Diskusi Kurikulum 2013

Pemerintah dalam materi rancangan kurikulum 2013 mengemukakan beberapa domain dan topik yang belum diajarkan pada siswa kelas VIII tingkat SMP dan juga kelas IV tingkat SD. Asumsi ini tentulah berdasar, lebih lagi hasil survei pemerintah yang menyimpulkan bahwa 95% siswa Indonesia yang mengikuti tes TIMSS hanya mampu menyelesaikan soal yang diberikan sampai tingkat menengah. Melalui forum diskusi yang digelar dalam kegiatan perkuliahan problematika pendidikan matematika, bersama dengan mahasiswa yang saat ini memprogramkan mata kuliah tersebut membahas permasalahan pendidikan bangsa ini dengan mengajukan 2 pertanyaan penting, yaitu topik apa saja yang dimaksud dan masalah matematika yang berkaitan dengan topik tersebut. Hasil diskusi terakhir yang telah kami lakukan diuraikan sebagai berikut:

1. Untuk topik “Estimating or Approximating with Whole Number” sebenarnya diajarkan pada kelas VII SMP semester 1, dengan alasan adanya keterkaitan dengan standar kompetensi “Memahami sifat-sifat operasi hitung bilangan dan penggunaannya dalam pemecahan masalah”, khususnya kompetensi dasar ”  Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan”. Namun, perlu disadari bahwa kandungan materi untuk “Estimating or Approximating with Whole Number sebenarnya “sama”, baik yang terdapat dalam kurikulum KTSP maupun yang terdapat dalam krikulum 2013. Prakteknya di lapangan (di sekolah-sekolah) masih banyak guru yang tidak mengajarkan materi tersebut pada peserta didiknya. Hal ini dikarenakan, materi tersebut hanya menjadi materi pengayaan atau karena materi tersebut tidak terdapat dalam buku paket yang dijadikan guru sebagai referensi atau pedoman. (Aprisal dan Lukman Tri Surya)

2. Untuk topik “REPRESENTATION OF FUNCTIONS AS ORDERED PAIRS AND TABLES ((PENYAJIAN FUNGSI SEBAGAI PASANGAN BERURUT DAN TABEL)”, materi ini memang belum diajarkan di kelas VIII. Terkait dengan penyajian fungsi dalam bentuk pasangan berurut dalam beberapa buku yang beredar saat ini memang tidak dijelaskan secara spesifik tentang penyajian fungsi dalam bentuk pasangan berurut, hanya disinggung sedikit mengenai hal tersebut. Sementara untuk penyajian fungsi dalam bentuk tabel, tidak dibahas dalam kurikulum sebelumnya. Nemun terkadang guru-guru di sekolah mengajarkan hal tersebut untuk mempermudah belajar materi tersebut jika penyajian bentuk tabel diperlukan. (Fitriani Hafid & Ina Aprianti)

3. Materi “ Representing and  Comparing with Integers” di berikan pada siswa di kelas VII pada SK 1 dan KD 1.1 namun materi ini hanya pengantar untuk mempelajari operasi bilangan bulat jadi penyajiannya hanya dalam materi sederhana namun ternyata di TIMSS hakekat materi ini sangat besar. Di kurikulum KTSP materi ini tidak terlalu di kembangkan sedangkan soal–soal TIMSS memerlukan penalaran yang mendalam tentang materi ini. (Sri Ratna Dewi & Nur Baya)

4. Materi yang kami bahas merupakan materi pengayaan yang di berikan siswa di kelas VIII semester 1 pada pokok bahasan SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL, alasan yang mungkin kenapa materi ini belum di ajarkan di SMP kelas VIII karena ini merupakan materi pengayaan jadi sesuai kehendak guru apabila memiliki waktu kosong dapat memberi materi ini atau dapat diberikan kepada siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari peserta didik lainnya  dalam artian yang memiliki nilai yang baik untuk pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel diberikan pengayaan agar meningkat daya nalar siswa tersebut. (Andi Mashanawiah & Hastuti Trisnawaty R.)

