel. 4.17. Skor Perkembangan Kelompok

Klp Kuis I Rata2 Predikat Kuis II Rata2 Predikat
A 80 20 Tim Hebat 90 22,5 Tim Hebat
B 70 17,5 Tim Hebat 80 20 Tim Hebat
C 70 17,5 Tim Hebat 90 22,5 Tim Hebat
D 80 20 Tim Hebat 80 20 Tim Hebat
E 80 20 Tim Hebat 100 25 Tim Super
Rata2 76 88

Skor perkembangan kelompok pada setiap pertemuan secara umum mengalami peningkatan. Perkembangan kemajuan rata-rata kelompok dapat dipertahankan menjadi tim hebat, hanya kelompok E yang mengalami peningkatan dengan predikat tim hebat menjadi tim super

5)   Hasil belajar siswa,

Tabel 4.18. Data Tes Hasil Belajar

Data Nilai
Subjek Penelitian 20
Skor Ideal 100
Rata-rata 78,1
Standar Deviasi 7,6466
Varians 58,470
Rentang skor 40
Skor Maksimum 90,0
Skor Minimum 62,5
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 68
Jumlah Siswa yang Tuntas 18
Jumlah Siswa yang Tidak Tuntas 2

Tabel 4.19. Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar

No Interval Skor Kategori frekuensi Persentase (%)
1 < 68 Tidak Tuntas 2 10
2 68-100 Tuntas 18 90
Jumlah 20 100

Tabel 4.19. di atas menunjukkan ada dua orang siswa yang mengikuti pembelajaran keanekaragaman hayati dengan model kooperatif tipe jigsaw berada dalam kategori tidak tuntas karena nilai hasil belajar memperoleh skor kurang dari nilai KKM 68. Siswa yang berada pada kategori tuntas 18 orang dengan persentase 90%. Jadi data ini menunjukkan bahwa ketuntasan maksimal tercapai yaitu > 85%

Hasil uji coba perangkat yang telah memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif kemudian dikemas menjadi sebuah produk yang berupa hardcopy dan CD yang berisi softfile perangkat pembelajaran (RPP, Bacaan Siswa, LKS, Kuis, Kisi-kisi soal dan tes Hasil Belajar).

  1. a. Deskripsi Hasil Penyebaran (Disseminate)

Prototipe III yang diperoleh pada tahap akhir pengembangan  menghasilkan produk berupa hardcopy dan CD yang berisi perngkat pembelajaran dan telah dikemas selanjutnya disebarkan  ke beberapa sekolah dan sekaligus disosialisasikan ke beberapa guru-guru Biologi SMA/MA se Kota Makasar melalui sosialisasi langsung. Melalui kegiatan ini, diperoleh saran-saran dan komentar dari para guru, antara lain:

  1. B. Pembahasan Hasil Penelitian
    1. 1. Ketercapaian Kriteria Kevalidan dan Perangkat Pembelajaran

Berdasarkan hasil uji validasi yang dilakukan oleh para ahli dan praktisi yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh perangkat yang telah divalidasi berada pada kategori valid dan sangat valid. Hasil ini membuktikan bahwa perangkat yang telah dirancang sebagai prototype-1 dianggap valid untuk dipergunakan sebagai perangkat pembelajaran dan instrumen pengamatan dalam pelaksanaan uji coba perangkat pembelajaran di lapangan.

2.  Nilai Kepraktisan

Perangkat pembelajaran dikatakan praktis jika (1) penilaian ahli dan praktisi menyatakan perangkat pembelajaran yang disusun dapat digunakan (2) hasil observasi keterlaksanaan perangkat pembelajaran di kelas termasuk dalam kategori terlaksana seluruhnya

3.    Nilai keefektifan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, suatu perangkat dikatakan efektif, apabila memenuhi 4 syarat; yaitu: (1) aktivitas siswa ideal, apabila delapan dari sembilan kriteria batas toleransi pencapaian waktu ideal yang digunakan dipenuhi, dengan syarat kegiatan ketiga (mengerjakan LKS) harus dipenuhi, (2) kemampuan guru mengelola pembelajaran memadai, apabila nilai KG minimal berada dalam kategori tinggi, (3) respons siswa positif terhadap LKS dan bacaan siswa, yakni apabila lebih dari 50% siswa memberi respons positif terhadap minimal 70% jumlah aspek yang ditanyakan, dan (4) siswa berhasil dalam belajar apabila minimal 85% siswa berada pada kategori minimal tinggi. Olehnya, pembahasan mengenai nilai keefektifan perangkat yang dirancang akan dibahas satu persatu berdasarkan pertimbangan dari hasil ujicoba yang telah dilakukan.

V. PENUTUP

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah yang disajikan pada bab I, maka tujuan penelitian pengembangan ini untuk menghasilkan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada materi keanekaragaman hayati kelas X yang valid, praktis dan efektif. Oleh karena itu pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan dan saran yang berkaitan dengan proses dan hasil pengembangan.

Produk pengembangan yang akan menjadi bahan uji coba pada penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bacaan Siswa (BS), Lembar Kegiatan Siswa (LKS) setelah melalui tahap validasi diperoleh semuanya berada pada rentang kategori valid (4≤M<4,5) dan sangat valid (4,5≤M≤5). Hasil validasi dari tiga validator menunjukkan bahwa perangkat model pembelajaran kooperatif jigsaw pada materi keanekaragaman hayati kelas X yang dikembangkan telah valid dan layak untuk digunakan.  Kepraktisan perangkat dapat diukur dengan menggunakan pengamatan keterlaksana perangkat pembelajaran dan diperoleh hasil pengamatan secara keseluruhan komponen berada pada rentang kategori perangkat terlaksana seluruhnya (1,5 ≤ x ≤ 2,0) berarti perangkat terlaksana dengan  percentage of agreement = 92,11%) dari analisis data menunjukkan bahwa perangkat yang disusun telah memenuhi kriteria kepraktisan. Keefektifan perangkat dapat diukur dengan menganalisis hasil respon siswa terhadap model pembelajaran, bacaan siswa dan LKS diperoleh masing-masing rata-rata siswa memberi respon positif; aktivitas siswa menunjukkan berada dalam interval waktu yang ideal; pengamatan guru dalam mengelola pembelajaran berada dalam kategori tinggi (4 ≥ KG > 4,5); dan sangat tinggi (4,5 ≥ KG ≥ 5); sedangkan tes hasil belajar diperoleh jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 18 orang dari 20 jumlah siswa yang berarti 90% dan ini menunjukkan bahwa ketuntasan maksimal tercapai secara klasikal yaitu lebih 85%. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data diperoleh bahwa perangkat yang disusun telah memenuhi kriteria keefektifan.

  1. B. Saran

1.    Untuk penelitian selanjutnya perangkat pembelajaran yang dihasilkan di ujicobakan secara meluas untuk melihat keunggulan perangkat pembalajaran keaneakragaman hayati dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

2.    Penelitian ini telah menghasilkan perangkat yang valid, praktis dan efektif. Oleh karena itu disarankan kepada guru biologi untuk menggunakan perangkat pembelajaran ini pada materi keanekaragaman hayati.

3.    Pengembangan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw perlu diterapkan pada materi lain, hal tersebut untuk membiasakan siswa belajar mandiri dan bekerja sama dalam kelompok

DAFTAR PUSTAKA

Amri, S. 2010. Konstruksi Pengembangan Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Anonim. 2009. Model Pengembangan Perangkat Menurut Thiagarajan. Surabaya:  Pusat Lembaga Penelitian dan Pengembangan.

Anonim. 2010. Prosedur Pengujian Validitas Isi melalui Indeks Rasio Validitas Isi. [http://rss.acs.unt/Rdoc/library/psychometri/html/CVratio.html] Diakses Tanggal 23 Oktober 2010.

Arif S. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik Setting Kooperatif  STAD untuk Kompetensi Dasar Bilangan Pecahan di SMPN 6 Watampone. Tesis tidak Diterbitkan. Makassar: PPs UNM Makassar.

Arwiyani.2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Model Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa Kelas VII1 SMP NEGERI 1 Bontolempangan. Kec. Bontolempangan Kab. Gowa. Skripsi. Tidak diterbitkan. Makassar: FMIPA UNM Makassar.

Aryulina D., Choirul M., Salfinah M., & Endang WW. 2004. Biologi SMA untuk Kelas X. Esis Penerbit Erlangga. Jakarta.

Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) 2006. Standar Isi dan Standar Kompotensi Lulusan Tiungkat Sekolah Menengah Pertama dan Madrasyah Tsanawiyah (Permen Mendiknas No. 22, No.23 dan No 24 tahun 2006) Jakarta: PT. Binatama Raya

Dahar, R.W. 1988. Teori-teori Belajar . Jakarta. Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pengembanga lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan

Dimyati dan Mudjiono. 2002.  Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Elywaty. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Materi Program Linier. Tesis Tidak diterbitkan. Makassar: Program Pascasarjana UNM.

Fatima.2008. tersedia di [It’s all about Cat. https://f4tim3.wordpress.com/category/ home/]. Download: 15 Nopember 2010

138

Haetawi, A. & Supriadi. 2008. Penerapan model Pembelajaran kooperatif tipe  Jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sswa pada materi Kelarutan dan Hasil Kali Klarutan. [tersedia di http://jurnal.unhalu.ac.id] Diakses 17 Desember 2010

Hamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Asara

Hardjanto. 2005. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hudojo, H. 1998. Pembelajaran Matematika Menurut Pandangan Konstruktivis. Makalah disajikan pada Seminar Nasional “Upaya-upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika dalam Era Globalisasi. Program Pasca Sarjana IKIP Malang. Malang:  4 April.

Ibrahim. 2009. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA University Press.

Isjoni. 2010. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Khaeruddin, MArtawijaya, A., NAtsir, M. 2010 Model Pembelajaran Fisikamelalui Strategi Berpikir Secara Bersamaan (BSP) untuk Meningkatkan KeterampilanProses Sains-Fisika. Laporan Penelitian tidak diterbitkan: Universitas Negeri Makassar

Musdalifa. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran  Kooperatif Tipe Stad Pada Pokok Bahasan Teorema Pythagoras untuk Kelas VIII SMP Tesis tidak diterbitkan. Makassar: Program Pascasarjana UNM.

Nurdin S. 2005 Model Pembelajaran yang Memperhatikan Keragaman Individu Siswa dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Ciputat: Quantum Teaching.

Nurdin. 2007. Model Pembelajaran Matematika yang Menimbulkan Kemampuan Metakognitif untuk menguasai Bahan Ajar. Disertasi Tidak Diterbitkan. Surabaya: Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.

Priadi A., Tri Silawati. 2007. Sains Biologi SMA/MA Kelas X.

Pujiyanto S. 2007. Khazanah Pengetahuan Biologi 1 untuk Kelas X SMA dan MA. PT. Wangsa Jatra Lestari. Jakarta

Ratumanan, Tanwey G. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya. Unversity Press

Riyanto, Y. 2008. Pradigma Baru Pembelajaran sebagai Referensi bagi Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif Dan Berkualitas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Salleh NA, Siti R A., Musa D., 2001. Penerapan  Nilai Murni Melalui Pembelajaran-Kooperatif dalam Sains. [tersedia  di http://pkukmweb.ukm.my/~ penerbit/ jurnal_pdf/jdidik27-04.pdf] Jurnal Pendidikan 27 (2001) 47 – 57. Diakses 17 Desember 2010

Sanjaya, W . 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:  Kencana Prenada Media Group.

Sasongko, Luddy Bambang. 2004. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada Materi Relasi, Fungsi dan Grafiknya di Kelas 2 SLTP. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: PPs Unesa

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Statistik.

Slavin, R.E. 2009. Coperative Learning: Teori, Riset dan  Praktik. Bandung: Nusa Media

Subardi. 2007. Biologi untuk Kelas X SMA dan MA. CV Usaha Makmur. Semarang

Sudjadi B., Siti Laila. 2007. Biologi 1 SMA/MA Kelas X. Yudistira. Jakarta

Sulastri R dan Diana R. 2009. Pengaruh Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Dalam Pembelajaran Biologi Di SMPN 2 Cimalaka. [tersedia di http://ilmu.unesa.ac.id Jurnal Pengajaran MIPA, Vol. 13 No. 1 April 2009] Diakses 17 Desember 2010

Suprijono A. 2009. Coooperatif Learning :Teori dan Aplikasi Paikem.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Surjana, S. 2002. Efektifitas Pengelolaan Kelas. Jurnal Pendidikan Penabur (online)
I (1) 66-67.[tersedia di http://www.bpk penabur.or.id] diakses 7 juli 2011

Trianto. 2007a. Model pembelajaran Terpadu dalam Teori dan praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka

______. 2007b. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivisme.  Jakarta: Prestasi Pustaka.

______. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Kencana Prenata Media Group

Yudicool. 2009. Krisan. Tersedia di [http://yudicool.wordpress.com/2009/08/03/ krisan/]. Download: 15 Nopember 2010

Yusuf. 2003. Kualitas Proses dan Hasil Belajar Biologi melalui pengajaran dengan model pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw pada madrasah Aliyah Pompes Nurul Haramain Lombok Barat NTB. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

Posted in My Research | Leave a comment

Students’ Ability Description On Solving Mathematics Problem At SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa Considering Personal Types

Anita

Hamzah Upu

Muhammad Jufri.

ABSTRACT

This research was qualitative descriptive one, conducted at  SMK Negeri 1 Pallangga. This study aimed to describe an ability of students in solving mathematics problems based on Personal Types. The instrument used in this study were (1) Personality type test, (2) tests the ability in  solving mathematics’s problem, and (4) interviews through unstructured task-based.

The results of this study are (1) Subjects of the research with extrovert type of personality needs someone else to help him solved his mathematic’s problem. Subjects of the research with extrovert type of personality has less ability to solved mathematic’s problem and can not follow the solving problem’s  step by Polya. This subject can explain about what the task knows and asks, but mostly didn’t pay attention with the whole taks. This subject also has a plan to selved the problems but often didn’t uncertain with his answers. This subject can solved the problems well after getting the instruction from the researcher, (2). Subjects of the research with introvert type of personality tend not to be affected by an external world and almost didn’t need someone else to help him to solved his mathematic’s problem, so subjects of the research with introvert type of personality  can solved his mathematic’s problem well, eventhough he didn’t follow the whole of solving problem’s step by  Polya. This subject can explain about what the task knows and asks dan pay attention well to the whole task. This subject also has a plan to selved the problems, but he can’t make some review to his own answers.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dewasa ini yang semakin pesat mengakibatkan perubahan dalam dunia pendidikan. Segala perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat membuat dunia pendidikan terus menyesuaikan diri, berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini disebabkan karena dunia pendidikan sangat terkait dengan siswa. Siswa merupakan subjek utama dalam pendidikan. Oleh karena itu siswa harus dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk mandiri, sehingga dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa dan negara.

Belajar matematika yang memerlukan kesiapan intelektual yang memadai, aktivitas mental yang tinggi dan kemampuan kognitif yang kompleks inilah yang menyebabkan banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran matematika, apalagi jika matematika diajarkan dalam bentuk hafalan.  Selain itu karena pendekatan, metode, atau pun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran masih bersifat tradisional, dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Akibatnya, kreativitas dan kemampuan berpikir matematika siswa tidak dapat berkembang secara optimal. Karena itu, tidak mengherankan  jika prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika  sangat terpuruk dibandingkan dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran yang lain. Dengan alasan ini, anggapan bahwa mata pelajaran matematika hanya sebagai produk perlu dihilangkan, tetapi lebih menganggap matematika sebagai proses untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan (Suherman, dkk: 2003).

Penyelesaian masalah (problem solving) menjadi sentral dalam pembelajaran matematika. Hal ini dapat dimaklumi karena penyelesaian masalah dekat dengan kehidupan sehari-hari, juga karena penyelesaian masalah melibatkan proses berpikir secara optimal. Hal ini terjadi karena untuk menyelesaikan masalah, seseorang perlu menciptakan aturan untuk mengatasi masalah. Karena proses berpikir siswa sulit diamati, maka perlu upaya agar penyelesaian masalah dalam matematika dapat dikuasai dengan baik, salah satunya melalui penghargaan terhadap perbedaan pada masing-masing siswa. Dengan pengamatan yang mendalam pada diri siswa, akan disadari adanya berbagai jenis perbedaan, seperti perbedaan kepribadian, perbedaan proses berpikir, dan perbedaan cara belajar. Mengajarkan penyelesaian masalah matematika berdasarkan perbedaan siswa berarti guru mengusahakan agar setiap siswa mempunyai hak untuk diperhatikan oleh setiap guru secara pribadi masing-masing, dan bukan secara klasikal, dimana banyak pribadi bergabung menjadi satu.

Suhadianto (2009) mengemukakan bahwa karakteristik kepribadian berpengaruh dalam proses pembelajaran karena pelajaran atau materi dapat dipahami oleh siswa saat siswa dapat fokus terhadap apa yang sedang dibahas. Sebelum membuat siswa fokus terhadap materi atau pelajaran yang guru berikan, langkah awal yang dilakukan guru adalah membuat siswa bisa memperhatikan penjelasan guru. Apabila guru telah berhasil membuat fokus para siswa, maka dengan mudahnya guru melangsungkan kegiatan belajarnya.

Tentu saja sebagai seorang pendidik dituntut untuk memahami karakteristik kepribadian setiap siswa, sehingga pendidik dapat memberikan stimulasi atau perlakuan yang sesuai dengan tipe kepribadian siswa yang dihadapi. Hal ini disebabkan karena perlakuan-perlakuan  yang diberikan kepada siswa akan mengantarkan siswa kepada suatu kondisi optimal, baik dalam bidang prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Jika  perlakuan-perlakuan yang diberikan tanpa mempertimbangkan aspek kepribadian siswa, ataupun mungkin karena teguran guru yang terlalu kasar, ataupun karena cara guru menyampaikan kurang sesuai dengan pribadi anak, dapat mengantarkan siswa ke dalam kondisi  tidak dapat berprestasi maksimal (Suhadianto: 2009).

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika pada SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa ditinjau dari tipe kepribadian Ekstrovert.
  2. Bagaimana kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika pada SMK Negeri 1 Pallangga  Kabupaten Gowa ditinjau dari tipe kepribadian Introvert.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Mendeskripsikan kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika pada SMK Negeri 1 Pallangga  Kabupaten Gowa ditinjau dari tipe kepribadian Ekstrovert.
  2. Mendeskripsikan kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika pada SMK Negeri 1 Pallangga  Kabupaten Gowa ditinjau dari tipe kepribadian Introvert.

D. Manfaat Penelitian

  1. Bagi siswa: dengan diperhatikannya tipe kepribadian yang dilakukan dalam penelitian ini dapat memberikan kenyamanan siswa dalam mengikuti proser pembelajaran di kelas. Saat siswa merasakan kenyamanan karena diperhatikan tipe kepribadiaannya oleh guru, maka siswa dapat  meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, khususnya masalah matematika.
  2. Bagi guru matematika: dapat memberikan informasi kepada guru bahwa siswa sebaiknya diberikan perlakuan menurut tipe kepribadiannya sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang lebih bermakna dapat meningkatkan mutu pembelajaran matematika.
  3. Bagi Sekolah: penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas guru, dan pada akhirnya kualitas sekolah. Selain itu, pihak sekolah dapat mendeteksi adanya siswa berbakat pada mata pelajaran matematika  sehingga dapat dipilih  sebagai utusan sekolah dalam berbagai lomba seperti olimpiade matematika.

