Berbagai Masalah yang Terkait Hasil Belajar Matematika

Untuk kepentingan kegiatan penelitian, masalah sangat diperlukan untuk diselesaikan dan penyelesaiannya menjadi salah satu alasan penelitian dilaksanakan. Hampir setiap orang memiliki masalah karena itu hidup ini menjadi menarik, dengan kata lain bahwa tantangan itu terlihat ketika orang berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebagai guru, masalah yang sering dihadapi adalah peserta didiknya. Bukan hanya karena siswa kita terlalu lambat memahami materi pembelajaran yang diberikan tetapi juga siswa yang terlalu cepat memahami materi pelajaran dapat menjadi masalah dalam kegiatan pembelajaran. Belum lagi terkait dengan karakter pebelajar sehingga motivasi dan minat belajar mereka menjadi bervariasi sedemikian sehingga tidak mudah untuk diatur atau dikelola dengan baik.

Kesemuanya itu perlu tindakan yang nyata dari guru bersangkutan, seperti tindakan apa dan bagaimana pelaksanaannya sehingga siswa yang tadinya “tidak suka belajar” berubah menjadi “suka belajar.” Secara ilmiah, tindakan nyata seorang guru dapat dikelola melalui suatu jenis penelitian yang dikenal dengan penelitian tindakan kelas atau juga dengan jenis penelitian desain. Kedua jenis penelitian ini sangat menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas pembelajaran sedemikian sehingga siswa sangat menikmati kegiatan tersebut.

Kelebihan kedua jenis penelitian ini, salah satu diantaranya adalah mendukung guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran melalui suatu tindakan khusus yang dipilih guru sehingga siswa dianggap akan tertarik dan setelah beberapa tahap tertentu diharapkan diperoleh perubahan yang signifikan positif.

Artikel ini berbagi materi yang berisi informasi tentang bagaimana mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah tersebut sehingga dapat dikaji dan diteliti untuk menghasilkan penyelesaian yang tepat. Akhir dari penjelasan dalam makalah ini adalah kesimpulan, tetapi sebelumnya didahului dengan naskah proposal penelitian tindakan kelas yang diharapkan dapat menuntun guru dan berguna sebagai pengembangan profesi guru. Namun, hal utama yang ditinjau dari pokok makalah ini adalah bagaimana guru dapat mengidentifikasi masalah dan mengembangkannya ke dalam kegiatan penelitian tindakan kelas?

Baik penelitian tindakan kelas atau penelitian desain, begitu pula dengan jenis penelitian lain, masalah penelitian sangat diperlukan untuk peneliti ketahui pada wilayah mana tindakan yang dipilih dapat digunakan atau diterapkan sehingga nantinya masalah yang diperoleh dapat diselesaikan atau sekedar dapat mengurangi level masalah (misalnya, tinggi, sedang, atau rendah).

Namun, ada satu hal yang penting ketika guru memilih penelitian tindakan kelas yaitu peneliti atau guru sendiri perlu memperhatikan pertanyaan: sebaik apakah siswa saya belajar tentang materi yang saya ajarkan? (Pelton, 2010). Jawaban dari pertanyaan ini merupakan bagian dari refleksi yang harus dilakukan guru sehingga tujuan pembelajaran yang telah dibuat dapat tercapai.

Untuk itu, pernahkah kita sekalian guru matematika memperhatikan kondisi yang dialami siswa ketika materi pelajaran matematika yang diajarkan, kemudian yang nampak diantara mereka seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. Siswa Mengalami Kebingungan

Kebingungan merupakan salah satu bagian dari proses berpikir. Ketika berpikir tentang masalah dalam pelajaran matematika, proses matematisasi merupakan bagian dari prosedur berpikir sebelum mereka mendapatkan jawaban yang diharapkan. Untuk mendukung proses matematisasi, terkadang ingatan atau memori tidak selalu menyediakan informasi yang cukup bagi pebelajar. Oleh karena itu, sumber belajar seperti buku paket merupakan alternatif selain mengandalkan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penjelasan guru.

Menariknya, bagaimana kalau soal tersebut tidak dicontohkan dalam buku paket? mungkinkah siswa masih bergantung pada buku paket untuk mendapatkan jawaban dari soal yang diberikan!

Dari suatu hasil ujicoba soal matematika dengan masalah “terdapat 100 bakpao untuk dibagikan kepada 100 orang biksu. Setiap biksu senior mendapat 3 bakpao dan setiap 3 orang biksu junior mendapat 1 bakpao. Berapa jumlah biksu senior dan biksu junior?” beberapa jawaban siswa yang diperoleh sebagai hasil ujicoba diantaranya:

Gambar 2 Jawaban siswa I

Gambar 2 Jawaban siswa I

Gambar 3. Jawaban Siswa II

Gambar 4. Jawaban III

Dari gambar 2, 3, dan 4 terdapat proses matematisasi yang berbeda ditunjukkan oleh setiap peserta didik. Jawaban yang ditunjukkan siswa pada gambar 2 terlihat mengandalkan “kekuatan pemahaman bilangan” yang dimilikinya sehingga operasi bagi menjadi langkah awal dalam menyelesaikan soal tersebut. Mungkin karena terdapat 2 jenis biksu yakni senior dan junior sehingga dari 100 orang dibagi menjadi 2 bagian sehingga ia memperoleh 50. Karena itu pula, bahwa setiap biksu senior mendapat 3 roti sehingga dari 50 orang dibagi lagi 3 sehingga kesimpulan yang didapatkan bahwa ada 16,6 biksu senior dan 50 biksu junior. Namun, kalau jumlah biksu senior adalah 16,6 dan biksu junior 50 berarti seluruhnya hanya ada 66,6 orang, bukannya 100.

Menariknya, jawaban siswa pada gambar 3 dan 4 merupakan jawaban yang menunjukkan bagaimana skema matematisasi yang dimiliki keduanya. Perlu diketahui bahwa siswa yang mempunyai jawaban pada gambar 3 adalah siswa SMP sehingga konsep SPLDV (sistem persamaan linear dua variabel) menjadi dasar dalam penyelesaian soal tersebut. Sedangkan, siswa yang mempunyai jawaban pada gambar 4 adalah siswa SD sehingga konsep SPLDV belum menyentuh skema berpikir si anak. Tunggu dulu! tidak berarti bahwa jawaban yang diberikan adalah salah, meskipun cara yang digunakan adalah coba-salah. Proses menjawab yang tidak singkat tetapi didasari oleh perhitungan yang mantap sehingga jawaban yang nampak pada gambar 4 juga benar dengan komposisi 25 orang biksu senior dan 75 orang biksu junior.

Dengan demikian, matematisasi sangat perlu ditunjang dengan pemahaman konsep yang baik tentang matematika, bukannya berhitung. Pernyataan ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Conrad Wolfram (2012) yang mengatakan bahwa “stop teaching calculating, start teaching math.” Benar juga pendapat demikian karena tidak sedikit siswa kita memiliki jawaban seperti yang nampak pada gambar 2 di atas, ciri siswa yang berkarakter karena dididik dengan belajar berhitung selalu mengandalkan perhitungan tanpa memahami tepat atau tidaknya perhitungan yang dilakukannya. Semuanya itu sangat perlu didukung oleh konsep sebab menurut Bell (1978) konsep matematika merupakan ide abtrak yang membedakan antara contoh dan non contoh. Pengembangan dari ini, konsep ini merupakan dasar pembentukan matematisasi sebagai pola atau model untuk menyelesaikan masalah secara matematis.

WordPress Themes