5. Representasi fungsi sebagai grafik berada pada KTSP, kelas VIII SMP, Standar Kompetensi 1. Memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi, dan persamaan garis lurus, Kompetensi Dasar 1.5. Membuat sketsa grafik fungsi aljabar sederhana pada sistem koordinat Cartesius. Pokok bahasan ini berada pada catatan merah pada hasil TIMSS dikarenakan pada buku-buku dengan KTSP, dibatasi dengan contoh-contoh dan soal berbentuk polinom, seperti , , dan sebagainya. Buku-buku tersebut tidak menyentuh pada bentuk yang lebih kompleks, seperti atau . Representasi fungsi sebagai kata-kata menurut hasil TIMSS, berada pada catatan merah. Ini dikarenakan materi tersebut memang tidak tercantum pada KTSP, maupun buku-buku yang digunakan pada kelas VIII SMP. (Muh. Irsan & Muh. Syawal)

6. Topik tentang menggunakan sistem koordinat untuk menentukan letak titik pada bidang (Using Informal Coordinate Systems to Locate Points In a Plane),pada kurikulum KTSP diajarkan di kelas 6 semester 2 dan pada kurikulum 2013 materi ini diturunkan pada kelas 4 karena berdasarkan TIMSS dan memang seharusnya materi ini sudah bisa diajarkan pada kelas 4 SD. Standar Kompetensi : Menggunakan sistem koordinat dalam  pemecahan masalah; Kompetensi Dasar : Membuat denah letak benda, Mengenal koordinat posisi sebuah benda, Menentukan posisi titik dalam sistem koordinat kartesius. (Syarifa Ariasnuri & Santriani)

7. Hubungan antara bangun dua dimensi dan tiga dimensi adalah bangun ruang dapat dibentuk dari beberapa bagian bangun datar, contonya: kubus dapat dibentuk dari beberapa bagian persegi; Dari jaring-jaring persegi, terbentuklah kubus; Dua buah lingkaran serta persegi panjang maka terbentuklah sebuah tabung serta beberapa bagian-bagian bangun datar, dengan mengetahui beberapa bangun datar, kita dapat membentuk atau mengetahui bangun ruang tersebut terbuat/terbentuk dari bangun datar seperti apa. (Astniwaty Anwar P. & Ifa Suriana Faisal)

8. Untuk topik REPRESENTATION OF FUNCTIONS AS EQUATIONS (Penyajian Fungsi sebagai Persamaan), materi ini memang belum diajarkan di kelas VIII. Dalam beberapa buku yang beredar saat ini memang tidak dijelaskan secara spesifik tentang penyajian fungsi dalam bentuk persamaan, hanya disinggung sedikit mengenai hal tersebut. Biasanya materi ini menjadi sub materi dari materi lainnya seperti penyajian fungsi dalam bentuk grafik, tabel, dll. (Nur Zakyah & Sukmawati)

9. Materi Titik-titik pada bidang kartesius ini diajarkan pada kelas VIII semester 1 pada KD 1.5 Membuat sketsa grafik fungsi aljabar sederhana pada sistem koordinat Cartesius; Perbedaan soal-soal TIMSS dengan soal-soal matematika yang diajarkan di sekolah pada umumnya, soal-soal matematika dalam studi TIMSS mengukur tingkatan kemampuan siswa dari sekedar mengetahui fakta, prosedur atau konsep, lalu menerapkan fakta, prosedur atau konsep tersebut hingga menggunakannya untuk memecahkan masalah yang sederhana sampai masalah yang memerlukan penalaran tinggi sedangkan di sekolah-sekolah umumnya hanya sekedar pengetahuan akan materi itu saja dan tingkat kesukaran jauh lebih rendah di banding soal-soal TIMSS; Dari hasil penelitian, siswa Indonesia selalu menduduki peringkat 10 besar terbawah diantara negara-negara peserta dalam setiap partisipasinya di TIMSS hal ini bisa diakibatkan karena tidak terbiasa menyelesaikan soal dengan melakukan analisis masalah terlebih dahulu, kemampuan memecahkan masalah non rutin, bukan sekedar pengetahuan atau penerapan; Untuk menyelesaikan permasalahan ini, ada beberapa rekomendasi, diantaranya:  (1) Perbaiki proses pembelajaran di sekolah, khususnya tingkatkan porsi menalar, memecahkan masalah, berargumentasi dan berkomunikasi. (2) Perbaiki metode penilaian hasil belajar siswa sehari-hari di kelas. Soal ulangan/ujian sebaiknya mengukur keterampilan teknis baku, kemampuan menalar, memecahkan masalah dan berkomunikasi secara seimbang. (Azlan Andaru & Zaiful Nur)