E. Batasan Istilah

  1. Masalah matematika yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah soal matematika yang rutin dan soal matematika yang non rutin. Soal matematika yang rutin yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah soal matematika yang biasa dihadapi oleh siswa dalam proses belajar mengajar dan siswa mengetahui dengan pasti proses penyelesaiannya. Sementara soal non rutin yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah soal yang belum pernah dihadapi oleh siswa dalam proses belajar mengajar sehingga menjadi tantangan bagi siswa tersebut untuk menyelesaikannya.
  2. Pemecahan masalah diartikan sebagai proses siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang non rutin. Proses tersebut meliputi memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana tersebut dan memeriksa kembali jawaban.
  3. Deskripsi kemampuan penyelesaian masalah adalah gambaran/paparan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika.
  4. Tipe kepribadian siswa adalah macam-macam siswa yang dibedakan berdasarkan karakteristik individu yang bersifat internal, yang berkontribusi terhadap pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang konsisten. Tipe kepribadian yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah tipe kepribadian Ekstrovert dan tipe kepribadian Introvert.
  5. Tipe kepribadian ekstrovert adalah bagian dari jiwa manusia yang berorientasi pada faktor-faktor objektif di luar dirinya sebagai penggambaran yang berwujud tingkah laku pada diri individu secara utuh dengan kecenderungan lebih terbuka terhadap orang lain dalam berinteraksi.
  6. Tipe kepribadian introvert adalah bagian dari jiwa manusia yang berorientasi subjektif di luar dirinya sebagai penggambaran yang berwujud tingkah laku pada diri individu secara utuh dengan kecenderungan lebih tertutup terhadap orang lain dalam berinteraksi.

II. KAJIAN TEORETIK

A. Pengertian Matematika dan Fungsinya

Matematika memiliki kehirarkian di antara pokok-pokok bahasannya, yaitu: suatu pokok bahasan tertentu merupakan prasyarat pokok bahasan lainnya. Oleh karena itu, menurut Soedjadi (1999) bahwa untuk menguasai matematika, diperlukan cara belajar setapak demi setapak dan berkesinambungan.  Pendapat ini bersesuaian dengan pendapat Hudoyo (1990) yang mengatakan bahwa dalam matematika, untuk mempelajari konsep B yang berdasarkan konsep A, maka perlu memahami dahulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin dapat memahami konsep B. Oleh karena itu, untuk belajar matematika harus dilakukan secara bertahap, berurutan, dan berkesinambungan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Schoenfeld (dalam Rahman: 2009), yang memandang matematika terdiri dari 2 spektrum, yaitu: (1) sebagai serangkaian dari fakta dan prosedur, kuantitas, besaran, bentuk-bentuk, dan hubungan-hubungannya, sehingga dapat dipandang sebagai penguasaan dari fakta-fakta dan prosedurnya, (2) sebagai ilmu tentang pola dari suatu disiplin ilmu empirik yang hampir sama dengan ilmu lain yang penekanannya pada pencarian pola dengan dasar kebenaran empirik. matematika di atas, maka dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan matematika adalah ilmu pengetahuan yang menekankan pada berfikir dan mengelola logika yang bersifat deduktif aksiomatik, berkenaan dengan ide-ide abstrak yang diberi sombol-simbol dan tersusun secara hirarkis.

B. MATEMATIKA SEKOLAH

Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di  Pendidikan Dasar (SD dan SMP) dan Pendidikan Menengah (SMA dan SMK). Matematika sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu pada perkembangan IPTEK. Hal ini menunjukkan bahwa matematika sekolah tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu memiliki objek kajian yang abstrak serta berpola pikir deduktif dan konsisten di dalam sistemnya.

Dari pengertian matematika di atas, maka dalam penelitian ini yang dimaksudkan dengan matematika sekolah  adalah matematika yang diajarkan di tingkat satuan pendidikan, mulai dari pendidikan dasar (yaitu SD dan SMP) hingga pendidikan menengah (SMA dan SMK) yang tetap memiliki ciri khas matematika yaitu kajian objek yang abstrak, berpola deduktif dan konsisten dalam sistemnya.

C. MASALAH MATEMATIKA

Masalah adalah suatu situasi atau kondisi (dapat berupa issu/pertanyaan/soal) yang disadari dan memerlukan suatu tindakan penyelesaian, serta tidak segera tersedia suatu cara untuk mengatasi situasi itu. Pengertian “tidak segera” dalam hal ini adalah bahwa pada saat situasi tersebut muncul, diperlukan suatu usaha untuk mendapatkan cara yang dapat digunakan mengatasinya. Bell (1981) memberikan definisi masalah sebagai: “a situation is a problem for a person if he or she aware of its existence, recognize that it requires action, wants of needs to act and does so, ad is not immediately able to resolve the problem”. Suatu situasi dikatakan masalah bagi seseorang jika ia menyadari keberadaan situasi tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut memerlukan tindakan dan tidak dengan segera dapat menemukan pemecahannya. Hayes (dalam Upu: 2003) mendukung pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa suatu masalah adalah merupakan kesenjangan antara keadaan yang sekarang dengan tujuan yang akan dicapai, sedangkan kita tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan tersebut.

D. PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA

Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematika penting seperti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematika dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik.

E. TEORI KEPRIBADIAN

Kepribadian diambil dari terjemahan bahasa Inggris personality dan dari bahasa Latin persona adalah suatu topeng yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan di zaman Romawi. Di sini, berarti para aktor menyembunyikan kepribadiannya yang asli dan menampilkan dirinya sesuai dengan topeng yang digunakannya. Dari sini, perlahan-lahan, kata persona berubah menjadi satu istilah yang mengacu kepada gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompok atau masyarakatnya, dimana kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran sosial (peran) yang diterimanya itu. Kepribadian juga sering dihubungkan dengan ciri-ciri tertentu yang menonjol pada diri individu. (Koeswara: 1991).

F. TIPE-TIPE KEPRIBADIAN

Menurut Jung (dalam Yusuf, S. dan Nurihsan, J: 2008), kepribadian adalah seluruh pemikiran, perasaan, dan perilaku nyata baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Adapun struktur kepribadian manusia terdiri dari 2 dimensi yaitu dimensi kesadaran dan dimensi ketidaksadaran. Kedua dimensi ini saling mengisi dan mempunyai fungsi masing-masing dalam penyesuaian diri. Dimensi kesadaran berupaya menyesuaikan terhadap dunia luar individu. Adapun dimensi ketidaksadaran berupaya menyesuaikan terhadap dunia dalam individu. Batas kedua dimensi ini tidak tetap, dapat berubah-ubah.

Setiap orang mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya. Namun demikian, dalam caranya mengadakan orientasi itu setiap orang berbeda-beda. Bila orientasi terhadap sesuatu itu tidak dikuasai oleh pendapat subjektifnya, maka individu yang demikian itu dikatakan mempunyai orientasi ekstrovert. Bila orientasi ekstrovert ini menjadi kebiasaan, maka individu yang bersangkutan mempunyai tipe kepribadian ekstrovert. Jadi, berdasarkan atas sikap jiwanya, manusia digolongkan menjadi 2 tipe yaitu:

a. Manusia yang bertipe ekstrovert

Orang yang ekstrovert terutama dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia di luar dirinya. Pikiran, perasaan, dan tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Orang bertipe ekstrovert bersikap positif terhadap masyarakatnya, hatinya terbuka, mudah bergaul, dan hubungan dengan orang lain efektif.

Menurut Jung (dalam Feist, J. dan Feist, G: 2010), ekstroversi atau orang dengan tipe ekstrovert mempunyai sikap yang menjelaskan aliran psikis ke arah luar sehingga orang yang bersangkutan akan memiliki orientasi objektif dan menjauh dari subjektifnya. Ekstrovert akan lebih mudah untuk dipengaruhi oleh sekelilingnya dibandingkan oleh kondisi dirinya sendiri. Mereka cenderung untuk berfokus pada sikap objektif dan menekan pada sisi subjektifnya.

b. Manusia yang bertipe introvert

Orang yang bertipe introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu  dunia di dalam dirinya sendiri. Pikiran, perasaan, serta tindakannya terutama ditentukan oleh faktor subjektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, dan kurang dapat menarik hati orang lain.

Jung (dalam Feist, J. dan Feist, G: 2010) memandang bahwa orang yang bertipe introvert mempunyai aliran energi ke arah dalam yang memiliki orientasi subjektif. Introvert memiliki pemahaman yang baik terhadap dunia dalam diri mereka dengan semua bias, fantasi, mimpi, dan persepsi yang bersifat individu. Orang-orang dengan tipe ini akan menerima dunia luar dengan sangat selektif dan dengan pandangan subjektif mereka.

G. KEABSAHAN DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Menurut Sugiyono (2008), reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Dalam penelitian kualitatif, suatu data dikatakan reliabel bila dua atau lebih peneliti dalam objek yang sama menghasilkan data yang sama, atau peneliti yang sama dalam waktu berbeda menghasilkan data yang sama. Oleh karena reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi sehingga jika ada peneliti lain mengulangi atau mereplikasi dalam penelitian pada objek yang sama dengan metode yang sama maka akan menghasilkan data yang sama. Suatu data yang reliable atau konsisten akan cenderung valid, walaupun belum tentu valid. Orang yang berbohong secara konsisten akan terlihat valid, walaupun sebenarnya tidak valid.

III. METODE PENELITIAN

Berkaitan dengan metode penelitian, hal-hal yang diuraikan pada bagian ini adalah: (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) fokus penelitian, (4) instrumen dan teknik pengumpulan data, (5) prosedur pelaksanaan penelitian, dan (6) teknik analisis data.

A. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif berdasarkan pada wawancara berbasis tugas (the task-based interview). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari tipe kepribadian.

B. SUBJEK PENELITIAN

Observasi lapangan yang telah dilakukan  dalam rangka menentukan calon subjek penelitian. Meskipun demikian dalam memilih calon subjek digunakan pula pertimbangan-pertimbangan yang tidak bertentangan dengan aturan pemilihan subjek.

Pemilihan sekolah tersebut didasarkan pada pemilihan subjek penelitian dengan beberapa alasan, yaitu: (1). Merupakan sekolah yang memiliki siswa yang berlatar belakang beragam, dimana Penerimaan Siswa Baru (PSB) didasarkan pada nilai rata-rata Ujian Nasional SMP dan hasil tes, (2). Rata-rata pengalaman belajar siswa di sekolah tersebut cukup bervariasi, (3). Karena untuk tujuan tertentu yaitu merupakan sekolah tempat peneliti bertugas sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan pengamatan yang lebih mendalam terhadap subjek penelitian. Sedangkan pemilihan kelas XI didasarkan pada pertimbangan: (1). Mendukung tujuan khusus pembelajaran matematika untuk Sekolah Menengah Umum antara lain: agar siswa mempunyai pandangan yang lebih luas serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika, bersikap kritis, objektif, terbuka, kreatif, serta inovatif, (2). Siswa SMK lebih mudah untuk diwawancarai dibandingkan bila subjeknya siswa SD ataupun SMP.

C. FOKUS PENELITIAN

Fokus utama peneltian ini adalah mengenai pengkajian deskripsi kemampuan penyelesaian masalah matematika siswa SMK Negeri 1 Pallangga  berdasarkan tipe kepribadian ekstrovert dan tipe kepribadian introvert, sehingga dipilih 1 subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert dan 1 subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung introvert.

D. INSTRUMEN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, karena peneliti merupakan pengumpul data melalui pengamatan dan wawancara mendalam. Sedangkan instrumen pendukung dalam penelitian ini meliputi: Tes Penggolongan Tipe Kepribadian, Tes Penyelesaian Masalah Matematika, Wawancara.

E. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN

  1. Merancang instrumen penelitian dan validasi instrumen oleh ahli.
  2. Orientasi lapangan dan observasi di sekolah (tempat penelitian).
  3. Penentuan subjek penelitian berdasarkan tipe kepribadiannya, yaitu tipe kepribadian ekstrovert dan tipe kepribadian introvert.
  4. Pengumpulan data, meliputi (a) memberikan draft penyelesaian masalah matematika kepada subjek penelitian. Subjek  mengerjakan masalah matematika yang diberikan setelah itu diwawancarai, (b) menganalisis hasil penyelesaian masalah dan wawancara serta menganalisis proses penyelesaian masalah yang dilakukan siswa, dan (c) triangulasi teknik.
  5. Analisis data, meliputi (a) menganalisis hasil penyelesaian masalah matematika yang diberikan setiap nomor dan (b) menganalisis hasil wawancara.
  6. Menyusun deskripsi kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika di  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Pallanga  ditinjau dari tipe kepribadian siswanya.
  7. Menyusun laporan akhir (Tesis). Hasil yang diharapkan adalah memperoleh deskripsi kemampuan siswa menyelesaikan masalah matematika di  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Pallangga, ditinjau dari tipe kepribadian siswanya.

F. TEKNIK ANALISIS DATA

Analisis data adalah proses mencari dan proses menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mengorganisasikan data ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat keseimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Untuk memperoleh data yang dianalisis maka peneliti akan melakukan validasi ahli terhadap 2 draf instrumen yang telah dirancang yaitu: tes penggolongan tipe kepribadian dan tes penyelesaian masalah matematika. Data hasil penyelesaian masalah matematika dan data hasil wawancara dianalisis deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan pada setiap nomor tugas penyelesaian masalah. Proses analisis dilakukan setelah proses wawancara selesai. Adapun data hasil wawancara dilakukan dengan langkah: (1) Reduksi data (data reduction), (2) Pemaparan data (data display), (3) Penarikan kesimpula (conclusion) dan verifikasi.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

a. Proses dan Hasil Penelitian Tahap Pemilihan Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini terdiri atas 63 orang yang merupakan siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa dengan status terdaftar pada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 atau dengan kata lain siswa aktif belajar. Usia partisipan bergerak dari 16 sampai 18 tahun. Jumlah partisipan yang berjenis kelamin perempuan sebesar 26 orang dan yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 37 orang.

Tabel 8. Kategorisasi Tipe Kepribadian

Batas Kategori Frekuensi Persentase Kecenderungan
0 ≤ X ≤ 58,42 13 20,63 % Introvert
57, 69 ≤ X ≤ 76,79 38 60,32 % Keduanya
X  ≥ 76,79 12 19,05 % Ekstrovert
Jumlah 63 100 %

Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian  20,63 % memiliki tipe kepribadian introvert dan  19,05 % memiliki tipe kepribadian ekstrovert, dan sisanya sebesar 60,32 % memiliki tipe kepribadian keduanya, kadang ekstrovert dan kadang introvert. Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa memiliki kecenderungan tipe kepribadian yang campuran, kadang ekstrovert dan kadang introvert. Hal ini menunjukkan bahwa usia responden yang berkisar antara 16 sampai 18 tahun kadang masih mengalami kesulitan dalam menentukan sikap dan pandangannya terhadap masalah, sehingga mereka cenderung memiliki kedua tipe kepribadian yang diteliti dalam penelitian ini. Meskipun demikian, siswa yang mempunyai tipe kepribadian campuran tersebut tidak menjadi fokus dalam penelitian ini. Fokus penelitian ini hanya ditujukan pada siswa dengan tipe kepribadian ekstrovert yaitu sebanyak 19,05 % dan siswa dengan tipe kepribadian introvert sebanyak 20,63 %.

Rekapitulasi hasil pemetaan tipe kepribadian calon subjek penelitian dituangkan pada tabel berikut.

Tabel 9. Hasil Pemetaan Tipe Kepribadian Calon Subjek Penelitian

Kategori Tipe Kepribadian Banyaknya Responden
Tipe Kepribadian Ekstrovert 12 orang
Tipe Kepribadian Introvert 13 orang
Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert 38 orang

Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa dari 63 siswa yang diambil dari 2 kelas diperoleh data mengenai siswa dengan tipe kepribadian ekstrovert sejumlah 12 orang dan siswa dengan tipe kepribadian introvert sejumlah 13 orang. Sedangkan ada sejumlah 38 orang siswa yang berada pada kawasan bertipe kepribadian ekstrovert dan introvert.

Pada pemilihan subjek utama dengan memperhatikan tipe kepribadian yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Subjek utama yang dipilih adalah subjek penelitian yang mempunyai tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert dan subjek penelitian yang mempunyai tipe kepribadian yang cenderung introvert. Adapun subjek utama tersebut adalah.

Tabel 10.  Subjek Utama  Penelitian

Kategori Tipe Kepribadian Nama Responden
Tipe Kepribadian Ekstrovert Muh. Askar
Tipe Kepribadian Introvert Nur Ichsan Hidayat

Berdasarkan pembahasan dari hasil pekerjaan Subjek R1 dan penggalan wawancaranya maka dapat disimpulkan sementara bahwa Subjek R1 dengan tipe kepribadian ekstrovert membutuhkan orang lain dalam menyelesaikan masalah matematika yang dihadapinya. Subjek R1 juga tidak dapat terlepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya dalam menyelesaikan masalah matematika tersebut. Hal ini sejalan dengan sifat dari tipe kepribadian Subjek R1 yang selalu berorientasi pada dunia di luar dirinya sendiri.

Hal ini didukung pula oleh wawancara lanjutan yang dilakukan peneliti terhadap orang-orang yang berada di sekitar Subjek R1. Wawancara ini  dilakukan terhadap guru wali kelas, guru mata pelajaran lain yang mempunyai karakteristik yang mirip dengan matematika yaitu fisika, dan teman-teman terdekat Subjek R1. Dari hasil wawancara tersebut diperoleh bahwa Subjek R1 mempunyai kecenderungan untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Sesuai dengan kriteria tipe kepribadiannya yang cenderung ekstrovert, Subjek R1 tidak dapat lepas dari lingkungan sosialnya. Hal ini membuat Subjek R1 tidak dapat fokus mengerjakan atau menyelesaikan masalah. Dia cenderung tidak dapat duduk tenang sehingga terkesan terburu-buru dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Teman-teman terdekat dengan Subjek R1 mengemukakan bahwa Subjek R1 merupakan pribadi yang ramai dan cenderung punya banyak teman.

Berdasarkan pembahasan dari hasil pekerjaan Subjek R2 dan penggalan wawancaranya maka dapat disimpulkan sementara bahwa Subjek R2 dengan tipe kepribadian introvert cenderung tidak terpengaruh oleh dunia di luar dirinya dan cenderung tidak membutuhkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya, sehingga Subjek R2 dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan baik. Kecenderungan tipe kepribadian yang introvert menuntun Subjek R2 dapat lebih berorientasi pada dirinya sendiri sehingga dapat lebih  berkonsentrasi dalam menyelesaikan masalah matematika yang diberikan. Subjek R2 juga cenderung tidak membutuhkan orang lain karena berdiam diri dan berpikir merupakan sumber energi untuk Subjek R2 yang cenderung introvert.

