Diskusi Pengajaran Tematik untuk Matematika

Laman ini mengungkap tentang pentingnya mahasiswa dapat mengkaji pengajaran tematik-integrasi untuk matematika supaya mereka dapat menerapkan di sekolah baik pada tingkat sekolah dasar atau tingkat sekolah menengah pertama. Sebagai contoh, dalam silabus yang disusun oleh Secondary Schools Board NSW (1983) dikemukakan bahwa penggunaan tema bersifat pilihan. Materi pelajaran standar memuat delapan tema dan sepuluh topik. Tema-tema tersebut meliputi: (a) matematika di lingkungan kita, (b) matematika yang melibatkan makanan, (c) matematika di tempat kerja, (d) membuat desain, (e) matematika yang melibatkan olahraga, dan (e) matematika dalam masyarakat, (f) kerajinan tangan, (g) pariwisata dan keramahan, (h) Matematika yang melibatkan transportasi, (i) Matematika yang melibatkan objek wisata, (j) Matematika yang melibatkan geografi, (k) Matematika yang melibatkan iklim, dan (l) Matematika yang melibatkan hiburan. Sebagai bahan referensi, selanjutnya anda dapat lihat di Diskusi Pengajaran Tematik

Asesmen untuk Domain Afektif

Tulisan ini sekedar memberitakan bagi para peneliti, utamanya mahasiswa S1, dan bahkan guru yang mengalami kesulitan dalam menentukan aspek apa yang dapat mereka amati untuk aspek afektif. Sekaligus, untuk memastikan bahwa bukan hanya aspek kognitif saja yang harus selalu ditelusuri dalam berbagai kegiatan penelitian. Setelah membaca tulisan Wong Khoon Yoong dan Berinderjeet KAUR yang berjudul “Introduction: Assessment Matters” yang dipublikasi pada Yearbook 2011 dengan judul Assessment in The Mathematics Classroom, tulisan ini ada pada halaman 11. Pada halaman tersebut, salah satu hal penting berkaitan dengan aspek afektif adalah sikap (attitude). Hal ini menjadi salah satu perangkat penting dalam kerangka kerja kurikulum matematika Singapura, selain metakognisi, pemecahan masalah, konsep, dan keterampilan. Lebih mendetail, untuk melihat sikap tersebut maka aspek ini dapat ditinjau dengan mereviu bagaimana keyakinan, minat, sikap menghargai, kepercayaan diri, dan ketekunan; yang nampak pada pebelajar.

Untuk itu, sejalan dengan program pemerintah tentang pembangunan karakter siswa dalam kegiatan pembelajaran, aspek sikap siswa dapat ditelusuri dengan melihat seberapa baik tingkat keyakinan pebelajar untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Begitu juga, untuk minat, sikap menghargai, kepercayaan diri dan ketekunan yang diperlihatkan peserta didik dalam mengikuti instruksi yang diberikan pengajar atau fasilitator di kelas. Agar dapat dipahami dengan baik sasaran asesmen sikap peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, penjelasan tentang komponen yang tergabung dalam aspek sikap tersebut diuraikan sebagai berikut.

a. Keyakinan

Keyakinan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kesadaran yang terbangun dalam diri peserta didik betapa pentingnya pendidikan, belajar atau menimba ilmu, dan masa depan mereka ditentukan oleh usaha terbaik mereka untuk belajar dan mendapatkan pengalaman pembelajaran.

b. Minat

Minat yang dimaksudkan dalam hal ini adalah keinginan terbesar yang terbangun dalam diri peserta didik sedemikian sehingga mereka memiliki ketertarikan untuk mendalami dan mendapatkan pengalaman belajar.

c. Sikap Menghargai

Sikap menghargai yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kepekaan sosial untuk meletakkan rasa menghormati antarsesama dalam posisi yang sama dan tepat, misalnya antara pebelajar dan pengajar adalah sosok yang saling belajar sehingga mereka setara dalam usaha mendapatkan  ilmu, kemudian pebelajar tetap berada dalam posisi “menggugu dan meniru” apa yang diberikan oleh pengajar sedemikian sehingga pengajar akan menghargai usaha pebelajar untuk dapat belajar dari pengalaman mereka.

d. Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kekuatan internal yang dimiliki oleh individu untuk menunjukkan kemampuan diri mereka dalam menyokong pelaksanaan aktivitas yang mereka lakukan.

e. Ketekunan

Ketekunan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah intensitas perhatian dan kerja yang berkesinambungan dalam mendukung dan melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Untuk lebih mendalam, mengenai indikator dan contoh diserahkan kepada pembaca untuk mengembangkannya.