10. Menurut Khaerunnisa & Musfirah Anshar,

Topik drawing angles (menggambar sudut) diajarkan di SD kelas V

Standar Kompetensi :

2. Menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak, dan kecepatan dalam pemecahan masalah

Kompetensi Dasar :

2.3 Melakukan Pengukuran Sudut Dan Menggambar Sudut

Namun berdasarkan materi TIMSS bahwa siswa kelas IV akan diminta untuk menjelaskan, memvisualisasikan,menggambar, dan membangun berbagai geometris angka, termasuk sudut, garis, segitiga, segiempat dan poligon lainnya. Siswa harus mampu menggabungkan, menguraikan, dan menganalisis gabungan berbagai bentuk geometrry.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka diharapkan topik Drawing Angles (menggambar sudut) dipadukan pada materi Geometri dan Pengukuran di kelas III SD dengan perombakan pada Standar kompetensi dan Kompetensi Dasarnya yakni sebagai berikut:

Standar Kompetensi :

Memahami unsur-unsur dan sifat-sifat bangun datar sederhana.

Kompetensi Dasar :

4.3 Membandingkan dan Menggambar sudut

11. Materi pencerminan sudah diajarkan di kelas 4 SD semester 2 (genap), tetapi hanya sebatas teori dasarnya saja. Dalam hal ini yang dijelaskan hanya sifat-sifat bayangan serta langkah-langkah menggambar bayangan benda yang dicerminkan; Materi pencerminan ini berada di kelas 4 SD akhir semester 2 (genap), sehingga guru hanya menyajikan materi tanpa pendalaman. Begitupun cara mengajarkan atau penyampaian materi oleh guru untuk materi ini masih kurang baik. Selain hal di atas, biasanya terjadi pula misconception pada siswa di dalam menjawab soal TIMSS, sehingga menyebabkan hanya sebagian besar siswa dapat menjawab soal TIMSS dengan benar; Karakteristik soal TIMSS terdiri atas tiga domain kognitif yaitu, knowing, applying, dan reasoning. Sedangkan, karakteristik soal yang terdapat dalam buku matematika di Indonesia kebanyakan hanya memuat knowing dan applying, untuk soal reasoning jarang ditemukan. Itulah yang membedakan soal TIMSS dengan soal di Indonesia. Akibatnya masih banyak siswa yang tidak dapat menjawab soal TIMSS dengan benar, sehingga pemerintah beranggapan bahwa materi pencerminan ini masih perlu pendalaman materi di kelas 4 SD. (Rahmadani & Faradillah Rachmadani MN)

12. Untuk materi “Comparing Angle (Membandingkan Sudut)” terdapat pada kelas IV semester 1 yaitu pada standar kompetensi : 3. menggunakan pengukuran sudut, panjang, dan berat dalam pemecahan masalah, kompetensi dasar: 3.1 menentukan besar sudut dengan satuan tidak baku dan satuan derajat, dengan indikator  :membandingkan besar dua sudut. Namun, untuk mengukur sudut digunakan cara yang sangat sederhana yaitu jiplaklah gambar sudut yang akan dibandingkan pada kertas kosong, guntinglah gambar jiplakan tersebut, bandingkan gambar jiplakan tersebut dengan menghimpitkan salah satu sisi (garis) dan titik sudut, dan sudut yang didalam adalah sudut yang lebih kecil. Pada kelas VII SMP juga diajarkan tentang membandingkan sudut yaitu membandingkan sudut berdasarkan jenisnya. Alasan pemerintah menganggap bahwa materi ini belum diajarkan dikelas VI SD karena materi untuk membandingkan sudut yang disajikan sangat sederhana serta contoh-contoh atau soal-soal yang disajikan juga sangat sederhana, dibandingkan dengan soal TIMSS 4 grade atau soal TIMSS untuk kelas 4 SD sangatlah jauh berbeda. Pada soal Indonesia untuk materi membandingkan sudut tidak perlu analisis, dan dianggap dapat diberlakukan pada kelas 3 SD ataupun kelas 2 SD. Sedangkan pada soal TIMSS sangat dibutuhkan analisis untuk menyelesaikan soal atau dengan kata lain dibutuhkan penalaran yang kuat. (Reski Cahyani & Sri Nurrahmana)