Hal ini didukung pula oleh wawancara lanjutan yang dilakukan peneliti terhadap orang-orang yang berada di sekitar Subjek R2. Wawancara ini  dilakukan terhadap guru wali kelas, guru mata pelajaran lain yang mempunyai karakteristik yang mirip dengan matematika yaitu fisika, dan teman-teman terdekat Subjek R2. Dari hasil wawancara tersebut diperoleh bahwa Subjek R2 mempunyai kecenderungan untuk lebih tenang dan tidak terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Sesuai dengan kriteria tipe kepribadiannya yang cenderung introvert, Subjek R2 dapat fokus dengan dunia di dalam dirinya. Hal ini membuat Subjek R2 dapat fokus mengerjakan atau menyelesaikan masalah. Dia dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan tenang. Teman-teman terdekat Subjek R2 juga menilai Subjek R2 sebagai pribadi yang tenang dalam bergaul dan menyelesaikan masalah, sehingga terkesan pendiam. Meskipun, ada beberapa teman yang tidak menyukai sifat diamnya ini, tetapi mereka cenderung memuji ketelitian Subjek R2 dalam menyelesaikan masalah yang diberikan kepadanya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

  1. Subjek penelitian yang memiliki tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert membutuhkan orang lain dalam menyelesaikan masalah matematika yang dihadapinya. Subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung ekstrovert kurang dapat menyelesaikan masalah matematika yang diberikan dengan baik dan tidak dapat mengikuti langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya. Hal ini terbukti dengan subjek penelitian dapat memaparkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari masalah, tetapi cenderung tidak memperhatikan keseluruhan masalah secara utuh. Subjek penelitian juga mempunyai rencana strategi penyelesaian tetapi terkadang tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Subjek penelitian dapat menyelesaikan masalah dengan baik setelah mendapat tuntunan dari peneliti. Subjek penelitian juga tidak melakukan tahap melihat kembali karena proses penyelesaian masalah matematika yang diajarkan oleh guru tidak sampai pada tahap melihat kembali.
  2. Subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung introvert cenderung tidak terpengaruh oleh dunia di luar dirinya dan cenderung tidak membutuhkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya, sehingga Subjek penelitian dengan tipe kepribadian yang cenderung introvert  dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan baik, meskipun belum sepenuhnya mengikuti langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya. Hal ini terbukti dengan subjek penelitian dapat memaparkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari masalah dan memperhatikan keseluruhan masalah secara utuh dengan baik. Subjek penelitian juga mempunyai rencana strategi penyelesaian dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik sendiri, tetapi subjek penelitian tidak dapat melakukan pengecekan kembali terhadap jawaban yang diberikan karena pola penyelesaian masalah matematika yang diajarkan oleh guru tidak sampai pada tahap melihat kembali.

B. SARAN

  1. Guru diharapkan mampu menerapkan berbagai pendekatan, metode, dan teknik, dalam pembelajaran matematika yang mampu mengakomodir tipe kepribadian yang dimiliki siswa. Sehingga terjadi peningkatan mutu pembelajaran matematika dan meningkatkan kreativiatas siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Guru diharapkan dapat memperhatikan ciri-ciri khas  dari tipe kepribadian siswa, khususnya ekstrovert dan introvert dalam menyusun draft Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sehingga tipe kepribadian siswa menjadi salah satu unsur yang diperhatikan dalam proses belajar mengajar.
  2. Pihak sekolah diharapkan memberikan perhatian khusus kepada siswa terkait dengan penggolongan siswa ke dalam salah satu tipe kepribadian. Dengan harapan pada guru yang mengajar mampu mengakomodir karakteristik kedua tipe kepribadian tersebut.

Daftar Pustaka

Arikunto, 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Ayoue. 2009. Antara Introvert dan Ekstrovert. (Online) (http://iniblognyasaya.wordpress.com/2009/09/22/antara-introvert-dan-ekstrovert/) Diakses tanggal 17 Maret 2011.

Azwar, 1999. Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Bell, F H. 1981. Teaching and Learning Mathematics (In Secondary School). Second Printin, Wm; C. Brown Pulisher, IOWA.

Biolla, 2009. Efektifitas Pendekatan Open-ended Problem dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Bulukumba. Tesis tidak diterbitkan. Makassar: PPs UNM.

Danim, S. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia

Djamal, D. Y. 2007. Perbedaan Jarak Personal Space Ditinjau dari Tipe Kepribadian (Studi pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar). Skripsi tidak diterbitkan. Makassar: UNM.

Depdiknas. 2002. Teori-Teori Perkembangan Kognitif dan Proses Pembelajaran yang Relevan untuk Pembelajaran Matematika. Pelatihan Terintegrasi berbasis kompetensi.

_________. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Mengah Pertama dan Madrasah Tsanawiah, Jakarta: Depdiknas.

Koeswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: Eresco.

Frieldman dan Rosenman, R. 2010. Tipe Kepribadian. (Online) (http://psikologi.or.id/mycontents/upload/2010/10/tipe-kepribadian1.pdf.) Diakses tanggal 10 Desember 2010.

Haryadi, D. 2007. Modul Matematika untuk SMK Kelas XI. Jakarta: Yudhistira.

Hackz, R. 2009. Ekstrovert vs Introvert. (Online). (http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/ekstrovert-vs-introvert/) Diakses 17 Maret 2011.

Hudoyo, H.1990. Mengajar Belajar Matematika. LPTK Jakarta: Depdikbud.

.2001. Mengembangkan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika. FMIPA UM Malang.

Ismaone. 1988, Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Japar. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran SPLDV Berbasis Masalah dengan Pendekatan Open-ended Problem Kelas VIII SMP. Tesis tidak diterbitkan: PPs UNM.

Feist, J. dan Feist, G. 2010. Teori Kepribadian Edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika.

Lidinillah, 2009.  Strategi Pembelajaran Pemecahan Masalah di Sekolah Dasar. Online (http://abdulmuizlidinillah.files.wordpress.com /2009/03/problem -solving-di-sd1.pdf) Diakses 12 Maret 2010

Lukman, 2008.  Pemecahan Masalah (Problem Solving). (Online) (http://www.lukmanhaydar.co.cc/2009/12/pemecahan-masalah-problem-solving.html) Diakses 27 Pebruari 2010

Marpaung, Y. 1999. Mengejar Ketertinggalan Kita dalam Pendidikan Matematika, Mengutamakan Proses Berpikir dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disampaikan dalam upacara pembukaan program S3 Pendidikan Matematika Universitas Surabaya. 10 September.

Muhkal, M. 2002. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Makassar: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA. UNM.

________. 1999. “Menumbuhkan Kemampuan Menyelesaikan Masalah melalui Proses Belajar Mengajar Matematika.” Jurnal Eksponen Matematika FMIPA UNM. Vol. 2. No. 1. Hlm. 1 – 12.

Moleong, J. L. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nurman. 2008. Deskripsi Kemampuan Siswa SMP dalam Memecahkan Masalah Matematika Openended (Ditinjau dari Perbedaan Tingkat Kemampuan Matematika Siswa). Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA.

Paduppai, D. 2003. Respons Hasil Belajar Mahasiswa Atas Kecerdasan Emosional Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua. Jurnal Eksponen Jurusan Matematika FMIPA UNM Vol. 4 Juli 2003.

Polya, G. 1973. How to Solve It. Second Edition. Princeton, New Jersey: Princeton University Press.

Poppy, Y.  2003. Pendekatan Open-ended, Salah Satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yogyakarta. 28 – 29 Maret.

Rahman, 2009. Profil Pengajuan Masalah Matematika Berdasarkan Gaya Kognitif. Surabaya: PPs UNESA.

Russefendi, 1988. Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Sawada, T. 1997.  Developing Lesson Plan. Dalam J. P. Becker & S. Shimada (Ed.). The Open-ended problem Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics.

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Soedjadi, R. 1999. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Suchaini, Udin. 2008. Analisis Hasil Belajar  Matematika Berdasarkan Gaya Kognitif Guru dan Gaya Kognitif  Siswa Pada Kelas II SMA. (Online). (http://suchaini.wordpress.com). Diakses 22 Desember 2009.

Sudirman. 2005. Cerdas Aktif Matematika. Jakarta: Ganexa Exact.

Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Suhadianto. 2009. Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa untuk Meningkatkan Prestasi. (http://suhadianto.blogspot.com/2009/020pentingnya-mengenal-kepribadian -siswa.html). Diakses tanggal 9 Desember 2010.

Sukino. 2005. Matematika Untuk SMP Kelas VIII. Jakarta:  Erlangga.

Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI.

Tansri, W. 2010. Tipe-tipe Kepribadian Manusia. (Online). (http://msakya.blogspot.com/2010/12/tipe-tipe-kepribadian-manusia.   html). Diakses 28 Januari 2011.

Upu, H. 2003. Problem Posing dan Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika. (Pegangan Untuk Guru, Siswa PPS, Calon Guru, & Guru Matematika). Bandung: Pustaka Ramadhan.

Wahid, B. 2002. “Pendekatan Open-ended problem dalam Pembelajaran Matematika.” Jurnal Eksponen Jurusan Matematika FMIPA UNM. No. 4. hlm. 62 – 72.

Weda, M. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.

Yusuf, S. dan Nurihsan, J. 2008. Teori Kepribadian. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Yosef, I. 2010. Hand Out Perkuliahan Psiokologi. (Online) (http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/mengenal%20tipe%20kepribadian%20dan%20kesadaran%20manusia.pdf). Diakses 10 Desember 2010.

________. 2004. Undang – undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Citra Umbara.

Posted in My Research | 1 Comment

Cooperative Learning Think Pairs Share (TPS) Type with Problem Solving Approach (an Exploration Study by using Trigonometry at Class X SMA Negeri 1 Ujung Loe)

Rahmawati

Hamzah Upu

Nurdin Arsyad

ABSTRACT

This research was explorative-qualitative research, aimed to (1) describing about students’ activity in teaching and learning process through the application of cooperative learning Think Pairs Share (TPS) type by using problem solving approach to comprehending trigonometry, and (2) describing about students’ responses on the applications of cooperative learning TPS type by using problem solving in understanding trigonometry, and (3) taking accurate information about the development of students’ mastery in applying cooperative learning TPS type by using problem solving approach at trigonometry.

Subjects of this research was SMA students at class Xf SMA Negeri 1 Ujungloe 2010/2011 academic year, which consisted of 30 students. The focus of this research was students’ activities, responses, and learning results. Data analysis technique used was qualitative and quantitative analysis. Qualitative data analysis technique was applied on students’ activities and quantitative analysis was on data of learning results test and students’ responses.

The results of this research reveals are; (1) dominant category in think phase, students who have high academic level tend to finish their works independently, students who have medium academic level tend to read learning materials and finish their works independently, while students who have low academic level tend to read other materials and imagine. Dominant category in pair phase, students who have high academic level give aid by explanation and discuss to other students who have medium academic level, students who have high academic level give aid without explanation to low academic level students, while students who low academic level ask aid to the medium academic level students. Dominant category in share level tends to discuss and negotiate among other pair. (2) students’ response during this cooperative learning TPS type by using problem solving approach is positive. (3) the application of cooperative leaning TPS tye by using problem solving approach can increase the mastery of students at class Xf at SMA Negeri 1 Ujungloe in trigonometry materials. This result is indicated from descriptive analysis with average pre-test reaches 18,27 from the ideal score 100 with deviation standard 13,50 and average score at post-test is 74.49 from the ideal score 100 with standard deviation 10,11. The result of analysis is taken information that indicates that there is an increase of significant level of average of students’ trigonometry mastery after learning by applying cooperative learning TPS type by using problem solving approach.

A. Latar Belakang

Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab merupakan fungsi pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Berkaitan dengan hal tersebut, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut seseorang untuk dapat menguasai informasi dan pengetahuan. Dengan demikian diperlukan suatu kemampuan memperoleh, memilih dan mengolah informasi. Kemampuan-kemampuan tersebut membutuhkan pemikiran yang kritis, sistematis, logis, dan kreatif. Seperti dikatakan Wittgenstein (dalam Suriasumantri, 2003: 199) bahwa matematika adalah metode berpikir logis.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pakar pendidikan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa. Namun hingga saat ini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah laporan dari Third International Mathematics and Science Study (TIMSS). tahun 1999 yang merupakan kriteria acuan, rendahnya daya saing murid Indonesia di ajang international (Indonesia diperingkat ke 34 dari 38 negara) menunjukkan betapa lemahnya kemampuan penguasaan matematika di negara kita (Upu, 2004: 77).

Observasi awal yang penulis lakukan di kelas X SMA Negeri 1 Ujungloe dan diskusi dengan guru-guru matematika menunjukkan bahwa rata-rata nilai ulangan harian siswa masih rendah dan pembelajaran juga masih didominasi oleh guru. Dibalik rendahnya hasil ulangan harian siswa, kenyataan dilapangan juga menununjukkan siswa pasif dalam proses pembelajaran.

Sullivan (1992) (dalam Upu, 2004: 78) mengatakan bahwa pembelajaran matematika di kelas pada umumnya masih berpusat pada guru, yang mengakibatkan siswa menjadi malas dan kurang bergairah dalam menerima pelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab kurang berpartisipasinya siswa dalam pembelajaran matematika di kelas, adalah model dan pendekatan yang kurang tepat dalam mengaktifkan siswa, sehingga guru mempunyai peranan yang cukup penting dalam pemantapan proses pembelajaran.

Salah satu pembelajaran matematika yang mengaktifkan siswa selama proses pembelajaran adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut Suherman (2001: 218), dengan menonjolkan interaksi dalam kelompok, model pembelajaran kooperatif dapat membuat siswa menerima siswa lain yang berkemampuan dan berlatar belakang berbeda. Sedangkan menurut Lord (dalam Suradi, 2005: 23), dalam pembelajaran kooperatif peranan guru beralih dari penyaji menjadi fasilisator. Lebih lanjut Lord menyatakan bahwa siswa yang belajar melalui pembelajaran kooperatif lebih bertanggungjawab terhadap pembelajarannya dan siswa lebih banyak memperoleh informasi dibandingkan saat diajarkan dalam kelas tradisional.

Pembelajaran kooperatif telah diyakini menjadi salah satu alternatif dalam memperbaiki kualitas kegiatan pembelajaran matematika. Hasil penelitian Lundgren (dalam Suradi, 2005: 23) bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. Sedangkan hasil penelitian Leiken dan Zaslavsky (dalam Suradi, 2005: 1) menunjukkan bahwa 86,3% waktu yang tersedia untuk proses pembelajaran matematika secara kooperatif digunakan siswa secara aktif berinteraksi dengan siswa lain dan melakukan aktivitas pembelajaran.

Pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share memberikan penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Strategi Think-Pair-Share tumbuh dari penelitian pembalajaran kooperatif. Ini merupakan cara yang efektif untuk merubah pola diskursus dalam kelas. Strategi ini menentang asumsi bahwa seluruh resitasi dan diskusi perlu dilakukan dalam setting seluruh kelompok. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.

Penulis memilih pembelajaran kooperatif tipe TPS sebagai model untuk mengajarkan materi trigonometri. Pemilihan pokok bahasan ini karena tiga alasan. Pertama, materi trigonometri marupakan salah satu materi yang dianggap sulit oleh siswa, ini diperoleh berdasarkan pengalaman peneliti tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada materi trigonometri masih rendah, terlihat dari perolehan hasil ulangan harian pada KD tersebut rata-rata kurang dari 50% mencapai nilai KKM. Kedua, Materi trigonometri banyak yang berhubungan dengan aktivitas manusia atau sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat khususnya siswa. Ketiga,  Banyak masalah yang ada sekitar lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa yang berkaitan dengan materi trigonometri untuk dipecahkan, hal ini memungkinkan siswa membangun sendiri atau secara berkelompok tentang konsep matematika yang berkaitan dengan materi  trigonometri.

Berdasarkan tiga alasan tersebut maka dalam proses pembelajaran matematika sekolah perlunya menerapkan proses pembelajaran misalnya belajar kelompok.  Dalam belajar kelompok siswa dapat bertanggung jawab atas tugas yang diberikan baik bertanggung jawab secara perorangan maupun secara berkelompok dan secara tidak langsung diantara siswa yang satu dengan lainnya saling mengingatkan jika mendapatkan kesulitan dalam belajar matematika. Hal ini perlunya menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan tertentu. Adapun pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivis adalah pembelajaran kooperatif.

Salah satu usaha dalam peningkatan kualitas pengajaran adalah penggunaan pendekatan yang tepat . Sebagaimana dengan pendekatan lain pada umumnya pendekatan pemecahan  masalah (problem solving) dalam matematika telah menarik perhatian. Pemecahan masalah secara kelompok merupakan salah satu cara untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.

Siswa memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah matematika masih rendah karena sebagian besar siswa dapat menyelesaikan soal tetapi tidak mampu menjelaskan  jawaban yang mereka berikan. Sebagian besar siswa hanya mampu mengerjakan soal yang sudah diberikan contoh penyelesaian, siswa hanya mengikuti langkah-langkah yang diberikan guru pada contoh soal. Siswa tidak dapat menjelaskan alasan dari setiap langkah yang mereka kerjakan. Para siswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal cerita. Mereka masih sulit memahami apa yang diketahui dan ditanya dari soal.

Berdasarkan latar belakang, penulis bermaksud melakukan penelitian dengan judul “ Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) dengan Pendekatan Problem Solving (Studi Eksplorasi  dalam Pembelajaran Trigonometri Kelas X SMA Negeri 1 Ujungloe)”.

B. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan  latar belakang masalah, maka pertanyaan penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana deskripsi aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving di SMA Negeri 1 Ujungloe dalam memahami materi trigonometri?
  2. Bagaimana respons siswa yang diajar dengan  menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving di SMA Negeri 1 Ujungloe dalam memahami materi trigonometri?
  3. Sejauhmana peningkatan penguasaan trigonometri siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving siswa kelas Xf SMA Negeri 1 Ujungloe?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan menerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving di SMA Negeri 1 Ujungloe dalam memahami materi trigonometri.
  2. Mendeskripsikan respons siswa terhadap pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving di SMA Negeri 1 Ujungloe dalam memahami materi trigonometri.
  3. Mendapatkan informasi yang akurat tentang peningkatan penguasaan trigonometri siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving siswa kelas Xf SMA Negeri 1 Ujungloe?

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut.

  1. Untuk siswa: dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan dapat meningkatkan kinerja siswa dalam memecahkan masalah matematika, khususnya berdasarkan langkah problem solving.
  2. Untuk guru: memberikan alternatif dalam memvariasikan model, pendekatan pembelajaran dan meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika.
  3. Untuk Dinas Pendidikan: sebagai bahan masukan bagi para pengambil kebijakan dalam memberikan arahan pengembangan pembelajaran matematika di sekolah.
  4. Untuk penulis: dapat meningkatkan pengetahuan pendidikan matematika penulis dan dapat digunakan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya.

E. Batasan Istilah

Untuk memperoleh persamaan persepsi, dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang perlu dijelaskan sebagai berikut.

  1. Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah suatu model pembelajaran yang digunakan oleh guru dengan langkah-langkah berikut: (a) Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, (b) guru meminta memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri, (c) guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain, (d) guru meminta kepada pasangan untuk berbagi seluruh kelas.
  2. Pendekatan problem solving yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pendekatan  pembelajaran berbasis keterampilan menyelesaikan masalah matematika menurut George Polya.
  3. Pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah seluruh rangkaian kegiatan siswa dan guru yang dirancang dengan cara menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving.
  4. Aktivitas siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah perilaku-perilaku yang ditampilkan siswa beserta hasil-hasil belajar yang dicapai siswa selama proses pembelajaran, baik dalam  tugas (on-task) maupun di luar tugas (off-task) pada setiap tahap pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving.
  5. Respons siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pendapat siswa tentang komponen-komponen kegiatan pembelajaran.
  6. Penguasaan siswa yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pengetahuan siswa terhadap materi trigonometri yang diukur dengan tes  awal yang diberikan sebelum mengikuti pembelajaran dan tes akhir yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan pembelajaran melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving pada materi trigonometri.
  7. Trigonometri yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah materi matematika yang diajarkan pada kelas X SMA semester 2 sesuai dengan standar isi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

F. Tinjauan Pustaka

Salah satu model pembelajaran yang diharapkan dapat memfasilitasi perbedaan kemampuan siswa dan aktivitas aktif siswa adalah pembelajaran kooperatif tipe TPS yang bersumber dari filsafat konstruktivisme. Pembelajaran kooperatif tipe TPS diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik yang berkemampuan rendah, sedang, maupun berkemampuan tinggi. Di samping itu, pembelajaran kooperatif tipe TPS berdampak pada peningkatan keterampilan sosial dan sikap gotong royong yang merupakan karakteristik utama masyarakat Indonesia.