Apa yang anda tahu tentang titik?

Postingan kali ini merupakan suatu permintaan kepada khalayak untuk memberikan komentar terkait berbagai pendapat yang terhadap istilah titik (point) berikut ini.

A: Point is undefined terms, seperti ujung pentul, ujung pensil (Mentari)
B: Point (titik) sesuatu yang dilambangkan dengan dot. only have position and tidak memiliki panjang, lebar maupun ketebalan (Rahmawati)
C: Point just has position. Have no length, no width, and no thickness (Nursyidah)
D: Titik merupakan suatu unsur dalam geometri yang tak didefinisikan, hanya memiliki posisi tanpa panjang, lebar dan tebal. (Nurhayani)
E: Point is one of undefine word. Titik merupakan awal dari semua bentuk. Titik tidak memiliki jari-jari dan ketebalan. (A. Rizky Amalia Ismail)
F: Point is representing by a dot but dot it’s not a point. Point juga diibaratkan dengan ujung tanduk. Point has not length, width, and thickness. (Hasnaini)
G: Point adalah titik, dimana titik tidak memiliki panjang dan lebar (Iwan Setiawan)
H: Point: imagin with a dot (Astry Ayu)
I: Point dilambangkan dengan dot (.). Point have position but have no panjang, lebar, dan ketebalan. (Risnawati)
J:Point tidak dapat didefinisikan. Titik biasanya dilambangkan dengan noktah. Artinya noktah mewakili titik. Titik memiliki posisi, tapi tidak memiliki panjang, lebar, ketebalan. (Andi Shari)
K: Point(titik) tidak memiliki lenght, thickness, and width dilambangkana dengan menggunakan dot berada pada dimensi nol (Nurul Muthmainnah)

L: Point has position, point doesn’t have length and thick (Fitrah)

M: Point is describe about position. point tidak mempunyai luas dan ketebalan, tapi mampu menjelaskan sebuah posisi. (Muhammad)

N: Point just have a position, point no have length and thickness. Example: tip of pin (Indriana)

O: Point has no width, length, and thickness. It has position only. It represented by a dot, but however a dot is not a point. Unlike a point, a dot has size. It may be represented by a tip of pin. (Winda)

P: Point is can not defenited usually digambarkan dalam bentuk dot (.) (Nurul Hidayah)

Q: Point is can not definited. But usually point disimbolkan dengan noktah atau dapat digambarkan dalam bentuk dot (.) (Febi)

R: Point is can not be defined. It represented by dot. Ilustrasi: a tip of pen. (Andi Mulyani)

S: Point is sesuatu yang tidak memiliki ukuran, baik lebar, panjang, maupun ketebalan. Misalnya ujung pentul. (Alfiah)

T: Point is sesuatu yang tidak memiliki ukuran, baik, panjang, lebar, ataupun ketebalan (Atika)

U: Point have no length, width, and no thickness (Erick)

V: Point doesn’t has length, width, and thickness. Titik hanya memiliki posisi yang biasanya dilambang dengan noktah. Untuk menuliskan sebuah titik biasanya menggunakan huruf capital. Contoh: • A     • B (Firman)

W: Point (titik) is a can not be defined represented by dot (Lidyasari)

Menurut anda, dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas yang mana kalimat tepat untuk mendefinisikan titik. Silahkan gunakan bagian komentar di bawah untuk menyampaikan pendapat anda terhadap definisi-definisi titik di atas!

WordPress Themes