Apakah Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika dapat Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SMP?

Perhatian terhadap perkembangan kurikulum matematika pada abad ke-20 hingga akhir abad ke-30, berbagai negara di dunia menunjukkan bahwa sistem pendidikan matematika yang ditawarkan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan. Kebutuhan hidup di masa kini terus berkembang bergantung kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kecenderungan seperti ini memerlukan akumulasi pengetahuan dan kemampuan yang lebih besar sehingga siswa mengerti benar-benar bagaimana ia harus hidup. Orang harus memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya sehingga ia mampu menyusun dirinya terhadap perubahan-perubahan maupun masalah-masalah yang dihadapi.

Pengembangan strategi mengajar merupakan hal penting sebagai solusi dari masalah peningkatan hasil belajar siswa. Pandangan tersebut pada hakikatnya memberi tekanan pada pengoptimalan kegiatan belajar siswa. Dengan kata lain, mengajar tidak semata-mata berorientasi pada hasil tetapi juga berorientasi kepada proses, dengan harapan bahwa makin tinggi berlangsungnya proses pengajaran makin tinggi pula hasil yang dicapai, termasuk untuk mata pelajaran matematika.

Rendahnya hasil belajar matematika yang diperoleh siswa disebabkan berbagai macam faktor yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, diantaranya faktor guru, siswa, metode mengajar, sarana dan prasarana pendidikan, maupun materi pelajaran. Dari beberapa faktor tersebut, faktor yang dianggap cukup berperan penting adalah materi pelajaran, tingkat kesulitan materi pelajaran, luas, dan sempitnya cakupan materi pelajaran, dan alokasi waktu penyajian materi pelajaran (Hamalik, 2001).

Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah guru, di dalam memilih pendekatan yang cocok untuk proses pembelajaran, seorang guru sebaiknya memilih pendekatan pembelajaran yang memberikan kemudahan dan nuansa menyenangkan dalam proses belajar mengajar, sehingga memberikan hasil yang optimal. Hal tersebut pula menjadi target pencapaian tujuan pembelajaran matematika.

Apabila kita kaitkan dengan mata pelajaran matematika, peranan motivasi belajar berpengaruh terhadap kegiatan pembelajaran siswa. Motivasi belajar yang baik akan meningkatkan ketekunan siswa untuk mempelajari mata pelajaran matematika dengan baik pula. Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, pendekatan yang dapat diberikan berupa penerapan pendekatan kontekstual, dimana siswa akan diajar untuk mengkonstruksi pemahamannya dengan konteks pembelajarannya.

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya di dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Siswa sebaiknya memahami makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti.

Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif bermakna. Menurut Suherman (2003) yang mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membawa guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran yaitu:

a. Konstruktivisme (Constructivism)

Constructivism (konstruktivisme) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Penerapan filosofis ini dalam pembelajaran yaitu ketika merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan ide dan sebagainya.

b. Menemukan (Inquiry)

Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Siklus inkuiri yaitu: observasi, bertanya, mengajukan dugaan, pengumpulan data dan penyimpulan.

c. Bertanya (Questioning)

Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Dalam pembelajaran produktif, kegiatan bertanya berguna untuk : (1) Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis, (2) Mengecek pemahaman siswa, (3) Membangkitkan respon kepada siswa, (4) Mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa, (5) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, (6) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, (7) Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, (8) Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

d. Masyarakat belajar (Learning Community)

Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dengan kerjasama dengan orang lain. Metode pembelajaran dengan teknik masyarakat belajar sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam; (1) Pembentukan kelompok kecil, (2) Pembentukan kelompok besar, (3) Mendatangkan ahli ke kelas, (4) Bekerja dengan kelas sederajat, (5) Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya, (6) Bekerja dengan masyarakat.

e. Pemodelan (Modeling)

Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, model juga dapat dirancang dengan mendatangkan model dari luar.

f. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa merenung tentang apa yang baru saja dipelajarinya.

g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa, yang perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran. Karakteristik authentic assessment yaitu: (1) Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (2) Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, (3) Yang diukur keterampilan dan kinerja, bukan mengingat fakta, (4) Berkesinambungan, (5) Terintegrasi, (6) Dapat digunakan sebagai feed back.

Menurut Suhandini (2003) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual yaitu; (1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), (2) Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, (3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), (4) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu (5) konsep itu direvisi dan dikembangkan.

Dengan pengembangan pendekatan lima elemen pembelajaran kontekstual tersebut di atas, setidaknya memberikan perubahan dalam kegiatan pembelajaran siswa. Dalam kelas yang dibutuhkan oleh siswa adalah motivasi untuk belajar. Rendahnya hasil belajar yang diperoleh oleh siswa disebabkan kurangnya motivasi belajar.

Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar matematika siswa. Misalnya dalam memberikan materi pelajaran kepada siswa, matematika merupakan mata pelajaran yang tidak mudah sehingga rasa bosan mendahului pemenuhan motivasi belajar siswa. Untuk menghindari hal tersebut salah satu upaya yang dapat dilakukan memberikan motivasi belajar yang dirujuk dengan pendekatan kontekstual.

Adapun langkah yang dapat ditempuh untuk meningkatkan motivasi belajar siswa diantaranya; (1) mengaktifkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa (activating knowledge) dengan menggunakan media pembelajaran atau sample konkrit yang relevan dengan materi pelajaran, (2) mengaktifkan kemampuan pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan merefleksi pengetahuan mereka terhadap mata pelajaran matematika secara keseluruhan dulu, (3) memberikan pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) standar terhadap materi pelajaran yang diberikan, (4) melakukan sharing kepada antara guru dengan siswa, dan mengaktifkan sharing antara siswa dengan orang disekitarnya, (5) guru membantu untuk mengembangkan konsep hasil sharing yang diperoleh siswa.

Daftar Pustaka

Hudoyo, H., 2001. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang.

Hamalik, O, 2001. Strategi Belajar Mengajar CBSA. Jakarta: Bina Aksara.

Suhandini, 2003. Pembelajaran Kontekstual untuk Menunjang Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah. Semarang: tidak diterbitkan.

Suherman. E, Turmudi, Dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: IMSTEP UPI.

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

WordPress Themes