Pendekatan problem solving merupakan salah satu sistem kriteria penggunaan pola pikir matematik atau kriteria berpikir matematik dan sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika.

Pembelajaran yang kondusif, mendorong siswa untuk kreatif untuk memecahkan masalah dan mendorong siswa untuk mendiskusikan perbedaan-perbedaan pendapat dengan mengurangi tekanan terhadap respons siswa yang harus tepat. Jika hal ini diterapkan pada pembelajaran matematika sebagai suatu proses konstruksi, dan abstraksi terhadap konsep-konsep matematika dengan memaksimalkan pemecahan masalah matematika melalui pembelajaran kooperatif tipe TPS. Dengan demikian, penelitian ini dibatasi pada pendekatan problem solving dalam pembelajaran matematika berbasis kooperatif tipe TPS, dengan harapan memberikan kontribusi dalam peningkatan proses pembelajaran dan pencapaian kompetensi belajar siswa.

G. Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini yang diselidiki adalah suasana/kondisi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran materi trigonometri dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving. Subyek penelitian diberikan perlakuan kemudian dilakukan pengamatan terhadap gejala yang muncul pada proses pembelajaran sehingga penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian kualitatif bersifat eksploratif.

H. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berdasarkan hasil temuan selama penelitian diperoleh informasi bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving secara umum dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi trigonometri. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan sebanyak 26 siswa (87%) yang mencapai nilai ketuntasan minimal mata pelajaran matematika yaitu 65.

Analisis data hasil belajar matematika siswa pada materi trigonometri pada pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving yang diamati menunjukkan bahwa nilai tes awal rata-rata 18,27 sedang nilai hasil belajar sesudah pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving rata-rata 74,49. Tes perkembangan yang diberikan kepada siswa, tampaknya berpengaruh dalam hal membuat siswa dalam suatu kelompok untuk bekerja dengan baik, sehingga cenderung untuk meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini berarti bahwa pembelajaran kooperatif dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai ketuntasan klasikal serta nilai hasil belajar antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah setelah pembelajaran kooperatif memiliki variasi yang semakin kecil. Temuan ini menunjukkan pembelajaran kooperatif tipe TPS memberikan kontribusi kepada siswa untuk meningkatkan hasil belajar matematika.

Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini juga, penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving juga dapat mengoptimalkan aktivitas siswa selama pembelajaran. Secara keseluruhan semua siswa aktif mengikuti pembelajaran, karena mereka dituntut  untuk menyelesaikan  soal pada LKS. Perilaku-perilaku yang ditampilkan oleh siswa yang teramati dari empat pertemuan  menunjukkan bahwa semua siswa dari ketiga kategori terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Perbedaaannya bagi siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dapat mengerjakan LKS dengan cepat, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk membantu temannya. Aktivitas ini mengindikasikan bahwa siswa tersebut memahami konsep dan mampu mentransfer pengetahuannya kepada teman. Siswa yang mempunyai kemampuan sedang, menyelesaikan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan, namun masih membutuhkan sharing dengan teman. Sementara bagi siswa yang mempunyai kemampuan rendah membutuhkan waktu yang lebih banyak dan bimbingan yang lebih intensif baik dari guru maupun dari teman.

Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh pola umum interaksi antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah adalah berpikir bersama atau berdiskusi. Hal ini dapat dipahami, karena sudah tertanam dalam benak siswa bahwa pembelajaran kooperatif berarti berpikir bersama atau berdiskusi.

Pola interaksi personal selain berdiskusi, adalah dalam hal membantu dan meminta bantuan. Kategori dominan interaksi siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi memberi bantuan dengan penjelasan dan berpikir bersama kepada siswa yang mempunyai kemampuan akademik sedang. Kategori dominan interaksi siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi memberi bantuan tanpa penjelasan kepada siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah dan berpikir bersama. Kategori dominan interaksi siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah meminta bantuan kepada siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah dan berpikir bersama.

Aktivitas siswa selain interaksi personal yang dominan pada setiap pertemuan adalah menyelesaikan masalah secara mandiri. Aktivitas ini semakin meningkat pada setiap pertemuan, hal ini memberikan gambaran bahwa semakin lama siswa belajar kelompok maka kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan masalah semakin meningkat.

Siswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran kooperatif dan menunjukkan aktivitas aktif dalam berinteraksi dalam kelompok, terlihat bahwa siswa tidak canggung dalam bekerja sama, saling member, saling menerima dan saling member dukungan. Hal ini didukung oleh Nur (2005) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat memotivasi seluruh siswa, memanfaatkan seluruh energi sosial siswa, saling mengambil tanggung jawab. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Hulten dan De Vries (dalam Slavin, 1995) yang menemukan bahwa dengan belajar kooperatif membuat anggota kelompok bersemangat.

Dalam pembelajaran kooperatif tipe TPS kualitas proses pembelajaran dapat ditingkatkan karena dengan perangkat pembelajaran yang dirancang, guru tidak lagi harus menyajikan informasi sebanyak-banyaknya. Perangkat pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat membangun sendiri pengetahuan lewat pengalamannya sendiri. Dalam setiap pembelajaran, siswa selalu berusaha ingin menjawab permasalahan yang dihadapi. Akibatnya iklim pembelajaran menjadi kondusif untuk belajar melalui pengalaman sendiri yang berpusat pada siswa. Model pembelajaran yang demikian menyebabkan siswa belajar secara antusias.

Berdasarkan hasil temuan melalui angket yang diberikan menunjukkan bahwa siswa mempunyai respons positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving. Respons positif yang ditunjukkan siswa diindikasikan juga dari antusiasme mereka pada saat pembelajaran dan keaktifan yang ditunjukkan selama pembelajaran.  Dengan respons positif yang diberikan siswa selama pembelajaran menunjukkan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving dapat menciptakan kondisi psikhis dan fisik siswa yang kondusif untuk belajar.

I. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving dalam memahami materi trigonometri pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Ujungloe dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Aktivitas siswa yang teramati adalah interaksi personal dan selain interaksi personal.
    1. Kategori dominan pada tahap think. Siswa  yang mempunyai kemampuan awal tinggi cenderung menyelesaikan masalah secara mandiri, siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang cenderung membaca materi ajar dan menyelesaikan masalah secara mandiri sedangkan siswa yang mempunyai  kemampuan awal rendah cenderung membaca sumber lain dan melamun.
    2. Kategori dominan pada tahap pair. Siswa  yang mempunyai kemampuan awal tinggi memberi bantuan dengan penjelasan dan berdiskusi kepada siswa yang mempunyai awal sedang, siswa  yang mempunyai kemampuan awal tinggi memberi bantuan tanpa penjelasan kepada siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah, sedangkan siswa  yang mempunyai kemampuan awal rendah meminta bantuan kepada siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang.
    3. Kategori dominan pada tahap share. Kecenderungan siswa berdiskusi atau bernegosiasi antara semua pasangan.
    4. Siswa menunjukkan respons positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving.  Hal ini diindikasikan oleh hasil angket dengan presentase rata-rata respons yang diberikan siswa dari semua indikator diatas 75 %.  Respons positif siswa juga dapat diindikasikan dari antusiasme dan keaktifan siswa selama mengikuti pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kooeratif tipe TPS dengan pendekatan problem solving.
    5. Penguasaan siswa pada materi trigonometri pada pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving yang diamati menunjukkan bahwa nilai tes awal rata-rata 18,27dari skor ideal 100 dan standar deviasi 13,50  sedang nilai tes sesudah pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan pendekatan problem solving rata-rata 74,49 dari skor ideal 100 dan standar deviasi 10,11. Hal ini berarti bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan penguasaan siswa pada materi trigonometri, memfasilitasi siswa untuk mencapai ketuntasan klasikal serta nilai hasil belajar antara siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah setelah pembelajaran kooperatif memiliki variasi yang semakin kec.

J. Daftar Pustaka

Arends. R.I. 2001. Learning to Teach (5th ed). Boston: McGraw-Hill.

Depdiknas. 2006. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA). Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Buku Rapor siswa Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Dinas Pendidikan Nasional.

Dimyati dan Mudjiono. 1990. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Proyek pembinaan dan peningkatan mutu tenaga kependidikan, Direktorat jenderal pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Djadir. 2005. ”Studi Eksplorasi Keterlaksanaan Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe STAD di SMP”. Jurnal Ilmu Pendidikan. Makassar: LPMP Makassar.

Djamarah, Syaif Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang.

2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang.

Ibrahim, Muslimin,dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA University Press.

Ismail. 1995. Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Jakarta: Proyek DIKTI.

Johnston. 1978. Plane Trigonmetry A New Approach. Englewood: Prentice-Hall.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Munir, Baderel. 2001. Dinamika Kelompok. Unsri: Universitas Sriwijaya.

Negoro B. Harahap. 2005. Ensiklopedia Matematika. Bogor: Ghalia Indonesia.

Nur, M. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains dan Matematika Sekolah UNESA.

Nurdin. 2007. Model Pembelajaran Matematika yang Menumbuhkan kemampuan Metakognitif untuk Menguasai Bahan Ajar. Disertasi tidak diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA.

Nurhadi. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Malang.

Rakhmat, Jalaluddin. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ramlan. 2010. Proses Berpikir Pseudo dalam Menyelesaikan Soal-Soal Limit Fungsi berdasarkan Gaya Kognitif Mahasiswa. Tesis  tidak diterbitkan. Makassar: PPs UNM Makassar.

Ratumanan, T. G. 2004. Belajar dan Pembelajaran (Edisi 2). Surabaya: UNESA University Press.

Ruslan. 2002. “Membangun Pemahaman Konseptual dan Prosedural Siswa Melalui Pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem Solving) Dalam Bidang Matematika” Jurnal Alumni vol 7 No. 2- Thn. 2002. Makassar: UNM Makassar.

Russefendi, E.T. 1988. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung Tarsito.

1991. Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

Shadiq, F. 2000. Pembelajaran Matematika Aktif Efektif (Metode Pemecahan Masalah). Yogyakarta: PPPG Matematika.

Slavin, R.E. 1995. Cooperatif Learning: Theory, Research, and Practice (2nd ed). Boston: Allyn and Bacon.

Soedjadi. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia: Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas.

Sudjana. 2008. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar Metode Statistika. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Sujono. 1988. Pengajaran Matematika Sekolah Menengah, Jakarta: Depdiknas.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta Bandung.

Suherman. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika. Bandung JIC. UPI.

2003. Pendekatan Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung:  Universitas Pendidikan Indonesia.

Sumarmo,U., Dedy, E., dan Rahmat. 1994. Suatu Alternatif Pengajaran untuk Meningkatkan Pemecahan Masalah Matematika pada Guru dan Siswa SMA. Laporan Hasil Penelitian FPMIPA IKIP Bandung.

Suradi. 2005. Interaksi Siswa SMP dalam Belajar Matematika Secara Kooperatif. Disertasi Doktor tidak diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA Surabaya.

Suriasumantri, J. 2003. Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tiro, Arif. 2010. Cara Efektif Belajar Matematika. Makassar: Andira Publisher.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Kencana Prenada.

Upu, Hamzah. 2003. Problem Posing dan Problem Solving dalam Pembelajaran matematika. Bandung : Pustaka Ramadhan.

2004.  Mensinergikan Pendidikan Matematika dengan Bidang Lain. Makassar: Pustaka Ramadhan.

Widyantini. 2006. Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif. Yogyakarta: PPPG Dirjen PMPTK Depdiknas

Posted in My Research | Leave a comment

Students’ Ability Description On Solving Mathematics Problem At SMK Negeri 1 Pallangga Kabupaten Gowa Considering Personal Types

Anita

Hamzah Upu

Muhammad Jufri.

ABSTRACT

This research was qualitative descriptive one, conducted at  SMK Negeri 1 Pallangga. This study aimed to describe an ability of students in solving mathematics problems based on Personal Types. The instrument used in this study were (1) Personality type test, (2) tests the ability in  solving mathematics’s problem, and (4) interviews through unstructured task-based.

The results of this study are (1) Subjects of the research with extrovert type of personality needs someone else to help him solved his mathematic’s problem. Subjects of the research with extrovert type of personality has less ability to solved mathematic’s problem and can not follow the solving problem’s  step by Polya. This subject can explain about what the task knows and asks, but mostly didn’t pay attention with the whole taks. This subject also has a plan to selved the problems but often didn’t uncertain with his answers. This subject can solved the problems well after getting the instruction from the researcher, (2). Subjects of the research with introvert type of personality tend not to be affected by an external world and almost didn’t need someone else to help him to solved his mathematic’s problem, so subjects of the research with introvert type of personality  can solved his mathematic’s problem well, eventhough he didn’t follow the whole of solving problem’s step by  Polya. This subject can explain about what the task knows and asks dan pay attention well to the whole task. This subject also has a plan to selved the problems, but he can’t make some review to his own answers.

Continue reading

Posted in Math Education | Leave a comment

Description Of Students Mathematics Problem Posing Based On VAK Learning Styles (Visual, Auditory, Kinesthetic) Class X SMAN 1 Binamu Jeneponto District

Arif Tirtana

Hamzah Upu

Hisyam Ihsan

ABSTRACT

This research was a qualitative research aimed at describing mathematics problem posing based on VAK learning styles (visual, auditory, and kinesthetic). In collecting data, this research used triangulation techniques. The data was collected while checking the credibility of the data with various techniques for gathering data of the same subjects. The objectives of this research were: (i) describing the students’ mathematics problem posing with visual learning style; (ii) describing the students’ mathematics problem posing with auditory learning style; (iii) describing the students’ mathematics problem posing with kinesthetic learning style. The research results showed that: (1) the subjects AKS and EYK, as respondents in visual modality were able to optimize their learning style and could be categorized as fair in problem posing quality. This could be proved with the variation of questions posed by the subjects. Even though, there were still questions in the statement and unrelated question froms to the mathematics questions, but the subjects had been able to pose varied questions and already showed new data despite the data in the given information. (2) Subjects MHI and AAL, as respondents in auditory modality were able to comprehend the given information. They could be categorized as fair in problem posing quality. It can be proved with the variation of questions posed in problem posing test. Even though there were still unanswerable mathematics questions posed but the subjects still could pose varied questions and already showed new data despite the data in the given information. Besides the subjects MHI and AAL were able to vary the questions by task, relation and assumption elements which could be viewed from the syntactic structures relationship. (3) Subjects DNH and AFR, as respondents in kinesthetic modality could grasp the information, where he had been able to pose the varied questions; he already showed the new data despite the data in the given information. Furthermore, he was categorized as low in problem posing quality. The subject DNH looked quite different, she was categorized as low in problem posing, she could not show new data. From its syntactic structures relationship, she still could not show relation and assumption elements of his questions.

Continue reading

Posted in Math Education | Leave a comment

DEVELOPING OF BIOLOGY PACKAGES USING MOODLE APPLICATION

By:

SURIADI LONGSONG

HAMZAH UPU

MUHAMMAD DANIAL

Abstract

The existence of internet facilities allows the development of learning packages using MOODLE application. Based and background, the problems the practical and effective by using MOODLE application; how to design biological learning packages by using MOODLE aplication.

This reseach was the Development Reseach, wich adopted 4-D model Thiagarajan, Semmel and Semmel (1974). The subjects of the reseach were the grade XI students of International program at SMA 1 Palopo in academic year 2010/2011. The technique of data collection was drawn from the experts’ validation of learning packages and research instrument, checklist observation, achievement test and students’ responses questionnaire which then analyzed quantitatively.

The learnig packages wihch were being developed Including Lesson Plans, Students’ Book, Students Worksheet. The topic were being presented by using power point based on web moodle aplication. After the validation phase, the learning packages obtained were in the range of valid category (3.5≤M≤5) and extremely valid category (4.5≤M≤5) with ideal value of 5. The practicality of the learning packages on each aspect was in the range beetwen 1.9-2 from the completely done category with ideal value of 2 the effectivenes of the packages can be proved from the classical students exhaustiveness which 89,02% of the students’ of through with the score above the criteria of exhaustiveness (≥75) and the standart deviation of 9,04. The biologycal learning packages using MOODLE application made the students more active in the learning process. The result can be seen from the 3 of 6 categories of the students’activities which observed with category 2,3,and 4 as the main reqruitment in order to meet the tolerance interval. The MOODLE application software was supported by XAMPP software 1.7.3 version, and the MOODLE application software 1.9 version could be accessed at url http://localhost/adimoodle at SMA Negeri 1 Palopo area.

Key Word              : Learning packages, Moodle application, Development reseach Lesson Plans, Students Book, Student Worksheet, XAMPP software.

Continue reading

Posted in My Research | Leave a comment

DEVELOPING OF BIODIVERSITY LEARNING PACKAGES THAT FOSTERS METACOGNITIVE ABILITY

Andi Lalak

Hamzah Upu

A.  Mushawwir Taiyeb

Abstract:

ANDI LALAK. 2011. Developing of Biodiversity Learning Packages that Fosters Metacognitive Ability (supervised by Hamzah Upu and A. Mushawwir Taiyeb).

This study aimed at knowing (1) the development process of Biodiversity learning packages which was valid, practical, and affective and (2) the quality of biodiversity learning packages that fosters metacognitive ability. This study was Research and Developing with limited dissemination aimed at developing learning packages that fosters metacognitive ability which covered lesson plan, student’s work sheet, and student’s book. The subject was 19 grade XA student’s at SMAN 1 Masamba in North Luwu. The development procedure employed was 4D (4P) model by Thiagarajan consisted of four stages, namely limitation stage, planning stage, development stage, and dissemination stage. The dissemination was conducted in MGMP forum. The Biodiversity learning packages tha fosters metacognitive ability had been developed, validated, tested, and had several revisions in order to obtain a realiable product.

The result shows that (1) student’s activities in all learning sessions was in ideal time interval tolerance as expected, (2) teacher’s competence in managing learning was in extremely high category, (3) teachers were able to implement learning packages with the status of implemented completely, (4) student’s response on learning, student’s work sheet, and student’s book that fosters metacognitive ability all were positive, (5) the average score of student’s learning  achievement was 77.3 from the ideal score 100 with standard deviation 6.362. The mastery of learning was 89.47% which was 17 out of 19 student’s, (6) student’s metacognitive ability was in high category with the average 0.69 with the pre-test and post-test growth 0.14, and (7) the developed learning packages that fosters metacognitive ability fulfilled the criteria of  valid, practical, and effective.

Keywords: learning packages, metacognitive, valid, practical, and effective. Continue reading

Posted in My Research | Leave a comment

DEVELOPING LEARNING PACKAGES OF ECOSYSTEM TOPIC THROUGH COOPERATIVE LEARNING ON THE TYPE OF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION FOR JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS

Ninah Wahyuni Amaliah

Hamzah Upu

Hamka

Abstract:

The research question of this study was whether or not the developed learning packages of ecosystem topic through cooperative learning on the type of Student Team Achievement Division for Junior High School Students was valid, practical, and effective. The design of the research was Research and Development Design. This research aimed at developing learning packages of ecosystem topic through cooperative learning on the type of Student Team Achievement Division which was valid, practical, and effective. The learning packages consisted of (1) lesson plan, (2) students’ book and (3) students’ worksheet. The model used to develop the learning packages was based on 4-D model (Thiagarajan, Semmel&Semmel, 1974) which consisted of defining, designing, developing, and disseminating. There were five steps of defining phase, they were (1) pre-post analysis, (2) students analysis, (3) material analysis, (4) task analysis, and (5) specification of learning goal. The designing phase consisted of: (1) test construction, (2) media selection, (3) form selection, and (4) pre-design prototype I (package and instrument). In the developing phase, the prototype I was validated by experts. The result of the validation was used as an input for the improvement of prototype II. Then, the prototype II was disseminated.

