Asesmen untuk Domain Afektif

Tulisan ini sekedar memberitakan bagi para peneliti, utamanya mahasiswa S1, dan bahkan guru yang mengalami kesulitan dalam menentukan aspek apa yang dapat mereka amati untuk aspek afektif. Sekaligus, untuk memastikan bahwa bukan hanya aspek kognitif saja yang harus selalu ditelusuri dalam berbagai kegiatan penelitian. Setelah membaca tulisan Wong Khoon Yoong dan Berinderjeet KAUR yang berjudul “Introduction: Assessment Matters” yang dipublikasi pada Yearbook 2011 dengan judul Assessment in The Mathematics Classroom, tulisan ini ada pada halaman 11. Pada halaman tersebut, salah satu hal penting berkaitan dengan aspek afektif adalah sikap (attitude). Hal ini menjadi salah satu perangkat penting dalam kerangka kerja kurikulum matematika Singapura, selain metakognisi, pemecahan masalah, konsep, dan keterampilan. Lebih mendetail, untuk melihat sikap tersebut maka aspek ini dapat ditinjau dengan mereviu bagaimana keyakinan, minat, sikap menghargai, kepercayaan diri, dan ketekunan; yang nampak pada pebelajar.

Untuk itu, sejalan dengan program pemerintah tentang pembangunan karakter siswa dalam kegiatan pembelajaran, aspek sikap siswa dapat ditelusuri dengan melihat seberapa baik tingkat keyakinan pebelajar untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Begitu juga, untuk minat, sikap menghargai, kepercayaan diri dan ketekunan yang diperlihatkan peserta didik dalam mengikuti instruksi yang diberikan pengajar atau fasilitator di kelas. Agar dapat dipahami dengan baik sasaran asesmen sikap peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, penjelasan tentang komponen yang tergabung dalam aspek sikap tersebut diuraikan sebagai berikut.

a. Keyakinan

Keyakinan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kesadaran yang terbangun dalam diri peserta didik betapa pentingnya pendidikan, belajar atau menimba ilmu, dan masa depan mereka ditentukan oleh usaha terbaik mereka untuk belajar dan mendapatkan pengalaman pembelajaran.

b. Minat

Minat yang dimaksudkan dalam hal ini adalah keinginan terbesar yang terbangun dalam diri peserta didik sedemikian sehingga mereka memiliki ketertarikan untuk mendalami dan mendapatkan pengalaman belajar.

c. Sikap Menghargai

Sikap menghargai yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kepekaan sosial untuk meletakkan rasa menghormati antarsesama dalam posisi yang sama dan tepat, misalnya antara pebelajar dan pengajar adalah sosok yang saling belajar sehingga mereka setara dalam usaha mendapatkan¬† ilmu, kemudian pebelajar tetap berada dalam posisi “menggugu dan meniru” apa yang diberikan oleh pengajar sedemikian sehingga pengajar akan menghargai usaha pebelajar untuk dapat belajar dari pengalaman mereka.

d. Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri yang dimaksudkan dalam hal ini adalah kekuatan internal yang dimiliki oleh individu untuk menunjukkan kemampuan diri mereka dalam menyokong pelaksanaan aktivitas yang mereka lakukan.

e. Ketekunan

Ketekunan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah intensitas perhatian dan kerja yang berkesinambungan dalam mendukung dan melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Untuk lebih mendalam, mengenai indikator dan contoh diserahkan kepada pembaca untuk mengembangkannya.

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

WordPress Themes