13. Topik tentang Reading Data From Tables (membaca data dari tabel), pada kurikulum KTSP diajarkan di kelas 6 semester 1 dan pada kurikulum 2013 materi ini diturunkan pada kelas 4 karena berdasarkan TIMSS materi ini sudah bisa diajarkan pada kelas 4 SD. Dimana berdasarkan pada contoh soal kurikulum 2013 menjelaskan lebih terperinci dibandingkan dengan contoh soal pada TIMSS. (Sri Wilyana & Fitria Pratiwi Putri)

14. Reading And Displaying Data Using Tables, Pictografhs, Bar, Pie And Line Graphs, materi ini diberikan pada kelas IX yaitu pada standar kompetensi “Statistika dan Peluang” dan pada kompetensi dasar 3.2 Menyajikan data dalam bentuk tabel dan digram batang, garis dan lingkaran. (Syisliawati & Waru Subuh)

15. Topik Number Sentence atau Kalimat Bilangan/ Matematika sebenarnya sejak awal telah diajarkan di bangku-bangku sekolah dasar di Indonesia. Ada banyak pokok bahasan mengenai Number Sentence yang dipadukan dengan topik-topik yang berkaitan dengan pengolahan bilangan dalam Matematika. Akan tetapi, penanaman topik Number Sentence tersebut hanya dilakukan “seadanya”, tanpa benar-benar menanamkan konsep asli topik tersebut. Sehingga siswa sering menerapkan topik tersebut dalam pembelajaran di kelas, namun tidak benar-benar tahu bahwa apa yang diterapkannya itulah yang dimaksud dengan Kalimat Bilangan. Selain itu, Number Sentence juga lebih banyak mengarahkan siswa dalam penerapan Matematika ke kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana cara mentransformasikan permasalahan sehari-hari ke dalam “bahasa” Matematika sehingga lebih mudah diselesaikan. Pada topic Number Sentence ini, siswa diajarkan berpikir secara matematis, menerapkan konsep Matematika untuk pemecahan masalah sehari-hari melalui kalimat bilangan atau model Matematika. Berbeda dengan sekolah-sekolah di luar negeri. Mereka mulai mengajarkan dan menunjukkan tentang Number Sentence tersebut dimulai dari dasar-dasarnya. Sehingga siswa pada akhirnya tahu bahwa apa yang diterapkannya itulah yang dimaksud dengan Number Sentence atau kalimat Matematika. Melalui topic ini, maka siswa memahami penggunaan variabel dalam persoalan Matematika. Mereka mampu menuliskan ekspresi dan rumus yang sesuai dengan permasalahan yang terjadi, mengevaluasi ekspresi, dan menggunakannya untuk memecahkan masalah. (Imam Rahmanto & Yohanis Ma’din)

1. Representasi fungsi sebagai grafik berada pada KTSP, kelas VIII SMP, Standar Kompetensi 1. Memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi, dan persamaan garis lurus, Kompetensi Dasar 1.5. Membuat sketsa grafik fungsi aljabar sederhana pada sistem koordinat Cartesius. Pokok bahasan ini berada pada catatan merah pada hasil TIMSS dikarenakan pada buku-buku dengan KTSP, dibatasi dengan contoh-contoh dan soal berbentuk polinom, seperti , , dan sebagainya. Buku-buku tersebut tidak menyentuh pada bentuk yang lebih kompleks, seperti atau .

Representasi fungsi sebagai kata-kata menurut hasil TIMSS, berada pada catatan merah. Ini dikarenakan materi tersebut memang tidak tercantum pada KTSP, maupun buku-buku yang digunakan pada kelas VIII SMP.

No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

WordPress Themes