This research was conducted for the students of class VII1 of SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara. After validating and disseminating the learning packages, it was concluded that the learning packages were valid, practical, and effective. Therefore, it is usable in biology subject. The results of this study shows of (1) the mean score gained by the students in the summative test of 81.09 from the ideal score 100 with 6.058 standard deviation, (2) all of the students’ activities were categorized into ideal time, (3) the level of teachers’ ability in managing the classroom was very high with the mean score of 4.5 from the ideal score 5 with 0,15 standard deviation ; it means that teachers can maintain their performance, (4) the students’ response was positive and (5) the students’ activities in cooperative learning focused on completing the worksheet and having discussion with other students. The students’ academic ability in learning cooperatively was inclined to improve. Suitable cooperative learning packages were obtained after following all the phases.

Key words: Learning Packages, Student Team Achievement Division, valid, practical,  and effective.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan dan pembelajaran menjadi salah satu peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Dengan adanya proses pembelajaran yang berkualitas maka akan  melahirkan sumber daya manusia yang juga berkualitas. Sejalan dengan hal ini maka pemerintah senantiasa mengadakan penyempurnaan kurikulum, penyediaan buku-buku bermutu, dan peningkatan pengetahuan guru melalui pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Berdasarkan hasil penelitian Hidayanto (1998), menyatakan bahwa “fenomena rendahnya mutu pembelajaran disebabkan oleh guru dalam memilih metode dan strategi pembelajaran” karena itu peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas pembelajaran, dan peningkatan kualitas pembelajaran dapat ditempuh dengan meningkatkan  pengetahuan tentang merancang metode-metode pembelajaran yang lebih efektif, efisien, dan memiliki daya tarik.

Pengembangan paket pembelajaran merupakan salah satu upaya untuk memecahkan masalah belajar. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, pembelajaran mata pelajaran biologi di beberapa sekolah  belum menggunakan bahan ajar atau buku yang dirancang khusus untuk keperluan proses pembelajaran. Karena itu perlu untuk merancang dan mengembangkan suatu paket pembelajaran biologi.

Salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling mudah dilaksanakan  adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Student Team Achievement Division adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang lebih sederhana dibandingkan dengan model-model lain pada kooperatif. Model  pembelajaran  kooperatif tipe  STAD  dalam   pelaksanaannya   meliputi  lima    komponen   pokok,   yaitu : (1) presentasi kelas,        (2) kerja kelompok, (3) kuis atau tes dan (4) skor kemajuan individual (5) rekognisi tim (Slavin, 2008: 143).

Pemilihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran ekosistem  didasarkan pada pertimbangan bahwa materi ekosistem cocok dengan pembelajaran kooperatif  STAD, siswa diharapkan menemukan konsep ekosistem tersebut dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga konsep-konsep penting dalam ekosistem tertanam kuat dalam benak siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD menekankan pada penemuan konsep melalui kelompok kecil. Dengan model pembelajaran kooperatif STAD diharapkan dapat memacu para siswa untuk bekerja sama, saling bertukar pendapat, berdiskusi, saling menerima satu sama lain dari perbedaan kemampuan dan latar belakang yang berbeda dalam memecahkan masalah secara kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian  ini  adalah :”Apakah  perangkat   pembelajaran   materi  ekosistem yang dikembangkan  dengan  penerapan   model  pembelajaran  kooperatif   tipe   Student Teams Achivement Division untuk siswa SMP memenuhi   kriteria   valid,  praktis dan efektif ?”

C.  Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran materi ekosistem dengan penerapan model pembelajaran kooperatif  tipe  Student Teams  Achivement Division untuk  siswa SMP yang valid,  praktis dan efektif .

D.  Manfaat Penelitian

  1. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai contoh perangkat pembelajaran ekosistem yang dapat memberikan beberapa alternatif kepada guru untuk memilih model pembelajaran yang diinginkan, dalam hal ini model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achivement Division (STAD).
  2. Menjadi motivasi semua guru yang ingin mengembangkan perangkat model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achivement Division (STAD).
  3. Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar biologi sehingga pola pembelajaran dapat berpusat kepada siswa dan guru bertindak sebagai motivator.

E. Batasan dan Pengertian Istilah

1. Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Perangkat yang dimaksud terdiri atas rencana pelaksanaan  pembelajaran, buku siswa, dan lembar kegiatan siswa.

  1. Pengembangan perangkat adalah suatu proses untuk memperoleh perangkat pembelajaran.
  2. Menilai  kualitas  perangkat  pembelajaran penulis merujuk pada kriteria  kualitas kurikulum yang dikemukakan oleh Nieveen (dalam Nurdin, 2007),  yaitu:                    (a) validitas, (b)  keefektifan, dan (c)  kepraktisan.
  3. Valid: perangkat dikatakan valid jika penilaian ahli menunjukkan bahwa pengembangan perangkat tersebut dilandasi oleh teori yang kuat dan memiliki konsistensi internal, yakni ada keterkaitan komponen dalam perangkat.
  4. Praktis: perangkat dikatakan praktis jika menurut hasil pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran dikelas termasuk dalam kategori baik atau sangat baik.
    1. Efektif: perangkat dikatakan efektif jika memenuhi 3 dari 4 indikator, tetapi indikator 1 harus terpenuhi. Indikator tersebut: (1) ketercapaian hasil belajar, (2) aktivitas siswa, (3) respon siswa, (4) keterlaksanaan perangkat.
    2. Aktivitas siswa adalah kegiatan atau aktivitas siswa yang relevan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dilakukan oleh siswa sesuai dengan yang tercantum dalam lembar pengamatan yang dicatat oleh pengamat selama pembelajaran.
    3. Kemampuan guru mengelola pembelajaran adalah hasil penilaian yang dilakukan oleh pengamat sesuai dengan yang tercantum dalam lembar pengamatan selama pembelajaran.
    4. Keterlaksanaan perangkat pembelajaran adalah hasil penilaian yang dilakukan oleh pengamat sesuai dengan yang tercantum pada lembar pengamatan selama pembelajaran.
    5. Respon siswa adalah tanggapan siswa terhadap:(a) pelaksanaan pembelajaran ekosistem dengan penggunaaan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achivement Division, dan (b) perangkat pembelajaran yang meliputi: RPP, Buku siswa dan LKS.

11. Ekosistem  adalah  tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh, menyeluruh dan saling memengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas dan produktivitas lingkungan hidup (UUD RI Nomor 32, 2010:8)

12. Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achivement Division (STAD) ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-6 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi,  kegiatan kelompok,  kuis dan penghargaan kelompok.

II. KAJIAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif merupakan model pengajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan model pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa (Amri, 2010:67). Terdapat 6 langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif. Keenam tahap model pembelajaran kooperatif itu dirangkum pada Tabel 2.1 berikut ini:

Tabel 2.1 Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru
Fase – 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Fase – 2

Menyajikan informasi

Fase – 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Fase – 4

Membimbing kelompok

bekerja dan belajar

Fase – 5

Evaluasi

Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Guru mencari cara-cara untuk menghargai

baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

( Sumber:  Amri,  2010:92)

B. Variasi atau Tipe Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran  kooperatif  menurut Arends (dalam Ibrahim 2000), dikenal  adanya   beberapa macam tipe yaitu  STAD, Jigsaw,  Investigasi Kelompok, dan Pendekatan Struktural .

Tabel 2.2 Perbandingan 4 tipe dalam model pembelajaran kooperatif

Pembeda STAD Jigsaw Investigasi Kelompok Pendekatan Struktural
Tujuan kognitif Informasi akademik sederhana Informasi akademik sederhana Informasi akademik tingkat tinggi dan keterampilan inkuiri Informasi akademik sederhana
Tujuan sosial Kerja kelompok dan kerja sama Kerja kelompok dan kerja sama Kerja sama dalam kelompok kompleks Keterampilan kelompok dan keterampilan sosial

Struktur tim

Kelompok belajar heterogen dengan 4-6 orang anggota

Kelompok belajar heterogen dengan 5-6 orang anggota menggunakan pola kelompok asal dan kelompok ahli

Kelompok belajar heterogen dengan 5-6 anggota homogen

Bervariasi, berdua, bertiga, kelompok dengan 4-5 orang anggota

Pemilihan Topik

Biasanya

Guru

Biasanya Guru

Biasanya Siswa

Biasanya Guru

Tugas utama Siswa dapat menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya Siswa mempelajari materi dalam kelompok ahli kemudian membantu anggota kelompok asal mempelajari materi itu Siswa menyelesaikan inkuiri kompleks Siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan secara sosial dan kognitif
Penilaian Tes mingguan Bervariasi dapat berupa tes mingguan Menyelesaikan proyek dan menulis laporan, dapat menggunakan tes essay Bervariasi

Pengakuan

Lembar pengetahuan dan publikasi lain Publikasi lain Lembar pengakuan dan publikasi lain Bervariasi

(Sumber: Elywati,  2008:16-17)

C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Menurut Slavin (2010:11), dalam STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar empat atau enam orang yang merupakan campuran menurut tingkat kemampuan, jenis kelamin, ras maupun etnik. Guru menyajikan pelajaran dan kemudian siswa bekerja di dalam kelompoknya masing-masing untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok telah menguasai pelajaran yang diberikan. Kemudian, siswa melaksanakan tes atas materi yang diberikan dan mereka harus mengerjakan sendiri tanpa bantuan siswa lainnya. Poin untuk setiap anggota tim selanjutnya dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok. Tim yang mencapai kriteria tertentu diberikan penghargaan.

D. Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran merupakan sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan guru dan siswa melakukan kegiatan pembelajaran dan perangkat yang dimaksud terdiri atas Buku siswa, LKS dan RPP.

E. Teori Belajar Yang Terkait Dengan Pembelajaran Kooperatif

  1. Teori Piaget

Jean Piaget adalah ahli psikologi anak yang paling terkenal dalam sejarah psikologi. Teorinya tentang perkembagan kognitif dikenal dengan nama teori Piaget. Perkembangan kognitif manusia pada dasarnya seiring dengan perubahan kemampuan mental manusia dari waktu ke waktu sejak ia lahir.

b.  Teori Vygotsky

Teori Vygotsky merupakan salah satu teori yang mempunyai kekuatan besar dalam psikologi perkembangan. Berbeda dengan Piaget, Vygostky mengatakan bahwa perkembangan kognitif sangat erat dengan masukan dari orang lain.

F.  Model-Model  Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Menurut Sudjana (2001:92), bahwa melaksanakan pengembangan perangkat pengajaran diperlukan model–model pengembangan yang sesuai dengan sistem pendidikan. Sehubungan dengan itu ada beberapa model pengembangan pembelajaran. Menurut Harjanto (2005) dalam pengembangan perangkat pembelajaran di kenal dengan beberapa macam model pengembangan perangkat, yaitu model Dick&Carey, model4-D, model Kemp, model Degeng, model Bela H.Banathy, model PPSI, model IDI, model Gerlach dan Ely, dan model Pengembangan Instruksional Briggs.

Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model  pengembangan hasil dari modifikasi model 4-D. Model ini terdiri dari 4 tahap pengembangan yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Adapun alasan memilih model ini adalah diantaranya karena kelebihan dari model 4-D antara lain: a) lebih tepat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan perangkat  pembelajaran  bukan untuk  mengembangkan system  pembelajaran, b) uraiannya tampak lebih lengkap dan sistematis, dan c) dalam pengembangannya melibatkan penilaian ahli, sehingga sebelum dilakukan uji coba di lapangan perangkat pembelajaran telah dilakukan revisi berdasarkan penilaian, saran dan masukan para ahli.

G.  Faktor Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pengembangan Perangkat Pembelajaran

(1) indikator kualitas perangkat pembelajaran yang digunakan, (2) hasil  belajar  siswa   setelah   mengikuti pembelajaran, (3) aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran,(4) keterlaksanaan perangkat pembelajaran, (5) respon siswa setelah mengikuti pembelajaran yang menggunakan perangkat pembelajaran dan (6) aktivitas guru dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.

H. Penilaian Kualitas Produk

Penilaian kualitas produk pengembangan dapat mengacu kepada kriteria kualitas kurikulum yang dikemukakan oleh Nieveen (dalam Nurdin,2007) yaitu (1) validitas,                 (2) kepraktisan, dan (3) keefektifan.

I. Ruang Lingkup Materi Ekosistem

a. Ekosistem

b. Komponen-komponen ekosistem

c.  Saling pengaruh antara komponen dalam ekosistem

d. Satuan makhluk hidup dalam ekosistem

e. Macam-macam ekpsistem

f. Rantai makanan

g. Jaring-jaring makanan

h. Bentuk-bentuk  interaksi antarorganisme dalam ekosistem

i. Aliran energi

j. Piramida ekologi

  1. J. Kerangka Pikir

III. METODE PENELITIAN

  1. A. Jenis Penelitian

Jenis Penelitian ini adalah  penelitian   dan  pengembangan(Research and Development) yang meliputi pengembangan perangkat pembelajaran yang terdiri dari BS, LKS , dan RPP.

B. Lokasi dan subjek penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2010/2011 di SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VII1 yang berjumlah 32 orang .

C.Prosedur pengembangan perangkat

Model pengembangan perangkat yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pengembangan four D Models (model 4-D) yang terdiri dari empat tahap yaitu pendefenisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop) dan penyebaran (disseminate) sebagaimana dikemukakan oleh Thiagarajan.

Hasil pengembangan perangkat pada penelitian ini pada tahap penyebaran (disseminate) dilakukan dengan melaksanakan kegiatan sosilaisasi perangkat pada kegiatan MGMP dan diterapkan di sekolah lain dengan kelas yang lain atau guru yang berbeda.

Tahap-tahap pengembangan perangkat pembelajaran tersebut diuraikan sebagai berikut :

  1. Tahap pendefinisian (define)

Tujuan dari tahap ini adalah menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Ada 4  langkah  pokok di dalam tahap ini, yaitu:

1)   Analisis awal-akhir

Kegiatan dalam analisis awal adalah mengkaji kurikulum yang berlaku ketika penelitian dilaksanakan. Analisis awal-akhir adalah  kegiatan untuk menetapkan masalah dasar yang diperlukan dalam `pengembangan perangkat pembelajaran.

2)   Analisis siswa

Analisis siswa ini dilakukan dengan memperhatikan ciri, kemampuan, dan pengalaman siswa baik secara individu dan maupun kelompok yang meliputi karakteristik-karakteristik antara lain: kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, serta motivasi terhadap pelajaran.

3)   Analisis materi

Analisis materi bertujuan untuk mengidentifikasi bagian-bagian utama pada materi yang akan dipelajari siswa dan tugas-tugas atau keterampilan-keterampilan utama yang harus dimiliki siswa setelah melakukan pembelajaran.

4)      Spesifikasi  tujuan pembelajaran

Spesifikasi tujuan pembelajaran adalah untuk menjabarkan tujuan analisis materi dan analisis tugas menjadi kompetensi dasar, yang dinyatakan dengan tingkah laku. Perincian kompetensi dasar tersebut merupakan dasar dalam penyusunan tes hasil belajar dan rancangan perangkat pembelajaran.

b. Tahap perancangan (design)

Pada tahap ini, akan dihasilkan rancangan perangkat pembelajaran dan tes hasil belajar siswa. Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah penyusunan tes hasil belajar, pemilihan media, pemilihan format, dan perancangan awal perangkat pembelajaran. Langkah–langkah dalam tahap ini adalah:

1) Penyusunan tes

Penyusunan tes adalah kegiatan penyusunan butir-butir soal sesuai dengan kompetensi dasar yang ditetapkan pada tahap pendefinisian.

2)  Pemilihan media yang sesuai tujuan

Pemilihan media untuk menentukan media yang tepat untuk penyajian materi pembelajaran. Proses pemilihan media disesuaikan dengan hasil analisis tugas, analisis materi, dan karakteristik siswa.

3)  Pemilihan format

Pemilihan format perangkat pembelajaran dimaksudkan untuk mendesain atau merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran dan sumber belajar yang akan dikembangkan.

4) Perancangan awal

Perancangan awal adalah rancangan awal perangkat pembelajaran yang akan melibatkan aktivitas siswa dan guru. Rancangan awal perangkat pembelajaran yang akan melibatkan aktivitas siswa dan guru berupa rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), buku siswa dan lembar kerja siswa (LKS) serta tes hasil belajar.

c. Tahap pengembangan (develop) bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang sudah direvisi berdasarkan masukan para pakar.

d. Tahap penyebaran (disseminate)

Tahap ini merupakan tahapan penggunaan perangkat yang telah di kembangkan pada yang lebih luas misalnya di kelas lain, di sekolah lain, oleh guru yang lain. Tujuan tahap ini juga untuk menguji efektivitas penggunaan perangkat di dalam KBM.  Di bawah ini adalah gambar model pengembangan Thiagarajan:

Gambar 12. Model pengembangan perangkat pembelajaran 4-D(Sumber: Trianto,  2010:94)

E. Instrumen Pengumpulan Data

1. Lembar validasi perangkat pembelajaran

2.  Lembar observasi aktivitas guru mengelola pembelajaran

3.  Lembar observasi aktivitas siswa

4.  Lembar observasi keterlaksanaan perangkat pembelajaran

5. Angket respon siswa

6. Tes hasil belajar

F. Teknik Analisis Data Uji Coba

1. Analisis data hasil validasi perangkat pembelajaran

2.  Analisis data aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran

3. Analisis data aktivitas  siswa

4. Analisis data keterlaksanaan perangkat pembelajaran

5. Analisis data respon siswa

6. Analisis tes hasil belajar

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Tahap Pendefenisian (Define)

  1. 1. Analisis awal-akhir
    1. 2. Analisis siswa

3.   Analisis materi

4.   Analisis tugas

5. Spesifikasi tujuan pembelajaran

B. Deskripsi Hasil Tahap Perancangan (Design)

  1. 1. Penyusunan tes
  2. 2. Pemilihan media
  3. 3. Pemilihan format
  4. 4. Desain awal
  5. a. Perangkat pembelajaran

b. Instrumen penelitian

C. Deskripsi Hasil Tahap Pengembangan (Develop)

1. Hasil validasi ahli

a. Hasil validasi ahli untuk perangkat pembelajaran

Sumber Penilaian Skor rata-rata

penilaian

Keterangan
Buku Siswa

LKS

RPP

THB

4,25

4,07

3,77

4,44

Valid

Valid

Valid

Valid

2. Analisis hasil uji coba

a. Analisis kepraktisan

Tabel 4.12 Tabel pengamatan keterlaksanaan perangkat pembelajaran

Komponen Persentasi Persetujuan Rata-rata pengamatan Kualifikasi
Sintaks

Sistem sosial

Prinsip reaksi

Sistem pendukung

Total

93,33%

100,00%

93,33%

100,00%

96,67%

1,9

1,9

1,6

2,0

1,9

Terlaksana seluruhnya

Terlaksana seluruhnya

Terlaksana seluruhnya

Terlaksana seluruhnya

Terlaksana seluruhnya

Secara keseluruhan, analisis tentang keterlaksanaan perangkat pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilakukan untuk melihat sejauh mana kepraktisan dari perangkat yang telah dirancang, menghasilkan data bahwa percentage of agreement sebesar 96,67%. Selanjutnya dari nilai rata-rata pengamatan sebesar  = 1,9 dari skor ideal 2 dengan standar deviasi 0,11, dapat dikatakan bahwa derajat keterlaksanaan perangkat memadai karena berada pada kategori terlaksana seluruhnya.

b. Analisis keefektifan

1) Respons siswa

Tabel 4.13  Frekuensi respon siswa terhadap BS, LKS dan Pembelajaran

Respon

BS

LKS

Pembelajaran

F % F % F %
SP 4 12,5 8 25 2 6,3
P 27 84,4 22 68,8 23 71,9
CP 1 3,13 2 6,3 3 9,4
TP 0 0 0 0 4 12,5
Jumlah 32 100 32 100 32 100

Ket = SP = Sangat Positif          CP= Cukup Positif

P = Positif                       TP= Tidak Positif

2. Aktivitas siswa

3. Aktivitas Guru

4) Kemampuan guru mengelola pembelajaran

Tabel 4.16 Rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran kooperatif STAD

Kegiatan PoA (%) Rata-rata Pengamatan Kualifikasi
I.A.Kegiatan Awal

Fase 1

  1. Kegiatan Inti

Fase 2

Fase 3

Fase 4

Fase 5

Fase 6

C.Kegiatan Akhir

II. Suasana Kelas

88,8 %

66,6 %

88,8 %

88,8 %

66,6 %

77,7 %

66,6 %

75 %

4,3

4,4

4,6

4,5

4,5

4,4

4,5

4,6

Tinggi

Tinggi

Sangat tinggi

Sangat tinggi

Sangat tinggi

Tinggi

Sangat tinggi

Sangat tinggi

Total 77,4 % 4,5 Sangat tinggi

Secara keseluruhan rata-rata pengamatan observer tentang kemampuan guru dalam proses belajar mengajar sebesar 4,5 dari skor ideal 5 dengan standar deviasi 0,15, berada pada kategori sangat tinggi dengan percentage of agreement sebesar 77,4 %.

5)Hasil belajar siswa (skor perkembangan siswa dan tes hasil belajar)

  1. a. Skor Perkembangan Siswa
Tabel 4.17 Rata-rata skor perkembangan setiap kelompok
Klp P1 P2 P3
I 92 88 88
II 80 83 76
III 83 88 83
IV 79 78 83
V 84,17 79,17 80,83
VI 83,3 80 76,67
Rata-rata 83.5 83.4 82.5

b.Tes hasil belajar

Tabel 4.18 Statistik Skor Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII1 SMPN 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar

Parameter Nilai
Subjek Penelitian 32
Skor Ideal 100
Rata-rata 81,09
Standar Deviasi 6,058
Varians 36,694
Skor Maksimum 90
Skor Minimum 70
Jumlah Siswa yang Tuntas 32
Jumlah Siswa yang tidak Tuntas

KKM

0

67

Tabel 4.19  Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Tes hasil belajar siswa SMPN 1 Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar

Interval Kategori F %
0-34 Sangat Rendah 0 0,00
35-54 Rendah 0 0,00
55-64 Sedang 0 0,00
65-84 Tinggi 20 62,5
85-100 Sangat Tinggi 12 37,5
Jumlah 32 100

D. Deskripsi Hasil Tahap Penyebaran (Disseminate)

Perangkat pembelajaran yang telah dijilid kemudian disosialisasikan kepada guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Polombangkeng Utara pada saat kegiatan MGMP. Dan sosialisasi kepada guru khususnya guru mata pelajaran IPA di sekolah lain.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa hasil pengembangan perangkat yang dicapai yaitu: (1) valid berdasarkan penilaian ahli dan praktisi  (2) praktis, karena semua aspek yang diamati berada dalam kategori terlaksana seluruhnya dengan rata-rata pengamatan sebesar 1,9 dari skor ideal 2 dengan standar deviasi 0,11 , percentage of agreement 96,67%, dan (3) efektif karena katuntasan klasikal telah tercapai yaitu skor rata-rata yang diperoleh siswa pada tes hasil belajar adalah 81,09 dari skor ideal 100 dengan  standar deviasi sebesar 6,058, semua kategori aktivitas  siswa yang diamati berada dalam interval Persentase Waktu Ideal (PWI) , kemampuan guru mengelola pembelajaran dalam kategori sangat tinggi dengan rata-rata pengamatan 4,5 dari skor ideal 5 dengan standar deviasi 0,15, percentage of agreement 77,4 % artinya penampilan guru dapat dipertahankan, dan respon siswa terhadap pembelajaran dalam kategori positif.

B. Saran

  1. Perangkat pembelajaran yang telah dihasilkan sebaiknya diujicobakan di sekolah-sekolah lain.
  2. Pelaksanaan pembelajaran kooperatif di kelas memiliki berbagai macam model, untuk itu diharapkan kepada para peneliti untuk mengembangkan pelaksanaan pembelajaran kooperatif untuk model dan materi yang lain dengan melakukan ujicoba berkali-kali sehingga didapatkan perangkat pembelajaran biologi yang layak untuk digunakan sampai pada tahap penyebaran.
  3. Diharapkan kepada rekan guru untuk menggunakan perangkat pembelajaran  yang mengacu pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD, mengingat hasil dan respon positif yang diperoleh selama proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Amri, S. 2010a. Konstruksi Pengembangan Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Pustaka.

. 2010b. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas. Jakarta: Prestasi Pusataka.

Anonim. 2009. Model Pengembangan Perangkat Menurut Thiagarajan. Surabaya:  Pusat Lembaga Penelitian dan Pengembangan.

Anonim. 2010a.  Prosedur Pengujian Validitas Isi melalui Indeks Rasio Validitas Isi.(Tersedia:http://rss.acs.unt/Rdoc/library/psychometri/html/CVratio). Tanggal 23 Oktober 2010.

.2010b. Skripsi Penerapan Pembelajaran Kooperatif Metode Student Team Achievement Division (STAD) Disertai LKS Untuk Penguatan Konsep Materi Pokok Ekosistem. (Tersedia:http://www.skripsi.html). Tanggal 23 September 2010.

Anonim. 2010c. Ekosistem. (Tersedia:http://www.ekosistem.html). Tanggal 24 September 2010.

Antoni. 1998. Buku Pintar IPA Biologi Untuk SMP. Surabaya: Gitamedia.

Arikunto, S. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

, S. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arisworo, dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam SMP untuk Kelas VII.    Bandung: Garfindo Media Pratama.

Arwiyani. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Model Kooperatif Tipe STAD Pada Siswa Kelas VII1 SMP Negeri 1 Bontolempangan. Kec. Bontolempangan Kab. Gowa. Skripsi FMIPA UNM Makassar. Tidak diterbitkan.

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, S. B dan Zain Ahmad. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Elywaty. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Materi Program Linier. Tesis Program Pascasarjana UNM.Tidak diterbitkan.

Haling, A. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.

Harjanto. 2005.  Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Hasibuan, Malaya, S.P. 1999. Organisasi dan Motivasi. Bandung: Bumi Aksara.

Hasrawati. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Untuk Pokok Bahasan Peluang dengan Menerapkan Strategi Kognitif. Tesis PPs UNM. Tidak diterbitkan.

Hudojo, H. 1998. Pembelajaran Matematika Menurut Pandangan Konstruktivis. Makalah disajikan pada Seminar Nasional “Upaya-upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika dalam Era Globalisasi. Program Pasca Sarjana IKIP Malang. Malang:  4 April.

Ibrahim. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : UNESA University Press.

Irawan. 2010a.  Model  Pengembangan  Perangkat  Pembelajaran Inovatif- Progresif . (Tersedia:http://www. my mind html). Tanggal 28 September 2010.

Irawan, P. 2001b. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Isjoni. 2010. Cooperative Learning Efektivitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Jefri, Djemy. 2007. “Pembelajaran Kooperatif STAD dan Turnamen TGT untuk meningkatkan Minat dan Prestasi pada Pola dan Deret Bilangan”. Ilmu Kependidikan No. 3. hlm. 205-218.

Kristoforus Djawa Djong. 2006. “Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel di Kelas VIII SMPK St Theresia.” Mathedu No. 2 hlm. 141-149.

Mardiana.2007. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika dengan  Pendekatan Realistik pada Siswa SMP Negeri 26 Makassar. Skripsi. Makassar FMIPA UNM.

Musdalifah. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pada Pokok Bahasan Theorema Phytagoras pada Siswa Kelas VIII SMP.Tesis PPs UNM. Tidak diterbitkan.

Nurdin.    2007.   Model    Pembelajaran   Matematika     yang      Menumbuhkan Kemampuan Metakognitif Untuk Menguasai Bahan Ajar. Disertasi Tidak Diterbitkan. Surabaya: PPs UNESA.

Odum, E.M. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Jogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pratiwi. 2003. Buku Siswa Biologi Untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Kelas 1. Jakarta:  Depdiknas.

Saktiyono. 2004. Sains Biologi SMP. Jakarta: Erlangga.

Sam Arif. 2008. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik Setting Kooperatif STAD Untuk Kompetensi Dasar Bilangan Pecahan di SMPN 6 Watampone. Tesis Tidak Diterbitkan.Makassar: PPs UNM.

Sanjaya, W . 2008a. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:  Kencana Prenada Media Group.

. 2008b. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta:  Kencana Prenada Media Group.

Sardiman, A.M. 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta:        Bina Statistik.

Slavin,R.2010. Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik. Bandung: Nusa    media.

Sugiyarto. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam Ungtuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Alfabeta.

Sumarwan. 2006. Ilmu Pengetahuan Alam SMP Jilid 1B Kelas VII Semester Jakarta: Erlangga.

Suprijono, A. 2010. Cooperative Learning Teori Dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Syamsuri. 2004. Buku Sains Biologi Jilid 1 Untuk SMP Kelas VII. Jakarta : Erlangga.

Thiagarajan, S. Semmel dan Semmel. 1974. Instructional Development For Training Teacher of Exceptional Children. Minnesota: Indiana University

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Posted in Math Education | Leave a comment

IMPROVING THE RESULTS OF STUDENT’S MATHEMATICS LEARNING OF MATHEMATICS THROUGH DRILL METHOD BY USING FEEDBACK IN CLASS VIII8 STUDENTS OF SMP NEGERI 1 MAKASSAR

by

Sri Purnama Sari

Hamzah Upu

Sukarna

ABSTRACT

This research was a Classroom Action Research conducted in two cycles, and several stages in each cycles, that were planning, acting, observing and reflecting. That aim of this research is improving the results of student’s mathematics learning through drill method by using feedback in class VIII8 students of SMP 1 Makassar. The subject of this research were 40 students that consist of 29 males and 11 females. Every cycle was done in four meetings include the cycle test. Data collection was performed by using the test results of study and observation. Data in this research were about student’s activities which were taken from the observation sheet and data about student’s math achievement were taken from a test at the end of the cycle. The results of this research show that: (1) The number of students who achieve KKM result of learning mathematics that have been established in schools of 23 students or 57.5% with a mean of 65.08 from as ideal score of 100 with deviation standard of 15.830 (2) The number of students who achieve KKM result of learning mathematics that have been established in schools amount to 33 students or 82.5% with a mean of 76.50 from as ideal score of 100 with deviation standard of 14.095 (3) The increased of activities of student after the application of drill method by using feedback.

Based upon the research results, it can be conclude that it was improving the comprehension concept of mathematics and student’s activities in learning through drill method by using feedback in class VIII8 students of SMP 1 Makassar.

Keywords: PTK, Mathematics learning result, and drill method.

PENDAHULUAN

Keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar pada pembelajaran matematika dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi serta hasil belajar siswa. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi serta hasil belajar, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran. Namun dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa hasil belajar matematika yang dicapai siswa masih rendah. Berdasarkan informasi dari guru Matematika (Herlina Ali, S.Pd) SMP Negeri 1 Makassar mengungkapkan bahwa dari data hasil belajar siswa pada semester ganjil tahun ajaran 2010/2011, sekitar 65% siswa yang tuntas dan 35% belum tuntas, KKM pelajaran matematikanya adalah nilai 68 ke atas dan kelas dikatakan tuntas jika diperoleh ketuntasan kelas mencapai 80%. Adapun yang menyebabkan belum tercapainya ketuntasan kelas adalah masih diterapkannya metode ceramah dimana guru dianggap sebagai gudang ilmu, guru mendominasi kelas, sedangkan siswa harus duduk rapi mendengarkan, meniru pola-pola yang diberikan guru dalam menyelesaikan soal sehingga minat belajar siswa untuk belajar matematika kurang. Selain itu, siswa dalam belajar kurang memaknai bahan pelajaran, seolah-olah hanya menghafal konteks kalimat yang dijelaskan oleh guru dan yang dibaca pada buku paket.

Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman konsep siswa dalam belajar matematika adalah pendekatan pembelajaran yang didominasi oleh pendekatan ekspatansi, yaitu kegiatan pembelajaran yang terpusat pada guru. Dalam penyampaian materi guru monoton menguasai kelas sehingga siswa kurang dapat aktif dan kurang dapat dengan leluasa menyampaikan ide-idenya. Akibatnya hasil belajar matematika siswa menjadi kurang optimal serta perilaku belajar yang lain seperti keaktifan dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran matematika hampir tidak tampak. Dengan demikian, belajar matematika tidak hanya mendengarkan guru menerangkan di depan kelas saja akan tetapi diperlukan banyak latihan-latihan, maka proses pembelajaran disekolah menerapkan metode latihan (drill) diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pada siswa dalam belajar matematika. Metode latihan (drill) merupakan metode mengajar yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung, karena metode latihan (drill) menuntut siswa untuk selalu belajar dan mengevaluasi latihan-latihan yang diberikan oleh guru. Dengan menggunakan metode drill atau latihan, pemahaman siswa terhadap materi atau konsep yang disampaikan akan lebih baik lagi, sehingga tercapai hasil belajar yang optimal. Memberikan umpan balik diartikan sebagai pemberitahuan siswa mengenai hasil mereka dalam suatu tes yang mereka kerjakan setelah tes itu dikoreksi oleh guru kemudian dikembalikan ke siswa.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini difokuskan pada apakah proses pembelajaran matematika SMP Negeri 1 Makassar kelas VIII8 melalui metode latihan (drill) dengan umpan balik dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa?

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk: Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika setelah pelaksanaan pembelajaran dengan metode latihan (drill) dengan umpan balik.

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN

  1. 1. Tinjauan Tentang Belajar Mengajar dan Hasil Belajar
  2. a. Belajar

Secara psikologi, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefenisikan sebagai berikut: “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto 2010:2).

  1. b. Mengajar

Mengajar adalah suatu hal yang bersifat dinamis dan sangat erat hubungannya dengan manusia yang selalu berubah-ubah, sehingga penyelesaian yang sempurna tidak akan tercapai. Pengajar memiliki makna, tujuan, dan rencana. Ahli-ahli pengajar berusaha merumuskan pengertian mengajar, tetapi sebagaimana pengetahuan-pengetahuan lainnya, mengajar juga mempunyai rumusan yang berbeda-beda (Sahabuddin, 2007:12).

  1. c. Hasil Belajar

Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku, menurut Sudjana (2008: 22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Bloom dalam Suprijono (2009: 6) menyatakan bahwa hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa. Tes hasil belajar yang dikembangkan disesuaikan dengan jenjang kemampuan kognitif, sehingga untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Penilaian atau evaluasi pada dasarnya ialah proses memberikan pertimbangan atau nilai tentang sesuatu berdasarkan kriteria tertentu (Trianto, 2009: 175).

  1. 2. Metode Pembelajaran

Agar proses pembelajaran berlangsung dengan baik, guru hendaknya menguasai berbagai metode pembelajaran. Menurut Hudoyo (2001):

“Metode mengajar adalah suatu cara atau tehnik mengajarkan topik-topik tertentu yang disusun secara teratur dan logik yang di dalamnya termuat interaksi antara guru dengan siswa dan interaksi antara siswa dengan materi yang dipelajarinya”.

Sanjaya (2010:127) mengemukakan bahwa metode pembelajaran merupakan upaya mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Dengan kata lain, metode pembelajaran adalah a way in achieving something. Metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran.

  1. 3. Tinjauan Umum Metode Latihan (Drill)

Metode latihan (drill) merupakan metode pembelajaran yang lebih ditujukan agar siswa cepat dan cermat dalam menyelesaikan soal serta hafal dan cepat dalam fakta-fakta matematika (Mulyono, 2006:5). Pendapat lain dikemukakan oleh Roestiyah (2008:125) yang mengemukakan bahwa:

“Metode latihan (drill) merupakan satu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki keterampilan atau ketangkasan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari”.

Metode latihan (drill) atau metode training merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan (Sagala, 2005:217).

Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode latihan (drill) adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan melatih siswa agar menguasai pelajaran dan terampil. Dari segi pelaksanaannya siswa terlebih dahulu telah dibekali dengan pengetahuan secara teori secukupnya. Kemudian dengan tetap dibimbing oleh guru, siswa disuruh mempraktikkannya sehingga menjadi mahir dan terampil.

  1. 4. Umpan Balik

Mansyur (2001) mengemukakan bahwa umpan balik adalah pemberian informasi yang diperoleh dari tes atau alat lainnya, misalnya PR dan pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam tes kepada siswa untuk memperbaiki atau meningkatkan pencapaian hasil belajarnya. Pendapat lain dikemukakan oleh Dahar yang dikutip oleh Mansyur (2001) mengatakan bahwa:

“Para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah tahu atau belum mengerti tentang apa yang telah diberikan. Informasikan kepada mereka untuk penampilan yang berhasil”.

Hipotesis

Mengacu pada kajian teori sebagaimana telah diuraikan di depan, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut: “Jika dalam proses pembelajaran matematika siswa SMP Negeri 1 Makassar kelas VIII8 menggunakan metode latihan (drill) dengan umpan balik, maka hasil belajar matematika siswa dapat meningkat”.

METODE PENELITIAN

  1. A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Makassar semester genap tahun pelajaran 2010/2011.

  1. B. Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII8 SMP Negeri 1 Makassar  yang terdiri dari 40 siswa dengan perempuan 11 orang dan laki-laki 29 orang.

  1. C. Tehnik dan Alat Pengumpulan Data
  2. Sumber data

Sumber data penelitian ini yaitu siswa kelas VIII8 SMP Negeri 1 Makassar.

  1. Jenis data

a)      Tes hasil belajar sebagai data kuantitatif;

b)      Lembar observasi sebagai data kualitatif.

c)      Angket atau tanggapan siswa sebagai data kualitatif.

  1. Cara pengambilan data

a)      Data hasil belajar diambil dari tes akhir setiap siklus;

b)      Data mengenai aktifitas siswa diambil melalui pengamatan pada saat kegiatan berlangsung dengan menggunakan lembar observasi;

c)      Data mengenai tanggapan siswa diambil dari pemberian angket tentang pembelajaran dengan metode latihan (drill) pada akhir siklus.

  1. D. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan atas 2 siklus, yakni siklus I dan silkus II masing-masing 4 kali pertemuan. Selanjutnya diuraikan gambaran umum yang dilakukan pada dua siklus sebagai berikut:

  1. Siklus I
    1. Perencanaan

-          Menelaah kurikulum/silabus SMP Kelas VIII untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dalam pembelajaran.

-          Guru menentukan pokok bahasan yang akan diajarkan.

-          Merancang rencana pembelajaran dengan menggunakan metode latihan (drill).

-          Merancang latihan soal secara individual.

-          Merancang analisis hasil kemampuan siswa menyelesaikan soal tes.

-          Merancang observasi pelaksanaan tindakan kelas oleh guru.

-          Merancang observasi aktivitas belajar siswa

  1. Pelaksanaan

Rencana pembelajaran yang telah dirancang pada tahap perencanaan dilaksanakan sepenuhnya pada tahap implementasi ini. Secara garis besar kegitannya mencakup hal-hal sebagai berikut:

-            Membahas materi pelajaran dengan berpedoman pada rencana pembelajaran yang telah dibuat.

-            Memberikan contoh-contoh soal, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya sehubungan dengan penjelasan yang belum dimengerti, serta kesulitan yang dirasakan oleh siswa.

-            Melaksanakan metode latihan (drill) pada akhir pertemuan dan mengembalikan pekerjaan siswa setelah diperiksa sebagai umpan balik.

  1. Observasi dan Evaluasi

-            Dalam tahap ini dilakukan observasi atau pengamatan oleh guru tentang jalannya proses kegiatan belajar mengajar secara menyeluruh yang dibantu oleh pengamat untuk melakukan monitoring pelaksanaan pembelajaran.

-            Memberikan tes akhir siklus I.

  1. Refleksi

Pada tahap ini hasil yang diperoleh pada observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil tersebut peneliti melakukan refleksi dengan mencatat kekurangan dan kendala dalam pelaksanaan pembelajaran, kemudian mencari solusi agar kekurangan dan kendala yang ada pada siklus pertama tidak berulang kembali pada siklus berikutnya.

  1. Siklus II

Langkah-langkah diambil pada siklus II ini relatif sama dengan langkah-langkah yang diambil pada siklus I. Tetapi pada siklus II ini, yang hanya dilakukan adalah beberapa perbaikan atau perubahan sesuai dengan kenyataan yang dikemukakan berdasarkan hasil refleksi dari siklus terdahulu.

  1. E. Tehnik Analisis Data

Data yang terkumpul akan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Data mengenai hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif yang terdiri atas rata-rata (mean), rentang (range), standar deviasi, nilai maksimum, nilai minimum yang diperoleh siswa pada tiap siklus. Data hasil observasi dianalisa secara kualitatif dengan menggunakan analisis data model Miles dan Huberman yaitu mengumpulkan data observasi, menyajikan kemudian menarik kesimpulan.

  1. F. Indikator Kinerja

Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah

  1. Jika ≥ 80% dari semua siswa memperoleh hasil belajar yang mencapai KKM Matematika yang telah ditetapkan di sekolah.
  2. Aktivitas siswa lebih meningkat selama mengikuti pembelajaran matematika menggunakan metode latihan (drill) dengan umpan balik.
  3. Jika ≥ 75% dari semua siswa memberikan tanggapan positif tentang pembelajaran matematika menggunakan metode latihan (drill) dengan umpan balik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A. Analisis Kuantitatif

Tabel 4.1. Statistik Skor Hasil Tes Kemampuan Siswa dalam Memahami Konsep Matematika pada Tes Akhir Siklus I

No Statistik Nilai Statistik
1

2

3

4

5

6

7

Subjek penelitian

Rata-rata

Standar Deviasi

Variansi

Rentang skor

Skor maksimum

Skor minimum

40

65,08

15,830

250,684

77

87

10

Berdasarkan Tabel 4.1, dapat dilihat bahwa hasil belajar matematika siswa VIII8 SMP Negeri 1 Makassar setelah diterapkan pembelajaran melalui metode latihan (drill) yang diperoleh pada Siklus I adalah 65,08 serta skor maksimum yang tercapai 87 dan standar deviasi 15,830. Secara individual skor yang dicapai siswa tersebar dari skor terendah 10 sampai skor tertinggi 87 dengan skor yang mungkin tercapai dari 0 sampai 100. Salah satu indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah jika 80% dari jumlah siswa memperoleh hasil belajar yang mencapai KKM Matematika yang telah ditetapkan di SMP Negeri 1 Makassar yaitu 68,00, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa belum mencapai indikator yang telah ditetapkan karena persentase siswa yang hasil belajarnya mencapai KKM matematika hanya sebesar 57,5%.

Tabel 4.2. Statistik Skor Kemampuan Siswa dalam Memahami Konsep Matematika pada Tes Akhir Siklus II

No Statistik Nilai Statistik
1

2

3

4

5

6

7

Subjek penelitian

Rata-rata

Standar Deviasi

Variansi

Rentang skor

Skor maksimum

Skor minimum

40

76,50

14,095

198,667

70

100

30

Berdasarkan Tabel 4.3, dapat dilihat bahwa hasil belajar matematika siswa Kelas VIII8 SMP Negeri 1 Makassar setelah diterapkan pembelajaran melalui metode latihan (drill) yang didasarkan pada tes Siklus II adalah 76,50 dari skor ideal yang dicapai 100 dengan standar deviasi 14,095. Secara individual skor yang dicapai siswa tersebar dari skor terendah 30 sampai skor tertinggi 100.

Tabel 4.3. Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa pada  Siklus I & Siklus II.

No Siklus Ketuntasan Ketuntasan Belajar (%)
Tuntas Tidak Tuntas
1 I 23 17 57,5%
2 II 33 7 82,5%

Dari Tabel 4.1 sampai Tabel 4.3 di atas, menunjukkan bahwa rata-rata skor perolehan siswa dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan dari 65,08 menjadi 76,50. Pada siklus II ini pun dapat dilihat bahwa 82,5% dari banyaknya siswa yang hasil belajarnya mencapai KKM matematika yang telah ditetapkan di SMP Negeri 1 Makassar. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu indikator keberhasilan yang ada telah terpenuhi yakni jika ≥ 80% dari banyaknya siswa memperoleh hasil belajar yang mencapai KKM Matematika yang telah ditetapkan di SMP Negeri 1 Makassar yaitu 68,00.

  1. B. Analisis Kualitatif
    1. 1. Siklus I
  2. a. Pelaksanaan Tindakan

Siklus I dilaksanakan selama 2 pekan (4 kali pertemuan). Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran langsung dengan menggunakan metode latihan (drill). Pada awal tatap muka, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk terus belajar dan memperhatikan pelajaran yang diberikan. Kemudian guru menjelaskan materi secara ringkas sesuai dengan rencana pembelajaran. Guru memberikan latihan yang mempunya arti luas, memilih latihan mengerjakan soal yang berhubungan dengan konsep materi yang baru saja diajarkan baik lisan maupun tulisan. Pada akhir tiap siklus guru memberikan tes akhir hasil belajar

  1. b. Observasi

Pada siklus ini, keaktifan dalam proses belajar mengajar dapat kita lihat pada hasil observasi yang dilakukan pada setiap pertemuan. Pada setiap pertemuan dicatat atau dilakukan pemantauan terhadap segala aktivitas siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.

  1. c. Refleksi

Dari hasil observasi dan hasil tes Siklus I, maka diperoleh refleksi sebagai berikut: Pada Siklus I keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan guru atau temannya secara lisan masih sangat kurang, demikian juga siswa yang mengajukan pertanyaan dan tanggapan  yang bersifat positif  masih kurang. Siswa  yang tampil dipapan tulis menyelesaikan soal latihan dan siswa yang bertanya tentang materi yang belum dimengerti masih kurang, akan tetapi siswa cenderung meminta untuk diberikan contoh soal walaupun mereka masih banyak yang belum memahami betul konsep yang dipelajari. Siswa kurang aktif pada saat pemberian soal latihan dan kelas mulai ribut jika waktu yang telah ditetapkan oleh guru untuk menyelesaikan latihan telah selesai. Siswa masih belum berani untuk menarik kesimpulan materi yang baru saja dibahas.

  1. d. Keputusan

Hasil pada akhir siklus pertama belum menunjukkan hasil yang optimum, hal ini disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah: Hasil belajar siswa belum sesuai yang diharapkan yaitu ≥ 80% dari banyaknya siswa mencapai KKM matematika yang telah ditetapkan. Masih ada siswa yang sering melakukan kegiatan yang kurang positif di dalam kelas, seperti menyontek jawaban temannya, mengganggu temannya, keluar masuk ruangan serta acuh terhadap pembelajaran. Sehingga berdasarkan hal-hal di atas, maka perlu dilanjutkan pada siklus kedua agar mendapatkan hasil yang lebih optimal.

  1. 2. Siklus Kedua
  2. a. Pelaksanaan Tindakan

Setelah merefleksi hasil pelaksanaan siklus I, diperoleh suatu gambaran tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus II ini, sebagai perbaikan yang telah dilakukan pada siklus I. Adapun tindakan yang dilakukan antara lain: Memberikan perhatian yang lebih kepada siswa yang memiliki kemampuan yang rendah dan tetap mengontrol siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi. Menyarankan kepada siswa untuk mengerjakan soal yang dianggap mudah terlebih dahulu agar waktu yang ada tidak sia-sia sehingga siswa dapat mengumpul latihannya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Memberikan motivasi kepada semua siswa dengan memberitahukan bahwa siswa yang aktif atau mampu dalam menyelesaikan latihan-latihan soal yang diberikan, menyelesaikan latihan sesuai dengan waktu yang ditetapkan, serta  mampu mempertanggungjawabkan hasil kerjanya akan  mendapat penghargaan berupa tambahan nilai.

  1. b. Refleksi

Memasuki siklus II terlihat bahwa perhatian, motivasi, keaktifan serta semangat siswa untuk belajar semakin memperlihatkan kemajuan setelah diterapkan metode latihan (drill). Ini terlihat dari keaktifan siswa memberikan respon jika guru memberikan pertanyaan maupun keberanian dan kepercayaan diri dari siswa untuk tampil di depan mengerjakan soal yang diberikan. Antusisme dan rasa ingin tahu siswa untuk menanyakan materi yang kurang dipahami juga sudah terlihat, mereka sudah berani mengajukan pertanyaan kepada guru, bahkan berlomba-lomba menaikkan tangan untuk menjawab pertanyaan dari guru. Semakin tingginya rasa percaya diri siswa, ini terlihat dari banyaknya siswa mengajukan diri untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Mereka mengaku satu hal yang memotivasi mereka dengan adanya nilai tambah yang diberikan dan karena mereka ingin menjadi yang terbaik. Berdasarkan hal di atas secara umum dapat dikatakan bahwa kegiatan pada siklus II ini mengalami peningkatan dibandingkan siklus I. Hal ini dapat dilihat dari keaktifan dan keseriusan siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar yang berlangsung selama siklus II.

  1. c. Keputusan

Dari dua siklus yang telah dilaksanakan dengan menggunakan metode latihan (drill) diperoleh hasil sebagai berikut: Dengan pemberian latihan yang tepat, maka siswa dapat menyelesaikan soal-soal matematika yang rumit, Meningkatkan perhatian dan keaktifan siswa dalam belajar matematika dilihat dari meningkatnya siswa yang bertanya tentang materi pelajaran yang belum dimengerti dan siswa yang meminta bimbingan guru/peneliti, Meningkatkan hasil belajar siswa.

  1. C. Tanggapan Siswa

Sekitar 90% memberikan tanggapan positif pada penerapan pembelajaran melalui metode latihan (drill), sehingga dapat dikatakan bahwa salah satu indikator keberhasilan yang ada telah terpenuhi yaitu jika ≥ 75% dari jumlah siswa memberikan tanggapan yang bersifat positif terhadap metode latihan (drill).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan: Berdasarkan hasil dan pembahasan PTK yang dilakukan selama dua siklus disimpulkan: Dengan menerapkan metode latihan (drill) dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII8 SMP Negeri I Makassar, Keaktifan siswa selama diterapkannya metode latihan (drill) dengan umpan balik meningkat, ditandai dengan meningkatnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sesuai dengan hasil observasi selama tindakan kelas berlangsung.

Saran: Dari hasil penelitian ini, diajukan beberapa saran: Agar pembelajaran matematika itu bermakna dan menyenangkan bagi siswa, maka digunakan metode latihan (drill) dalam pembelajaran matematika, Guru diharapkan lebih kreatif dalam penyajian materi pelajaran dengan menerapkan metode bervariasi sehingga siswa lebih termotivasi untuk belajar matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Hudoyo, H. 2001. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang.

Mansyur. 2001. Meningkatkan Motivasi Belajar Melalui Pemberian Kuis Pada Siswa Kelas II1 SMU Negeri 3 Pare-Pare. Skripsi FMIPA UNM.

Mulyono, S. 2006. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui “Pendekatan Ketrampilan Proses” Pada Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Statistika Kelas 2 B Smp Kartiyoso Semarang. Skripsi FMIPA UNESA.

Roestiyah, N. K. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Sagala, S. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Badung: Alfabeta.

Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Badan Penerbit UNM: Makassar.

Sanjaya, W. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta: Jakarta.

Sudjana, N., 2008. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Remaja Rosdakarya: Bandung.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Posted in My Research | Leave a comment

Improving Students’ Math Achievement of Class VIII7 through Mastery learning Strategy in SMP Negeri 1 Pancarijang Kab. Sidenreng Rappang

RISMAYANTI

HAMZAH UPU

ABDUL RAHMAN

ABSTRACT

Rismayanti, 2011. ”Improving Students’ Math Achievement of Class VIII7 through Mastery learning Strategy in SMP Negeri 1 Pancarijang Kab. Sidenreng Rappang”. Thesis.  Mathematics Departement, Faculty of Mathematics and Sciences, State University of Makassar.

This research was Classroom Action Research conducted in two cycles, and several stages in each cycle, that were planning, acting, observing and reflecting. The aim of this research is improving the students’ math achievement of students in class VIII7 SMP Negeri 1 Pancarijang Kab. Sidenrang Rappang through Mastery Learning Strategy. The subjects were 35 students that consist of 17 males and 18 females. This research was done in two cycles. Every cycle was done in five meetings include the cycle test. Data in this research were about students’ activities which were taken from the observation sheet and the data about students’ math achievement were taken from a test at the end of the cycle. The results of this research show that: (1) The mean score of the first cycle test is 69.29 from as ideal score of 100 with deviation standard of 21.03 and the percentage of mastery for 55.89%; (2) The mean score of the first cycle test is 73.65 from as ideal score of 100 with deviation standard of 14.96 and percentage of mastery for 82.35%; (3) The increased frequency of activities of student after the application of the Mastery Learning Strategy.

Based upon the research results, it can be concluded that it was improving the students’ activities in learning and students’ math achievement of students in class VIII7 SMP Negeri 1 Pancarijang through Mastery Learning Strategy.

Key words:    Classroom action research, Mastery Learning Strategy

A. PENDAHULUAN

Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Tugas dan peran guru dari hari ke hari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gurulah yang berada di garda terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik di kelas melalui proses belajar mengajar. Di tangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, skill (keterampilan), kematangan emosional, dan moral serta spiritual. Hal seperti ini tentu juga berlaku bagi guru mata pelajaran matematika.

Oleh karena itu, sangat dibutuhkan keahlian seorang guru dalam mengelolah kelas yang dihadapi. Selain itu, juga dituntut untuk mampu menciptakan proses belajar mengajar  yang efektif. Salah satu cara yang dapat ditempuh  adalah dengan memilih strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.

Seperti kita ketahui bahwa pada umumnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah berjalan klasikal, artinya seorang guru di dalam kelas menghadapi sejumlah besar siswa (antara 30-40 orang) dalam waktu yang sama menyampaikan bahan pelajaran yang sama pula. Dalam pengajaran klasikal seperti ini, guru beranggapan bahwa seluruh siswa satu kelas itu mempunyai kemampuan (ability), kesiapan dan kematangan (maturity), dan kecepatan belajar yang sama. Guru tidak memperdulikan adanya perbedaan individual pada siswanya. Pada akhirnya, terkadang terdapat beberapa siswa yang belum mengerti satuan unit pelajaran tertentu, tetapi guru mata pelajarannya telah beralih ke materi selanjutnya.

Salah satu strategi yang memperhatikan adanya perbedaan individual adalah strategi Mastery Learning. Hal ini sesuai dengan pendapat  Kunandar (2007) bahwa strategi Mastery Learning manganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukkan pada sekelompok siswa (kelas), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan siswa sedemikian rupa, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal.

Menurut Yamin (2006), pada dasarnya Mastery Learning akan menciptakan peserta didik memiliki kemampuan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, mengecilkan perbedaan antara anak cerdas dengan anak yang tidak cerdas. Mastery Learning menciptakan anak didik dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga di dalam kelas tidak terjadi anak cerdas akan menguasai semua tujuan pembelajaran sedang anak didik yang kurang cerdas mencapai sebagian tujuan pembelajaran atau tidak mencapai sama sekali tujuan pembelajaran.

Setelah dilakukan observasi, diperoleh data dari dokumen guru bidang studi matematika SMP Negeri 1 Pancarijang tahun 2010. Kenyataan menunjukan bahwa data perolehan prestasi belajar siswa kelas VIII7 pada satu pokok bahasan pada semester ganjil tahun ajaran 2010/2011 hanya 19 orang (53%) dari 36 siswa yang tuntas/kompeten. Prestasi belajar siswa di kelas tersebut masih tergolong rendah. Padahal, Tuntutan Standar Ketuntasan Belajar Minimum (SKBM) secara klasikal adalah 80% dari banyaknya siswa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa di kelas tersebut masih tergolong rendah.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berusaha merumuskan solusi yang dapat digunakan untuk menemukan penyelesaian masalah tersebut melalui penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII7 melalui Strategi Mastery Learning di SMP Negeri 1 Pancarijang.

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah dengan menerapkan strategi Mastery Learning dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII7 di SMP Negeri 1 Pancarijang?”

B. TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Prestasi Belajar Matematika

Menurut Poerwardarminta (1984), belajar adalah sebagai penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh nilai tes atau angka yang diartikan oleh guru. Sedangkan Slameto (1987) mengemukakan pengertian belajar bahwa belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari pengertian-pengertian belajar yang dikemukakan di atas, penulis menyimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses interaksi dengan lingkungan dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku oleh individu yang bersangkutan.

Menurut Poerwadarminta (1984), prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Sedangkan, Winkel (1996: 14) mengatakan bahwa prestasi merupakan bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai. Selanjutnya  Tu’u (2004) berpendapat bahwa prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah suatu hasil yang diperoleh setelah melakukan aktifitas tertentu, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.

Dari pengertian prestasi dan belajar yang telah dikemukakan, selanjutnya Mappa (1977) memberikan pengertian bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai murid dalam bidang studi tertentu dalam menggunakan tes standar sebagai alat pengukur keberhasilan seseorang.

Tu’u (2004) mengemukakan beberapa pengertian tentang prestasi belajar siswa sebagai berikut: (1) Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah, (2) Prestasi belajar siswa tersebut  terutama dinilai aspek kognitifnya karena bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesa, dan evaluasi, dan (3) Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukkan melalui nilai atau angka dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan   ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah muara dari proses belajar mengajar yang merupakan indikator tingkat penguasaan pengetahuan dan keterampilan  siswa yang dinyatakan dengan hasil pengukuran atau tes atau ujian yang diberikan guru.

Dari pengertian prestasi, belajar dan matematika di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah hasil belajar matematika yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran matematika di sekolah yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian.

2. Strategi  Mastery Learning (Belajar Tuntas)

Strategi Mastery learning (belajar tuntas) merupakan strategi pembelajaran yang dapat dikembangkan di dalam kelas sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai materi pelajaran sesuai patokan yang telah ditetapkan. Sanjaya (2006) menjelaskan bahwa pengertian strategi pembelajaran adalah suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan dalam Sanjaya (2006), Kemp mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Pengertian strategi Mastery learning diungkapkan juga oleh              Yamin  (2006) bahwa Mastery learning merupakan proses pembelajaran yang dilakukan dengan sistematis dan tersruktur, bertujuan untuk mengadaptasikan pembelajaran pada siswa kelompok besar (pengajaran klasikal), membantu mengatasi perbedaan-perbedaan yang terdapat pada siswa, dan  berguna untuk menciptakan kecepatan belajar (rate of program). Sedangkan  menurut Kunandar (2007), Mastery learning (belajar tuntas) adalah suatu sistem belajar yang menginginkan sebagian besar peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran secara tuntas. Hal yang sama diungkapkan Ali (1987), Mastery learning (belajar tuntas) dapat diartikan sebagai penguasan (hasil belajar) siswa sacara penuh terhadap seluruh bahan yang dipelajari. Sedangkan menurut  Suryosubroto (2002), Mastery learning (belajar tuntas) adalah suatu filsafat yang mengatakan bahwa dengan sistem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi yang diajarkan di sekolah.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian strategi Mastery learning adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan sistematis dan terstruktur yang menginginkan sebagian besar peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran secara tuntas.

Kemampuan siswa untuk memahami materi pelajaran berbeda-beda. Oleh sebab itu, diberikan perhatian pada perbedaan-perbedaan yang terdapat pada siswa yang menyangkut kecepatan dalam belajar. Apabila semua siswa yang berbeda kemampuannya dalam memahami pelajaran diberikan pembelajaran yang sama maka hasilnya akan berbeda-beda menurut tingkat kemampuan mereka, tetapi jika siswa yang kemampuannya kurang diberikan perhatian khusus dan memberikan waktu belajar yang cukup, maka keberhasilan penuh dapat dicapai untuk setiap siswa. Agar semua peserta didik mempunyai hasil belajar yang maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan secara sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan ajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahkan perlu dijabarkan  menjadi satuan-satuan belajar tertentu dan penguasan bahan yang lengkap untuk semua tujuan untuk setiap satuan belajar dituntut dari peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi dilaksanakan setelah peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu yang merupakan dasar untuk memperoleh balikan. Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan ajar oleh peserta didik. Hasil evaluasi untuk menentukan dimana dan dalam hal apa peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehingga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan dan menguasai bahan ajar secara maksimal. Inilah yang dinamakan Mastery Learning.

Strategi Mastery learning dapat diterapkan secara tuntas sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan yaitu mengembangkan individu dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini tidak menuntut perubahan besar-besaran baik dalam kurikulum maupun pembelajaran, tetapi yang penting adalah mengubah strategi guru terhadap waktu bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengajar melainkan waktu yang digunakan peserta didik untuk belajar sampai pada taraf penguasaan bahan ajar.

Menurut Ali (1987), langkah-langkah yang dilakukan dalam strategi belajar tuntas menurut Bloom adalah sebagai berikut: (1) Menentukan unit pelajaran yang akan diajarkan, (2) Menentukan tujuan pembelajaran, (3) Menentukan standar atau patokan siswa yang dianggap telah tuntas hasil belajarnya, (4) Mempersiapkan tugas-tugas yang diberikan kepada siswa. (5)Mempersiapkan pengajaran korektif bagi siswa yang belum tuntas hasil belajarnya. Pengajaran korektif yaitu pengajaran yang dilakukan dengan prosedur dan metode berbeda dari pengajaran pertama, namun bahannya sama, dan (6)Mengadakan evaluasi setelah satu pokok bahasan berakhir.

Adapun ciri-ciri proses belajar mengajar yang menggunakan strategi Mastery Learning diungkapakan Suryobroto (2002), yaitu sebagai berikut: (1) Pengajaran didasarkan atas tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditentukan terlebih dahulu, (2) Memperhatikan perbedaan individu, (3) Evaluasi dilakukan secara kontinu dan didasarkan atas kriteria, (4) Menggunakan program perbaikan dan program pengayaan, (5) Menggunakan prinsip siswa belajar aktif, dan (6)Menggunakan satuan pelajaran yang kecil.

Dalam belajar tuntas dikenal istilah taraf penguasaan minimal. Taraf penguasaan minimal memiliki kriteria antara lain mencapai 65% dari materi setiap pokok bahasan dengan melalui penilaian formal, dengan pengertian bahwa siswa hendaknya mencapai penguasaan sekurang-kurangnya 65% materi pelajaran dan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 80% dari jumlah siswa. Namun, taraf penguasaan minimal tersebut biasanya ditentukan oleh sekolah.

3. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian kajian teori di atas, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Jika diterapkan strategi Mastery Learning, maka prestasi belajar matematika siswa kelas VIII7 SMP Negeri 1 Pancarijang dapat meningkat.”

C. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian  yang digunakan dalam penelitian ini adalah  Penelitian  Tindakan  Kelas (Classroom Action Research). Penelitian ini melibatkan peneliti itu sendiri, observer yang bertindak sebagai pengamat untuk memberikan masukan kepada peneliti serta mencatat aktivitas siswa selama tindakan dilakukan, serta siswa itu sendiri sebagai kelompok belajar yang akan menerima tindakan. Adapun penelitian ini terdiri atas beberapa tahapan-tahapan pelaksanaan, antara lain: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi/evaluasi, dan (4) refleksi.

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pancarijang Kabupaten Sidenreng Rappang dan yang menjadi subjek dalam penelitian ini siswa Kelas VIII7 Semester II Tahun Pelajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 35 orang.

Adapun faktor-faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.      Faktor input, yaitu kondisi siswa yang menjadi objek penelitian dengan mengamati kegiatan belajar mengajar matematika di kelas VIII7 sebelum diterapkan strategi Mastery Learning. Adapun penyelidikan terhadap faktor input ini telah dilakukan pada saat observasi awal, kemudian ditentukanlah penerapan strategi Mastery Learning sebagai pemecahannya.

2.      Faktor proses, yaitu melihat aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan strategi Mastery Learning meliputi:         (a) Siswa yang aktif memberikan jawaban terhadap soal-soal yang diberikan, (b) Siswa yang aktif mengajukan pertanyaan, (c) Siswa yang berani menyelesaikan soal di papan tulis, (d) Siswa yang mencatat materi yang diajarkan oleh guru, dan (e) Siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru. (suka bicara atau mengganggu siswa lain, mengantuk, dan lain-lain).

3.      Faktor output, yaitu  prestasi belajar matematika siswa setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan strategi Mastery Learning.

Prosedur penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 kali pertemuan untuk membahas materi  pelajaran dan  1 kali pertemuan untuk evaluasi hasil belajar siswa. Sesuai dengan hakikat penelitian tindakan kelas, siklus kedua merupakan pelaksanaan perbaikan siklus pertama.

Siklus I

1. Tahap Perencanaan

a.       Menelaah kurikulum yang digunakan SMP Negeri 1 Pancarijang pada mata pelajaran matematika kelas VIII semester II.

b.      Menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai siswa pada materi yang akan diajarkan.

c.       Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

d.      Menyiapkan soal yang akan digunakan sebagai tes di setiap akhir sub pokok bahasan dan tes untuk akhir siklus.

e.       Membuat lembar observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran di kelas pada saat pelaksanaan tindakan.

f.       Membuat angket untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap strategi Mastery Learning.

2. Pelaksanaan Tindakan

a.       Menyampaikan unit pelajaran yang akan dipelajari.

b.      Menyampaikan tujuan pembelajaran dan patokan atau standar pencapaian siswa.

c.       Menyajikan materi sesuai dengan tujuan pelajaran yang akan dicapai disertai dengan pemberian contoh soal.

d.      Memberikan soal-soal latihan kepada siswa.

e.       Guru membimbing dan mengawasi secara langsung pekerjaan siswa serta menilai apakah sudah benar atau masih perlu diperbaiki

f.       Pada setiap akhir pertemuan, ditarik kesimpulan mengenai materi yang telah diajarkan.

g.      Pada akhir setiap sub pokok bahasan diadakan tes. Tes ini bertujuan untuk melihat serta mengetahui apakah siswa telah menguasai materi pelajaran sesuai dengan patokan yang telah ditetapkan.

h.      Memeriksa hasil tes dan menelaah kesulitan-kesulitan yang muncul dan mengelompokkan siswa yang belum dapat menguasai materi suatu sub pokok bahasan.

i.        Untuk siswa yang belum mencapai tingkat penguasaan yang ditentukan diberikan bimbingan, misalnya membimbing siswa  secara khusus, memberikan penjelasan ulang untuk materi yang belum dipahami serta memberikan kesempatan menanyakan hal-hal yang masih kurang dipahami. Setelah itu, diberikan soal-soal untuk diselesaikan.

j.        Setelah pemberian bimbingan kepada siswa yang belum menguasai materi pelajaran, maka akhir pokok bahasan seluruh siswa diberikan ulangan harian dan memeriksa hasil tes dengan teknik penskoran yang telah dipilih.

3. Observasi dan Evaluasi

a.       Mengamati setiap aktivitas dan kegiatan siswa selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi dan dibantu oleh seorang observer.

b.      Hasil dari pelaksanaan tindakan akan dievaluasi dengan memberikan tes di akhir siklus.

4. Refleksi

a.       Mengumpulkan hasil observasi;

b.      Menganalisis hasil evaluasi.

Hasil analisis data yang dilaksanakan dalam siklus pertama dipergunakan sebagai acuan untuk melaksanakan siklus berikutnya. Hal-hal yang masih kurang atau mengandung kelemahan-kelemahan, menjadi catatan untuk diperbaiki pada siklus berikutnya, dan hal-hal yang sudah baik dipertahankan atau dikembangkan.

Siklus II

Langkah-langkah yang dilakukan dalam siklus II ini relatif  sama dengan perencanaan dan pelaksanaan dalam siklus I dengan mengadakan beberapa perbaikan meliputi

a.          Merumuskan tindakan selanjutnya berdasarkan hasil refleksi siklus I

b.         Melaksanakan tindakan siklus II

c.          Pemberian tes terhadap siswa

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (a) Data tentang prestasi belajar siswa diambil dengan memberikan tes kepada siswa pada setiap akhir siklus, (b) Data tentang aktivitas belajar siswa diambil dengan menggunakan lembar obervasi aktivitas siswa, (c) Data mengenai respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan strategi Mastery Learning yang diperoleh melalui lembar (angket) respon siswa.

Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Untuk analisis secara kuantitatif digunakan statistik deskriptif. Data kuantitatif berupa prestasi belajar siswa meliputi skor maksimum, skor minimum, rentang skor, rata-rata, variansi dan standar deviasi. Data kualitatif berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang aktivitas siswa selama mengikuti pelajaran. Selanjutnya kriteria yang digunakan untuk menentukan kategori hasil belajar matematika, mengacu pada kategori standar yang diterapkan olah Departemen Pendidikan Nasional yaitu:

Tabel 3.1.  Teknik Kategorisasi Standar Berdasarkan  Ketetapan   Departemen Pendidikan Nasional.

SKOR KATEGORI
0 – 34

35 – 54

55 – 64

65 – 84

85 – 100

Sangat rendah

Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat Tinggi

Penelitian ini dikatakan berhasil jika terjadi peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya strategi Mastery Learning dimana  terdapat 80% siswa yang mendapat nilai minimal 65 sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) maka kelas dianggap tuntas secara klasikal.

D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Siklus I dilaksanakan selama lima kali pertemuan. Selama siklus I ini berlangsung, diterapkan strategi Mastery Learning. Pada akhir siklus I diadakan tes hasil belajar setelah penyajian beberapa sub pokok bahasan Lingkaran selesai. Analisis deskriptif terhadap hasil belajar matematika siswa pada siklus I menunjukkan bahwa skor tertinggi 95,00 dari skor ideal 100,  skor terendah 17,00 dari skor minimum 00.00 yang mungkin diacapai dan diperoleh skor rata-rata 69,29.

Jika hasil belajar matematika tersebut dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka dapat diperoleh distribusi frekuensi skor terdapat 1 siswa atau 2,94% yang pemahamannya berada dalam kategori sangat rendah. Pada kategori rendah sebanyak 8 siswa atau 23,53%. Pada kategori sedang sebanyak 6 siswa atau 17,65%. Pada kategori tinggi terdapat 9 orang atau 26,47%, dan terdapat 10 siswa yang berada pada kategori sangat tinggi atau 29,41%.  Diperoleh juga bahwa dari 34 siswa kelas VIII7 SMP Negeri 1 Pancarijang  yang mengikuti tes setelah pemberian tindakan pada siklus I terdapat 15 siswa yang belum tuntas dan sebanyak 19 siswa yang tuntas. Sehingga presentase siswa yang memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu 55,88%. Hal ini berarti pada siklus I belum mencapai indikator yang ingin dicapai yaitu 80%.

Siklus II dilaksanakan selama lima kali pertemuan. Selama siklus II ini berlangsung tetap diterapkan strategi Mastery Learning dan diadakan beberapa perubahan tindakan berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Pada akhir siklus II diadakan tes hasil belajar setelah penyajian pokok bahasan Lingkaran selesai. Analisis deskriptif terhadap hasil belajar matematika siswa pada siklus II menunjukkan bahwa skor tertinggi 97,00 dari skor ideal 100, skor terendah 20,00 dari skor minimum 00,00 yang mungkin dicapai dan diperoleh skor rata-rata 73,65.

Jika hasil belajar matematika tersebut di kelompokkan ke dalam lima kategori, maka dapat diperoleh distribusi frekuensi skor menunjukkan bahwa masih ada siswa yang pemahamannya sangat rendah sebanyak 1 siswa atau 2,94%. Sebanyak 2 siswa atau 5,88% berada pada kategori rendah. Sebanyak 3 siswa atau 8,82% berada pada kategori sedang. Sebanyak 22 siswa atau 64,70% berada dalam kategori tinggi dan sisanya sebanyak 6 siswa atau 17,65% berada pada kategori sangat tinggi. Jadi setelah diadakan beberapa perubahan tindakan pada siklus II berdasarkan hasil refleksi pada siklus I jumlah siswa kelas VIII7 SMP Negeri 1 Pancarijang yang hasil belajarnya berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi yaitu 28 siswa atau 82,35%.

Dari uraian di atas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VIII7 SMP Negeri 1 Pancarijang setelah diterapkan diterapkan strategi Mastery Learning. Hal ini terlihat dari rata-rata tes hasil belajar siswa pada siklus I yaitu 69,29 mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 73,65. Serta jumlah siswa yang termasuk kategori tinggi dan sangat tinggi pada siklus I sebanyak  19 orang atau sebesar 44,11% juga mengalami peningkatan pada siklus II sebanyak 28 siswa atau 82,35%.

Disamping terjadinya peningkatan hasil belajar matematika selama berlangsungnya penelitian dari siklus I sampai siklus II, tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada sikap siswa. Perubahan tersebut merupakan data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat oleh pengamat selama penelitian.

Sesuai dengan prinsip belajar tuntas bahwa diharapkan sebagian besar siswa menguasai materi pelajaran dari setiap materi secara tuntas. Dengan demikian, penguasaan penuh pada materi tertentu akan memudahkan siswa untuk menguasai materi selanjutnya, sehingga secara keseluruhan materi dalam pelajaran matematika dapat dikuasai sepenuhnya secara tuntas.

Selain itu, strategi Mastery Learning mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dimana siswa yang lambat menerima materi dapat menguasai materi melalui pemberian bimbingan. Jadi, mereka tidak ketinggalan pelajaran. Rasa percaya diri siswa ini dapat telihat ketika proses pembelajaran dilakukan. Siswa yang telah menerima bimbingan mampu menjawab beberapa pertanyaan yang disampaikan peneliti yang berhubungan dengan materi sebelumnya.

Keaktifan siswa mengalami peningkatan dalam hal keaktifan memberikan jawaban terhadap soal-soal yang diberikan, keaktifan mengajukan pertanyaan terhadap materi yang diajarkan, keberanian menyelesaikan soal di papan tulis, dan keaktifan mencatat materi yang diajarkan oleh guru. Adapun siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru mengalami penurunan.

Berdasarkan hasil angket respon siswa, terdapat 32 siswa yang menyukai kegiatan pembelajaran dengan strategi Mastery Learning. Terdapat 32 siswa yang merasa senang dengan diadakannya perbaikan/bimbingan oleh guru. Sebanyak 32 siswa mengatakan bahwa materi yang diajarkan dapat dipahami.  Respon 27 siswa dari 35 siswa terhadap pemberian tes di setiap akhir sub pokok bahasan juga bagus. Mereka merasa dapat mengetahui kemampuan mereka dalam satu sub pokok bahasan. Selain itu, terdapat 33 siswa senang dengan pemberian bimbingan bagi siswa yang belum memahami materi. Terdapat 28 siswa yang senang dengan pemberian soal-soal latihan dalam belajar matematika dengan strategi Mastery Learning ini. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara umum siswa memberikan tanggapan positif terhadap strategi Mastery Learning.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Berdasarkan data-data penelitian yang telah dianalisis, baik secara kualitatif maupun kuantitatif disimpulkan bahwa:

1.      Penerapan strategi Mastery Learning meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII7 SMP Negeri 1 Pancarijang  dan telah mencapai indikator keberhasilan yakni minimal 80% dari jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)  yang telah ditetapkan. Hasil tersebut dapat dilihat dari data berikut:

a.       skor rata-rata tes pada siklus I sebesar 69,29 dari skor ideal 100 dengan standar deviasi 21,03 dan sebanyak 55,89% siswa yang memperoleh nilai tuntas.

b.      Skor rata-rata tes pada siklus II mencapai  73,65 dari skor ideal 100 dengan standar deviasi 14,96 dan sebanyak 82,35% siswa yang memperoleh nilai tuntas.

2.      Perubahan aktivitas siswa kelas VIII7 SMP Negeri 1 Pancarijang melalui strategi Mastery Learning mengalami peningkatan, diantaranya dalam hal siswa yang aktif memberikan jawaban, siswa yang aktif mengajukan pertanyaan terhadap materi yang diajarkan, siswa yang berani menyelesaikan soal di papan tulis, dan siswa yang mencatat materi yang diajarkan oleh guru. Sementara siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru (suka bicara atau mengganggu siswa lain, mengantuk, dan lain-lain) mengalami penurunan.

2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka diajukan beberapa saran dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di kelas antara lain:

1.      Sebelum menerapkan Strategi Mastery Learning dalam pembelajaran matematika hendaknya mempersiapkan soal-soal yang lebih banyak sebagai persiapan untuk siswa yang membutuhkan bimbingan/perbaikan nantinya dan memperhatikan waktu yang tepat untuk mengadakan bimbingan/perbaikan tersebut.

2.      Sebagai tindak lanjut penerapan strategi Mastery Learning, diharapkan kepada guru untuk melibatkan siswa yang telah memahami materi lebih cepat untuk membantu temannya yang lebih lambat menerima materi.

3.      Disarankan kepada peneliti lain untuk melakukan penelitian yang sejenis  di kelas lain atau di sekolah yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. 1999. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar.                  Jakarta: Rineka Cipta.

Ali, M. 1987. Guru dalam Proses belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Haling. 2004. Belajar Pembelajaran (Suatu Ringkasan).Makassar: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNM.

Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP.

Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Mappa, S. 1977. Psikologi Pendidikan. Ujung Pandang: FIP-IKIP Ujung pandang.

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution. 2003. Beberapa Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.             Jakarta: Bumi Aksara.

Nasution, S. 2000. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Poerwadarminta, W.J.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran-Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Santyasa, I. 2007. Metodologi Penelitian Tindakan Kelas. Makalah. FMIPA. Universitas Pendidikan Ganesha.Singaraja

Slameto. 1987. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.                    Jakarta: Bina Aksara.

Soedjadi, R. 1999. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Suherman, E dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.      Bandung: FMIPA UPI.

Suryosubroto. 2002. Proses belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Tu’u, T. 2004. Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Anak. Jakarta: Grasindo.

Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia Widyasarana Indonesia.

Yamin, M. 2006. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta: Gaung Persada Pres.

Posted in My Research | Leave a comment